
Okkult dan Gangren
Sejak “kelahiran kembali” Cakra dengan pewaris baru di Gunung Anak Krakatau, Adhyaksa Wiguna sering memanfaatkan akses informasi sebagai wartawan dan menggunakan kekuatan Cakra untuk membasmi kejahatan.
Namun, Cakra sama sekali tak suka menonjolkan diri. Segala aksinya dilakukan di malam hari, hampir selalu dengan diam-diam. Kalaupun lebih dari itu, yang ada adalah orang-orang yang melihat penampakan “setan merah” yang berkelebat terbang di atas atap-atap rumah. Bahkan ada beberapa penjahat yang mengaku melihat si “setan merah” saat mereka tersambar semacam listrik bertegangan tinggi, sesaat sebelum pingsan.
Dan hari ini, di siang bolong yang terik, Adhi seperti biasa memburu berita di jalan-jalan Jakarta. Dan seperti biasa pula, ada kerumunan orang banyak yang menarik perhatiannya. Ia turun dari bus kota yang ditumpanginya dan bergegas menghampiri kerumunan itu.
“Permisi, permisi, saya wartawan,” ujar Adhi dengan sesopan mungkin, menerobos kerumunan dan membuat orang-orang menggerutu.
Tak ayal si wartawan tercengang melihat pemandangan di depannya. Di pinggir jalan itu tergeletak seorang anak laki-laki bersimbah darah. Dari pakaiannya yang kumal dan kusam, nampaknya dia anak jalanan.
Adhi berseru, “Ada apa dengan dia?”
Seorang “penonton” menjawab, “Anak ini mendadak menyeberang jalan dan jadi korban tabrak lari. Sebuah mobil melaju tak terlalu kencang, menabrak dan melindasnya, lalu cepat-cepat melesat pergi.”
“Adakah polisi di sini?”
“Tidak ada, dan tak ada pula yang datang.”
Adhi berdecak kecewa. “Ada yang sudah memanggil ambulans?”
Orang kedua menjawab, “Ya, dengan nomor darurat. Tapi sampai sekarang tak ada yang datang!”
Jawaban itu membuat Adhi bertindak spontan. Ia mengangkat tubuh anak laki-laki itu, lalu membopongnya sambil berlari. “Minggir! Minggir!” teriaknya.
Massa menyingkir sambil menggerutu, “Orang gila! Apa dia pikir bisa mencapai rumah sakit terdekat dengan berlari?” “Memangnya ada hubungan apa dia dengan anak itu?”
Adhi tentu tak mempedulikan semua itu. Memanfaatkan celah di sela kerumunan, ia terus berlari. “Bertahanlah, dik! Tutup matamu!”
“Nggg…” Anak di gendongan Adhi terlalu lemah untuk bilang “ya”, dan menutup matanya dengan patuh.
Saat memasuki lorong sempit dan sepi, Adhi memusatkan pikirannya. Tiba-tiba permata jasper di sabuknya berpendar cerah. Tubuh pemuda itu terbungkus selaput merah dan mewujud kembali sebagai Cakra.
Sang Pendekar Halilintar Merah melesat terbang keluar dari gang itu, masih memeluk si anak jalanan erat-erat. Setelah membubung cukup tinggi, ia berhenti sejenak, melayang di udara dan melihat sekeliling.
Saat mengenali sebuah gedung bertanda palang dan bertuliskan “RUMAH SAKIT” di puncaknya, Cakra melesat ke arah gedung itu. Kecepatan terbangnya kini setara pesawat besar bermesin baling-baling, namun perlu beberapa menit untuk tiba di tempat yang dituju. Debar jantung Cakra tak pernah sekeras ini, semoga ia tak terlambat.
Akhirnya Cakra mendarat di depan Bangsal Gawat Darurat. Tanpa mempedulikan orang banyak yang menatapnya dengan takjub, ia memapah si bocah masuk.
“Tolong rawat anak ini! Dia korban tabrak lari!” seru Cakra sambil terus melangkah cepat.
Seorang jururawat wanita menghadang Cakra. “Tunggu! Apa anda sanak keluarganya? Pakaian anda aneh sekali!”
“Rawat saja anak ini dulu, suster! Saya akan jelaskan semuanya nanti.”
__ADS_1
“Maaf, bung. Bangsal ini sedang penuh. Sebaiknya kalian tunggu dulu atau merujuk ke rumah sakit lain…”
Darah muda Cakra menggelegak. Nyawa seorang manusia di ujung tanduk, harusnya perawatannya didahulukan, tak peduli apa statusnya. “Apa suster tega melihat anak ini mati setiap saat?!”
“Bukan begitu, bung. Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawa pasien-pasien lain pula…”
Kata-kata si jururawat terhenti saat Cakra Mengentakkan tenaga dalamnya, memancarkan prana. Aksi ini saja sudah cukup mengintimidasi, menekan keras nyali manusia biasa seperti wanita ini. Wajah si jururawat jadi sepucat mayat. “B-baik, pak… kami rawat sekarang juga! Baringkanlah di ranjang dorong kosong di sana.”
Cakra bergegas melakukan petunjuk si jururawat. Namun, karena memakai semacam sarung tangan, ia tak menyadari bahwa tubuh anak laki-laki itu telah dingin. Baru saat melihat wajah anak yang pucat dan membiru itulah, Cakra baru tahu kondisi sebenarnya.
“Tidak! Ya Tuhan, kumohon! Jangan! Tunggulah sebentar lagi!” Sambil mengatakannya, Cakra menekan-nekan dada anak itu, menyalurkan prana lewat kedua telapak tangannya seperti alat pacu jantung. “Buka matamu, dik! Lihat, kau sudah sampai di rumah sakit, dan dokter akan merawatmu sampai sembuh! Sadarlah!”
Berulang-ulang kali, tanpa henti kedua “tapak petir” Cakra terus Mengentak, tetap tak ada kemajuan. Hingga akhirnya seorang dokter lari mendekat, mengacungkan telapak tangan dan berseru, “Hentikan, bung! Biar kuperiksa!”
Cakra menyurut mundur, membiarkan dokter pria parobaya itu meraba nadi, lubang hidung dan mata si anak jalanan. Pada akhirnya, sang dokter menggelengkan kepala. “Aih, andai anak ini lebih cepat dirawat, mungkin nyawanya masih dapat diselamatkan. Ia telah berpulang beberapa menit yang lalu.”
Cakra hanya bisa terpaku melihat selimut putih ditebar menutupi seluruh tubuh hingga wajah anak bernasib malang itu. Gigi si pahlawan gemeletak, tapi mau marah pada siapa lagi ia sekarang?
Baru saat inilah ia sadar, seseorang bisa saja sesakti dewa, namun tetap takkan mampu melampaui kehendak Yang Maha Kuasa.
Seseorang bisa saja berusaha sekuat tenaga, namun hasil akhirnya tetap ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Bahkan dewapun tak bisa lolos dari takdirnya sendiri.
Perenungan Cakra itu buyar seketika oleh sang dokter yang menatapnya sambil berkata, “Maafkan kami, pasien di bangsal ini terlalu banyak hingga kami kewalahan. Pihak rumah sakit akan mengurus pemakaman anak ini, tapi boleh saya tahu nama anda, untuk catatan saja?”
Keesokan paginya, nama Cakra terbit di surat kabar, dan ironisnya itu Harian Sanggabuana. Tentu bukan Adhyaksa Wiguna yang menulis artikel itu, melainkan rekan wartawan lain. Foto amatir seorang saksi mata yang sempat memotret Cakra di rumah sakit itu ikut terpampang, dan tentu saja si saksi tak tewas “dikerjai” roh Mpu Gandring.
\==oOo==
Waktupun terus berlalu…
Suatu malam, Adhi tampak sedang berjalan santai di depan sebuah kompleks perumahan mewah di pinggiran kota. Tiba-tiba ia memanjat pohon besar dengan amat lincah, lalu melompat bagai kera ke sebuah pohon besar lainnya dalam halaman rumah. Wah, makin mahir saja kau menguasai kekuatan Cakra, ujar roh Mpu Gandring yang bersemayam dalam Sabuk Cakra Sudarsana.
Cakra balas membatin, Ini berkat bimbingan guru. Nah, sekarang kita sedang berada tepat di depan rumah seorang pejabat, yang kabarnya dituduh berkolusi, bersekongkol dengan sebuah perusahaan besar. Sudah dua hari aku mengintai dan membuntuti orang itu, bahkan menggunakan penglihatan dan pendengaran super untuk mencari bukti. Namun sejauh ini belum ada hasil. Mungkin si Wage Notowiryo ini memang bersih, dan segala tuduhan padanya hanya fitnah belaka.
Belum tentu, Adhi. Siapa tahu kau sedang beruntung malam ini. Lihat itu, di depan rumah.
Hanya perlu penerangan lampu jalan bagi Adhi untuk melihat mobil mewah jenis sport utility vehicle yang baru berhenti dan parkir di depan rumah si “sasaran” itu.
Seorang wanita bergaun putih dan berambut sangat panjang dan seorang pria kurus berpakaian serba hitam keluar dari mobil itu. Seorang penjaga rumah berseragam menyambut mereka, kedua tamu melewati gerbang dan memasuki rumah mewah berpilar besar dan berkubah gaya Eropa itu.
Adhi memusatkan prana pada mata dan telinganya, melihat dan mendengar menembus dinding dan jendela. Setelah melacak tiap ruangan, pandangannya menerawang ke dalam ruang kerja si tuan rumah.
Tampak kedua orang tamu tadi duduk berhadapan dengan seorang pria setengah gemuk, setengah botak, setengah baya. Tak salah lagi, Adhi mengenalinya sebagai Wage Notowiryo. Para “sasaran” telah berada di posisi mereka, dan yang lebih penting lagi adalah isi pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Ini surat izinnya, sesuai dengan permintaan bos kalian, lengkap dengan sertifikat tanahnya. Sekarang, kalian berhak menggusur semua bangunan di lahan itu tanpa harus membayar ganti rugi apapun,” ujar Wage penuh gaya, mengepulkan asap tebal dari cerutu cohiba-nya sambil menyodorkan sebuah map di mejanya pada kedua tamunya itu.
Si wanita berambut panjang membuka map itu, membaca isinya dengan cepat. Lalu ia menutup map, memberikannya pada si pria kurus yang langsung menyimpannya dalam tas hitam yang ia bawa. Pria itu lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dan menyodorkannya ke arah Wage.
Tanpa memeriksa isi amplop itu, si pejabat langsung memasukkannya dalam laci mejanya. Lalu dengan senyum yang luar biasa lebar Wage berujar, “Nah, ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Sebenarnya ada,” ujar si rambut panjang sambil duduk santai seakan tengah menggoda lawan bicaranya. “Tapi ini bukan masalah ‘bisnis’ kita.”
Wage mendelik. “Apa maksudmu?”
Wanita berwajah pucat dengan tatapan mata setajam silet itu lantas bangkit dari tempat duduknya, berjalan melenggak-lenggok penuh gaya ke arah Wage sambil bicara, “Sebenarnya, baru-baru ini tengah tersiar ‘kabar tak sedap’, yaitu tentang hubunganmu dengan perusahaan kami.”
Si pria kurus yang juga berwajah pucat dan lebih tua dari seharusnya ikut berkomentar, “Ck, ck, ck, anda ini rupanya sedang ceroboh. Amat ceroboh.”
Mendengar itu, keringat dingin menetes dari dahi “lapang” Wage. “Tunggu dulu,” sanggahnya. “Coba pikir, segala pertemuan kita dilaksanakan di sini, bukan? Di ruang yang bebas alat penyadap dan kamera, kedap suara, tak berjendela pula. Mustahil siapapun, bahkan anak-istriku sendiri bisa tahu dan membocorkan rahasia kita ini!”
Tiba-tiba Wage terperanjat, baru sadar kalau si wanita anggun telah beridri tepat di balik kursi kulit mewahnya. Tangan wanita itu terjulur, kuku-kukunya yang panjang dan tampak seperti dicat kuku hitam “menggelitiki” lehernya.
Wanita itu lantas berbisik, “Tapi mungkin saja… anda yang kelepasan bicara… Entah saat sedang mabuk-mabukan di klub malam… atau saat curhat dengan selingkuhanmu, entah yang mana… Apa kau pikir kami akan tinggal diam, membiarkan situasi ini berlarut-larut? Asal anda tahu, lebih baik anda lenyap dari muka bumi daripada kami yang mendapat kesulitan, membahayakan perusahaan kami dan tuan kami…” Si wanita lantas menjentikkan kukunya di depan mulut Wage, memotong cerutunya hingga bagian ujungnya tepat jatuh di atas asbak.
“Tunggu! J-jangan...! Mustahil saya melakukan hal sebodoh itu!” Sikap si pejabat angkuh berubah mengiba. “Lagipula, yang pertama mengekspos berita itu adalah Harian Sanggabuana, bukan? Koran itu terlalu vokal! Merekalah yang harus kalian bungkam!”
“Oh, begitu rupanya,” kata si pria kurus berpipi cekung itu sambil bertopang dagu. “Kalau begitu kami akan mampir dulu ke kantor Harian Sanggabuana, menitipkan sedikit ‘pelajaran pahit’ agar tak ikut campur lagi dalam urusan kita.”
Mendengar semua itu, darah Adhi mendidih. Tanpa disengaja, ia memancarkan prana. Ia memang berniat berubah wujud menjadi Cakra dan terbang untuk memperingatkan rekan-rekan kantornya yang masih bertugas malam, meluputkan mereka dari petaka.
Tiba-tiba si wanita berambut panjang berseru, “Tunggu, Ki Rogohjiwo! Aku merasakan pancaran prana! Ada seseorang yang tengah mengawasi kita!”
“Kau benar, Debora! Ayo, kita kejar dia!”
Debora Gunadi dan Ki Rogohjiwo melesat pergi, meninggalkan Wage Notowiryo yang gemetaran, terpaku di kursinya.
Gawat, aku ketahuan! Sambil membatin, Adhi memusatkan prana pada sabuknya dan berubah wujud menjadi Cakra. Terpaksa aku harus menghadapi dan menghentikan mereka. Benar dugaan Cakra, hampir sekejap, kedua pengejar telah keluar dari rumah dan berlari ke arah gerbang. Saat melihat Cakra melayang di udara, Rogohjiwo dan Debora menghentikan langkah mereka, menegadah dengan geram.
“Oh, rupanya kau orang sakti yang berani ikut campur urusan kami, ya?!” seru Ki Rogohjiwo, sang dukun berpakaian hitam. “Apa kau sudah bosan hidup, menantang kami di perumahan penuh ‘orang tak berdosa’ ini, hah?!”
“Ya, setahuku, dosa pemilik rumah ini sebesar perut buncitnya. Namaku Cakra, dan tugasku adalah mencegah kalian melakukan dosa yang lebih besar lagi!” Cakra lantas menembakkan rentetan petir merah dari udara sambil bergerak melayang seperti helikopter.
Para penjaga dan penghuni rumah berlarian panik masuk rumah, begitu pula Wage yang wajahnya pucat pasi. Debora dan Rogohjiwo pontang-panting menghindar. Sang dukun bahkan tersengat petir hingga terpelanting dan terkapar di tanah halaman rumah yang amat luas itu.
“Kurang ajaar!” maki Debora melihat kondisi rekannya.
Cakra menghentikan serangannya karena tak bisa mengenai wanita selincah hantu itu. Sesaat kemudian, ia baru terkesiap melihat penampilan Debora berubah menjadi amat beda.
Rambut hitam sepaha Debora berubah jadi serba putih dan terurai bagai selalu ditiup angin. Gaun putih yang dikenakannya juga berubah menjadi berumbai-rumbai menyeramkan. Yang paling kentara, wajah dan kulitnya yang pucat kini seputih kapur. Penampilan Debora jadi seperti kuntilanak, hantu wanita berambut panjang. Cakra baru memperhatikan sabuk leher alias choker putih di leher Debora saat hawa hitam mengasap dari permata baiduri yang menghiasi choker itu. Matanya jadi merah dan menyorot nanar, tanda makhluk ini haus darah.
“Saat kau ke neraka malam ini, katakan pada para iblis di sana, pembunuhmu adalah aku, Okkult, Sang Kuntilanak Hidup!” Usai bicara, kaki Okkult Mengentak tanah, menolakkan tubuhnya dan melesat terbang ke udara.
__ADS_1