
Suasana terang-benderang dalam ruangan yang amat luas itu seketika menyambut Cakra dan Rangda. Dinding-dindingnya menjulang tinggi, terdiri dari susunan batu-batu besar dengan gambar-gambar relief yang dipahat panjang-memanjang. Nampaknya itu semacam komik abadi, ciri khas pahatan pada dinding kebanyakan bangunan candi di Zaman Kerajaan-Kerajaan Kuno Nusantara.
Cakra tak sempat menangkap kisah yang tergambar di setiap pahatan dinding itu. Perhatiannya terpusat pada sebuah meja besar yang sisi-sisinya terbuat dari pualam. Sebuah lambang berbentuk keris dengan posisi diagonal – gagang di kanan atas dan ujungnya di kiri bawah – terpahat amat detil dan indah di dinding di balik meja itu.
Rangda melihat lambang itu dan terkesiap. “SS Corporation!”
Hampir seketika, kursi hitam berdesain amat elegan di balik meja itu berputar. Di sana duduklah seorang pria berambut pendek dan rapi, bertubuh tinggi-besar, mengenakan kemeja putih, jas, celana dan dasi hitam dan kacamata hitam seperti seorang agen rahasia. Wajah dan auranya menebar kharisma layaknya seorang raja atau penguasa negeri-negeri. Namun, kharisma itu seakan teredam oleh seluruh kulitnya yang amat pucat, seputih mayat.
Bahkan bibir pria itu tampak kelabu saat berucap, “Tepat sekali. Selamat datang di markas besar S.C.O.R.P.I.O.N, Singosari Core Pan Organization, induk organsiasi SS atau Singosari Corporation. Akulah Presiden Komisaris dan Ketua Umumnya. Panggil aku ‘Mr. K’.”
Cakra menanggapi basa-basi itu dengan nada sinis, “Oh, rupanya kau adalah tokoh misterius di belakang layar, di balik badut-badut berdasi yang mempertambun diri di atas penderitaan orang banyak?”
“Yah, setidaknya badut-badut itu berguna untuk sesuatu,” sahut Mr. K, bertopang dagu dengan amat santai di tempat duduknya. “Tapi, tak satupun dari mereka pernah bertemu langsung denganku.”
Rangda bicara, “Jadi maksudmu, kamilah yang mendapat ‘kehormatan’ ini? Untuk apa?”
“Terus-terang aku membutuhkan kalian berdua dalam ‘acara puncak’ yang telah kurancang sejak lama sekali. Dan kalian pasti takkan mau bekerjasama dengan cara biasa.”
“Jangan harap. Kami akan menumpas S.C.O.R.P.I.O.N dan Liga Angkara Murca, mulai dari pimpinan tertingginya,” sergah Rangda.
Tiba-tiba tawa Mr. K meluap bagai bendungan jebol, dan ia bertepuk tangan. “Hahaha! Hebat! Tekad yang hebat! Namun sayang, kalian lupa satu hal terpenting.”
Cakra dan Rangda sebenarnya tak peduli sama sekali. Mereka sibuk memikirkan “umpan” untuk menguak kelemahan emosi lawan. Jadi mereka berduapun memperkuat pertahanan emosi mereka sendiri dengan diam.
Tak ada tanggapan, Mr. K melanjutkan, “Yang terpenting dari segalanya adalah kekuatan. Tekad tanpa kekuatan yang memadai sama seja dengan gertak sambal untuk menakut-nakuti orang-orang lemah. Aku, Mr. K adalah terkuat dari yang terkuat. Kekuatan kalian berdua ibarat lilin dibandingkan perapianku yang menyala-nyala.”
Mr. K tak malu-malu, tak tanggung-tanggung mengumbar rasa percaya dirinya. Cakra dan Rangda bertanya-tanya dalam hati, apakah kata-kata lawan juga sekedar gertakan? Andai itu sikap tak tahu diri, Mr. K mungkin malah mengejek dan memancing kemarahan kedua musuhnya itu. Namun tidak, ia hanya menyatakan bahwa dirinya sungguh yang terkuat.
Tanpa sadar, bulu kuduk Rangda dan Cakra berdiri. Mereka telah kalah dalam adu urat syaraf ini.
__ADS_1
“Ya, benar. Tak ada jalan untuk lari, melawan berarti pasti mati. Satu-satunya pilihan, bekerjasamalah denganku. Kalian akan menikmati keistimewaan yang tak pernah bisa diraih para pendahulu kalian. Kekayaan, kemewahan hidup akan jadi milik kalian, dan kalian tak perlu tunduk pada siapapun lagi, hanya padaku seorang.”
Cakra lantas bicara spontan, “Nah, itu dia masalahnya. Semua manusia, termasuk kau dan aku hanya pantas tunduk pada Yang Maha Kuasa, tidak yang lain. Jadi maaf saja, aku keberatan dengan usulmu itu.” Rangda yang mantan pemuja kegelapanpun mengangguk setuju.
“Lihat baik-baik, hei manusia! Aku adalah makhluk yang hidup abadi, dan sebutanku jelas, DEWA!” seru Mr. K sambil bangkit dan melompati meja batu seolah tubuhnya seringan kapas. Yang lebih ajaib lagi, tubuh pria kekar nan berat itu melayang begitu saja di udara, jarak sepatunya ke lantai kira-kira lima sentimeter.
Meskipun Cakra juga bisa meniru trik itu, ia harus menghimpun prana untuk terbang. Karena itulah Cakra lebih banyak berlaga dengan menjejak tanah daripada di udara. Lagipula, dalam keadaan luka-luka Cakra amat membutuhkan Kerjasama Rangda, rekannya yang baru bersatu hati dengannya ini, saling menguatkan walau rasa gentar tak terelakkan.
Maka, dengan kebulatan tekad Cakra berseru lantang, “Jangan lupa, kami juga pewaris Rangda yang laksana dewa dan senjata dewa, Cakra Sudarsana! Gabungan kekuatan kami berdua sudah cukup untuk menumpasmu!”
“Oh ya?” kata Mr. K. Tubuhnya lantas menebar hawa aura merah. “Coba kujajal kalian dengan tahap pertama kekuatanku, Mewujud Panglima, Menaklukkan Nusa!
Mr. K melayang maju dengan tangan terentang. Di sekitarnya, gumpalan-gumpalan bola energi merah bermunculan tak terhitung banyaknya. “Serbu!” Ia lantas mengatupkan kedua tangannya, dan bola-bola itu serempak maju bagai selaksa tentara.
Dengan maksud menghemat energi untuk menyerang balik, Cakra dan Rangda pontang-panting menghindar dari berondongan bola-bola itu. Selincah apapun gerakan mereka, tetap saja tubuh mereka dihujani bola-bola bagai peluru itu.
Cakra terpaksa bergantung penuh pada aura pelindung tubuhnya. Ia menangkis sebisanya, menahan rasa sakit luar biasa seperti diterjang ratusan peluru sungguhan. Baru saat “hujan” itu reda, Cakra bergerak maju. Namun Rangda mendahuluinya, balas memberondongkan peluru-peluru prana api dari pistolnya. Melihat sang rekan menggunakan serangan jarak jauh, Cakra berhenti bergerak supaya tak terkena prana nyasar. Maklum, ini untuk pertamakalinya mereka berdua menghadapi lawan yang sama bersama-sama. Jadi Cakra terpaksa ikut menebar larik-larik petir merahnya, sama sekali tak memberi lawan kesempatan menghindar, apalagi lari.
Anehnya, Mr. K tak melakukan kedua hal itu. Dengan santai ia malah memasukkan kedua tangannya dalam saku celana panjangnya, membiarkan semua serangan para lawan menghujani tubuhnya bagai sedang mandi di pancuran.
Rangda protes, “Mengapa? Semua serangan kita telak mengenainya!”
Cakra hanya menunjuk ke arah yang dimaksud, Rangda mengerti seketika dan menghentikan serangannya.
“Ah, sudah reda? Kukira kalian akan menghabiskan seluruh prana untuk menghabisiku dengan tembakan-tembakan penggaruk gatalku itu. Ya sudahlah, apakah lutut kalian sudah ingin menyentuh tanah?”
Cakra dan Rangda masih terbungkuk-bungkuk, napas mereka berat akibat energi yang terkuras. Rangda bicara, “Ratu Para Leak pantang berlutut menyembah, begitu pula Cakra.” Ia bicara langsung, tahu Cakra pasti berpikiran sama. “Pikiran kami takkan berubah, walau kami didera sekeji apapun.” Cakra mengangguk ke arah Rangda.
“Ck, ck, masih sesumbar,” sindir Mr. K. “Baiklah, kalau kalian masih keras kepala, biar tahap dua, Mewujud Raja, Agung Digdaya meluruhkan pikiran… sekaligus tubuh kalian!” Mr. K kembali menghimpun prana, aura merahnya berangsur-angsur berubah warna.
“Tak ada jalan lain, Rangda, kita harus gunakan jurus andalan!” seru Cakra sambil menghimpun prana. Tanpa komentar, Rangda juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Aura prana di tubuh Mr. K sepenuhnya berwarna emas kini, kemilaunya menyiratkan kemuliaan dan wibawa tak terbantahkan. Cakra jadi dibuat bertanya-tanya, apakah Mr. K ini pernah menjadi panglima penakluk dan raja sekaligus? Biasanya seorang manusia hanya memiliki satu jenis aura unik yang tak akan berubah selamanya. Namun aura orang ini… Jangan-jangan ia memang seperti yang ia akui… dan lebih lagi.
Namun, menghadapi dewa atau bukan, Cakra dan Rangda tetap meningkatkan tenaga dalam hingga tingkat puncak, dengan setitik harapan yang masih tersisa di setiap tarikan napas mereka berdua.
Enam bola energi emas yang masing-masing sebesar bola basket muncul di sisi kiri-kanan Mr. K, tiga lagi muncul pula di depannya. Lantas bola-bola itu saling bersambungan oleh aliran energi berwarna emas pula, membentuk pola enam-tiga yang amat rapi.
“Rasakan akibat membangkang pada Raja Digdaya!” Seiring kata-kata Mr. K, bola-bola itu memancarkan sinar bagai sembilan matahari. Arah sinarnyapun terbagi dua, dan kebanyakan tertuju pada Cakra.
Sambil bergerak kesana-kemari, Cakra berputar dua kali sambil mengibaskan dua tangannya, menembakkan sepuluh jarum api raksasa yang membentuk cakar-cakar yang meliuk seperti ular.
Cakrawala Halilintar Darah andalan Cakra dan Sepuluh Cakar Ular Api Rangda beradu dengan jurus Mr. K, Mewujud Raja, Agung Digdaya. Petir-petir Cakra seakan meredam sejenak larik-larik sinar keemasan, sementara “ular-ular” Rangda menyelusup di tengah pertumbukan dan menghantami tubuh Mr. K.
Tiba-tiba, sembilan sinar emas itu menyatu menjadi dua larik besar, yang tak hanya menghantam kedua lawan saja. Energi emas yang lebih rapat dan terus-menerus akhirnya menjebol prana pelindung Cakra dan Rangda. Kedua pendekar legenda itu terdorong, melayang tak terkendali hingga membentur dinding dan roboh di lantai.
Dalam posisi tertelungkup, Cakra meringis, menahan rasa nyeri terparah yang mendera sekaligus membakar isi tubuhnya ini. Kehabisan energi, kesasdarannya perlahan-lahan memudar. Yang masih nampak jelas adalah Rangda, yang tergeletak tak sadarkan diri di depannya.
“Rangda! J-jangan…! Bangkitlah! Kita harus… terus… bertarung! Harus… terus hidup!” Dengan setitik tenaga yang tersisa, Cakra merayap di lantai, tangannya terjulur ke arah Rangda, berusaha membangunkannya. Mereka baru saja sehati-sejiwa, jangan sampai berakhir di sini.
Namun tumpuan segala harapan itu dihentikan, diinjak sepatu hitam si pembawa ancaman. Si pemilik sepatu, Mr. K malah berdecak. “Wah, wah, masih belum menyerah juga, padahal peluang menang sudah habis tak berbekas.” Ia menggerakkan ujung kakinya, memuntir tangan Cakra hingga si pecundang berteriak kesakitan.
“Walau demikian, ini adalah hari keberuntungan kalian,” lanjut Mr. K dengan suara lantang, memastikan Cakra cukup sadar untuk mendengarkan setiap katanya. “Seperti kataku tadi, kalian, Cakra dan Rangda memegang kunci yang amat vital bagi keberhasilan rencana besarku ini. Tak lama lagi, Singosari takkan hanya jadi nama perushaaan saja, tapi akan bangkit kembali menjadi kerajaan yang jaya dengan masa keemasan abadi! Hahahahaha!”
Kebangkitan Kerajaan Singosari? Masa keemasan abadi? Astaga, jangan-jangan Mr. K sesungguhnya adalah…!
Luapan pikiran dalam benak Cakra terputus oleh kedatangan seorang pria tua bertubuh ceking, berbaju serba hitam. Cakra mengenalinya wujud asli Gangren, yaitu Ki Rogohjiwo. Si dukun berlutut khidmat seraya berkata, “Lapor, Mr. K. Sesuai perintah, kami telah membiarkan Reog melarikan diri dari markas ini.”
Tanpa sadar, Cakra menarik napas lega. Kalau benar Reog telah bergabung dengan Liga Adilaga, ia pasti akan membawa bala-bantuan untuk menyerbu markas rahasia ini, menyelamatkan Cakra dan Rangda dan membabat habis Organisasi S.C.O.R.P.I.O.N sampai ke akar-akarnya.
Namun Mr. K malah menjawab dengan tenang dan berwibawa, “Bagus, Ki Rogohjiwo. Biar para pecundang super itu hancur terkubur dalam tempat ini. Sampaikan perintahku pada seluruh laskar S.C.O.R.P.I.O.N agar bersiap-siap sekarang juga! Kita akan pergi jauh dari sini, menuju tempat acara utama!”
Cakra hanya sayup-sayup menangkap kalimat terakhir Mr. K tadi. Ia ingin berteriak, memaki-maki agar musuh marah dan membunuhnya saja. Tapi apa daya, akhirnya api lilin kesadaran Cakrapun padam, membuatnya jatuh dalam jurang keputusasaan tak bertepi.
__ADS_1
Nasib Cakra dan Rangda telah digariskan. Hanya keajaibanlah yang mampu meluputkan mereka dari ambang ketiadaan ini. Dari cengkeraman sang dedengkot kejahatan.
MURCA.