ADILAGA

ADILAGA
ADILAGA 1


__ADS_3


Inilah saat yang dinantikan.


Cakra berusaha berdiri tegak, matanya berpendar kuning cerah. Tak sedetikpun ia melepaskan tatapannya pada musuh bebuyutan gurunya, Mpu Gandring di hadapannya ini. Di Candi Blorong dalam perut Gunung Piramida Sadahurip.


Ken Arok dalam wujud barunya, Murca.


Di sisi lain, Murca baru saja menghalau Reog yang gerakannya di tanah tercepat di antara para anggota Adilaga lainnya. Melihat si pewaris Mpu Gandring bebas, berubah wujud dan berdiri membungkuk saja, Sang Raja Tanpa Kerajaan itu berdecak kesal.


“Ya, lakukanlah itu pada anak buahmu,” tanggap Reog. “Saat pasukan warok kocar-kacir, konsentrasi Singabarong terpecah dan aku membuatnya terluka parah. Singabarong tak pernah rela mati demi ambisi siapapun selain dirinya sendiri, jadi ia dan sisa pasukannya ambil langkah seribu.”


Wajah kebiruan Murca menyunggingkan senyum sinis. “Oh, begitu rupanya! Ken Dedes, Rangda! Kekang jiwa Rania sekarang! Biar kuurus tiga musuh kita di sini dengan tahap kedua ilmuku, Mewujud Raja, Agung Digdaya!”


Rangda menyingkir untuk melaksanakan perintah. Cakra bergerak ke arah wanita itu, namun Barong pasang badan menghalanginya.


“Biar kutangani, Barong! Mereka akan mengusir roh Rania!” seru Cakra dengan ekspresi cemas.


“Jangan! Biar Rania sendiri yang membuktikan ia pewaris sejati Rangda, bukan Ken Dedes! Awas, Murca menyerang lagi!”


Seruan Barong itu disambut seketika oleh Murca yang menerjang, memancarkan aura emas khas raja atau kaisar. Tahu Cakra pernah jadi bulan-bulanan jurus ini, Murca menggunakan variasi. Tapak kedua tangannya bergerak amat cepat, seolah ada sembilan tapak. Saat salah satu tapak itu mengenai sasaran, sinar emas terpancar, menghantam dengan daya perusak yang lebih besar daripada saat ditembakkan dari jarak jauh.


“Awas!” Sebagai yang terkuat, Barong maju bermodalkan kedua tinjunya yang sarat prana. Lantas ia dan Murca saling jual-beli pukulan bagai dua petinju di atas ring. Tak dinyana, Prana Singa Suci Dewata berpecahan saat membentur prana kegelapan lawan. Akibatnya, tubuh Baronglah yang terpental ke satu sisi dengan keras.


Dalam sekejap mata, Murca mengalihkan tinjunya pada Reog. Si lawan kedua ini memilih menghindar dengan bersalto ke atas kepala Murca, lalu menyarangkan tendangan Badai Darah Hitam di bahu dekat pangkal leher pria bertubuh tinggi-besar itu.


“Heh, jurus apa ini? Cuma penggaruk gatalku saja!” Sambil mengatakannya, Murca menangkap kaki Reog. “Yang namanya jurus ampuh itu seperti INI!” Bagai pegulat profesional, Murca membanting pendekar bertubuh langsing itu sambil menjatuhkan diri, menambah daya rusak pada Reog dengan bobot tubuh Murca sendiri.


Dua sudah tumbang, tinggal Cakra yang kini berdiri limbung, kekuatannya belum pulih benar.


“Ken Dedes sudah bangkit, keris terkutuk tak kubutuhkan lagi! Kini, kupastikan kau musnah tak bersisa bersama roh pengganggu bernama Mpu Gandring itu! Selamat tinggal, Cakra!”


Murca menerjang maju, tubuhnya menebar sinar keemasan nan terik. Tahu dirinya sulit luput dari kematian, Cakra menyambut si pembawa maut dengan berdiri tegar, menghimpun tenaga dalam seadanya.


“Enak saja!” Itu suara Taruna yang mendadak menyerang Murca dari satu sisi, sementara Solara menyerang dari sisi berlawanan secara bersamaan.

__ADS_1


Murca terpaksa bereaksi dengan mengubah jurus. Konsentrasinya terpecah, dua tinjunya dialihkan untuk meredam prana air dan cahaya sekaligus. Ketiga kekuatan itu saling bertumbukan, dan untuk pertama kalinya Murca terdorong mundur tujuh langkah.


Solara dan Taruna terpental lebih jauh lagi, namun mereka masih kuat berdiri dan seketika menyalurkan prana, membantu Barong dan Reog yang baru bangkit dengan susah-payah.


“Heh! Makin banyak tikus Adilaga bermunculan,” sergah Murca. “Bagus, tinggal kusapu bersih saja semuanya!”


Solara menghardik, balik menekan lawan. “Setidaknya kami tetap bersatu-padu, tak seperti para anak buahmu yang pengecut! Apalagi Blakk Jak dan Artazure yang menyebut diri mereka paling fanatik dan paling setia, akhirnya toh sadar juga mereka di pihak yang salah.”


Taruna menambahkan, “Saat Artazure tak berdaya, Blakk Jak bersedia menyerah. Kini mereka sudah kami buat tidur nyenyak, semoga saat terbangun nanti mereka berubah menjadi para pahlawan yang membela kota dengan cara yang benar.”


“Heh-heh. Kalian pikir aku peduli dengan sifat, idealisme dan keinginan anak buahku?” Murca berujar sinis. “Mereka memanfaatkan fasilitasku, dan aku memanfaatkan tenaga tempur mereka! Hanya satu orang yang kuminta kesetiaannya padaku, yaitu Ken Dedes, istriku yang telah kubangkitkan dengan segenap upaya!”


“Kau salah, Arok.”


Suara wanita itu membuat Murca tersentak. Ia menoleh, ternyata yang mengatakannya adalah Ken Dedes, citra bayangan sukmanya mewujud di balik sosok inangnya, Rania dalam wujud tarung Rangda.


“Apa maksudmu?!”  Wajah Murca alias Ken Arok penuh tanda tanya.


“Saat bertarung batin tadi, jiwa Rania mengingatkanku tentang siapa sebenarnya dirimu. Kau masih tetap dan tak lebih adalah Ken Arok yang gila kuasa, yang tega membunuh Tunggul Ametung, junjunganmu sendiri demi mendapatkanku dan negeri untuk kauperintah,” papar Ken Dedes dengan mata menyorot amat tajam.


Ditantang seperti itu, Ken Dedes menghela napas dan bertutur, “Akulah yang menghasut Anusapati agar membunuhmu.”


“A-apa!?” Ken Arok terkejut bukan kepalang.


“Aku cemburu. Kau terlalu memperhatikan selirmu, Ken Umang, apalagi sejak ia melahirkan Tohjaya, darah dagingmu sendiri. Anusapati, anak tirimu kauabaikan. Maka sejak kecil kutanamkan benih kebencian di benak Anusapati dengan berkata kau tak sayang padanya, karena ia adalah anakku dengan Tunggul Ametung. Baru setelah cukup dewasa, kukatakan bahwa kaulah pembunuh ayah kandungnya. Dendamnya bulat sudah, dan Keris Mpu Gandring makan tuan sendiri.”


Tiba-tiba ekspresi terkejut Murca tadi berubah seketika menjadi senyum sinis. “Aku juga tahu tentang bagian itu.”


Giliran sukma Ken Dedes terperanjat. “Hah!? J-jadi kau…”


“… Sengaja membiarkan diriku sendiri terbunuh,” jawab Arok-Murca gamblang. “Mengapa? Karena lewat kematianlah ilmu Nyi Blorong bisa kukuasai dengan sempurna. Lagipula kutukan Keris Mpu Gandring pasti menimpaku cepat atau lambat. Maka, aku menggunakan penangkal kutukan itu, yaitu ilmu yang kekuatannya melampaui, bahkan mengatasi kematian itu sendiri.


Aku tahu kau, Ken Dedes bunuh diri saat mendengar aku tewas. Mengira kau akan memilikiku selamanya di akhirat. Tapi kau salah kira, bukan? Maka diam-diam aku mengalirkan Prana Vampir Ular Nyi Blorong ke dalam jenazahmu. Lalu aku sengaja tak merebut kembali Keris Mpu Gandring, mencari masa yang tepat untuk kita tampil lagi. Sayang, saat anak kita, Tohjaya gugur dalam pertempuran, keris itu menghilang, atau lebih tepatnya disembunyikan seseorang. Kuhabiskan berabad-abad keabadianku ini untuk mencari keris itu. Sambil aku mengumpulkan kekayaan tak terbatas dan kesempatan untuk membangkitkan kembali Kerajaan Singosari Raya.”


Ken Dedes menyela, “Dan kini kau telah membangkitkan aku dengan keris terkutuk itu sebagai kuncinya. Selanjutnya apa? Merebut kekuasaan negara kepulauan ini secara paksa? Lalu kau akan memerintah sebagai raja abadi, dan aku jadi permaisurimu?”

__ADS_1


“Tak harus secara langsung,” jawab Ken Arok. “Seiring perkembangan zaman, ada cara lain yang lebih ampuh untuk berkuasa, yaitu lewat kekuatan ekonomi. Bayangkan, hanya produk-produk SS Corporation yang boleh dipasarkan dan dikonsumsi oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukankah itu jauh lebih menguntungkan dan lebih pasti daripada mengerahkan jutaan tentara?”


Bahkan para “pendengar” lainpun, khususnya Barong tercengang mendengar pemaparan rencana Murca yang sesungguhnya. Sebagai Johnny si konglomerat, Baronglah yang paling paham cara kerja SS ini. Namun tak pernah ia menduga tujuan akhirnya adalah menjadikan Indonesia sebagai negeri monopoli.


Namun Barong tetap membiarkan Ken Dedes bicara, “Cukup, Arok. Cukuplah semua ini.”


“Apanya yang cukup, Dedes?! Ayo, kita mulai pekerjaan ini dengan menyingkirkan para pengganggu ini!” sergah Ken Arok alias Murca, tak percaya pendengarannya.


“Sudah cukup aku jadi istri yang serba patuh padamu di Zaman Singosari!” bentak Dedes.


“Sudah cukup kunikmati dunia, yang aku yakin jauh lebih indah daripada masa kini!


Sudah cukup aku meluapkan segala benci dan cintaku padamu, Arok! Pada Anusapati, Tunggul Ametung, Ken Umang, Tohjaya dan Singosari! Yang kuinginkan hanya beristirahat dalam damai, di alam baka di mana Arok dan Ametung, Anusapati dan Tohjaya, aku dan Umang bergandengan tangan layaknya saudara dekat.”


Mendengar itu, Arok terdiam sejenak. Lalu tiba-tiba tawanya meledak. “Hahaha! Kau memang pandai berkhayal, Dedes! Alam macam itu hanya dongeng isapan jempol saja! Justru aku sedang membangun dunia yang lebih baik lagi dari keinginanmu itu! Dunia yang dapat kita perintah sesuai keinginan kita, tanpa halangan siapapun!”


Ken Dedes menggeleng. “Kau tak mengerti, Arok. Apa kau tak sadar apa yang selama ini dan yang bakal selamanya kaurasakan dalam ‘tubuh abadi’-mu itu? Dalam ‘kehidupan abadi’ dan ‘dunia ideal’-mu itu? Kesepian, Arok! Hanya dicintai diriku seorang, namun dibenci seluruh rakyat, pejabat dan bawahanmu. Lihat, sekarang saja semua anggota Angkara Murca dan pasukanmu telah berkhianat, meninggalkanmu sendirian di sini.”


Murca menatap sekeliling. Benar kata Dedes, kini Dahlia dan Himapun telah bergabung di ruangan ini. Itu berarti Gangren dan Okkult telah tumbang atau melarikan diri. Giginya gemeletak, dirinya kini telah terkepung. “Tapi masih ada kau yang menemaniku, ‘kan, Ken Dedes, belahan jiwaku? Ayo, kita tumpas para pengeroyok ini bersama-sama!”


Sukma Ken Dedes dan Rangda lagi-lagi menggeleng bersamaan. “Sudah kubilang, aku tak mau dan tak bisa hidup di dunia idealmu itu. Aku bukan milik zaman ini, dunia ini! Jiwaku hanya menumpang di tubuh orang lain, berebut tempat dengan dua sukma lain yang masih berakar kuat di raga ini pula! Lagipula roh Rangda telah memilih Rania Giselda sebagai pewarisnya, bukan aku! Aku hanya dibiarkan tinggal karena mencoba menyadarkanmu bahwa semua usahamu ini sia-sia belaka!”


“Tidak! Usahaku telah berhasil! Inilah ungkapan cintaku yang paling tulus padamu, Ken Dedes! Kalau Rangda dan si Rania itu menghalangimu, kita terabas mereka pula dan merebut raga ini!”


“Aih, rupanya Arok tetap Arok, takkan sadsar walau mati seribu kalipun,” kata Ken Dedes sambil menghela napas. “Mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh berarti memperhatikan hal-hal yang sungguh diinginkan dan yang dibutuhkan orang itu, bukan memaksanya mengikuti keinginan dan ambisi diri sendiri. Kini jelas sudah, cintamu padaku tak murni, Ken Arok. Aku tak lebih dari sekedar piala, bukti tercapainya ambisimu. Kali inipun, kau pasti akan mencari Ken Umang – Ken Umang yang baru. Atau jangan-jangan, yang kauinginkan ternyata wanita bernama Rania Giselda ini?”


“Tidak, Dedes. Aku hanya memanfaatkan tubuhnya untuk menggantikan jasadmu yang ternyata rusak dimakan waktu…”


“Cukup.” Bayangan roh Ken Dedes makin pudar, seolah membenarkan segala ucapannya tadi. “Sudah kusampaikan pesanku, dan tugasku tunai sudah. Kalau kau sungguh mencintaiku, Ken Arok, tinggalkan segala ambisi sia-sia ini dan temani aku di alam baka. Jangan kuatir, hingga selamanyapun jiwaku pasti akan menunggumu di sana.”


“Tidak! Ken Dedes, kau harus menemaniku di dunia ini! Rangda pengkhianat, terpaksa kau harus enyah!” Ken Arok sebagai Murca menerjang maju, menghantamkan tapak berprana warna emas ke arah Rangda.


 


 

__ADS_1


__ADS_2