
Murca dari angkara berbuah kegelapan tak terhingga.
Suara sirine polisi masih meraung-raung di kejauhan, membuat suasana Jakarta malam hari yang hening bertambah bising.
Ada sebuah tempat yang sepi di depan sebuah bangunan apartemen pencakar langit yang sudah lama dibiarkan dalam kondisi setengah rampung. Di sana, segala kebisingan itu terdengar sayup-sayup saja. Namun, suasana sepi di tempat itu akan segera pecah oleh dua insan yang sedang berhadap-hadapan di bawah penerangan lampu jalan. Tepatnya, seorang pria berkostum merah nan aneh sedang ditodong pistol oleh seorang wanita berkostum ungu dan sama anehnya.
“Rangda? Maaf, tapi aku belum pernah melihatmu,” ujar si pria, nada bicaranya terkesan bingung. Ia pasang kuda-kuda, siap bertarung bila terpaksa.
Gadis berjulukan Rangda itu malah menghardik, “Jangan pura-pura! Aku tahu kau adalah Cakra, penjahat yang berusaha membunuhku di Gunung Anak Krakatau. Seharusnya sudah kuduga, kau tak mati setelah tenggelam dalam kawah magma. Dan kini kau kembali, mencariku untuk memastikan aku mati dan bungkam, ‘kan? Untung Reog memberitahukan keberadaanmu padaku, jadi akhirnya aku menemukanmu di sini!”
Cakra berseru balik, “Aku tak mengerti kata-katamu itu! Kau salah mengenaliku! Mungkin pendahulukulah yang pernah bertarung denganmu dulu! Namaku Adhyaksa Wiguna, dan aku…”
“Bohong! Mustahil keris pembawa kekacauan itu memilih orang baik-baik sebagai pewarisnya!”
“Kalau kau tak mau percaya, biar aku berubah wujud jadi manusia biasa…”
“Percuma! Roh keris itu pasti memberitahumu agar mengelabuiku, lalu membunuhku saat aku tak waspada! Maaf bung, siapapun kau, aku pasti memusnahkan kau dan zirah-kerismu itu.”
“Jadi, kalaupun aku tak membunuhmu, kau tetap membunuhku?”
“Ya!”
“Kau gelap mata, tak mau percaya dan tak mau mengerti. Kalau begitu, aku tak punya pilihan selain ini!” Seiring kata terakhir Cakra melesat terbang, terpaksa ambil resiko dengan memanfaatkan penglihatan super dan kegelapan malam.
Namun Cakra tak tahu, penglihatan super Rangda lebih tajam lagi. Satu tembakan pistol Rangda ke kegelapan malam mengenai prana pelindung di perut Cakra. Rasa sakit membuat Cakra kehilangan keseimbangan, lalu melayang tak terkendali ke dalam lokasi konstruksi gedung. Bagai daun dihempas angin, tubuh si Pendekar Halilintar Merah membenturi benda-benda besar-kecil dalam situs itu.
Tiba-tiba sebatang besi runcing tampak mengancam mata Cakra. Refleks, tangannya yang sarat prana terulur, menggenggam bagian batang besi itu. Daya layang tadi membuat tubuhnya agak berbelok, lalu jatuh tersungkur di lantai beton. Sakitnya bukan kepalang, tapi itu tentu jauh lebih baik daripada tertancap besi dan perisai prana tertembus peluru.
Cakra terkapar, mengerang karena luka-lukanya. Mau tak mau, dengan tenaga dalam ditariknya keluar peluru yang sedikit mengerat otot perutnya itu. Dengan ilmu penyembuhan tenaga dalam dari gurunya, Mpu Gandring, luka peluru itu berangsur-angsur merapat.
Sebelum semnpat bernapas lega terhindar dari kematian, suara langkah-langkah cepat yang makin jelas terdengar membuat Cakra terkesiap. Ia ingin lari, menghindar saja dari wanita yang pikirannya tertutupi dendam yang bertumpuk-tumpuk ini.
Namun Cakra baru sadar, lari takkan memecahkan masalah, malah membuat hidupnya takkan bisa tenang. Suara-suara lari makin cepat menaiki tangga. Jadi tanpa mempedulikan rasa sakitnya, Cakra memaksa diri berlari ke ujung lain koridor, menjauh dari suara langkah kaki yang terdengar makin cepat dan dekat.
Sebelum sampai di ujung, tiba-tiba Cakra mendengar suara tembakan lagi. Tak mau ceroboh lagi, dengan gerak refleks yang amat lincah Cakra berkelit samping-menyamping. Benar saja, peluru pertama melesat ke satu sisi dan peluru kedua dari sisi lain, keduanya nyaris mengenai dirinya.
Si pria super lantas beringsut secepat kilat, menaiki tangga di ujung koridor itu, sebelumnya melompat dulu agar si pengejar bingung ia naik atau turun. Cakra tak mau terbang lagi, ia ingin mempermainkan Rangda sebentar. Ia naik tiga lantai, lalu lari ke ujung koridor satunya dan turun dua lantai.
Cakra berniat menyergap Rangda dari belakang. Namun saat sampai di lantai yang dimaksud, Rangda malah tak ada di tempat. Cakra berjalan amat cepat menyusuri koridor, tiba-tiba ia merasakan aliran prana dari salah satu unit apartemen di lantai itu. Ia berhenti melangkah, percikan prana petir merah tampak di ujung jarinya, siap ditembakkan kapan saja.
Mau adu cepat, adu akurat? Baik, kita buktikan siapa yang terunggul di antara kita, sekarang! Dengan satu tarikan napas, satu entakan, Cakra setengah melompat melintasi ambang pintu unit apartemen sambil menembakkan selarik petir merah dari ujung jari telunjuknya.
Saat bersamaan, terdengar bunyi letusan pistol, satu peluru yang dilambari prana api ungu melesat ke arah Cakra. Gilanya, petir kedua menyambar dari telunjuk Cakra yang satunya lagi, menerjang dengan amat akurat hingga peluru itu pecah di tengah jalan. Sedangkan petir pertama telak menghantam tubuh Rangda, si penembak peluru api ungu tadi.
Rangda terjatuh dan roboh di lantai, kejang-kejang akibat listrik yang menjalari tubuhnya. Rupanya tembakan Cakra tadi sudah diatur kadar dan kekuatannya untuk melumpuhkan, bukan membunuh lawan.
Cakra menghampiri lawannya, namun tetap menjaga jarak. Seperti dugaannya, Rangda perlahan-lahan bergerak untuk bangkit lagi, tatapan mata di balik topengnya dan ekspresi wajahnya sarat nafsu membunuh. Tangannya yang menggenggam pistol gemetar, berusaha membidik.
“Maaf, terpaksa kau harus tidur dulu.” Sambil mengatakannya, Cakra menembakkan petir lagi dari telapak tangannya yang terulur. Tubuh Rangda tersengat keras, kejang-kejang sesaat lalu tak bergerak lagi.
\==oOo==
__ADS_1
Empat jam setelah pertarungannya dengan Rangda usai, Cakra sudah kembali ke wujud manusianya, seorang pria muda bernama Adhyaksa Wiguna.
Adhi, nama panggilan pemuda yang berprofesi sebagai wartawan itu hanya duduk-duduk saja di ambang jendela apartemen yang belum dipasangi kaca. Ia sekilas menatap langit fajar, pada matahari yang baru menampakkan parasnya, ke burung-burung yang sesekali lewat, ke bangunan-bangunan tinggi-rendah di kejauhan.
Lantas, Adhi menoleh ke dalam ruangan. Di salah satu sudut ruangan yang tak dicat itu, tampak seorang wanita terbaring telentang di antara tumpukan debu. Wanita itu mengenakan setelan blus, blazer dan celana panjang kantoran yang tampak masih cukup rapi. Kecantikan wajahnya membuat Adhi terpana, namun yang terpenting adalah dada gadis itu naik-turun, tanda ia masih bernapas.
Adhi tahu alasan dirinya melakukan ini. Saat melihat wanita berambut pendek itu menggeliat dan mengerjapkan mata, ia turun dari ambang jendela, mendekat lalu berdiri siaga, menjaga jarak. Wajahnya tampak tegang.
Wanita cantik itu membuka mata, melihat sekeliling. Saat tatapannya terpaku pada Adhi, ia berkata lemah, terbata-bata, “S-siapa kau…? Mengapa… aku di sini?” Nampaknya ia hilang ingatan, tak menyadari tindakannya sebelum ini.
Masih tak mendekat, Adhi menjawab, “Namaku Adhi. Kau sudah empat jam pingsan di sini, nona.” Wanita itu terkesiap mendengarnya, lalu bangkit sambil meraba-raba ke balik blazer-nya.
“Kau mencari ini?” Adhi mengacungkan pistol semi-otomatis yang ia keluarkan dari jaket jinsnya sendiri ke arah atas. “Aku tahu apa yang kaupikirkan, tapi kalau aku berniat jahat, kau pasti sudah mati sejak tadi.”
Kewaspadaan dan akal sehat si gadis kembali, ucapannya makin lancar, “Hngg… Jadi kaukah yang bertarung denganku tadi… sebagai Cakra?”
“Tentu saja. Saat tarung tadi aku telah menyebutkan namaku, ‘kan?”
“Aku lupa. Tadi aku terlalu kalap, sehingga Rangda memenuhi pikiranku dengan nafsu balas dendam, membutakan akal sehatku.”
“Wah, dendam kesumatmu pada pendahuluku itu amat dalam, ya.” Adhi mendelik keheranan. “Ah ya, hampir lupa. Siapa namamu, nona pewaris Rangda?”
“Rania Giselda, panggil aku Rania.”
“Nah Rania, jadi apakah pendahuluku sudah mati dalam kawah Anak Krakatau?”
“Kalau akal sehatku bekerja, seharusnya aku sadar, kalaupun Keris Mpu Gandring berhasil menyelamatkan Gerry dari lautan magma, pasti Cakra adalah dia, bukan kau. Wajahmu terlalu… beda. Andai Gerry melakukan operasi plastik, belum tentu dia mengubah haluan dari penjahat menjadi pembasmi kejahatan. ”
Wajah Rania memerah, lantas ia menjawa terburu-buru, “Nggak tuh!”
“Oh, ya sudah! Ini, pistolmu. Sampai ketemu lagi, ya!” Adhyaksa menaruh pistol Rania begitu saja di bawah kakinya. Ikat pinggang magis Cakra Sudarsana yang ia kenakan berpendar merah. Adhi berubah wujud menjadi Cakra lalu terbang pergi lewat jendela.
Rania, yang ternyata amat cepat pulih kesehatannya berkat prana gaib Rangda bangkit dan berteriak, “Tunggu!” Namun Cakra sudah terbang terlalu jauh, lenyap dari pandangan. Saat gadis itu memungut pistolnya di lantai, ia melihat secarik kartu nama di bawah pistol itu dan memungutnya pula.
Rania mengenakan kacamatanya, lalu membaca kartu nama itu. Tertulis di sana, Adhyaksa Wiguna, Wartawan Lepas, beserta nomor telepon dan data-data pribadi seperlunya tanpa menyebutkan alamat rumah.
Rania menyimpan pistol dan kartu nama itu di balik blazer-nya, lalu menatap ke langit fajar. Senyumnya mengembang, membuat cantiknya terpancar cemerlang.
\==oOo==
Sesuai keterangan di kartu namanya, kini Adhyaksa Wiguna tak lagi bekerja tetap pada Harian Sanggabuana yang sedang berhenti beroperagi sampai batas waktu yang belum ditentukan. Jadi, untuk mengisi waktu dan rekening banknya, pemuda itu menjadi wartawan foto lepas untuk sebuah suratkabar dan sebuah majalah.
Banyak foto-foto Adhi yang diterbitkan adalah tentang sepak-terjang dua pahlawan super Liga Adilaga yang amat terkenal, Taruna dan Dahlia. Namun artikel-artikelnya yang menekankan bahwa keduanya belum tentu adalah sepasang kekasih tak pernah muncul di permukaan.
Namun Adhi tetap bersikukuh dengan pendiriannya itu sampai salah satu tabloid gosip di Jakarta akhirnya memuatnya. Seperti dugaan, artikel itu memancing banyak kritik dari kalangan pembaca awam. Adhi menepis kritik itu. Pahlawan super berhak merahasiakan identitas asli dan kehidupan pribadi mereka. Apa yang tampak di permukaan belum tentu sesuai dengan kenyataan, tulisnya.
Setelahnya, hanya foto-foro Adhi saja yang terbit. Itulah harga idealisme seorang wartawan. Adhi hanya menghela napas, berharap Harian Sanggabuana yang terkenal amat kritis dan vokal bangkit kembali.
Dilihat dari sisi baiknya, Adhi jadi punya banyak waktu untuk bertemu Rania Giselda, si detektif swasta dan pahlawan super, sekaligus orang paling menarik yang pernah ia kenal selama ini.
Maka, si pewaris Mpu Gandring ini dengan antusias memenuhi ajakan Rania “Rangda” untuk bertemu di sebuah kopitiam alias kedai kopi di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sebagai sesama pecinta kopi, mereka berdua berbincang-bincang akrab sambil menikmati kopi-o dan white coffee serta makan siang dengan sajian kuliner khas Singapura.
Di sela-sela perbincangan, mereka juga saling berbagi sepotong rahasia perihal “warisan legenda” dan kekuatan super masing-masing.
__ADS_1
“Rupanya kau mendapatkan kekuatan Rangda dari Shinta Devi, dalam pertarungan melawan Cakra pendahuluku,” ujar Adhi dengan sikap serius. “Lalu bagaimana kau bisa bermitra dengan Reog?”
“Wah, ceritanya lebih panjang lagi. Mungkin akan kuberitahukan padamu lain kali,” jawab Rania. “Tapi yang membuatku amat penasaran, bagaimana dengan roh Mpu Gandring? Apakah dia seperti Rangda, berkepribadian aneh dan sulit ditebak?”
“Terus-terang, saat ini aku bersatu hati, satu jiwa dengan Mpu Gandring untuk membalaskan dendamnya yang telah berabad-abad terpendam. Bedanya dengan pendahuluku, kali ini beliau mempercayakan caranya padaku, dan membekaliku dengan ilmu, kekuatan dan jurus-jurus yang kini nyaris rampung sempurna.”
Rania mengangguk, senyumnya menyiratkan rasa lega bahwa Cakra akan menjadi mitra yang akan bisa sangat diandalkan. Dan saat pembuktian untuk itu tiba secepat satu tegukan kopi. “Lihat, klien-klienku sudah datang. Waktunya bisnis,” katanya sambil menunjuk dengan anggukan kepala.
Dahi Adhi berkerut, baru tahu ini pertemuan bisnis, bukan kencan. Ia lantas menoleh dan melihat dua orang berjalan melalui pintu kaca. Mereka pria dan wanita, bergandengan layaknya sepasang kekasih atau suami-istri berusia awal tigapuluhan.
Yang pria bertubuh agak kurus dan jangkung. Rambutnya disisir amat rapi, panjang sebahu. Yang wanita berambut pendek dengan bagian samping dan belakang disasak hingga tampak tebal. Keduanya tampak rupawan seperti mantan peragawan-peragawati.
Dengan sopan Adhi dan Rania bangkit dari tempat duduk mereka, menyambut kedua “tamu” itu. Si tamu pria berkata, “Detektif Rania? Saya Indra Lukmanto dan ini istri saya, Dian Megaranti.”
“Oh ya, silakan duduk,” jawab Rania. “Panggil saya Rania saja, ya.”
Pasangan suami-istri itu duduk, namun Dian mendelik tajam ke arah Adhi dan bicara, “Anda ini siapa, ya?”
Rania menyela, “Dia Adhi, mitra saya. Tenang saja, apapun yang kalian sampaikan pada saya pasti sampai padanya pula.”
“Oh, begitu,” ujar Dian dengan nada dan ekspresi dingin, menepis tawaran menu dari pelayan.
Giliran Indra bicara, “Kita langsung ke pokok masalahnya saja. Begini, Rania, kami memiliki sebidang tanah dan rumah gedung yang sangat luas di pinggir kota. Baru-baru ini, rumah kami itu kedatangan sosok-sosok menyeramkan yang kami rasa, berasal dari alam gaib.”
“Seperti apa rupa mereka?” tanya Adhi, tiba-tiba jadi amat berminat.
Dian menjawab, “Yang satu seperti setan kuntilanak berambut, berkulit dan berpakaian serba putih. Yang satu lagi berpakaian seperti pocong, namun bertubuh amat besar dan kekar.”
Adhi terkesiap. Nama “Okkult” dan “Gangren” hampir ia ucapkan, namun tatapan tajam Rania membuat kata-kata itu hanya menggantung di mulutnya yang ternganga.
Supaya para lawan bicara tak bertanya-tanya, Rania berujar, “Apa yang mereka lakukan?”
Jawab Indra, “Karena kami tak tinggal di rumah itu, keduanya mengobrak-abrik isi rumah dan membunuh satu keluarga pembantu dan penjaga rumah. Setelah itu, pocong dan kuntilanak itu mencegat kami di tengah jalan, memberi kami surat ancaman yang ditulis dengan darah para korban mereka agar kami tak datang lagi ke rumah besar itu atau lapor polisi. Atau surat berikutnya akan dikirim bersama kepala kami.”
Adhi terkesima mendengar betapa sadisnya Gangren dan Okkult. Ia sudah pernah bertarung dengan merka dan tahu tentang aksi mereka meluluhlantakkan satu mobil untuk merampok satu keris dari ingatan gurunya, Mpu Gandring. Namun ia diam saja, menunggu tanggapan dari mitranya.
“Jadi, apakah kalian ingin kami mengusir dua makhluk gaib itu supaya rumah kalian kembali pada pemiliknya yang sah?” tanya Rania.
“Benar,” jawab Dian. Penjelasan panjang-lebar jelas bukan gayanya.
“Kalau perlu musnahkan para pengganggu itu sekalian,” timpal Indra. “Tak ada hukum di ranah supranatural, jadi itu tak masalah, ‘kan?”
Adhi menyela, “Kecuali bila ternyata para ‘hantu’ itu adalah manusia hidup.” Ia memang sudah tahu siapa sebenarnya Gangren dan Okkult, namun sengaja memancing reaksi para klien Rania itu. Rania mendelik lagi, namun kali ini Adhi mengacuhkannya. Perhatiannya terpusat pada ekspresi heran Indra dan Dian.
“A-apa kamu tahu tentang pocong dan kuntilanak aneh itu?” tanya Dian, seolah ngeri membayangkan kembali wajah dan penampilan kedua musuh itu.
“Eh, t-tidak, tidak kok,” Adhi gelagapan. “Tadi saya hanya asal usul saja.”
Rania menegur Adhi, “Lain kali simpanlah dulu komentarmu sampai klien selesai bicara.” Lalu beralih pada kedua kliennya itu. “Tapi pendapat Adhi ada benarnya juga. Kami harus hati-hati dalam bertindak, bahkan saat memutuskan apakah akan membunuh lawan atau tidak, melawan hukum atau tidak.”
“Soal cara terserah kalian,” ujar Indra sambil menggenggam tangan istrinya, menenangkannya. “Yang penting kami terima hasilnya.”
Melihat wajah Dian yang pucat akibat trauma berat, Adhi menyurut sejenak. Ia memutuskan untuk mengamati Indra dan Dian saja, memanfaatkan naluri wartawan dan intuisinya.
Sementara Rania dengan santai menyeruput white coffee-nya, lalu berkata, “Nah, jadi sekarang kita bicarakan imbal jasanya…”
__ADS_1