
Walau sudah siap, Barong terpaksa membiarkan beberapa tembakan lawan menerpa tubuhnya bagai orang kehujanan, dan menangkisi sisanya dengan kedua lengannya yang sarat prana tanah.
“Heh, dasar cari mati! Rasakan siksa neraka dari dalam tubuhmu sendiri!” Okkult lantas menghunjamkan deretan kuku hitamnya yang sarat racun. Namun wajah pucat itu makin terperangah, kuku-kukunya seakan membentur batu atau logam, tak bisa menembus Zirah Batu Cadas Barong yang berkekuatan penuh.
“Kena kau.” Barong memang sudah menunggu serangan jarak dekat Okkult ini. Ia lantas memegang erat lengan musuhnya, lalu menarik dan menyambut tubuh wanita itu dengan rentetan tinju dahsyat bertenaga penuh.
Teriakan-teriakan kesakitan Okkult terhenti tiba-tiba, karena wanita setengah hantu itu terlanjur jatuh pingsan. Betapapun inginnya Barong membalaskan kematian banyak orang pada biang keladinya, ia sengaja tak menggunakan jurus mautnya, Pelukan Beruang. Membunuh dengan mematahkan tulang-tulang penyangga utama tubuh lawan sama sekali bukan gayanya.
Satu lawan dilumpuhkan, Barong menoleh, melihat kondisi rekan-rekannya. Hanya mengandalkan keganasan dan kekuatan fisik yang bisa diubah-ubah kadarnya, kekurangan pada mental Gangren jadi sasaran empuk Dahlia, si pemain biola sihir.
Gangren bertarung bagai orang kebingungan, tak lagi mampu mengerahkan jurus. Jadi Hima memanfaatkan kesempatan itu dengan menorehkan banyak sekali sayatan di tubuh si pocong super kekar itu. Namun tinju-tinju lawan juga mendarat di tubuh Hima, menjadikan pertarungan ini terkesan berimbang.
“Jangan, Barong,” ujar Dahlia sambil terus menggesek biolanya, menjaga sihirnya terus menyiksa lawan. “Berkat bantuanmu tadi, kami berdua bisa mengimbangi Gangren. Majulah terus, rekan-rekan kita pasti membutuhkan pendekar terkuat Adilaga di garis terdepan. Percayakanlah Gangren dan Okkult pada kami di sini!”
Barong terpaku sejenak dan menyimpulkan, “Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik.”
“Kau juga,” ujar Hima sambil terus bertarung. “Sekali lagi, terima kasih untuk bantuanmu, Barong.”
“Sama-sama.” Barong tahu, baik Hima, Dahlia maupun Reog telah membukakan jalan bagi para rekan Adilaga lainnya agar secepatnya menyelamatkan Cakra dan Rangda sebelum terlambat. Jadi tanpa basa-basi lagi, ia melesat lari makin ke dalam gua, mengikuti petunjuk Dahlia.
\==oOo==
Makin jauh ke kedalaman gua, pemandanganpun makin aneh. Dinding-dinding bebatuan kasar kini berganti dinding lurus yang penuh pahatan relief layaknya candi. Penerangannyapun berubah menjadi obor dengan api magis yang terus menyala, takkan padam walau udara menipis atau ditiup angin sekeras apapun.
Barong berjalan cepat sambil mengamati gambar-gambar relief itu. Sejauh pengalamannya sebagai penggemar benda-benda peninggalan budaya kuno Nusantara, benaknya segera menangkap cerita di balik deretan gambar ini.
Dari gambar seorang wanita meminumkan semacam ramuan pada kawanan ular, lalu ular-ular itu menggigit si wanita. Mungkin karena kekuatan gaib yang dimilikinya, wanita itu tak mati, atau tepatnya hanya mati sementara. Tubuhnya malah berubah bersisik-sisik seperti ular, bahkan bagian bawah tubuhnyapun membentuk tubuh ular. Wanita itu lantas digambarkan mengerahkan banyak ular berbisa, yang kemudian menggigiti banyak orang, pria dan wanita. Pada puncaknya, para korban ular itu juga bangkit dari tewasnya menjadi siluman-siluman manusia-ular yang hidup abadi.
__ADS_1
Di ujung salah satu relief, digambarkan si wanita berkaki tubuh ular duduk di takhta berbentuk kepala ular, di sampingnya ada berderet-deret manusia-manusia ular yang sedang bekerja sebagai budak, juga banyak yang berbaris memegang senjata, menjadi prajurit.
Melihat relief terakhir ini, Barong terpana. Sejauh ingatan dan pengetahuannya, deretan relief itu sangat mungkin adalah “komik” zaman kuno yang menceritakan Legenda Nyi Blorong, Sang Ratu Siluman Ular.
Konon, rahasia kehidupan abadi atau umur amat panjang di Indonesia hampir mirip dengan cerita vampir dan werewolf, siluman serigala dari legenda-legenda mancanegara. Bedanya, wadah untuk penyebaran “kutukan keabadian” itu bukan serigala, ataupun kelelawar pada vampir, melainkan ular berbisa.
Barong tak habis pikir, lantas apa hubunbgan antara relief-relief ini dan tempat “acara utama SS” ini? Apakah kekuatan vampir ular Nyi Blorong adalah misteri sesungguhnya dalam “piramida” Gunung Sadahurip ini? Satu-satunya cara untuk memastikan kebenarannya adalah melangkah maju, itulah kesimpulan Barong untuk sementara ini.
Lagipula, hiruk-pikuk pertarungan seketika memaksa Barong menunda “perenungan”-nya dan bergegas untuk turut serta.
“Satu lagi anggota Adilaga datang!”
“Cepat, kita keroyok dia juga!”
Suara-suara tadi berasal dari para warok dan leak, belasan dari mereka menyerbu serempak ke arah si penyusup baru.
“Sekali lagi, Bumi Berguncang, Langit Gempar!” Barong melakukan variasi, kali ini Mengentak lantai gua dengan kaki kanannya. Langkah-langkah para penyerang kacau seketika dan mereka berjatuhan di lantai. Lalu Barong menolakkan tubuhnya dengan entakan kaki kiri, meluncur seperti terbang dengan dua tinju teracung, menerobos kepungan dengan sekali pukulan. Ia tak perlu menoleh lagi, karena jelas kini semua penyerang telah tumbang.
Di hadapan Barong kini terpampang pertarungan yang tak seimbang pula. Dua pahlawan super di pihak Adilaga, yaitu Taruna dan Solara tengah mati-matian bertarung dengan dua penjahat super ditambah pasukan elit SS Corporation. Barong belum kenal dan belum mengetahui kekuatan para “musuh baru” ini, jadi ia memilih menangkisi rentetan peluru dan melumpuhkan para prajurit bayaran SS Corporation itu.
Di tengah sengitnya pertempuran, Barong sempat mendengar Taruna menghardik, “Blakk Jak dan Artazure, dasar kalian pengkhianat licik! Selama ini kalian ternyata ingin memancing, lalu menjebak kami di sini?”
Artazure, si ondel-ondel biru wanita menimpali, “Cita-cita kami yang sebenarnya adalah membuat Jakarta menjadi kota yang lebih baik sebagai ibukota Kerajaan Singosari Raya!”
Solara, pemimpin Adilaga berjulukan Ratu Matahari Emas terkejut. “Apa?! Jadi itu pula tujuan utama SS Corporation? Membangkitkan kembali Kerajaan Singosari, menggantikan Indonesia?! Ini tindakan makar yang amat-sangat keterlaluan!”
“Terserah apa katamu, tapi kami percaya, agar negara jadi kuat, perlu pemimpin yang sakti mandraguna laksana dewa. Dan kami berdua yakin sepenuhnya, tiada yang lebih cocok jadi pemimpin, tiada yang bisa melebihi kesaktian dan kekuatan pemimpin besar kami, Kenneth Tohjaya!”
Barong tersentak. Kenneth Tohjaya… Presiden Komisaris SS Corporation? Tapi, bukankah keberadaan orang ini selalu jadi misteri? Bukankah ia selalu menyerahkan segala sesuatunya pada asistennya, Mr. K?
Atau jangan-jangan Mr. K ini tak lain adalah… Kenneth Tohjaya?
Andai Barong menyadarinya sejak awalpun, belum tentu ia dapat berbuat banyak, membongkar bahkan menggagalkan seluruh rencana Mr. K – SS Corporation ini. Jadi, mau tak mau situasi semacam ini harus terjadi.
“Lantas, mengapa repot-repot menggiring kami kemari? Bukankah lebih baik kalau kami tak mengganggu ‘acara utama’ kalian itu?” sergah Taruna sambil terus menyerang Blakk Jak.
Justru Artazure yang masih sibuk menghindari lecutan Cambuk Samandiman Solaralah yang menjawab, “Kami hanya menuruti perintah Yang Mulia Murca. Beliau berkata, ini bagian dari rencana besarnya dan kami tentu tak berani mempertanyakannya lebih lanjut.”
__ADS_1
“Yang Mulia Murca… Maksud kalian Kenneth Tohjaya?” sergah Barong yang baru melumpuhkan prajurit SS terakhir di ruangan candi dalam gunung piramida ini.
“Ya. Dan kamilah pengikutnya yang paling memuja beliau,” kata Blakk Jak. Jelas ia takkan mengaku Singabaronglah yang terkuat dalam Liga Angkara Murca.
Tiba-tiba Solara menjauhkan dirinya dari Artazure dan menghampiri Barong. Kata wanita itu, “Syukurlah kau berhasil menyusul, Barong! Seperti yang kaulihat, kami sedang tertahan di sini. Tolong, kau masuklah dulu ke ruang utama Candi Sadahurip lewat pintu batu itu!”
Barong berbalik ke arah yang ditunjuk Solara, lalu menjawab, “Baik!” Ia mulai berlari maju.
“Waktu amat mendesak! Selamatkan Rangda dan Cakra dulu! Saat kami semua menyusul, baru ambil tindakan selanjutnya!” seru Solara.
Tiba-tiba Artazure menghadang Barong sambil mengibaskan tongkat berpitanya. “Enak saja menerobos! Langkahi tubuhku dulu!”
“Kali ini, dengan senang hati.” Barong mendesak maju dengan memusatkan seluruh bobot tubuhnya ditambah prana tanah pada bahunya. Tanpa ampun, Artazure bagai tertabrak truk, terpental jatuh.
Barong lantas melompati tubuh pendekar ondel-ondel wanita yang tersungkur itu dan tiba di ambang sebuah pintu batu berdaun dua. Tinggi pintu itu lebih dari dua kali tinggi tubuh Barong, dan lebarnya dua kali bentangan kedua tangan pendekar tinggi-besar itu.
Bahkan Barong sempat melenguh, otot-otot bisepnya seakan membengkak, mengerahkan tenaga ekstra untuk membuka pintu super berat yang sebelumnya pasti dibuka-tutup bersama oleh Artazure dan Blakk Jak itu. Perlahan tapi pasti, kedua daun pintu candi bergerak terbuka. Hingga tubuh tinggi-besar Barong melaluinya tanpa hambatan sedikitpun.
\==oOo==
Barong melangkah dalam sebuah ruangan yang luar biasa luas, kira-kira mampu menampung dua ribu orang yang berdiri, berbaris teratur. Matanya mengamati sekitarnya dengan amat takjub. Dinding batu berundak-undak, lantai batu berpola teratur dan rapi, seakan-akan semuanya itu ubin. Suasananya terang-benderang oleh api magis di obor-obor yang selalu menyala. Mewakili unsur air adalah parit-parit dan kolam-kolam yang menghias seluruh ruangan. Mewakili udara tentunya hawa dari lubang-lubang ventilasi di sela-sela dinding batu.
Ini pasti ruang pemujaan utama di Candi Sadahurip. Ciri-ciri yang paling menguatkan dugaan ini adalah patung arca raksasa makhluk bertubuh setengah wanita manusia, setengah ular yang di relief digambarkan sebagai Nyi Blorong, Sang Ratu Ular. Arca itu berdiri tepat di tengah ruangan dengan wajah menegadah dan kedua tangannya terentang ke atas. Patung itu berada di tengah-tengah semacam panggung berundak, dibatasi oleh semacam parit yang penuh berisi air.
Di sebelah patung Nyi Blorong ada dua pasang tonggak berdiri sejajar. Di depan patung ada semacam meja besar untuk ritual pengorbanan. Namun, yang membuat Barong terpaku adalah, di antara kedua tonggak itu terikat seorang pria, dan seorang wanita terbujur di atas meja batu.
Kondisi pria itu amat mengenaskan. Pakaiannya koyak-koyak, dan tubuhnya berdarah-darah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Luka-lukanya itu karena cambukan, sayatan belati atau semacamnya. Kepalanya tertunduk, rambutnya yang berponi panjang menutupi wajahnya. Dalam keadaan setengah sadar, kehabisan tenaga dan kesakitan yang amat sangat, pria itu mengerang pelan, serak dan tertahan.
Sebaliknya, wanita berkostum ala ratu Jawa Kuno di meja itu tak bergeming dalam pingsannya. Wajah cantiknya yang tak lagi berkacamata dan tertutup poni seakan bercahaya, seakan dipercerah dengan hiasan mahkota emas ratu atau permaisuri, rambutnya yang agak pendek mengembang tak mengurangi nuansa agung yang melingkupi diri wanita yang bagai arca ini.
__ADS_1
Saat Barong menatap wajah si “Ratu Jawa” itu dengan teliti, suaranya tak sengaja berdesis, “Astaga… Dia Rania Giselda… pewaris Rangda!?” Berdasarkan informasi dari Lunar di I.N.D.I.G.O, pria yang terpasung itu amat mungkin adalah pewaris Cakra.