
Tiba-tiba terdengarlah suara tepuk tangan, diiringi kedatangan seorang pria bertubuh tinggi-besar. Gaya rambutnya amat rapi, ia mengenakan kemeja putih serta setelan jas dan celana serba hitam. Pria itu tersenyum di balik kacamata hitam yang selalu dipakainya itu.
“Wah, sesuai dugaanku, yang terkuat di Liga Adilaga selalu tampil pertama. Selamat datang di Candi Blorong. Aku Mr. K.” Suara berat Mr. K membuat nada bicaranya cukup merdu dan lantang. Di tambah kedua tangannya yang terentang, penampilannya bagai aktor drama yang amat berbakat.
“Sudahlah, tak usah basa-basi. Kau pasti Kenneth Tohjaya, Presiden Komisaris SS Corporation,” ujar Barong, telunjuknya menujuk langsung ke arah Mr. K.
“Kalau ya, memangnya mengapa?” Mr. K membuka kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata berbola serba hitam di wajahnya yang putih pucat. “Toh aku memang tuan rumah di sini, dan kalian adalah tamu yang sengaja kuundang untuk pelengkap ‘acara utama’ ini.”
“Pelengkap? Apa maksudmu?”
“Ini maksudku!” Tiba-tiba dari dalam lantai candi keluarlah sulur-sulur berbentuk petir merah yang tak terhitung banyaknya, semuanya menjerat Barong. Perhatian pria besar yang nyaris jenius itu sepenuhnya teralihkan oleh kondisi rekan-rekannya yang mengenaskan, hingga ia lengah dan gagal menghindari perangkap magis ini.
Sumber energi perangkap ini tentu saja adalah Keris Petir Merah Cakra Sudarsana, atau lebih dikenal sebagai Keris Mpu Gandring, dan benda itu kini berada di tangan Mr. K.
“’Wadah’ dan ‘kunci’ telah tersedia, dan kini datanglah ‘tenaga’ untuk memastikan keberhasilan acara,” kata Mr. K sambil mengangkat keris. “Sayang baru satu yang datang, tapi tenaga Barong saja sudah cukup untuk mewakili rekan-rekannya.” Secara magis pula, sulur-sulur petir membelit tubuh besar Barong sambil menyetrum dan mengangkatnya ke udara.
Barong melolong kesakitan, kejang-kejang bagai tertusuk pedang di setiap jengkal tubuhnya. Tubuhnya terus melayang, dan seperti Cakra terpasung di dua tonggak di sisi lain patung wanita-ular raksasa, terikat tali berkekuatan gaib.
“Tahap akhir ritual dimulai!” seru Mr. K. “Pertama, tampilkan wujud sejatiku, Arok Murca!”
Dari ujung kaki dan merambat hingga ke kepala, seluruh tubuh Mr. K terselubung semacam lumpur hitam-legam. Beberapa saat kemudian, bentuk si “manusia lumpur” itu berubah seperti tumbuh tanduk ganda di kepalanya, sementara perubahan bentuk dan ukuran tubuhnya tak terlalu kentara. Tahap berikutnya, lumpur hitam meluruh. Menampilkan wajah putih-pucat di kepala yang mengenakan helm-mahkota gaya pewayangan berwarna serba emas bertanduk ganda. Tubuh besarnya yang berdada bidang tampak jauh lebih gagah dengan zirah dengan kombinasi warna dominan hitam dan emas, dan warna-warna lain sebagai penghias. Saat lumpur luruh seluruhnya, penampilan Mr. K kini sempurna bagai raja digdaya, dapat disejajarkan dengan penakluk-penakluk besar dari seluruh dunia.
Melihat itu, Barong yang melemah akibat tenaganya sedang diserap Keris Mpu Gandring lewat sulur-sulur petirnya berseru lemah, “K-kau… Kenneth… Ken… dan Tohjaya! Jangan-jangan kau adalah…!”
Sang raja perkasa mendelik dan menyela dengan penuh gaya, “Hah, boleh juga pengetahuanmu, Barong. Akulah dia yang hidup abadi, orang yang mampu membalik kutukan menjadi berkah bagi dirinya. Akulah raja pertama Singosari, Ken Arok!”
“A-astaga… Bukankah… kau dibunuh dengan Keris Mpu Gandring oleh Anusapati, putramu?”
“Putra tiriku,” ujar Ken Arok, memperbaiki kata-kata Barong. “Lagipula Anusapati menggunakan tangan orang lain untuk menghabisiku. Namun, aku sungguh berterimakasih padanya.”
“Untuk apa?”
“Membukakan kunci ilmu hitam dan kehidupan abadi yang kudapat dari Nyi Blorong, Sang Ratu Siluman Ular hingga berhasil kukuasai.”
“Lantas… mengapa baru kini… kau bertindak?” Kepala Barong makin tertunduk, suaranya makin lemah.
“Karena aku butuh ‘wadah’, ‘kunci’ dan ‘tenaga’ untuk melaksanakan ritual agung ini.”
__ADS_1
“Ritual untuk apa?”
“Membangkitkan kembali istri pertamaku, Ken Dedes tentunya! Membebaskan jiwa yang berabad-abad terkurung dalam arca Nyi Blorong ini! Apalah artinya kejayaan yang telah kuraih selama ini dan seterusnya bila tak bisa berbagi dengan orang terkasih?”
Barong terhenyak. Sebagai Johnny, ia jelas memahami maksud Ken Arok itu. Ia bahkan merasa salut pada pria manapun yang rela berusaha keras luar biasa agar dapat bersatu kembali dengan keluarga tercinta, seperti dirinya.
“Ken Arok itu masa lalu. Kini, sebut nama baruku, yaitu MURCA! Selama berabad-abad ini aku mencari ‘kunci’, yaitu Keris Mpu Gandring yang menghilang secara misterius setelah tewasnya anakku, Tohjaya,” lanjut Arok alias Murca. “Baru-baru ini, ‘kunci’ muncul bersamaan dengan ‘wadah’, wanita cantik nan sakti dan ‘tenaga’ dari pendekar terkuat. Jadi, setelah sempat tertunda, kini rencanaku pasti rampung.”
Saat itu pula, Keris Mpu Gandring berpendar kemerahan di tangannya. “Aha, rupanya ‘kunci’ telah tuntas menyerap ‘tenaga’. Dan kini, bangkitlah ‘wadah’ bagi jiwa Ken Dedes!”
Sambil mengucapkan mantra-mantra, Murca menghampiri arca Nyi Blorong, lalu menikamkan keris pada lubang pipih di pangkal “tubuh ular” sang ratu. Ajaib, seluruh tubuh arca raksasa itu berpendar kemerahan seketika. Lalu dari mata arca terpancar larik-larik sinar lurus yang tepat menyusupi mata, hidung, mulut dan telinga Rania Giselda di meja pengorbanan. Pancaran itu berlangsung kira-kira tiga menit, lalu tak terjadi apa-apa.
Barong kini terlalu lemah untuk bicara, jatuh terpuruk di lantai setelah belenggu magisnya terlepas. Ia hanya menatap wajah Murca alias Ken Arok yang ekspresinya berubah, menyiratkan kekecewaan.
“I-ini… mustahil! Nyi Blorong berkata Ken Dedes akan bangkit kembali dengan cara ini! Jangan-jangan… dia berniat menipuku! Mencegahku membangkitkan kembali belahan jiwaku ini agar aku jadi milik Nyi Blorong seorang! Dasar keparat! Aku adalah Murca, Sang Penguasa, bukan budak siapapun!”
Saat Murca melayangkan tinjunya yang berkekuatan penuh ke arah arca raksasa, tiba-tiba Rania Giselda berteriak nyaring, tubuhnya mengejang hebat. Murca menghentikan aksinya tepat waktu, wanita itu perlahan-lahan bangkit dan turun dari meja pengorbanan. Seperti halnya Murca, mata Rania hitam berpupil putih.
Melihat itu, Barong tersentak. Benaknya bertanya-tanya cemas, apa Rania kini telah menjadi seorang vampir, seperti Murca?
Dengan amat perlahan, Rania menoleh ke kanan-kiri. Lalu ekspresi wajahnya yang kosong berubah tersenyum lemah. Suaranyapun lirih saat ia berkata, “K-Ken… Ken… Arok?”
“Ya, ini aku, Ken Dedes, cintaku…” Tak terkatakan ekspresi bahagia Ken Arok alias Murca saat ini, segala keangkuhannya tanggal seketika. Telah berabad-abad ia berusaha keras, menumpuk kekayaan dan mengerahkan sumber daya dan upaya tak terhingga, semuanya demi momen ini. Kenyataan ini.
Walau berwajah beda, kehangatan yang terpancar dari aura cantiknya masih tetap sama.
Kehangatan yang telah meluruhkan kebekuan tanpa harapan. Sekali lagi mengobarkan ambisi untuk menerobos segala kemustahilan.
Kehangatan yang sempat mendidih oleh hati yang cemburu, berujung pembunuhan durhaka.
Dan perpisahan untuk selamanya.
Lewat penyesalan mendalam disusul tindakan bunuh diri, aura cantik itu akhirnya padam.
“Ah, akhirnya pertemuan ini menghilangkan kata ‘selamanya’ dari ‘perpisahan’,” tutur Ken Dedes dalam raga barunya, wajahnya tak nampak tersenyum bahagia. “Jiwaku terperangkap dalam arca jahanam itu, menjadi hamba Ratu Ular, hingga akhirnya kau memanggilku kemari.”
“Ya, benar. Dan kini, setelah tujuan utamaku tercapai, apa yang bakal kita lakukan selanjutnya?” Murca lantas menjentikkan jarinya. “Aku tahu, bagaimana kalau kita memperluas SS Corporation ke seluruh dunia?”
Ken Dedes tak menjawab, maka Arok-Murca melanjutkan, “Ide yang hebat, bukan? Tapi setidaknya kau harus punya modal kesaktian untuk membela diri. Aku telah mempersiapkan kesaktian untukmu. Sang ‘wadah’ yang kini jadi ragamu adalah pewaris Rangda, ratu para leak dan penyihir yang sakti mandraguna. Lihatlah cincin di jarimu itu, pusatkan prana ke sana. Penampilanmu akan berubah menjadi wujud tarung.”
__ADS_1
Ken Dedes yang semasa “kehidupan lama”-nya pernah berlatih Kanuragan, ilmu pengolah tenaga dalam menghimpun prana sesuai petunjuk suaminya. Tiba-tiba cincin emas bermata mirah di jarinya berpendar keunguan. Pakaian Ken Dedes berubah wujud menjadi kostum Rangda. Gaya pakaiannya tetap modifikasi dari gaun Jawa Kuno atau kostum penari Jawa.
Hasil akhirnya, yang beridir di sana adalah wanita bertopeng yang seluruhnya mirip Rangda versi Rania Giselda. Bedanya, yang mengendalikan raga ini bukan jiwa Rania lagi. Juga Rangda “versi baru” ini tak bersenjatakan pistol atau apapun lagi.
“Nah, kini biar roh Rangda mengajarimu jurus-jurus tarung. Biar dia memberi contoh dengan menghabisi musuh abadinya, yaitu Barong!” Murca menunjuk pada Barong. Belenggu si pria besar lepas seketika, dan ia jatuh bagai merangkak di tanah.
Tanpa menjawab, Rangda si wanita super itu lantas menghunjamkan kuku-kuku ungunya ke tubuh lawannya. Walaupun gaya bertarung ini mirip pewaris Rangda terdahulu, Shinta Devi, bedanya kuku-kuku Rangda-Ken Dedes tak beracun, melainkan penuh prana api ungu. Di luar dugaan, Barong berguling menghindari kuku-kuku api. Kuku-kuku api Rangda hanya menyentuh udara kosong.
Rupanya Barong menggunakan “momen bahagia” Ken Arok – Ken Dedes tadi untuk menghimpun prana bumi. Kini, ia bahkan dapat berdiri tegak.
“Bagus, pura-pura lemah agar musuh lengah,” sergah Murca. “Rangda, habisi Adhi, tawanan pembawa ‘kunci’ itu. Biar aku menjajal si Barong sok perkasa ini.”
Dengan wajah tanpa ekspresi, Rangda berbalik dan berjalan dengan langkah-langkah dramatis menuju pria yang terpasung di samping arca Blorong itu, sementara Murca menghadapi Barong.
Anehnya, Barong yang baru memulihkan tiga puluh persen prananya tetap bergeming di tempat, di sisi lain arca.
“Mau menantangku, Barong?! Cukup jurus pembukaku, Mewujud Panglima, Menaklukkan Nusa untuk mengganjar kelancanganmu!” Mengentakkan prana, tubuh Murca kini memancarkan aura merah. Bola-bola energi merah bermunculan seperti gumpalan busa sabun raksasa di sekitar telapak kedua tangannya yang terentang.
Barong tahu apa yang harus ia lakukan. Saat Murca mengulurkan kedua lengannya ke depan, menumbukkan bola-bola energinya, Barong bergerak menghindar. Walau cukup lincah, sulit baginya bahkan untuk menangkis bola-bola yang tak terhitung banyaknya dan melesat amat cepat itu. Terpaksa ia mengerahkan prana pelindungnya, mengusahakan sesedikit mungkin tembakan mengenai dirinya.
Saat akhirnya “hujan bola” mereda, sang Pendekar Singa Dewata tetap berdiri menangkis, tubuhnya berasap kemerahan akibat sisa prana merah yang menguap bersama darahnya.
Tampak Murca juga berdiri tegak, mulutnya menghembuskan uap buangan dari pengerahan prana tadi. “Bagus, Barong. Pantas kau dijuluki ‘yang terkuat’!” ujarnya sambil tersenyum, mulai menikmati pertarungan ini.
Justru Barong memanfaatkan jeda ini bukan dengan menghimpun prana lagi. Sebaliknya, ia malah berlari ke arah arca dan mencabut Keris Mpu Gandring dari celah patung raksasa Nyi Blorong itu.
“Eit, mau apa kau!? Jangan coba-coba!” Murca terlalu berkonsentrasi pada Ken Dedes tadi, hingga melalaikan benda yang menjadi kunci perubahan nasibnya selama ini. Sambil mengerahkan variasi jurus Mewujud Panglima, Menaklukkan Nusa tadi, ia maju menyerang Barong sambil membawa bola-bola energi tadi, semuanya dikonsentrasikan pada kedua tinjunya.
Tahu dirinya makin sulit menghindari serangan jarak dekat, Barong malah maju menantang Murca. Padahal sesungguhnya, matanya tertuju pada Rangda dan si tawanan yang sudah tak terbelenggu prana petir merah, namun masih sulit bergerak. Anehnya, Rangda – Ken Dedes belum juga menghabisi Adhyaksa Wiguna, pewaris Mpu Gandring. Kedua insan itu saling bersitatap. Adhi menegadah dengan wajah keheranan, sementara Rangda malah membungkuk sambil mencengkeram kepalanya dan berteriak-teriak kalap.
“Bosan hidup? Silakan mati!” Kali ini Murca mengayunkan tinju maut langsung ke arah Barong. Tiba-tiba satu tendangan memantulkan lengan “Raja Tanpa Kerajaan” itu.
Sekelebat, Barong mengenali sosok si penendang, yaitu mantan lawannya, Reog. Sekelebat pula ia terus berlari, mengacungkan keris yang tadi urung ia hunjamkan. Lalu, Barong melemparkan keris sakti ke arah Adhi sambil berseru, “Adhi, sambut warisanmu!”
Keris melesat dengan ujung di muka, seakan hendak menguji kepantasan pewarisnya. Di jarak hampir menghunjam tubuh Adhi, tiba-tiba keris itu bereaksi pada aura Adhi dan berubah wujud menjadi ikat pinggang. Dalam sepersekian detik itu pula, ikat pinggang terpasang dengan sendirinya di lingkar pinggang Adhi.
Semburat Prana Halilintar Merah terpancar. Prana itu mematahkan semua belenggu, menampakkan hasil akhir berupa si orang bebas dalam wujud tarungnya.
CAKRA.
__ADS_1