
Secara bersamaan, Solara menembakkan selarik sabit Pancar Cahaya Mentari dengan sabuknya, dan Lunar Sabit Sinar Bulan dengan mengibaskan rantainya. Kedua larik energi dahsyat itu tampaknya mengenai manusia sinar merah dan manusia sinar biru, namun pecah berkeping-keping dan lenyap seketika.
Gantinya, di puncak monumen itu berdirilah seorang pria berkostum dan berhelm merah-hitam dengan topeng merah berkumis hitam, berdampingan dengan wanita berkostum dan berhelm biru-putih dengan topeng putih. Keduanya tampak seperti sepasang boneka raksasa tradisional khas Jakarta, yaitu ondel-ondel. Bedanya, mereka tetap berbentuk dan seukuran manusia normal.
“Agh, benar dugaanmu, Lunar! Ternyata Indra dan Dian adalah Blakk Jak dan Artazure!” seru Solara.
“Rekan Singabarong di Liga Angkara Murca!” Lunar mencengkeram rantainya erat-erat. “Masalahnya, kita tak bisa menggempur mereka dengan kekuatan penuh, karena pasti merusak Monas.”
“Tapi justru itu tujuan mereka, lihat!” Solara menunjuk ke puncak.
Di tempat yang ditunjuk, yaitu bidang miring alas puncak Monas, Blakk Jak dan Artazure berdiri gagah dan menatap ke bawah tanpa menunduk. Setelah memastikan sudah banyak “penonton” berkerumun di sekitar, dengan suara super keras, Blakk Jak si ondel-ondel pria berseru, “Warga Jakarta, lihatlah! Selama ini kalian semua tinggal seenaknya saja di kota tercinta kita ini! Karena ulah kalian yang tak mau hidup tertib, kemacetan di semua ruas jalan makin parah dari tahun ke tahun!”
Giliran Artazure berseru, “Membabat jalur pepohonan hijau, membangun rumah dan membuang sampah sembarangan, menyebabkan banjir parah tak terelakkan! Segala upaya pemerintah mentah belaka akibat kebanyakan warga keras kepala!”
“Karena itulah kami, Blakk Jak dan Artazure, pewaris Ondel-Ondel sejati dan kekuatan para leluhur sakti Jakarta akan memberi peringatan keras. Dan ini terus berlangsung sampai kalian semua sadar dan berbenah diri! Dan sebagai permulaannya, kami akan ‘memadamkan’ api di ‘lilin raksasa’ ini!” Blakk Jak menunjuk ke patung bara api raksasa berlapis emas di belakangnya.
Seketika, beberapa wartawan dan kru reporter berkumpul dekat Solara dan Lunar. Namun Solara tak menghiraukan mereka, malah menghardik para lawannya, “Kalian salah! Peringatan macam ini takkan membuat keadaan lebih baik! Ini sama saja aksi teror yang malah akan memicu kepanikan dan kekacauan, bahkan anarki! Hentikan ini, Blakk Jak, Artazure! Kalau tidak, aku, Solara dan rekanku ini, Lunar akan memaksa kalian dengan kekerasan!”
Artazure menjawab, “Heh, kalau memang itu yang terjadi, biar Jakarta hancur sekalian! Baru setelah itu, kita akan membangun kota baru yang lebih baik dari reruntuhannya!” Lantas ia dan Blakk Jak berbalik mendekati patung api emas.
Lunar tak tahan lagi. “Mereka sudah gila! Ayo Solara, jangan sampai mereka meruntuhkan puncak Monas!”
Secepat kilat Lunar dan Solara berlari. Lunar memutar-mutar dan mengulurkan rantainya. Ajaib, Rantai Kartika Chandra memanjang dengan amat luar biasa, hingga ujungnya yang berbentuk bulan sabit terkait dengan ujung puncak Monas. Lalu, sambil memeluk Solara, Lunar melesat naik seiring rantainya yang makin pendek, kembali tertarik ke dalam jubah-zirahnya.
Anehnya, Artazure dan Blakk Jak sama sekali tak berusaha melepaskan rantai Lunar. Itu karena mereka sedang sibuk “memenggal kepala” Monas dengan gergaji energi yang terbentuk dari gabungan prana merah-biru mereka.
“Ah, terlambat, mereka naik lebih cepat dari perkiraanku,” ujar Blakk Jak, tak terdengar panik sama sekali. Artazure menghentikan aliran energinya bersamaan dengan pasangannya, lalu berbalik menghadapi lawan-lawan mereka. “Yah, terpaksa acara akan kita lanjutkan setelah membasmi tikus-tikus pengganggu ini dulu.”
“Ya!” Blakk Jak menyerbu ke arah Lunar, sedangkan Artazure mengincar Solara.
Solara memecut dengan Samandiman sambil menghardik, “Apa bedanya kalian dengan warga Jakarta yang kalian benci? Walau dipaksapun, kalian belum tentu mau sadar, ‘kan?”
“Justru sebaliknya, kami yang memaksa kalian menerima kenyataan! Jakarta tak terselamatkan!” Dengan gerakan Jaipong, tarian tradisional khas Betawi, Artazure memainkan pita energi biru di ujung tongkat pendeknya. Lecutan cambuk dan pita saling beradu, memercikkan bunga-bunga energi.
Satu lecutan vertikal Solara mengarah ke topeng Artazure, dan lawan menangkis dengan pita berlapis energi. Mendadak, arah cambuk berubah seperti liukan ular, mengenai pinggang lawan.
Anehnya, Artazure yang terkena cambuk penuh prana matahari ini bergeming. “Hehe, terjebak kau.” Sambil mengatakannya, tiba-tiba pita biru si ondel-ondel wanita menegak mirip pedang, lalu pedang itu ditusukkannya tepat ke arah jantung Solara.
Untunglah Solara sempat bergeser, hingga yang tertusuk adalah lengan kirinya. Sang Ratu Matahari Emas cepat menjauh, tangannya yang memegang cambuk memegang lengan yang terluka, mulai menyembuhkannya dengan tenaga dalam hingga luka tusukan merapat dengan cepat.
__ADS_1
“Kekuatan penyembuhan, ya?” sindir Artazure, bertolak pinggang dengan gaya berlebihan. “Tapi, tentunya kau pernah dengar ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’, ‘kan? Tentunya Medan Perisai Tanah membuatku kebal senjata dan prana, lebih hebat dari ilmumu, bukan?”
Walau pahit mengakuinya, ilmu pertahanan Artazure memang unggul, jadi kekurangan dalam segi serangan langsung diimbangi dengan pertahanan dan serangan balik, seperti contoh tadi.
Entah karena menjaga gengsi atau semata-mata percaya diri, Solara berujar lantang, “Bisa jadi. Tapi kau tentu juga tahu pepatah ‘tiada gading yang tak retak’, bukan?”
“Apa maksudmu? Perisai pranaku adalah yang terkuat di jagad raya! Mustahil…!”
Solara memotong, “Cukup! Jajal dulu Pusat Paduan Cahaya-ku, baru boleh banyak bicara!” Kali ini, Solara menekuk dan melebarkan telapak tangan kanan, dan mengulurkan jari telunjuk tangan kiri.
“Mau adu kuat? Silakan!” tantang Artazure. Toh bila serangan lawan berhasil ia redam, ia tinggal menyerang balik lagi.
Prana matahari berlimpah terserap lewat tangan kanan Solara, lalu disalurkan lewat nadi ke telunjuk tangan kiri. Sisa luka di lengan kiri membuat Solara mengernyit kesakitan, namun tenaga tetap disalurkan dan ditembakkan dengan satu jari.
Selarik prana cahaya suci itu melesat amat cepat, menghantam prana pelindung Artazure di satu titik seperti sinar yang dibiaskan dan disatukan dengan kaca pembesar, menusuk pelindung itu terus-menerus. Artazure mencoba bergeser. Sinar ikut bergeser, selalu ke tempat yang sama.
“Menyebalkan!” Artazure baru mulai mengalirkan tenaga dalam untuk memperkuat medan perisainya. Di saat bersamaan sinar Solara malah menembus perisai itu dan melukai dada atas Artazure. Nampaknya Solara memang sengaja tak mengincar organ vital, hanya berniat melumpuhkan lawan saja.
Tubuh Artazure terpelanting, membentur dinding “api emas” dan merosot, tak bergerak lagi. Inilah kesempatan bagi Solara untuk membantu rekannya.
Solara bergegas ke sisi lain puncak Monas, melihat pertarungan Lunar dan Blakk Jak. Justru kali ini Lunarlah yang terdesak. Rantai berpemberatnya tak cukup gesit menangkis serangan lawan yang amat gesit dengan sepasang tongkat pendek sepanjang lengan bawah yang disebut tonfa.
Tak terhitung berapa kali tubuh Lunar terkena deraan, rasanya bagai terbakar api dan terhempas angin sekaligus. Sama sekali tak ada kesempatan untuk melancarkan telepati atau semacamnya pada lawan, apalagi melancarkan jurus pertahanan. Yang ia perlukan hanya satu celah, satu detik kesempatan untuk membalas.
“Apa!?” Tak percaya Artazure bisa tumbang dengan mudah, Blakk Jak menoleh, konsentrasinya buyar. Lunar lantas mengambil kesempatan ini, menendang telak wajah merah lawan dengan kekuatan prana Komet Melintas Bulan.Tubuh Blakk Jak terpental hingga naik ke puncak emas, dan Artazure tepat waktu menahannya agar tak terbentur.
“Huh, pendekar matahari dan pendekar bulan itu memang tak bisa diremehkan,” sergah Blakk Jak sambil memegangi topengnya, menyeka darah yang merembes dari bagian dagu topeng itu.
“Terpaksa kita menyisakan lebih banyak tenaga untuk menghentikan para penghalang dulu,” sahut Artazure, siap menyerang dengan tongkat-pitanya.
Solara mendengar kata-kata mereka itu, namun ia sibuk menyalurkan prana penyembuhan ke tubuh suaminya yang babak-belur.
“Awas Solara, mereka menyerang!” Peringatan dini Lunar membuat ia dan istrinya mengacungkan Rantai Rembulan dan Cambuk Mentari, lalu berpencar, siap menyambut serangan lawan yang juga berpencar sambil maju.
Bagai hidup, rantai berpemberat Lunar meliuk bagai ular. Namun gilanya, saat ujung rantai berbentuk bulan sabit itu akan mengenai Artazure, wanita itu malah berkelit dan lari ke arah lain. Lunar baru terkesiap, ternyata Artazure dan Blakk Jak ingin mengeroyok Solara.
Cambuk Samandiman melecut-lecut keras, membuat Blakk Jak bergerak samping-menyamping.
Tiba-tiba Artazure berseru, “Rasakan taktikmu sendiri!” Ia mengibaskan pitanya dan menghantam pinggang Solara, membuat lawan terhuyung.
Giliran Blakk Jak mengambil kesempatan, “Coba bungee jump dari Monas, sekarang!” Sambil bicara, ia bergerak secepat badai, lalu menghantamkan tonfanya dari bawah ke atas dengan kekuatan api dari jurus Pendobrak Jalur Padat. Ulu hati Solara terkena telak, sehingga wanita itu terjengkang dan jatuh dari puncak Monas.
__ADS_1
“Solaraa!” Lunar yang terlambat mencegah aksi keroyokan lawan lari ke tepian, lalu meringkuk dan mengulurkan rantainya. Lagi-lagi rantai gaib itu memanjang. Lunar sengaja mengarahkan diri sendiri ke sasaran. Ujung rantai seketika membelit, mengikat lengan bawah Solara yang terulur.
Solara yang semula berniat melubangi dinding tugu dengan cambuknya malah berseru panik, “Lepaskan, Lunar! Aku punya cara sendiri untuk menyelamatkan diri! Nanti mereka menyerangmu dan kita berdua celaka!”
“Tidak! Aku harus menyelamatkanmu, walau harus berjudi dengan nyawaku! Aku mencintaimu, ingat itu!” Rantai Lunar mulai ditarik secara magis, dan perlahan tapi pasti Solara kembali naik.
“Jangan bodoh, Lunar! Lepaskan aku!”
Teriakan Solara itu disambut injakan sepatu merah Blakk Jak di bagian wajah Lunar yang tertutup topeng-kacamata. “Seharusnya kauturuti kata pasanganmu itu, Lunar. Sekarang, kalian pasti mati bersama-sama, sesuai istilah ‘pasangan sehidup semati’! Selamat tinggal!”
Saat Blakk Jak akan menendang dan menjatuhkan Lunar, tiba-tiba gerakannya terhenti. Gaya berdirinya berubah seperti orang tengah melamun. Ternyata, di saat kritis Lunar mengaktifkan mata amethyst sakti, mengirimkan sinyal telepati dari benaknya ke benak Blakk Jak.
Lalu, si pendekar ondel-ondel pria tanpa sadar bicara sendiri, “Artazure ingin merebut jasa… untuk dirinya sendiri… Tak adil… Hentikan… Artazure!”
Blakk Jak berbalik ke arah puncak api emas, sementara Lunar menarik napas lega sambil terus menarik rantainya naik. Semoga saja lawan tak terlalu cepat sadar, setidaknya hingga Solara selamat.
Artazure yang sibuk meneruskan aksinya “memotong” puncak emas Monas melihat Blakk Jak mendekat. Wanita itu bicara, “Bagaimana? Semua pengganggu sudah dienyahkan, ‘kan? Cepat bantu aku…!”
Dengan amat mendadak Blakk Jak memukulkan tonfanya ke punggung Artazure. Walau pukulan tanpa prana itu tak menimbulkan luka berarti, si ondel-ondel biru melangkah mundur sambil mencerca, “Hei! Apa-apaan…!? Aku istrimu, Jak!”
Namun yang ditegur sudah gelap mata. Blakk Jak menyerang membabi-buta, memukulkan tonfanya sambil meraung bagai banteng gila. “Grrr! Hancurkan… Artazure!”
Naluri seorang istri segera menuntun Artazure mengenali keanehan perilaku suaminya yang jelas telah dihipnotis musuh. “Maafkan aku, ini pasti bakal membuatmu sedikit pusing!”
Sambil mengatakannya, Artazure menghimpun prana yang dipusatkan di ujung jari telunjuknya, tentunya sudah diatur kadarnya. Di tengah hujan pukulan yang tak ada habisnya, Artazure secepat kilat menyentuhkan jari itu di dahi Blakk Jak, tepat di permata pada hiasan kepalanya.
Serangan tonfa terhenti seketika. Blakk Jak menatap Artazure, lalu ke kedua tangannya. “A-apa yang telah kulakukan? K-kau terluka?”
“Sedikit,” ujar Artazure sambil tertunduk, menahan rasa nyeri yang menjalari tubuhnya.
“Tadi Lunar menghipnotismu. Ayo, kita balas mereka dan tuntaskan tugas kita.”
“Di atas kalian!”
Sebelum sepasang pendekar ondel-ondel itu sempat beraksi, Lunar yang membelitkan rantai pada ujung “Api Monas” berayun, menendang Blakk Jak dan Artazure bersamaan dengan prana Komet Melintas Bulan.
Pasangan pendekar ondel-ondel super mencengkeram lantai miring di bawah kaki mereka supaya tak jatuh dari puncak Monas. Namun, Solara yang baru selesai memulihkan diri menghampiri keduanya.
“Menyerahlah! Akan kami upayakan keringanan hukuman bagi kalian!” tegas Solara.
__ADS_1