
Hanya ketulusan yang mampu meredakan kekacauan.
Anak Krakatau, gunung berapi aktif di Selat Sunda mungkin adalah tempat terakhir yang akan dikunjungi siapapun.
Entah dalam rangka tugas ataupun wisata ekstrim, mendaki lerengnya saja berarti menghadapi resiko terpapar hawa panas, debu panas, dan yang paling mematikan, gas beracun. Apalagi bila ditambah aliran lava saat terjadi letusan, mendaki tanpa pakaian pelindung seperti astronot hampir pasti adalah cari mati.
Namun, ada saja “orang gila” yang nekad meminjam Gunung Anak Krakatau dua hari setelah sebuah letusan kecil terjadi. Dia adalah seorang pria berusia dua puluh empat tahun, dengan wajah tampan dan kulit yang terlalu putih untuk seseorang yang sering bepergian ke tempat-tempat berbahaya. Satu-satunya bukti kiprah si pria nekad ini hanya carut-marut bekas luka di wajah dan seluruh tubuhnya.
Pemuda itu hanya mengenakan jaket coklat, kemeja biru, celana jins dan sepatu bot tebal. Di satu sisi lereng itu, ia berkali-kali memotret dengan kamera digital berteropong. Sesekali pula, pria itu bicara lewat alat perekam suara mininya.
“Reportase Adhyaksa Wiguna, wartawan Harian Sanggabuana di Gunung Anak Krakatau. Dua hari setelah letusan kecil yang abnormal di gunung berapi ini, saya menemukan gejala-gejala aneh. Biasanya, saat erupsi, beberapa material gunung berapi juga dilontarkan, bahkan masih bertebaran di sekitar lokasi lebih dari seminggu.
Namun, setelah seharian menyisiri wilayah ini, saya hanya menemukan beberapa batuan panas saja. Lagipula, letusan ini terjadi tanpa tanda-tanda aktivitas alami apapun. Mungkinkah… ini dipicu oleh sesuatu yang… lain? Ah, hapus kalimat terakhir. Butuh penyelidikan lebih seksama dari para ahli vulkanologi untuk memastikan penyebabnya…”
Saat itu pula, Adhyaksa terpaku. Matanya tertuju pada sebuah benda yang berpendar kemerahan di kejauhan. Benaknya berpacu. Apa itu benda dari dalam gunung berapi? Permata yang membara? Atau … benda dari luar angkasa?
Walau sepenuhnya menyadari resiko terpapar benda asing yang bisa jadi berbahaya, rasa ingin tahu yang mendasari naluri wartawan pria yang bernama panggilan Adhi ini mendorong sepasang kakinya melangkah agar bisa melihat benda itu dari jarak sedekat mungkin.
Makin dekat Adhi ke incarannya, makin jelas bentuk benda itu. Ternyata itu adalah sebuah keris yang tertancap tepat tegak-lurus di atas sebuah batu. bagian logamnya berwarna merah darah, seperti besi yang baru saja ditempa. Di bagian tengahnya, sebuah kristal jingga tampak seakan menyatu dengan bilah keris itu.
Beberapa saat kemudian, tangan si wartawan telah terulur, hendak menyentuh bilah keris. Namun tiba-tiba ia berhenti dan malah mengambil kameranya untuk memotret.
Hentikan itu. Sebuah suara merasuki benak Adhi bagai terpaan angin kencang. Gunakan benda itu, nyawamu bayarannya.
Adhi terbelalak. Ia menengok kiri-kanan dan berseru, “Siapa itu? Tunjukkan dirimu!”
Ini aku, dalam keris yang kau lihat ini. Aku pernah mencabut nyawa orang yang ingin menyedot jiwaku dari sini dengan alat itu. Karena itulah mereka menyimpanku di gudang rahasia Museum Nasional selama bertahun-tahun.
“Lantas, mengapa kau ada di sini sekarang?” Tanpa sadar Adhi bertanya. Tubuhnya gemetar, namun matanya berkilau penuh semangat.
Ceritanya panjang. Aku akan mengatakannya padamu bila kau mencabutku dari batu ini.
Adhi menaruh kamera, alat perekam suara dalam tas ransel yang disandangnya di tanah bebatuan. Lalu ia meraih gagang “keris hidup” itu. Tiba-tiba, seluruh tubuh pemuda itu kejang, dialiri kilatan arus listrik yang menyala merah.
Adhi mengerang, menahan rasa sakit yang merasuk tulang,. Ia tak peduli lagi entah sedang diuji atau dijebak, satu-satunya tekad dalam benaknya adalah ia harus bertahan hidup. Wajahnya menyeringai, sebelah tangannya terkepal. Otot-ototnya mengeras, mengerahkan segenap tenaga di tangan yang menggenggam gagang keris.
Ayo, Adhyaksa! Jadilah pewaris kesaktian Mpu Gandring, atau mati bersama rahasiaku!
Jadi inilah nama si “penguji”, sang empu pandai besi penempa keris paling sakti, mistis sekaligus terkutuk, paling terkenal di seantero Nusantara. Satu “petunjuk” itu cukup memberi Adhi tambahan daya, sekaligus menyadarkan dirinya untuk melakukan hal yang lebih nekad lagi.
Adhi malah memejamkan mata, seringainya berganti wajah teduh tanpa ekspresi. Otot-otot yang menegang malah ia kendurkan. Apa pemuda ini sudah gila? Memilih untuk mati sia-sia karena rasa ingin tahu belaka? Ia tak lagi berteriak, seakan menelan bulat-bulat nyeri bagai siksa neraka di sekujur tubuhnya ini.
Rupanya, pemuda itu memusatkan seluruh pikiran, tenaga dan keberadaannya pada lengan dan tangannya. Digenggamnya gagang Keris Mpu Gandring dengan mantap dan tak terlalu keras, lalu dicabutnya bilah keris itu perlahan-lahan dari batu. Saat ujung keris tak lagi menancap, segala siksaan yang mendera Adhi reda seketika. Pemuda itu tetap berdiri tertunduk, mematung dengan keris di tangan.
Selamat, kau telah lulus ujian, kata suara itu lagi. Namun Adhi bergeming, tak menanggapinya sama sekali. Benaknya masih berpacu, berusaha mencerna hubungan sebab-akibat dari segala rentetan peristiwa yang di luar nalar ini.
Energi Prana Halilintar Merah kini telah menyatu dalam tubuhmu. Kau telah menaklukkan “kebuasan” keris ini, dan kini hanya kaulah yang mampu mengendalikan kekuatannya. Sudah terlambat untuk menolak, anak muda. Inilah takdir yang telah digariskan untukmu.
“Kurasa tidak, Mpu. Akulah yang menentukan nasib dan takdirku sendiri,” ujar Adhi sambil menatap bilah keris di tangannya. “Maaf, tapi aku memutuskan untuk mengembalikanmu ke Museum Nasional.”
Tiba-tiba, sebentuk bola cahaya terpancar dari kristal jingga pada keris. Lalu bola itu membentuk citra sesosok pria tua berjanggut dan berambut putih panjang. Perawakannya kurus, mengenakan kain putih yang diselempangkan menutupi setengah badan dan sejenis sarung yang terjulur hingga ke mata kaki. Sorot matanya menyiratkan ketulusan sekaligus amarah.
Penampakan ini membuat seluruh tubuh Adhi serasa mati berdiri. Betapa tidak, bagi pria yang tak memiliki “bakat” penglihatan ke alam mistis dan gaib ini, pengalaman pertama kali ini sungguh mengerikan sekaligus menakjubkan.
__ADS_1
Saat Adhi buka mulut hendak bicara, citra Mpu Gandring bicara lagi, kali ini dengan suara yang terdengar di telinga. “Tolong jangan kembalikan aku ke sana, Nak Adhi. Sudah berabad-abad aku terkurung, terkunci dan tersegel. Kini aku bebas, dan aku akan memanfaatkannya untuk membalas dendam.”
“Lho, pada siapa? Ken Arok?” Walau hanya sekelumit, pengetahuan Adhi tentang legenda dan sejarah Nusantra cukup untuk berkomunikasi dengan “arwah” ini.
“Benar, si durjana itu,” jawab Gandring geram.
“Tapi bukankah Ken Arok sudah mati berabad-abad silam, konon ditikam putranya sendiri dengan keris ini?”
“Benar, tapi dia tak sepenuhnya mati.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
Tahu tak seorangpun mengetahui rahasia ini, Mpu Gandring bercerita singkat tentang keris mahakaryanya. Bagaimana saat keris itu rampung, Ken Arok menikamkannya di tubuh penciptanya sendiri hanya agar Gandring tak membuatkan keris sakti lagi untuk musuh Arok, Kepala Daerah Tumapel bernama Tunggul Ametung. Lalu Keris Mpu Gandring digunakan untuk menghabisi banyak orang, dari Tunggul Ametung hingga raja-raja Singosari, yaitu Ken Arok sendiri dan putra tirinya, Anusapati.
Saat pembunuh Anusapati, putra kandung Ken Arok bernama Tohjaya tewas dalam pertempuran, seorang empu dan pertapa lain yang tak dikenal “mengamankan” Keris Mpu Gandring, memastikan kutukannya tak berlanjut, setidaknya hingga garis keturunan Ken Arok punah.
Berabad-abad kemudian, seorang arkeolog menemukan Keris Mpu Gandring di Situs Trowulan, bekas kota Kerajaan Majapahit. Karena seseorang tak sanggup mengemban Prana Halilintar Merah, penemuan ini dirahasiakan. Karena seseorang lain tewas saat memfotonya, keris ini berakhir di ruang penyimpanan bawah tanah.
Saat sedang diangkut untuk dipelajari, Keris Mpu Gandring direbut para penjahat sakti. Keris ini lantas ditempa di Gunugn Anak Krakatau dan sempat memunculkan Cakra, namun si pewaris baru tumbang oleh energi Prana Halilintar Merah yang belum sempurna.
“Dan kini ada kau, Adhyaksa yang ternyata sangat sesuai dengan prana langka milikku,” kata roh Mpu Gandring apa adanya. “Ini membuktikan kita memang berjodoh.”
“Lantas, bagaimana dengan Ken Arok?”
“Ken Arok… Ternyata dia tak mati setelah tertikam kerisnya. Ada sesuatu dalam darahnyayang membuat dirinya hidup abadi. Karena itulah jiwaku tetap di dalam sini. Kutukanku tetap ada, dan Arok seolah membiarkan saja anak-cucunya saling bunuh, mungkin karena dendam. Saat Kerajaan Singosari runtuh, tindakan si mpu tak bernama itu menggagalkan upaya pemberontakan Arok yang “membonceng” Pemberontakan Kuti di Majapahit.
Tidak, Arok tak boleh mendapat kesempatan kedua untuk berkuasa lewat diriku. Sebaliknya, pasti ada cara agar Ken Arok musnah mutlak, kutukanku berakhir dan jiwaku bisa beristirahat dengan tenang di alam baka. Dan tak ada orang lain lagi yang lebih pantas membantuku selain kau, Adhyaksa Wiguna. Nah, apa jawabmu?”
Adhi terdiam sejenak untuk berpikir masak-masak. Tak lama kemudian ia menjawab, “Baik, aku bersedia membantumu… dengan beberapa syarat.”
“Pertama, karena kita bermitra, tolong hentikan bertindak sekehendak hati. Hargailah aku sebagai manusia, yang berhak mengatur hidupku sendiri. Yang kadang bisa salah dan gagal. Niscaya aku juga menghormati dan menghargaimu pula, serta membantumu dengan sepenuh hati.”
“Hm, terus terang ini di luar kebiasaan. Seharusnya aku keberatan, tapi yah… baiklah. Aku setuju,” ujar Mpu Gandring sambil mengelus-elus janggutnya.
“Kedua, jangan sembarangan membunuh. Bilamana seseorang menggunakan benda yang disebut kamera ini,” kata Adhi sambil menunjukkan kameranya sendiri, “bukan berarti ia sedang menyerap jiwa kita.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena benda ini tak memiliki kekuatan gaib, semata-mata hanya hasil kemajuan zaman.”
“Baik, kupegang kata-katamu. Tapi bila ternyata yang mengenaiku itu benda gaib, aku takkan segan-segan menyerangnya pula.”
“Begitu pula aku. Nah, syarat terakhir. Aku butuh pakaian sebagai samaran, supaya aku masih bisa hidup normal, untuk melindungi orang-orang yang kukasihi dari musuh-musuhku. Dan karena ada larangan menyandang senjata di tempat-tempat tertentu, sebaiknya keris ini juga disamarkan sebagai benda lain.”
“Contohnya?”
“Ngg… Kalung, gelang, cincin, aku tak suka pakai perhiasan,” kata Adhi mereka-reka. “Sepatu, ponsel, jam tangan… Aha! Bagaimana kalau sabuk saja?”
“Ide bagus!” Tiba-tiba, keris di tangan Adhi seakan terbungkus bola energi. Spontan, pemuda itu menempelkan bola energi itu pada kepala sabuk ikat pinggangnya sendiri. Saat bola energi itu sirna, tampak kepala sabuk telah beralihrupa menjadi berdesain unik dan satu-satunya. Ini tetap mempertahankan pola logam merah dengan kristal jingga di tengahnya.
“Nah, tentang samaranmu…” Roh Mpu Gandring merentangkan kedua tangannya. Tiba-tiba seluruh tubuh Adhi seakan terselubung, terbungkus semacam selaput berwarna merah darah.
Adhi spontan protes, “A-apa ini? Napasku sesak!”
“Tahan! Zirah Cakra sedang menyesuaikan bentuknya dengan tubuh dan benakmu!”
__ADS_1
Adhi berusaha mematuhi Mpu Gandring dengan berdiri diam. Matanya tak henti memperhatikan setiap detil perubahan pada penampilannya sendiri. Kini ia mengenakan kostum ketat berwarna merah darah, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang ramping namun berotot. Pelat-pelat bagai baja berwarna jingga mengambil fungsi sebagai pelindung dahi, leher, dada, lengan bawah, kaki dan sebagainya.
Saat meraba bagian wajahnya, Adhi baru sadar ia nyaris tak merasa sedang memakai topeng, melainkan kacamata biasa. Topeng merah bertanduk-alis jingga itu berfungsi sebagai pelindung kepala, juga membantu mempertajam penglihatan hingga jarak jauh, melebihi teropong biasa.
Saat akhirnya zirah lengkap tersandang, penampilan Adhi berubah seutuhnya menjadi seorang pendekar super yang terkesan lebih berkharisma dariapda sangar. Melihatnya, sosok Mpu Gandring mengangguk sambil tersenyum puas.
“Nah, tinggal satu hal lagi yang perlu ditambahkan agar samaranmu sempurna,” ujar Gandring. “Gunakanlah nama samaranku sendiri, yaitu Cakra.”
Adhi bertanya, “Cakra? Bukankah itu nama senjata yang amat terkenal dalam pewayangan?”
Gandring mengangguk. “Ya, selama ini aku selalu mengagumi senjata Cakra Sudarsana, yaitu cakram dengan 108 gerigi tajam di tepinya. Senjata dewata maha sakti itu milik Wisnu, salah satu dewa tertinggi dalam Agama Hindu.
Keinginan terbesar seumur hidupku adalah menempa senjata mahadewa, dan keris mahakaryaku inilah yang kesaktiannya paling mendekati Cakra Sudarsana. Maka, nama sejati keris ini, yang tak pernah kuungkapkan pada Ken Arok atau siapapun adalah Cakra.”
“Baik, mulai sekarang wujud samaranku ini bernama Cakra, Pendekar Halilintar Merah.” Seberkas prana merah tampak berpendar menyelimuti sekujur tubuh Adhi, seakan menyetujui seluruh kebenaran ini pula.
Mpu Gandring lantas berujar, “Nah, ketiga syaratmu telah kupenuhi, Adhi. Kini, akulah gurumu.”
“Hormat pada guru.”
“Bagus. Nah, pelajaran pertama, kuasailah salah satu kekuatan super Cakra, yaitu terbang tanpa sayap.”
“Wow-wow! Tunggu dulu. Tidakkah lebih baik kita kembali dulu ke Ujung Kulon dan mencari tempat yang lebih… aman untuk latihan?” Ujung Kulon adalah semenanjung di Pulau Jawa yang letaknya paling dekat dengan Krakatau.
“Memang demikian. Tapi apa perahu yang kautumpangi tadi masih ada?”
Cakra menepuk dahinya. “Aduh, benar kata guru! Aku sudah terlalu lama di sini, jangan-jangan… Biar kuperiksa dulu!” Ia mulai berbalik dan berlari ke sisi barat gunung. Saat itu pula Cakra sadar, larinya kini jauh lebih cepat daripada saat jadi Adhi, seakan tengah menunggang angin-halilintar.
Dalam hitungan menit, Cakra tiba di tempat ia merapat beberapa jam yang lalu. Namun, speedboat yang ia tumpangi sudah tak ada di sana. Walaupun semua barang bawaannya sudah ia bawa dalam ransel yang kini “tersimpan” secara gaib dalam Zirah Cakra, pemuda itu berdecak kesal. Bagaimana tidak, kini ia terdampar di pulau gunung berapi berbatu-batu yang tak layak huni, tak tahu kapan perahu berikutnya datang.
Mpu Gandring lantas menampakkan diri lagi lewat pancaran sinar dari kristal jingga bulat di tengah zirah pelindung dada Cakra. Katanya, “Daripada mengutuki tukang perahu tak bertanggungjawab itu, lebih baik kita mulai pelajarannya sekarang. Lagipula, berapa orang yang seberuntung dirimu, bisa terbang dengan sendirinya dari gunung berapi ini?”
Tak perlu jawaban untuk pertanyaan tadi. Cakra hanya menanggapinya, “Silakan, guru.”
Dengan gamblang, Mpu Gandring menunjukkan cara menyalurkan prana dan memancarkannya lewat telapak kaki, mendorong tubuh bertolak dari gaya gravitasi bumi. Menaruh harapan besar pada Adhi, Mpu Gandring tak perlu lagi memboroskan energi dengan sepenuhnya mengambil alih kendali tubuh “inang”-nya.
Walau bukan manusia jenius, Adhi cukup cerdas untuk memahami fungsi pernafasan sebagai cara menyalurkan tenaga dalam alias prana lewat peredaran udara dalam tubuh.
Hasilnya tampak dengan terangkatnya kedua kaki Cakra dari tanah.
“Bagus! Teruskan! Lebih tinggi lagi!” Roh Mpu Gandring menyemangati muridnya.
Tiba-tiba, Cakra jatuh lagi ke tanah. Ia terus mengulang-ulang proses tadi, jatuh dan bangun lagi. Jatuh-bangun. Sang guru bahkan sempat berkata, “Bagaimana? Mau istirahat dulu sebentar?”
“Tak usah!” seru Cakra, kali ini membubung di udara hingga kira-kira dua meter dari tanah. “Mumpung aliran energiku kini lancar, aku… terbang!” Tubuh pria muda itu menukik hingga tengkurap, nyaris sejajar dengan permukaan laut. Perlu waktu sampai ia menemukan sikap tubuh yang pas saat terbang. Sesekali, tubuhnya oleng dan hampir terjatuh ke laut.
Untunglah Cakra cukup sigap dengan menjulurkan dua tangan lurus ke depan. Arah terbangnya kembali stabil, bahkan kini ia seakan membelah angin. Kecepatan terbangnya saat ini baru setara pesawat ringan.
Suatu hari kelak, ia akan mampu mengatur apakan akan terbang seperti rajawali atau pesawat jet.
Suatu hari kelak, kekuatan baru ini akan membawa Adhyaksa Wiguna alias Cakra mengarungi langit penuh kepahitan dan bahaya.
Namun saat ini Cakra berseru keras, panjang dan membahana, ungkapan syukur atas anugerah yang baru ia terima ini.
__ADS_1