ADILAGA

ADILAGA
SOLARA 1


__ADS_3


Kekuatan seharusnya berbanding lurus dengan pengabdian.


“Dokter Hamzah! Dia di dalam sini!” teriak seorang pria gemuk berkumis tebal yang nampak tak sabaran sambil menunjuk ke dalam sebuah rumah yang amat kusam dan sederhana.


Yang dipanggilnya ternyata seorang wanita. Saat berlari tergesa-gesa, rambut Dokter Yvonne Hamzah yang amat panjang dan berombak berkibar seolah ditiup angin kencang. Ia mengenakan blus dan jas putih panjang seperti dokter pada umumnya, namun celana jins dan sepatu botnyalah yang membantunya bergerak lebih lincah di desa di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Sumatra Utara ini.


Terpaksa menanggalkan sopan-santun, Yvonne melangkah ke dalam rumah itu, langsung berdiri dekat seorang pria tua yang terbaring lemah di ranjang. Saat mengeluarkan peralatan dari tas dokternya, sayup-sayup Yvonne mendengarkan si pria pengantar mengeluh soal saat dia mengembalikan keranjang rotannya yang jebol ke penjualnya, pak tua itu. Lalu tiba-tiba pak tua kena serangan jantung. Si pria memanggil dokter, lalu mengancam dokter itu jangan sampai terjadi hal yang tak ia inginkan.


Yvonne mengacuhkan pria itu, memakai stetoskopnya di telinganya dan dada pasien dan mulai memeriksa kondisi pak tua.


Tiba-tiba pak tua berkata lirih, “Percuma, bu dokter… waktuku sudah tiba… untuk meninggalkan… dunia ini…”


Stetoskop di dada pak tua diangkat, dan Yvonne menggelengkan kepala. “Bapak benar. Apa bapak punya keluarga atau sanak famili yang bisa dihubungi?”


“Tidak… Aku tinggal sebatang kara. Hidupku memang melarat… namun aku punya… satu warisan penting yang… selama ini kujaga… dan kini kuberikan… padamu.”


Yvonne mengulurkan telapak tangannya. “Lho, mengapa aku? Tak usah, pak. Aku dokter dinas yang digaji pemerintah, bapak tak perlu membayarku…”


“Tapi ini… harus!” Suara pak tua dipaksa meninggi. Lantas beliau menunjuk ke samping ranjangnya sambil mengulurkan sebuah kunci besi. “Bukalah peti… di sana itu.”


Masih bertanya-tanya, Yvonne meraih kunci dan membuka peti yang ditunjuk. “Ada anting-anting… dan cemeti di sana… ambillah,” kata pak tua. Memang, hanya ada dua benda itu dalam peti, jadi Yvonne mengambil keduanya.


Tiba-tiba sepasang anting-anting berlian dan cemeti itu berpendar keemasan dan amat cerah, bagai matahari bersinar di kedua tangan Yvonne. Mata wanita itu terbelalak takjub.


Di sisi lain, senyum tipis terulas di bibir pak tua. “Rupanya benar… ramalan… pendahuluku…”


“Apa maksud bapak?” tanya sang dokter.


“Seorang pria tua misterius… datang dari Jawa… ke Pulau Samosir untuk menyepi. Menjelang ajalnya… beliau menyerahkan… dua pusaka ini… agar kujaga. Katanya… bila berjodoh… menjelang ajal, aku juga… akan bertemu.. pewaris sejati Cambuk Samandiman dan Anting-Anting Diwangkara… milik Raja Klana Suwandhana. Kini… ramalan itu terwujud… dan akhirnya… aku bisa berpulang dengan tenang…”


“Tunggu, kuatkan dirimu, pak tua!” seru Yvonne sambil memegang tangan pria tua itu. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan dan tak dipahami insan yang selalu bergelut dengan sains dan sangat awam dalam ranah gaib ini.

__ADS_1


Seakan mengetahui maksud si penerus ini, pak tua terus berkata, “Tenanglah… Sepercik sukma Dewa Surya… dalam pusaka-pusaka itu… akan membimbingmu. Bukan aku… karena aku hanya… menjaga dan menyimpannya… tak pernah menggunakannya… Jadi kenakanlah… gunakanlah… Karena kaulah insan berhati suci… secerah mentari…”


Tangan pak tua terkulai, lepas dari genggaman Yvonne. Tugasnya tuntas sudah, ia menyusul para pendahulunya di alam baka dengan tersenyum damai.


Yvonne terpaku. Akal sehatnya masih berusaha mencerna kejadian yang baru ia alami ini. Apa ini keberuntungan? Apa ini sekedar niat si orang sekarat untuk membayar jasa dokter dengan dua benda paling berharga yang ia miliki?”


Dengan harapan mendapatkan jawabannya, Yvonne mengenakan Anting Diwangkara pada kedua dinding telinganya. Gagang Cambuk Samandiman ia pegang lebih erat lagi. Maka terjadilah keajaiban. Tubuh Yvonne Hamzah berpendar lebih cerah lagi, mendapat asupan tenaga dalam yang meluap-luap, tak terbendung.


Tiba-tiba ada suara terngiang dalam benak Yvonne. Ah, tubuhmu ternyata adalah wadah yang ideal untuk menampung limpahan prana tipe sihir ini. Namun kau masih perlu banyak latihan untuk mencernanya, apalagi menggunakannnya dalam pertarungan. Ada kelebihan energi yang terlalu lamban diserap tubuhmu. Kau harus menyalurkannya, kalau tidak energi itu akan berbalik merusak dirimu seperti kantung kulit yang jebol karena terlalu banyak air di dalamnya.


Yvonne membatin, Tapi bagaimana cara menyalurkannya?


Suara itu menjawab, Biar kuambil alih kendali dirimu sejenak, akan kuberi contoh dulu. Nah, kebetulan para ‘calon sasaran’ datang dengan sendirinya.


Maksud si suara misterius mewujud dalam langkah-langkah kaki yang cepat dari beberapa orang. Benar saja, pintu rumah pak tua didobrak, dan sekelompok pria masuk. Penampilan dan perangai mereka tampak beringas.


Si pria yang tadi mengantar Yvonne malah maju, menunjuk ke arah dokter itu dengan kasar. “Sudah kubilang selamatkan si tua itu! Sekarang dia malah mati, aku tak mau dipersalahkan!”


Yvonne menanggapinya dengan ekspresi dingin dan tatapan tajam. “Ini memang bukan salahmu. Jadi terus teranglah, untuk apa orang sebanyak ini?”


Para lelaki yang rupanya adalah tukang pukul sewaan itu mengayunkan pelbagai macam senjata, menyerbu satu orang wanita yang bukan pendekar. Terpaksa roh pelindung si wanita, entah dia Raja Klana atau Dewa Surya ambil alih kendali raga inangnya untuk membela diri.


Di luar dugaan semua lawan, Prana Matahari Suci membuat Cambuk Samandiman melecut amat cepat bagai segerombolan ular keemasan. Saat Yvonne menyudahi serangannya di depan pintu masuk, semua pria yang mengeroyoknya tampak berdiri kaku bagai arca, lalu bertumbangan di lantai.


Yang masih bisa bergerak hanya si “penyewa”. Pria gemuk itu berdiri terpaku saja di tepat, menatap dokter wanita lemah yang tiba-tiba jadi luar biasa sakti itu. Celananya basah kuyup sampai bawah, bau pesing melengkapi kondisinya yang amat memalukan ini.


Yvonne tak perlu mengatakan apapun lagi. Sebelum lebih banyak warga desa mengetahui kejadian ini, ia cepat mengemas peralatan dokternya dan bergegas keluar dari rumah pak tua. Berjalan secepat yang ia bisa ke rumah dinasnya, mengemas barang-barang pribadinya lalu pergi begitu saja, membiarkan pintu rumah terbuka.


Berbohong pada tukang perahu motor.


Secepatnya menyeberang hingga ke tepi Danau Toba. Melanjutkan perjalanan panjang ke Medan, terus hingga Jakarta.


Yvonne Hamzah sepenuhnya sadar, meninggalkan tempat dinas berakibat izin profesi dokternya dicabut dan hampir mustahil diperbarui lagi. Namun ia tak punya pilihan selain bersyukur tak sampai celaka gara-gara insiden di Samosir itu.

__ADS_1


Namun, profesi apa yang bisa ia jalani sekarang? Modal Yvonne hanya ilmu kedokteran dan kekuatan super matahari Dewa Surya, warisan raja yang entah keberadaannya di Jawa Kuno dapat dibuktikan fakta sejarah atau hanya legenda belaka.


Sempat Yvonne hampir putus asa. Namun terbitlah gagasan baru, yaitu menjadi pakar pengobatan alternatif dengan mendayagunakan kekuatan supernya. Dalam waktu relatif singkat, nama Yvonne Hamzah jadi terkenal sebagai tabib yang piawai, namun tak serakah.


Walaupun Yvonne sering menggratiskan biaya perawatan untuk pasien dari kalangan kurang mampu, jangan coba-coba memperdayai manusia super ini. Pernah ada pasien kaya-raya yang berpura-pura miskin datang padanya untuk pengobatan kanker. Namun saat Yvonne mengungkapkan tipuan itu dan mengenakan tarif yang relatif murah dan amat terjangkau, si pasien pria parobaya ini malah marah-marah. Tersebarlah fitnah di jejaring sosial dan internet, namun ditepis dengan lebih banyak kesaksian positif dari pasien-pasien yang sudah sembuh.


Kehebohan ini sempat membuat Yvonne berniat alih profesi dan tak menggunakan kekuatan penyembuh supernya lagi. Namun, di saat yang tepat seorang pria luar biasa mendatanginya. Nama pria itu Aldrin Parengkuan. Ia pria paling tampan yang pernah dikenal Yvonne, namun juga paling aneh.


Mata kiri Aldrin ditutupi semacam kacamata kuno dengan bentuk yang amat mencolok, seperti penutup mata bajak laut. Lensa kacamata itu berbentuk tampilan mata manusia, warnanya ungu berkilap. Baru kemudian Yvonne tahu itu adalah amethyst, permata yang telah diimbuhi kekuatan gaib. Dan kacamata itu adalah pusaka super sakti bernama Kartika Chandra.


Aldrin berkata bahwa ia baru diangkat sebagai Direktur Utama I.N.D.I.G.O. Ia menggantikan pendahulunya, Herman Winarno yang memutuskan pensiun dan hidup menyendiri di dekat Pelabuhan Ratu. Aldrin menawarkan pada Yvonne untuk membantunya mengelola organisasi rahasia ini. Namun Yvonne menolaknya mentah-mentah, dengan alasan ia ingin hidup tenang.


Kunjungan kedua Aldrinpun berujung penolakan. Walau demikian, ia dan Yvonne mulai saling tertarik dan berteman akrab, sama-sama menanggung beban tanggung jawab dari kekuatan super mereka masing-masing. Yvonne adalah pribadi yang tak suka bertarung dan bertempur, juga membenci kekerasan, dan Aldrin menghormati itu.


Namun suatu ketika, Yvonne ditantang oleh salah seorang pesaingnya di dunia pengobatan alternatif, yaitu dukun super sakti bernama Ki Rogohjiwo. Konon dukun bergaya hidup mewah ini terkenal gemar membebankan biaya selangit pada tiap pasiennya tanpa pandang bulu, jadi keberadaan Yvonne amat mengancam pamornya. Adu ilmu pengobatan meningkat seketika menjadi pertarungan.


Saat terdesak, Yvonne terpaksa menggunakan Cambuk Samandiman dan balik menekan lawan. Ki Rogohjiwo roboh dan pura-pura menyerah kalah. Namun saat Yvonne akan menyembuhkannya, si dukun licik malah mencuri serang hingga Yvonne terluka parah.


Saat nyawa Yvonne di ujung tanduk itulah Aldrin datang. Ilmu telekinesisnya menerbangkan peralatan-peralatan praktek Yvonne dan menghujani Ki Rogohjiwo. Terluka lebih parah dari Yvonne, si dukun parobaya itu akhirnya melarikan diri. Tentu sambil mengancam ia akan menggunakan ilmu yang lebih dahsyat lagi untuk menghancurkan Yvonne dan Aldrin.


Menyadari resiko ancaman kehilangan nyawa sia-sia bila terus menjalani profesi sebagai tabib paranormal, Yvonne memutuskan menerima tawaran Aldrin untuk bergabung di I.N.D.I.G.O.


Sumbangsih Yvonne ternyata amat berarti. Dalam waktu dua tahun saja, ia berhasil membenahi organisasi yang sempat carut-marut dan hampir bubar akibat insiden yang dipicu “orang-orang dalam” dari pasukan khusus paranormalnya ini beberapa tahun silam.


Kini, sebagai Direktur Lapangan I.N.D.I.G.O, Yvonne Hamzah menempati ruang kantor yang luas dan berdesain futuristik-minimalis serba putih di Skyheim, markas besar I.N.D.I.G.O.  Menempati lantai atas salah satu gedung perkantoran di pusat Kota Jakarta ini, Yvonne memandang dari balik jendela ke arah Monumen Nasional tak terlalu jauh di luar sana. Pandangannya kembali menerawang, kembali menapak tilas perjalanan hidupnya dari menjadi seorang dokter desa di Pulau Samosir hingga detik ini.


Yvonne bahkan tak menoleh ketika mendengar pintu ruangannya dibuka dan suara-suara langkah kaki mendekati dirinya. Lantas, ia mendengar suara berat dan merdu seorang pria, “Wah, wah. Ternyata Bu Direktur Lapangan tengah semedi. Sedang memikirkan apa?”


“Yah, sekedar menggali kenangan lama. Siapa tahu ada “harta karun” yang masih terpendam di dalamnya.” Yvonne berbalik ke arah lawan bicaranya, tersenyum lembut keibuan.


“Haha, bisa saja kau, Ibu Direktur tersayang,” tanggap pria bernama Aldrin Parengkuan itu. “Kusangka kau sedang memikirkan anak-anak kita di rumah. Sudah lebih dari seminggu kita tak pulang. Kau bekerja tak kenal lelah di lapangan…”


“Dan kau di kantor, Aldrin, mengolah dan menyimpulkan segala informasi yang kita dapat. Kejadian-kejadian gaib makin sering saja akhir-akhir ini. Kita harus terus mencari hubungan antara kasus-kasus yang ada, mengumpulkan cukup bukti dan informasi untuk menemukan dan menghentikan dalang di balik semua ini.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2