
Maka, Herman Winarnolah yang maju menghadapi musuh yang tergeletak pasrah tak berdaya, dikawal Taruna, Dahlia dan Hima. Kata Win, “Nah, dengan ini kalian kami tangkap dengan tuduhan aksi terorisme, merusak Monumen Nasional. Hima, Taruna, ringkus mereka!”
“Siap!” Hampir seketika, tangan Blakk Jak dan Artazure terbelenggu borgol bermuatan energi gaib penghilang prana. Gelang-gelang penghilang pranapun terpasang di leher dan kaki-kaki kedua teroris yang masih semaput itu. Mereka tak berubah wujud, mungkin masih ada sisa setitik prana untuk melindungi identitas asli mereka di depan khalayak ramai.
Taruna dan Hima menjaga kedua teroris sementara Dahlia merawat Lunar dan Solara. Reog menghampiri Solara untuk menyampaikan sesuatu, tapi didahului oleh polisi yang tadi menembaki para petarung dari helikopter tadi.
Polisi pria itu membuka masker dan helmnya seraya berseru, “Tunggu! Lunar dan Solara, terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa rekan kami tadi. Tapi bagaimana dengan puncak Monas yang runtuh? Apa bukti kalian berdua bukan termasuk pelakunya?
Solara si ahli taktik lapangan menjawab, “Aku yakin para kru televisi di helikopter yang satu lagi punya rekaman yang membuktikan kami tak bersalah.”
Si polisi terdiam sejenak. “Mungkin kalian benar…” Lalu tiba-tiba ia memegangi dahi di kepalanya yang hampir botak. “Ya ampun! Tapi puncak Monas telah runtuh! Ini insiden nasional! Negara kita pasti bakal mendapat malu luar biasa di mata dunia! Belum lagi…”
Winarno menyela, “Terus-terang, ini aksi teror yang maksudnya mungkin baik, tapi caranyalah yang merusak. Tenang saja, asal kita berterus-terang dalam pemberitaannya, dunia akan mengerti.”
“Tapi bisa juga kita menebus tindak pengrusakan ini dengan perbaikan,” kata sebuah suara. Solara dan yang lainnya menoleh, melihat orang yang mengatakannya. Dia Lunar.
“Apa maksudmu, Lunar?” Kerutan di dahi Solara menyiratkan ia takkan suka jawaban Lunar.
“Karena yang merusak adalah manusia super, yang memperbaikinya harus manusia super pula. Karena nampaknya Blakk Jak dan Artazure tak mampu mengangkut puncak api emas kembali ke tempatnya, yang melakukan itu harus seseorang yang memiliki kemampuan psikis-telekinesis setara dewa.”
“Dan orang itu adalah… kamu!?” Wajah cantik Solara pucat pasi seketika.
Lunar tak menjawab. Dengan langkah terhuyung ia berjalan ke dekat patung api raksasa.
Solara berseru kalap, “Jangan lakukan sekarang, Lunar! Nanti saja, setelah pranamu pulih…!”
Namun Lunar sudah terlanjur mengacungkan kedua tangannya. Mata batinnya telah terpusat pada benda maha berat yang akan ia angkat. Dengan amat perlahan patung raksasa terangkat dari ceruk besar di tanah.
__ADS_1
Solara menatap sekilas wajah suaminya. Benar dugaannya, wajah Lunar makin pucat, segala usahanya ini pasti gagal dan sia-sia, malah menuai cedera berkepanjangan atau parah pada fisik dan kejiwaannya.
Terpaksa Solara juga bertindak. “The Stickler! Naiklah ke puncak Monas! Kau tahu apa yang harus kaulem, ‘kan?”
“Ya!” The Stickler bergegas lari, lalu mulai memanjat dinding Monas seperti cicak dengan tangannya yang berperekat.
“Semua Adilaga, bantu aku menguatkan Lunar!” Solara memberi contoh dengan menempatkan dua tapaknya di bahu Lunar, menyalurkan tenaga dalam untuk memperkuat daya telekinesis, sihir pemindah benda. Para anggota Liga Adilaga lain mengikuti contoh itu. Dahlia menyalurkan tenaga dalamnya lewat bahu Solara. Diikuti Hima ke Dahlia, Taruna ke Hima dan Reog yang rupanya sedang terluka di deret terakhir, kedua telapaknya menempel di bahu Taruna.
Gabungan prana lima pahlawan super ini membuat puncak api Monas terangkat tinggi, tinggi, sepanjang tinggi tugu itu, kembali ke tempatnya semula di puncak. Luka Lunar yang tiba-tiba berdenyut membuat patung sempat berhenti dan turun sedikit. Tambahan tenaga ekstra dari Hima dan Tarunalah yang membuat benda super berat itu kembali terangkat, hingga sampai di atas tempatnya tercerabut tadi.
Alas tempat api tadi berada, juga tiang-tiang penyangga yang patah telah dilumuri lem Stickler yang super lengket dan kuat. The Stickler menggunakan kekuatan supernya untuk menggeser posisi patung api hingga sepersis mungkin. Hasilnya tak sepresisi semula, namun setidaknya posisi ini cukup kokoh dan bisa diperbaiki lagi. Pendekar aneh itu lantas menambahkan lem lagi seputar puncak api emas agar merekat sempurna.
Stickler, pria berkostum hijau-kuning ini mungkin pernah memperbaiki benda yang lebih besar dan lebih berat daripada ini, namun harus diakui inilah karya The Stickler yang paling monumental sejauh ini.
Tugas Lunarpun tuntas sudah. Ia lantas jatuh lemas, benar-benar kehabisan tenaga dalam, ditambah kelelahan psikis yang tak pernah sampai separah ini sebelumnya.
“Lunaar!” Histeris, Solara menahan tubuh sang suami di pelukannya. Sebagai dokter, dirabanya denyut nadi di tangan Lunar yang sarungnya dibuka. Air mata dan senyum lega menghiasi wajah dokter super sakti dan super cantik ini. “Tolong, lain kali jangan lakukan tindakan bodoh seperti ini lagi.”
Belum sempat Solara bernapas lega, Reog terburu-buru menghampiri dirinya dan Lunar sambil berkata, “Maaf, Direktur Solara dan Direktur Lunar, tapi dua mitraku, Cakra dan Rangda ditangkap SS Corporation!”
“Apa!?” Solara terperanjat, Winarno dan Lunarpun terkejut bukan kepalang mendengar perkembangan baru yang super pesat ini. Kata Solara, “Jelaskanlah duduk perkaranya!”
Dengan kata-kata yang diusahkan cukup jelas, Reog menerangkan tentang kasus dari klien mereka, Indra Lukmanto dan Dian Megaranti. Menyangka itu kasus biasa, mereka menanganinya tanpa merasa perlu melibatkan I.N.D.I.G.O.
Ternyata, rumah itu adalah markas rahasia milik Liga Angkara Murca, yang bernaung di bawah SS Corporation. Reog, Cakra dan Rangda terjebak dan bertarung mati-atian agar lolos. Gangren yang bertarung dengan Reog tiba-tiba berubah wujud menjadi si dukun, Ki Rogohjiwo, menyampaikan bahwa Cakra dan Rangda entah telah tewas atau ditawan SS. Jadi Reog terpaksa melarikan diri.
“Setidaknya kini kita tahu letak markas rahasia SS Corporation. Saya mohon, selamatkanlah Cakra dan Rangda!” Dengan permohonan itu Reog menutup menjelasannya.
Winarno menyela, “Tunggu! Ada yang sangat janggal di sini. SS membiarkan Reog lolos dengan membawa informasi teramat rahasia mereka pada musuh, yaitu kita. Mereka pasti telah mempersiapkan jebakan yang lebih parah jika kita menyerang markas SS itu!”
__ADS_1
“Benar, Pak Win,” ujar Taruna, menimpali sebagai rekan seperjuangan. “Kurasa SS Corporation pasti sedang mengelabui kita.”
Reog protes, “Lantas, bagaimana dengan Cakra dan Rangda yang ditawan di sana? Apa kita tega mengorbankan kawan kita begitu saja, walaupun mereka telah menolak menjadi anggota Liga Adilaga?”
“Sebelum mengambil tindakan, kurasa kita sebaiknya lebih dulu mengorek informasi yang lebih jelas dari dua anggota Angkara Murca ini,” tutur Hima sambil menggiring kedua “tawanan perang”, Blakk Jak dan Artazure.
Solara ingat lagi, kedua teroris itu adalah Indra dan Dian yang juga telah menjebak trio Reog-Rangda-Cakra. “Hm, kurasa kalian berdua perlu menjalani interogasi dulu agar mau bicara,” pancing Solara pada Blakk Jak dan Artazure.
“Tak perlu,” ujar Artazure sambil mengangguk mantap.
“Kami akan memberitahu kalian semua yang kami tahu.”
“Hah? Apa alasannya?” tanya Reog, bingung dengan sikap para “klien palsu” itu. “Bukankah kalian termasuk para anggota Angkara Murca yang paling fanatik?”
Blakk Jak menjawab, “Bisa jadi, namun Angkara Murca hanyalah alat, sarana untuk menumpahkan segala fanatisme dan idealisme kami, juga dendam pada seluruh warga Jakarta karena kami kehilangan anak tunggal kami, jadi korban tabrak lari. Jadi, selama Angkara Murca mendukung misi kami, kami akan tetap setia.”
Artazure melanjutkan, “Tapi kini mereka malah sibuk dnegan rencana besar pimpinan, dan kami dibiarkan berdua saja, seakan aksi kami tadi tak lebih dari sekedar pengalih perhatian. Nah, bila kalian jadi kami, apa kalian akan tetap setia pada Liga Adilaga?”
Tak butuh waktu berpikir, Solara menjawab, “Kami akan menyelidiki duduk perkaranya dulu, seperti yang kami lakukan sekarang. Kesetiaan kami hanya pada keadilan, kebenaran dan kebaikan. Bila Liga Adilaga maupun para anggotanya melenceng dari jalurnya, kami akan menuntun mereka kembali ke jalur yang benar.”
Blakk Jak mendengus. “Huh, kita lihat saja nanti kebenaran filosofimu itu. Lagipula, kami sudah janji bakal bicara.” Lantas ia dan Artazure “berkicau”, menyampaikan informasi teramat penting yang tak hanya menyangkut nyawa dua pahlawan super, tapi juga menyangkut keamanan, kedamaian dan keutuhan nasional.
Tak terlalu lama kemudian, Solara duduk dalam pesawat terbang jet bersandi “Jatayu” yang kini sedang berganti wujud menjadi helikopter. Bersamanya adalah Reog, Hima, Taruna dan Dahlia, juga para “tawanan”, Blakk Jak dan Artazure. Puluhan helikopter lain tampak mengikuti di belakang Jatayu, mengangkut pasukan I.N.D.I.G.O.
Barong, Pendekar Singa Putih Suci menumpang pesawat jet I.N.D.I.G.O lainnya yang bersandi “Sempati”, bertolak dari Denpasar, Bali untuk bergabung dengan para rekannya. The Stickler tinggal di Jakarta, menuntaskan perbaikan Monumen Nasional. Sementara Lunar alias Direktur Umum I.N.D.I.G.O Aldrin Parengkuan menderita luka serius, terpaksa dirawat dan tak bisa ikut dalam misi ini.
Jadi, inilah misi akbar penyelamatan negeri yang dipimpin seorang wanita cantik nan sakti.
SOLARA.
__ADS_1