ADILAGA

ADILAGA
BONUS: KIDUL


__ADS_3


Saat Roro Kandita mulai mengenal dunia luas, itulah awal dari akhir kehidupan lamanya.


“Terima kasih, Ayahanda Yang Mulia!” Paras Putri Kandita yang mampu membuat bidadari kahyangan jatuh iri itu tersenyum sumringah. “Hadiah ini sungguh indah tiada tara!”


Betapa tidak, kalung emas bertatahkan lima permata lima warna itu amat elok dipadu-padan dengan gaun batik perada warna-warni yang dikenakannya. Tubuhnya bagai dibalut pelangi.


“Haha, mendiang bundamu pasti bangga andai melihat putrinya kini sudah dewasa.” Raja Pajajaran, Munding Wangi membelai rambut hitam putrinya yang panjang sepinggul.


Belum puas ayah-anak itu bercengkerama di pendopo istana, Dewi Mutiara, permaisuri raja saat ini menyeruak masuk bersama seorang anak laki-laki kecil yang sedang menangis. “Daulat, Kanjeng Prabu! Kali ini Kandita sungguh keterlaluan!”


“Tenang dulu, Kanjeng Roro,” kata sang raja menenangkan istrinya. “Apa masalahnya?”


“Ayam jago milik Anggayuh tadi ditemukan dalam keadaan gundul! Bulu-bulunya pasti sudah dicabuti semua oleh Kandita!” Pangeran Anggayuh adalah anak kandung Mutiara.


Kandita protes, “Aku tak melakukannya, ayahanda!”


“Bohong! Ingat Kanjeng Prabu, sudah tak terhitung berapa kali Kandita menjahili adiknya!” Suara Mutiara makin melengking. “Ia harus dihukum, diusir dari istana supaya tak jadi manja!”


Pernyataan itu membuat sang raja terkesiap dan terdiam sejenak. Lalu, ia bicara lambat-lambat seolah tengah menahan amarah. “Mutiara, jangan kaukira aku tak tahu maksudmu. Camkan ini, Kandita itu putriku dan aku takkan pernah mengusirnya dari istana, dalam kondisi bagaimanapun juga! Kalau memang ia terbukti bersalah, aku akan memberinya hukuman setimpal. Huh, kalau kau bukan ibu kandung putra mahkota, kaulah yang akan kuusir!”


Mengira Munding Wangi lebih membela putrinya ketimbang dirinya, Mutiara berdecak kesal. Lalu, tanpa mengindahkan tata-krama, ia pergi bersama Anggayuh dari pendopo. Tinggal sang raja menggeleng dan Kandita diam-diam tersenyum penuh kemenangan.


\==oOo==


“Huh, Roro Kandita harus enyah dari istana ini, kalau perlu dari muka bumi!”


Kata-kata keji itu terlontar dari mulut Permaisuri Roro Mutiara saat ia sedang bicara dengan sesosok pria bertudung dalam kegelapan malam, di satu sudut kompleks Keraton Pajajaran.


Si pria bertudung membalas, “Kanjeng Roro tak perlu membunuh Kandita. Tapi menjebak Kandita seolah ia menjahili Gusti Pangeran Anggayuh takkan bisa membuatnya terusir.”


“Lantas aku harus bagaimana, kakang? Aku kehabisan akal, apa kau punya usul yang jitu?”


Si tudung hitam mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik jubahnya. “Campurkan ini pada makanan atau minuman Kandita.”


“Apa? Bukankah tadi kau bilang tak perlu membunuhnya?”


“Ya. Ramuan ini akan membuat sang prabu mengingkari sumpahnya untuk tak mengusir Kandita dalam keadaan apapun.”


Mata Mutiara menyipit. “Aku tahu kau seorang resi, dukun pertapa yang sakti mandraguna. Tapi kurasa keyakinanmu itu berlebihan.”


“Laksanakan saja, lalu lihat saja nanti. Kalau kau tak percaya padaku, selalu ada dukun lain.”


\==oOo==


Keesokan paginya, Kandita mendapatkan kejutan, sarapan lezat di samping tempat tidurnya.


Kandita bertanya pada dayang, “Siapa yang membuatkan ini untukku?”


“Baginda Gusti Prabu, Gusti Roro,” jawab dayang wanita itu sambil menunduk rendah.


“Oh, mungkin ayahanda ingin menghiburku gara-gara kesalahpahaman semalam.”


Dengan perlahan Kandita menyantap hidangan itu, menikmati rasa di setiap gigitannya.


Siang dan sorenya, Kandita melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasa. Bermain, belajar, berbincang-bicang dengan sang prabu. Sama sekali tak ada keanehan yang terjadi pada dirinya.


Tanpa disadari Kandita, Permaisuri Mutiara diam-diam memata-matainya dari kejauhan, selalu mengerutkan dahi. Dengan geram Mutiara bergumam, “Dasar dukun penipu! Akan kukirimkan pembunuh bayaran ke rumahnya!”


\==oOo==

__ADS_1


Hari berikutnya, Kandita bangun pagi seperti biasa. Namun, ia terkejut bukan kepalang melihat sisik-sisik hijau seperti sisik ikan di kulit perutnya, yang muncul saat ia berendam di air kolam pemandian istana.


Tak hanya itu, tampak pula sedikit sisik di dahi dekat pelipis kiri wajah Kandita. Para dayang yang melihat parasnya itu berteriak histeris. Salah satu dari mereka bahkan berlari pergi, mungkin untuk melapor pada raja sebelum Kandita bisa mencegahnya.


Baru saja Kandita selesai berpakaian, Prabu Munding Wangi dan permaisurinya sudah tiba di sisi kolam pemandian.


“K-Kandita! Apa yang terjadi padamu itu?” Sang raja menunjuk ke wajah putrinya itu.


“A-aku tak tahu, ayahanda! Ini... tiba-tiba saja...!” Kandita gelagapan.


Permaisuri menyela, “Ia pasti kena kutukan dewata, karena kenakalannya telah membuat adik kandungnya sendiri menderita.”


“Jaga bicaramu, permaisuri!” bentak raja. “Jangan menuduh Kandita sembarangan, atau aku akan mengusir kamu dari istana!”


“Lebih baik aku pergi dari sini bersama putra mahkota, daripada tinggal bersama putri yang mengidap penyakit kutukan yang mungkin menular itu!”


“K-kau...!”


“Jadi, silakan Kanjeng Prabu pilih, Aku dan pewaris takhta, atau si putri terkutuk itu.”


\==oOo==


Sebelum matahari terbenam, Rara Kandita menemukan dirinya berjalan tak tentu arah, jauh dari Keraton Pajajaran.


Kata-kata sang ayah masih terngiang di benak Kandita. “Rara Kandita, mulai saat ini kuperintahkan kau untuk pergi dari istana ini, mencari cara untuk menyembuhkan penyakit kutukan yang kauderita itu. Hanya setelah kau sembuh, baru kau boleh kembali dan hidup bersama kami. Pastikan penyakit itu tak menular dan kau tak menularkannya pada orang lain.”


Kandita lalu berkelana mencari penawar sihir itu. Namun, lambat-laun penyakitnya makin parah. Sisik-sisiknya makin banyak dan napasnya malah makin sesak. Putus asa, Kandita berniat untuk bunuh diri dengan terjun dari tebing Pantai Karang Hawu dekat Laut Selatan.


Saat sang putri tiba di tepi tebing, tiba-tiba seorang pria berambut panjang menghampirinya sambil berteriak, “Hentikan, Kandita! Jangan bertindak bodoh!”


“Siapa kau? Mengapa kau mengikuti aku dari Pajajaran sampai kemari?” Kandita berbalik dan bertanya penuh curiga.


Pria itu menjawab, “Namaku Jalaspati, aku seorang resi, penyihir dan pertapa aliran Hindu Brahmana. Sudah lama aku mencarimu, dan akhirnya aku menemukanmu di tempat ini.”


“Lantas, apa urusanmu mencegahku?” sahut Kandita ketus. “Apa kau pikir aku ini makhluk nista yang pantas dikasihani?”


“Bukan begitu, Kandita,” ujar Jalaspati sambil menggeleng. “Pertama-tama, perlu kau tahu, aku adalah dukun yang disewa Permaisuri Mutiara untuk mengutukmu.”


“A-apa?” Mata Kandita terbelalak. Sesaat kemudian, tatapannya berubah nyalang. “Bayar hutang ini dengan nyawamu, dukun pengecut!” Gadis itu menerjang ke arah si dukun, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia memegangi lehernya. Sesak napasnya kambuh.


Dengan tenang, Jalaspati meneruskan kata-katanya. “Sebab kedua, karena tentunya aku punya penangkal untuk kutukanmu itu.” Ia lalu mengambil sebuah botol yang amat kecil, berisi cairan berwarna biru. “Inilah Air Mata Paramitha, penawar segala racun, penyakit dan kutukan. Sangat langka, sebotol ini hanya cukup untuk satu orang saja.”


“Cih! Setelah semua perbuatanmu itu, kau malah menawarkan obat penawar? Mana mungkin aku percaya pada tipuan murahan darimu itu?” bentak Kandita.


Dengan amat sabar Jalaspati menjelaskan, “Percaya atau tidak, kulit bersisikmu itu bisa membuatmu bernapas dan bergerak bebas dalam air, seperti insang dan sirip ikan. Sebagai gantinya, kau takkan bisa hidup di daratan lagi. Takkan pernah bisa kembali ke kerajaanmu, ke keluargamu. Nah, bagaimana keputusanmu? Hidup dalam air dengan bebas, atau minum penawar ini, kembali ke istana yang penuh intrik dan jebakan? Kembali pada Mutiara yang akan menjegalmu lagi dan lagi?”


“Hei! Kaupikir kau ini siapa, Jalaspati? Setelah mengutukku dan menghilang, kau muncul begitu saja dan mengatur hidupku? Enak saja! Baguslah kau memberitahuku soal kulit ini, jadi aku bisa mencari cara lain untuk bunuh diri!”


Tiba-tiba Jalaspati mencekal tangan Roro dan menegur, “Tunggu! Jangan bodoh, Kandita! Jangan buang nyawamu sia-sia saat jalan keluar sudah di depan mata! Lagipula, aku punya dua alasan lagi untuk membantumu!”


Kandita menghentakkan tangannya ingin lepas, tapi gagal. “Alasan apa lagi? Sudahlah, jangan basa-basi!”


Namun Jalaspati malah menarik tangan gadis itu, matanya menatap lurus ke lawan bicaranya dengan sorot penuh keteduhan. “Begini, Kandita. Sebenarnya aku adalah titisan Batara Baruna, dan aku melakukan semua ini karena… aku amat mencintaimu.”


Kandita terpana. Untuk pertama kalinya, seorang pemuda berani menyatakan cintanya langsung padanya. Pemuda titisan dewata pula. Sesaat, hatinya berbunga-bunga.


Namun saat berikutnya, ekspresi wajah Kandita mengeras, gigi-geliginya gemeletak. Lantas ia mendorong tubuh Jalaspati dengan satu entakan keras. Lebih keras lagi bentakannya, “Sudah kubilang lebih baik aku mati daripada menerima bantuan, apalagi cinta dari orang yang telah mencelakakanku! Enyah sana!”


Jalaspati tampak tetap tenang, seakan sudah menduga reaksi Kandita itu. “Baik, kalau begitu biar kuungkapkan ketulusanku.” Bibirnya lantas komat-kamit mengucapkan mantra, jari telunjuk dan jari tengah tangannya dirapatkan, menggambar aksara magis yang berpendar di depan dadanya. Tiba-tiba pada kulit mulus pemuda tampan itu tampak ruam-ruam berbentuk sisik ikan yang sama persis dengan sisik-sisik di tubuh Kandita.


“Lihat, aku juga menderita kutukan yang sama denganmu. Biarlah aku berkorban dan menanggung hukuman atas perbuatanku ini, dan kau sembuh seperti sediakala. Nah, kini segalanya tergantung keputusanmu,” ujar Jalaspati sambil meletakkan tabung Air Mata Paramitha di atas batu karang. Lalu ia berlari cepat ke ujung tebing dan terjun ke dalam air samudera. Sambil melakukannya, Jalaspati sempat melantunkan tembang.

__ADS_1


 


 


Hiduplah terus, Kandita terjelita


Kembalilah ke kerajaanmu


Jadilah Ratu Adil nan bijak


Biarlah aku terkutuk gantimu


 


 


Hiduplah terus, Kandita terjelita


Agar pengorbananku tak sia-sia


Inilah ungkapan hatiku


Tentang rasa sesal dan cinta


 


 


Semoga suatu hari yang indah


Kau akan hidup damai bahagia


Ingatlah selalu, Kandita terjelita


Kucinta kau melebihi segalanya


 


 


Kandita sempat bergerak ingin mencegah, namun jatuh tersandung batu karang yang licin. Ia hanya bisa tercengang melihat tindakan nekad pria pemujanya itu. Lantas ia melihat botol obat penawar, mengambilnya, lalu membukanya.


Saat isi botol itu sudah akan menetes keluar dari botol, tiba-tiba Kandita mengurungkan niatnya. Tidak! Aku punya kegunaan yang lebih bagus untuk air ajaib ini! batinnya. Biang keladi bencana ini adalah Jalaspati! Ialah yang menghasut Permaisuri Mutiara, merekayasa segala tipu-daya itu dan memberiku racun kutukan agar aku diusir dari istana! Apa maksud sebenarnya ia menolongku? Apa hanya karena cinta? Kalaupun tidak, aku harus mencarinya dan membalaskan dendamku ini padanya!


Mengambil kesimpulan itu, Kandita lantas berlari dan terjun dari Tebing Karang Hawu, mengejar Jalaspati di kedalaman lautan luas.


Di dalam air, semula Kandita merasa panik, tangan dan kakinya menggelepar. Namun saat berikutnya ia menyadari ada perubahan pada tubuhnya. Astaga, Jalaspati benar! Sisik-sisik tubuhku hilang, aku dapat bergerak bebas dan bernapas lega dalam air!


Lantas, gadis jelita berambut panjang itu menatap sekelilingnya. Inilah dunianya yang baru, dunia di bawah air yang penuh keindahan tersendiri. Takkan ada permaisuri raja, dukun jahat atau semacamnya yang bakal mengusiknya di sini. Harus kuakui, sebagai titisan Batara Baruna, Jalaspati sungguh sakti mandraguna. Untuk melawan musuh besarku itu kelak, sekaligus bertahan hidup dan menjadikan Laut Selatan ini kerajaanku, aku harus menguasai ilmu sakti yang takkan tertandingi siapapun!


Maka seiring waktu, Kandita mempersiapkan dirinya dengan berlatih keras. Tak hanya kesaktian tak terukur, ia mendapatkan kemampuan berbicara dengan segala makhluk laut.


Jalaspati ternyata sedang melanglang tujuh samudera, menjalani tugas-tugas Dewa Baruna lainnya. Saat kembali ke Laut Selatan Jawa, ternyata dirinya telah menua. Lebih parahnya, ia dicegat oleh Kandita yang ternyata masih awet muda.


Menolak mentah-mentah cinta dan permintaan maaf seorang pria tua, Kandita menyerang Jalaspati dan keduanya bertarung dalam air.


Walaupun sama-sama sakti, raga Kandita yang lebih muda daripada Jalaspati jadi penentu kemenangannya. Akhirnya Kandita meminumkan paksa Air Mata Paramitha pada Jalaspati. Sesak napas menunggu ajal, Jalaspati meledakkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa hingga raganya luluh-lantak. Rohnya merasuki gelang pusaka Batara Baruna dan Kandita memakainya sebagai tanda kemenangannya atas sang titisan dewata itu.


Sejak saat itulah, Kandita memantapkan kekuasaannya dengan gelar baru sebagai Ratu Laut Selatan dan sesosok dewi baru.


Nyi Roro Kidul.

__ADS_1


__ADS_2