ADILAGA

ADILAGA
ADILAGA 5


__ADS_3


Karena bukan gunung berapi, ledakan dahsyat dari dalam Gunung Sadahurip menimbulkan gempa yang mengguncang hingga kira-kira radius setengah kilometer dari dasar lereng gunung. Di luar lereng, gempa ini terlalu ringan untuk menimbulkan kerusakan berarti dan hanya membuat hewan-hewan berlarian ketakutan. Walau demikian, sebagian daerah gua di dalamnya runtuh.


Kekuatiran dan firasat bakal terjadinya bencana mendorong Aldrin Parengkuan alias Lunar, Direktur Umum I.N.D.I.G.O terbang dengan Pesawat Jatayu ke garis depan.


Tak mengindahkan luka dalamnya yang belum sembuh benar dan peringatan para agen, tak lama setelah terjadinya gempa, Lunar dalam wujud tempurnya bergerak ke depan mulut gua yang adalah “pintu gerbang” ke pusat medan pertempuran.


Namun, betapa terkejutnya Lunar saat melihat jalan masuk itu tertutup rapat oleh tumpukan batu. “Oh, tidak! Solara… dan Adilaga! Jangan-jangan…!”


Sebelum berasumsi ini-itu, watak tenang Lunar mengambil alih kendali. Pria berkostum dan berambut perak itu lantas menempelkan dua jari di dua sisi pelipisnya, menerawang ke dalam gua dengan menggunakan ilmu telepatinya.


Solara… Solara… Yvonne! Di mana kau… Yvonne!? Jawablah aku!


Beberapa menit berlalu, dan Lunar kini punya lebih banyak alasan untuk cemas. Yvonne… Yvonne… Yvonne! Ini aku, Aldrin!


Akhirnya jawaban yang ditunggu-tunggu datang juga. Aldrin! Oh, syukurlah kau datang! Maaf aku terlalu lambat menjawab, telepatiku tak sekuat milikmu! Kami sudah tiba di ambang jalan keluar, namun mulut gua telah tertutup longsoran batu-batu berat! Batu-batu itu pasti banyak dan besar-besar, pantas saja sambungan telepati Solara sulit mencapai benak Lunar tadi. Barong, Cakra dan semua anggota Adilaga lain sedang mencoba memindahkan bebatuan, dan aku sedang berusaha menyembuhkan mereka yang terluka parah dengan sihir! Tapi, batu-batu mana saja yang harus dipindahkan agar tak longsor dan kami menemukan jalan keluar yang tepat?


Jawaban Lunar dipancarkan beberapa saat kemudian. Pulihkan luka dan prana kalian dulu! Biar kami mencoba membongkar batu-batu ini dari depan!


Tanpa menunggu jawaban istrinya, Lunar memutuskan kontak batin dan berbalik, menyerukan instruksi-instruksi pada para personil I.N.D.I.G.O di lokasi.


Pasukan reguler I.N.D.I.G.O diperintahkan agar sebisanya memanfaatkan alat-alat berat SS Corporation yang tak terpakai untuk membantu memindahkan bebatuan di bagian bawah longsoran. Sedangkan bagian atas yang tak terjangkau traktor mau tak mau ditangani Lunar sendiri, dengan tambahan asupan prana dari para agen-pendekar.


Setelah semua orang siap di posisi masing-masing, Lunar berseru lantang, “Semuanya! Ayo kita bahu-membahu, menyelamatkan rekan-rekan kita!”


“Siap!” Seluruh pasukan dan agen I.N.D.I.G.O menyambut serempak, lalu bergerak langsung melaksanakan tugas masing-masing. Sedikitnya tiga puluh pendekar berbaris membentuk formasi seperti segitiga, menyalurkan parana ke “puncak segitiga”, yaitu lewat pundak Lunar.


Sebagai penyihir psikis terkuat, Lunar tentu menakar kekuatannya lebih dahulu sebelum mengulurkan kedua tangannya untuk menentukan arah. Lantas, pria berambut perak panjang dan bertopeng sebelah itu membidikkan sihirnya. Lalu, satu-persatu batu-batu besar itu terangkat hanya dengan kekuatan pikiran Lunar. Padahal kekuatan itu baru pulih sebagian besarnya sejak aksi spektakuler Lunar mengembalikan “puncak emas” Monumen Nasional ke tempatnya semula.


Belajar dari pengalaman inilah, Lunar terus-menerus membongkar batu demi batu dengan cukup cepat. Harap saja masih ada cukup oksigen di dalam sana hingga semua orang, baik kawan maupun lawan dapat lolos dari ancaman maut, terkubur hidup-hidup atau mati dalam Gunung Piramida Sadahurip.


Walau hanya ada dua alat berat peninggalan musuh yang masih berfungsi dan tepat guna, itu sudah cukup membantu untuk menyingkirkan bebatuan yang berserakan, sekaligus menggali dan merontokkan batu-batu bagian bawah.


Hingga akhirnya Lunar mendengar seruan, kali ini adalah suara pasangannya, Solara. “Terima kasih, rekan-rekan sekalian! Kini menyingkirlah sejauh yang kalian bisa, biar kami, Adilaga yang menuntaskan kerja ini!”


Lunar dan para personilnya menjauh dengan patuh.


Benar saja, tak lama kemudian terdengar ledakan dahsyat. Prana memancar dengan dahsyatnya, membuat bebatuan besar nan padat pecah berantakan, bahkan ada bagian yang menyerbuk jadi pasir. Pelakunya tak lain ada dua, yaitu Hima, pendekar serang terbaik dan Cakra, pewaris Keris Mpu Gandring yang adalah petarung terbaik Adilaga. Lubang yang mereka buat cukup besar untuk jalan keluar.

__ADS_1


Pendekar Adilaga dengan pertahanan terbaik, Taruna keluar pertama, bersiap melindungi rekan-rekannya andai terjadi longsor. Setelah yakin aman, Cakra dan Hima keluar satu-persatu. Lalu  mereka diikuti pendekar Adilaga paling serba-bisa dan menguasai paling banyak mantra sihir, yaitu Dahlia. Perisai prana Taruna dan Dahlia “memayungi” Rangda, penembak terjitu, lalu Reog, pendekar tergesit Adilaga.


Lantas, Lunar yang menyambut kembalinya para pahlawan menghambur dan memeluk orang yang paling ia cintai, yaitu Solara, pendekar paling brilyan sekaligus pemimpin lapangan Adilaga yang banyak akal.


“Aduh, jangan di sini, pah! Malu dilihat banyak orang…!” Solara gelagapan.


Namun Lunar sudah tak peduli lagi. “Berkat bantuan mereka semua, kau dan rekan-rekan kita yang telah berjuang di dalam sana selamat. Terima kasih kalian semua, terima kasih Yang Maha Kuasa…!” Kedua sejoli itu amat mesra, hingga membuat haru dua pasang pahlawan super lainnya, Dahlia-Hima dan Cakra-Rangda yang juga berpelukan erat.


“Dengan ini tumpas sudah Liga Angkara Murca,” ujar Barong, pendekar terkuat Adilaga yang keluar paling akhir dari gua. “Namun, kita masih harus mencabut biang bencana, SS Corporation ini hingga ke akar-akarnya. Dan langkah pertama kita adalah memastikan rahasia Gunung Sadahurip ini selamanya menjadi misteri.”


Menimpali ucapannya dengan tindakan, Baorng mengerahkan kekuatan otot-otot supernya yang sarat Prana Singa Suci Dewata.  Sambil berteriak penuh semangat, ia mengangkat sebuah batu yang sepuluh kali lebih besar dan lebih berat dari tubuhnya sendiri, lalu meletakkannya tepat di ambang jalan masuk gua menuju Candi Blorong yang terkutuk. Kelak, I.N.D.I.G.O akan menindaklanjuti pekerjaan ini hingga guat tertutup sempurna, tersamarkan menjadi lereng gunung. Siapapun orangnya, ia pasti bakal amat kesulitan menemukan pintu masuk ini.


Entah untuk sekedar melepas lelah atau memerah setitik hikmah, mengheningkan cipta menghormati mereka yang telah gugur dalam pertempuran di Gunung Sadahurip ini, para anggota Adilaga menatap mulut gua di lereng gunung itu, beragam pikiran berkecamuk dalam benak mereka masing-masing.


Apa benar mereka telah menang?


Apakah mulai saat ini pekerjaan mereka akan jauh lebih ringan, atau inikah saatnya menggantung kostum?


Masihkah Adilaga dan I.N.D.I.G.O diperlukan?


Apakah ada jaminan, takkan ada lagi musuh digdaya setara Murca Deva yang bakal mendatangkan prahara baru di Indonesia, bahkan di seluruh dunia?


Perkataan Barong tadi benar adanya. Selain SS Corporation, masih banyak penjahat, bahkan penjahat super sakti di luar sana, menunggu kesempatan untuk beraksi.


Walaupun Blakk Jak dan Artazure sungguh-sungguh “bertobat” lalu bergabung dengan Adilaga, para pendekar eks Angkara Murca lainnya, Singabarong, Gangren dan Okkult masih berkeliaran. Begitu pula para warok dan leak yang tersisa. Mereka semua bagai lenyap ditelan bumi. Mungkin sedang menunggu kesempatan baru, atau majikan baru.


Maka, “jeda” yang disebut pula “masa damai” ini justru dimanfaatkan para anggota Adilaga untuk membenahi kehidupan pribadi mereka masing-masing. Salah satu tujuannya agar mereka lebih siap untuk menghadapi tantangan-tantangan yang bakal menghadang di masa depan, baik sebagai diri sendiri atau pahlawan super.


Sepeninggal Presiden Komisaris Kenneth Tohjaya, SS Corporation terancam runtuh-lantak. Harga sahamnya “terjun bebas”, belum lagi pendapatan yang anjlok drastis akibat banyak pihak yang pernah dirugikan SS buka mulut. Ajaibnya, SS selamat dari likuidasi, karena ada perusahaan lain yang membeli seluruh sahamnya lewat proses akuisisi.


Si “juru selamat” itu ternyata adalah Wardhana Enterprises. Selanjutnya terjadi merger, dua perusahaan besar itu melebur jadi satu. I Made Johnny Wardhana, sang CEO tetap menjalankan perusahaan dari kantor pusat di Denpasar, Bali. Sementara divisi baru hasil merger di Jakarta dipimpin oleh paman Johnny, I Wayan Ngurah Wardhana.


Johnny Wardhana sendiri jelas tak memendam dendam pada SS Corporation. Ia cukup bersyukur bisa berkumpul kembali dengan istrinya, Wenny dan anak-anaknya. Yang masih menjadi dilema baginya adalah pengaturan waktu antara bisnis, keluarga dan perannya sebagai pahlawan super. Akhirnya, Johnny memutuskan untuk “mengistirahatkan” Barong. Seperti pendahulunya, I Ketut Suprana, Johnny kerap mengunjungi pura-pura di Pulau Bali untuk bersemedi, memperkuat iman, sekaligus melatih diri bersama Sang Singa Suci Dewata, BARONG.


Hubungan Gilang Kandaka dan Julia Pranata Lin berlanjut. Mereka berdua lulus kuliah tepat waktu, siap memasuki dunia kerja. Gilang yang ahli bela diri pencak silat dan pecinta alam kini bekerja penuh sebagai agen I.N.D.I.G.O di bawah bimbingan mentornya, Penasihat Umum Herman Winarno. Sementara Julia melanjutkan studinya di konservatori untuk menjadi pemain biola konser tunggal. Terlepas dari itu semua, Gilang dan Julia sebagai HIMA dan DAHLIA termasuk para pahlawan Liga Adilaga yang cukup aktif memberantas kejahatan.


Bagaimana dengan kawan karib Julia dan Gilang, Brian Suryawinata? Rupanya Brian sangat menikmati kepopulerannya sebagai TARUNA, membasmi kejahatan sudah menjadi hobi dan jangan-jangan adalah panggilan hidupnya. Setelah lulus kuliah, ia tak lantas bekerja. Ia memutuskan menikmati hidup sebagai pria berharta, sampai tiba waktunya nanti ia membantu usaha ayahnya, yaitu toko on-line yang sukses.


Bondan Prasetyo akhirnya drop-out dari kuliahnya. Daripada menjadi pengangguran, kini ia lebih suka bekerja sebagai barista di kafe langganan Rania Giselda di bilangan Blok M, Jakarta. Sebenarnya pekerjaan itupun juga samaran, menutupi tugas rahasianya sebagai detektif swasta dan pendekar super bergelar Badai Darah Hitam, REOG.

__ADS_1


Partner Bondan, Rania Giselda meneruskan profesinya sebagai detektif swasta dengan spesialisasi kasus-kasus supranatural dan kejahatan berat. Sehubungan tugas rangkapnya sebagai penyelidik khusus I.N.D.I.G.O, sebuah ruang kantor khusus telah disiapkan untuknya di markas besar. Namun Rania lebih sering muncul di kafe langganannya, menyesap Iced Hazelnut Latte kesukaannya sambil membahas kasus dengan mitranya, Bondan. Di samping itu, di manapun peluru Prana Api Ungu bersarang, di sanalah Rania berada, sebagai RANGDA.


Lantas, bagaimana dengan kekasih Rania, Adhyaksa Wiguna? Hubungan profesional antara keduanya untuk sementara ditangguhkan. Pasalnya, Adhi kini menjadi wartawan senior surat kabar Harian Sanggabuana, yang kembali bangkit dan menanjak pesat setelah tumpasnya Liga Angkara Murca. Lagipula, sebagai CAKRA Adhi lebih leluasa memerangi kejahatan dengan metode yang dikuasainya, yaitu jurnalistik. Adhi juga masih suka meliput aksi rekan-rekannya di Adilaga, kecuali Rangda karena ia lebih suka turun tangan sendiri membantu kekasihnya ini.


Mengenai hubungan asmara Adhi-Rania, undangan pernikahan mereka berdua tiga tahun setelah aksi mereka di markas rahasia Murca menjelaskan segalanya. Tentu banyak aral melintang dan bahaya selama kiprah mereka berdua sebagai pahlawan super, namun itu justru memperkokoh cinta keduanya. Maka, inilah satu lagi pasangan suami-istri pahlawan super di Adilaga, yaitu Cakra dan Rangda.


Bagaimana dengan dua pasangan suami-istri Adilaga lainnya?


Pasangan Indra Lukmanto dan Dian Megaranti diberikan pengampunan penuh. Segala aksi pengrusakan yang telah mereka lakukan tak pernah diproses secara hukum. Namun ada syaratnya. Semua relikui gaib milik Indra dan Dian ditahan dan disegel dulu di markas I.N.D.I.G.O. Mungkin suatu hari kelak, bila tugas besar memanggil, mungkin jasa-jasa mereka kelak akan membuat warga Jakarta memaafkan kesalahan terdahulu dan akan menghargai pasangan ini sebagai pahlawan-pahlawan super baru, yaitu BLAKK JAK dan ARTAZURE.


Mengenai pasangan suami-istri kedua di Adilaga, saat ini Aldrin Parengkuan sedang bersama istrinya, Yvonne Hamzah di ruang kerja Aldrin di Skyheim Tower, markas besar I.N.D.I.G.O di Jakarta. Bersama mereka hadir pula Penasihat Umum Hernan Winarno dan satu-satunya anggota Liga Adilaga yang tak terkait legenda manapun, yaitu Norman Zakharia alias THE STICKLER.


“Wow, penerawangan yang gamblang, sekali, Pak Direktur Umum!” ujar Norman, wajah bulatnya menampilkan ekspresi penuh minat. “Tapi apa nasib masa depan Liga Adilaga yang bapak tunjukkan itu bakal benar-benar terjadi?” Sebenarnya Norman ingin minta diterawang pula masa depannya, namun ia tak berani bersikap kurang sopan pada Aldrin, atasannya.


Aldrin, yang adalah LUNAR, pendekar cenayang terkuat di Liga Adilaga tentu sudah membaca pikiran Norman itu. Namun ia malah menyunggingkan senyum diplomatis. “Yah, terawangan tadi itu berdasarkan kondisi saat ini. Andai sesuatu yang amat besar dan amat ekstrim terjadi, mungkin ramalan masa depan mereka akan berubah.”


Jawaban Aldrin itu membuat Norman jadi berpikir dua kali sebelum minta diramal, pendekar bertubuh besar itu diam seribu bahasa.


Giliran Herman Winarno yang bicara, “Jadi, kau tak tahu apakah peristiwa ekstrim itu akan terjadi atau tidak?”


Aldrin menggeleng. “Aku hanya meramal lewat aura masing-masing anggota Liga Adilaga saat aku menemui mereka. Jadi yah, setidaknya mereka cukup jujur. Hampir semua yang mereka katakan sejalan dengan pikiran dan aura, pancaran jiwa mereka.”


“Jadi kurasa kita dapat bernapas lega, setidaknya untuk sementara ini,” ujar Pak Win sambil mengangguk perlahan.


Direktur lapangan I.N.D.I.G.O, Yvonne alias SOLARA menyela, “Masalahnya, ‘sementara’ itu berarti berapa lama? Tiga penjahat super masih buron dan tak diketahui keberadaannya hingga kini. Bisa jadi suatu hari mereka akan bertambah kuat dan menjadi biang prahara baru, seperti Murca.”


“Karena itulah, kita harus terus menjaga hubungan komunikasi dengan seluruh anggota Liga Adilaga. Walaupun beberapa di antara mereka takkan terlalu aktif memerangi kejahatan, kita harus terus mengingatkan mereka akan tanggung jawab untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan kekuatan mereka,” papar Lunar, satu matanya berpendar.


Norman “The Stickler” menimpali, “Lewat latihan keras.”


“Juga memperkokoh mental dan kerohanian,” tambah Winarno.


Yvonne “Solara” Hamzah mengangguk, mengutarakan kesimpulan akhirnya. “Pendeknya, semua penjuang kebenaran harus tetap siaga dan jangan sampai terlena. Karena andai suatu hari nanti muncul ancaman baru bagi kedamaian negeri dan dunia tercinta kita ini, kita dapat menumpukan harapan pada sekelompok manusia sakti mandraguna.”


ADILAGA.


 


 

__ADS_1


__ADS_2