ADILAGA

ADILAGA
ADILAGA 2


__ADS_3


Namun terlambat, bayangan roh Ken Dedes sudah amat buram. Sesaat sebelum lenyap sama sekali tanda telah berpindah alam, ratu cantik nan anggun tiada tandingan itu berkata, “Aku mencintaimu, dan akan selamanya menantimu, Ken Arok…”


Tapak Murca telak menghantam tubuh Rangda dan mulai mendesak dengan aura raja. Namun apa daya, sukma Ken Dedes telah sirna. Rangda terpental, dan Cakra menyambut tubuhnya. Untunglah Murca hanya berniat mengusir roh Rangda dan Rania tadi, jadi pahlawan wanita super itu hanya memuntahkan sedikit darah saja.


Belum sempat Cakra membantu memulihkan luka Rangda, konsentrasinya teralihkan oleh tingkah lawan. Murca jatuh berlutut, kedua telapak tangannya menghantam tanah. Ia berteriak-teriak seperti kesurupan, “TIDAAAK! Ken Dedes, mengapa kau begitu bodoh!? Andai kau mau berjuang, kau pasti bisa menguasai raga Rangda sepenuhnya!


Tapi tidak! Kau malah ingin ke ‘alam baka’, padahal kau tahu andai kau ke surga, aku pasti ke neraka! Jadi mau tak mau aku harus tetap hidup di bumi ini, selamanya! Kau tahu alasanku sebenarnya menghidupkan kembali arwah penasaranmu, Dedes? Agar aku berkesempatan memperbaiki segala perlakuanku padamu dulu! Menghabiskan keabadian ini dengan mencintaimu, supaya mungkin, mungkin suatu hari kau akan memaafkanku atas segala deritamu itu… memberiku setitik asa untuk menyertaimu ke Nirwana! Aku telah salah! Kaulah belahan jiwaku, cinta sejatiku, Ken Dedes! Bukan Ken Umang!”


Cakra dan para pendekar Adilaga terhenyak. Mereka tak menyangka, ternyata segala prahara yang terjadi dalam hidup dan hubungan dua sejoli Ken Dedes – Ken Arok ini disebabkan oleh kesalahpahaman yang parah. Arok dibutakan ambisi, Dedes dibutakan rasa cemburu. Pada akhirnya hubungan mereka makin retak, cinta mendalam berganti kebencian yang mendarah-daging. Hingga berujung pada rentetan pembunuhan berdarah, menggenapi kutukan Mpu Gandring.


Mungkin sepercik rasa simpatilah yang menahan para pendekar untuk mencuri serang Murca di “saat terapuhnya” ini. Namun, tak ada sesuatupun yang mempersiapkan mereka untuk gelagat berikut si musuh pamungkas ini.


Masih tertunduk duka, Murca malah tertawa seperti orang gila. “Hehehee… Salah. Semua ini belum sia-sia. Ya Ken Dedes, kau menolak hidup di dunia ini karena zaman sudah terlalu modern.”


Cakra tersentak. Apa maksud Murca? Dari gaya bicaranya, jangan-jangan dia sudah… gila?


“Aku tahu, aku tahu,” lanjut Murca sambil memegangi dahinya. “Akan kuhancurkan Indonesia yang sudah rusak ini, lalu membangun kembali Singosari seperti pada zaman aku berkuasa dulu. Indah, asri bagai di Nirwana. Setelah itu, baru kupanggil lagi arwah Ken Dedes, memberinya raga baru lain agar ia menikmati dunia baru sebagai sosok abadi seorang dewi!”


“Awas, semua! Racauan itu… Murca benar-benar sudah gila!” Solara, si pemimpin memperingatkan rekan-rekannya.


Taruna menanggapinya, “Ya! Bahkan ancaman tsunami Nyi Roro Kidul belum ada apa-apanya dibanding kesimpulan ngawur ini!”


Dahlia menambahkan, “Sihir Pelacak Mental-ku memastikan, Murca sedang depresi berat!”

__ADS_1


Hima menyimpulkan, “Kalau begitu, hanya ada satu cara untuk menghentikannya! Kita serang dia terus-menerus secara bergantian!”


Wah, wah, bicara apa kalian ini? Tak apa, silakan meracau sepuasnya, hei lalat-lalat yang sebentar lagi *****!” Bicara Murca makin tak keruan. “Saatnya kalian menjajal jurus tingkat tiga, Mewujud Iblis, Menjarah Neraka!”


Tubuh Murca cepat berubah makin hitam, seiring makin pekatnya prana kegelapan yang dihimpunnya. Apalagi didukung hawa kegelapan Candi Blorong yang amat berlimpah, kini seluruh tubuh Murca bagai berlumuran arang atau diguyur aspal. Hanya kedua mata Murcalah yang tampak menyala merah, menyiratkan penghancuran total bagi segala penghalang, tanpa kecuali.


Terdorong naluri atau perhitungan taktis, Barong, Reog dan Hima maju ke garis terdepan, menyerang Murca dengan jurus andalan masing-masing. Barong Mengentak tanah dengan jurus Bumi Berguncang, Langit Gempar, lalu menyalurkan daya entakan itu lewat kedua tangannya yang terjulur. Memanfaatkan daya entakan Barong, Reog dan Hima melompat bersamaan, lalu menerjang dari dua sisi tubuh si “iblis hitam” dengan cakar Pusaran Badai Hitam dan Tapak Beku Himawari.


Serangan dari depan, samping dan belakang itu telak menghantam Murca Hitam. Anehnya, si sasaran bergeming. “Mendahului serangan, malah terjebak. Rasakan serangan kalian sendiri… beserta bunganya!”


Sesuai kata-kata Murca, dengan satu gerakan berputar dan tiga ayunan tangan ia meninju Barong dengan kekuatan es Hima, menohok Hima dengan kekuatan Reog, dan menghajar Reog dengan kekuatan Barong. Dengan tambahan Prana Ratu Ular Kegelapan, ketiga pengeroyok itu bertumbangan, berserakan bagai tiga telur menabrak batu.


Bagai bayangan, Murca Hitam melesat ke arah barisan pendekar super Adilaga lapis kedua. Sasaran pertamanya tentu saja pendekar yang berdiri paling depan, yaitu Taruna. Murca seakan membiarkan Taruna menghantamkan sepasang tapaknya dengan kekuatan jurus Naga Laut Kembar ke tubuhnya. Namun Taruna terperanjat, tapak itu seakan terbenam di lumpur. Taruna yang terjebak tak sempat bertindak, dua tapak Murca langsung menerbangkan pria berambut pirang itu hingga tersungkur di parit air jernih.


Melihat Murca beralih mengincarnya, Dahlia cepat-cepat menggesek biolanya dan memunculkan medan Gema Perisai Nada. Melihat lawan bertahan, si iblis hitam malah mengulurkan tangannya dan menyentuh perisai prana itu. “Serap dan serang balik,” ujar Murca.


“Hng, ‘kunci’ dan ‘wadah’ lama, dasar sampah!” Dengan cepat Murca mengganti gerakan. Tangan yang menyerap prana perisai Mengentak, menghantam keras Dahlia. Tangan satunya menangkap kaki Cakra yang melompat-tendang. Terpaksa Murca membiarkan tembakan Prana Api Ungu dari pistol mengenai tubuhnya.


“Ini, kukembalikan semuanya!” Prana dari Cakra dan Rangda itu disalurkan lewat tubuh Cakra, lalu dengan cepat dan kuat Murca melontarkan tubuh Cakra bagai peluru roket hingga membentur Rangda. Kedua pendekar itupun tersuruk hingga muntah darah.


Tujuh pendekar Adilaga telah dijatuhkan dengan satu gebrakan. Tinggal Solara yang masih berdiri menghimpun prana. Kedua kaki wanita rambut berombak itu gemetaran, tahu musuh tak melemah walau telah dihadang tujuh jawara, dan menggunakan tenaga lawan untuk “menghemat” kekuatan sendiri. Dan kini, sisa kekuatan gelap tadi akan ditumpahkan, cukup untuk memusnahkan, menghabisi satu orang wanita.


Sesakti apapun Solara, ia tak uasa makin gemetaran. Namun, mental dan cara berpikirnya sebagai pemimpin pasukan mengubah rasa takutnya menjadi sumber ide. Dalam hitungan detik dan jarak beberapa langkah penentu nasibnya, Solara mengulurkan kedua telapak tangannya yang sarat energi cahaya. Gila! Apa dia sudah putus asa? Apa dia ingin mati terhormat lewat adu prana dengan lawan yang jauh mengunggulinya saat ini?


Tak seorangpun sanggup mencegah kedua pasang telapak tangan itu berbenturan. “Oh, jadi kau sedang bertahan? Percuma, seluruh pranamu pasti kuserap!” sergah Murca.

__ADS_1


“Silakan, serap saja semaumu!” Nada bicara Solara seakan tak peduli lagi, pasrah sepasrah-pasrahnya. Karena itulah, Murca tak sungkan lagi. Prana Matahari Emas Solara membanjir keluar dari pemiliknya dan deras merasuki raga lawan.


Tawa Murca membahana, bahkan si pemimpin musuhpun menyerah padanya. Nikmatnya kemenangan mutlak direguknya banyak-banyak. Ia yakin betul semua pendekar yang ia taklukkan ini bakal menjadi budak-budak barunya, menggantikan yang lama yang semua telah dianggap sampah. Apalagi Solara, yang kini tersungkur lemas kehabisan prana di hadapannya, nampaknya dia lebih pantas menjadi inang Ken Dedes yang baru…


Tiba-tiba rasa nyeri bagai orang sakit gigi menyengati sekujur tubuh Murca. Lantas nyeri itu berubah menjadi perih dan tak tertahan, bagai jarum-jarum kristal yang menancap di dinding pembuluh darah.


“Aagh! Apa-apaan ini!?” teriak Murca kesakitan.


Puncaknya, energi-energi sumber nyeri berledakan dalam raga. Barulah saat itu Murca tersadar, energi cahaya yang ia serap dari Solara itu adalah Sihir Penyembuh, salah satu hasil olahan Prana Matahari Emas.


Sifat prana pembangun Solara bertolak-belakang dengan prana penghancur Murca, karena itulah mereka saling meniadakan. Karena tadi Murca menambahkan prananya sendiri untuk menyerang balik tujuh lawan, prana yang tersisa saat ini lebih sedikit dari prana Solara.


Namun Murca tak kehabisan akal. Ia berseru, “Dasar menyebalkan! Enyahlah dari tubuhku!”


Sebelum seluruh prana iblisnya disirnakan, Murca Mengentak, memaksa prana Solara keluar. Prana penyembuh itu lantas terpancar ke segala arah.


Anehnya, Cakra dan semua pendekar Adilaga lain mendekat, menyambut prana itu. Curahan prana bagai air hangat yang membasuh tiap raga. Karena dilipatgandakan dari prana gelap yang disirnakan dan diubah sifatnya, Sihir Penyembuh Masal jadi cukup kuat untuk memulihkan para pendekar di ruangan itu, luka-luka mereka merapat sempurna dalam hitungan detik saja.


Melihat reaksi ini, Murca baru sadar dirinya telah dijebak tanpa jalan keluar. Lebih parah lagi, diperalat sehingga memberi keuntungan bagi para lawan. Segala serangan dan prana yang dikerahkan Murca sejak awal jadi sia-sia. Selubung bayangan hitamnyapun sirna, ia kembali ke wujud semula.


Di puncak rasa malu dan murkanya, raungan Murca membahana. “Keparat! Laknat! Dasar manusia-manusia bodoh, tak tahu diuntung! Mengapa kalian terus saja mencari akal, berjuang keras menolak kedamaian mutlak yang kutawarkan, hah!? Toh kalian tak perlu banyak berpikir lagi! Makan, tidur, bekerja, bersenang-senang, berkembang biaklah! Biar aku, Sang Raja Abadi yang mengurus kekuasaan, menjaga perdamaian dan keamanan kalian!”


“Justru manusia bukanlah makhluk seperti yang kaupikirkan itu,” sergah Solara dengan tegas. “Manusia punya hati nurani dan kehendak bebas, yang seperti air di telaga akan beriak bila ditekan. Lagipula, apa hakmu melangkahi kekuasaan Sang Pencipta Segala Makhluk dan Seluruh Alam Raya? Kaupikir siapa kau ini? Dewa segala dewa?”


“Dewa?” Murca mendelik, teringat sesuatu. “Benar juga. Apa aku ini dewa? Dewa yang kekuatannya bahkan melebihi Sang Pencipta Dunia sekalipun?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2