ADILAGA

ADILAGA
HIMA 5


__ADS_3


Sambil mengatakannya, Singabarong mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menghimpun energi keras dan lembut sekaligus di ujung kepalan yang menyatu. Dengan posisi tetap di belakang Hima, ia menghantam bagai palu godam langsung ke kepala si pendekar es.


Mendadak, Hima pulih lebih cepat dari dugaan, menangkis hantaman lawan dengan kedua lengan. Tak mau mengalah, Singabarong terus menekan. Bila pertahanan terbaik ini dipatahkan, kalaupun berhasil menghindar dari serangan ini, Hima bakal sulit menyerang dan bertahan lagi dengan lengan cedera. Inilah adu kekuatan, di mana gaya gravitasi berpihak pada Singabarong.


Jadi, untuk membalik keadaan, Hima butuh kekuatan lebih, bantuan yang besar dan segera. Tanpa itu, habislah. Mau tak mau ia setuju dengan Jin Himawari, pantang takluk tanpa mengerahkan kekuatan terbaik. Namun kenyataannya, lengan Hima yang makin tertekan sampai menyentuh kepala tak ubahnya tunas harapan yang terinjak, nyaris lumat.


Di ujung asa itulah, tiba-tiba tampak seseorang lari mendekat sambil berteriak, “Hima!”


Hima menoleh untuk melihat lebih jelas. Ternyata orang itu The Stickler. Si manusia lem berseru, “Sambut ini!” sambil melemparkan Pedang Es Himawari ke arahnya. Refleks, si pemilik Mengentakkan energi, menolakkan sepasang lengannya hingga tangan lawan terpental ke atas. Lantas, dalam waktu sedetik itu ia merebahkan tubuhnya ke posisi menegadah. Saat pedang lewat tepat di atas dadanya, dua tangan Hima sigap menggenggam gagang pedang, lalu dihunjamkannya ke arah lawan di belakangnya.


Rupanya Singabarongpun cukup gesit. Saat tangannya terpental, ia menolakkan kakinya dan mundur sejauh-jauhnya. Alhasil, hanya ujung pedang Hima yang menembus prana dan zirah pelindung dan menggores sedikit pakaian dan kulit perut si Raja Siluman.


“Cih!” Walau lega dirinya tak jadi pembunuh, Hima lantas bangkit dan kembali berhadap-hadapan dengan lawannya.


Sementara Singabarong meraung murka dan bicara, “Oh, mau main senjata, ya? Kalau itu aku juga punya!” Dengan sekali entakan, tiba-tiba sepasang senjata cakar besar terbentuk di pergelangan hingga telapak tangannya. Tiap cakar itu berbilah tiga besar-besar, bentuknya persis cakar harimau yang mencuat dari telapaknya.


Sang siluman lantas Mengentak, menghimpun prana. Aura yang terpancar dari tubuhnya membesar drastis, inilah pertanda pengerahan pamungkas. Menyadari itu, Hima mengulurkan tangan lurus ke depan. Gagang pedang ia genggam dengan tangan kanan, dan bagian pipih bilah pedang bersentuhan dengan telapak tangan kiri. Lantas, saat kobaran aura kedua petarung itu tak bisa lebih besar lagi, mereka serempak maju menyerang.


“Rasakan hukumanmu, pengkhianat!” seru Singabarong saat masuk jarak serang, dua cakarnya menyambar. Namun cara pergerakannya berbeda. Energi gerakan tangan kanan bersifat keras, sementara tangan kiri lembut. Itulah jurus pamungkas Singabarong, Harimau Merak Amuk Menari.

__ADS_1


Untuk mengimbanginya, Hima mengerahkan jurus rangkaian sabetan pedang berputar cepat, kuat dan akurat, Naga Es Sambar Selaksa. Karena sasaran hanya satu, serangan Hima jadi bagai tanpa henti, penuh variasi.


Lucunya, saat adu jurus ini, Singabarong tak sekalipun menangkis sabetan-sabetan Hima. Jadi seakan ia membiarkan saja semua cakar, rahang dan sayap naga es Hima menghantam tubuh dan zirahnya, yang diperkuat dengan prana pelindung berunsur tanah, Raja Naga Watu.


Sebaliknya, Hima menyerang sambil menangkis cakar lawan. Alhasil, hanya sedikit sabetan cakar Singabarong yang mengenai tubuh lawan. Sebaliknya, rata-rata enam dari sepuluh sabetan Hima mendera prana pelindung lawannya dan empat menangkis. Sempat Hima menyabet tititk lemah Singabarong, yaitu tengkuk lehernya. Namun lawan tak lantas tumbang, menandakan kelemahan itu telah ia tutupi.Makin banyak sobekan tertoreh pada zirah gaib Hima, juga darah yang merembes keluar dari luka-luka barunya, sementara luka lawan jauh lebih sedikit. Kalau begini terus, Hima akan tewas kehabisan darah.


Namun, di saat kritis itu, sekelebat bayangan muncul dalam benak Hima. Itulah kenangan berabad-abad silam. Jin Himawari menyatu dengan Patih Gupala hingga beraga kristal nan keras. Namun Bandung Bondowoso akhirnya berhasil menembus raga itu dengan jurus pamungkas, menggunakan Pedang Himawari.


Tercerahkan oleh ide “baru tapi lama” ini, Hima sengaja menjauh sejenak. Tiba-tiba ia mengubah jurus, memusatkan seluruh energi pamungkas Beku Mutlak Penjara Dewata di ujung bilah Pedang Himawari. Lalu ia menusuk lurus ke arah lawan.


“Heh, jangan harap menumbangkan ragaku yang tak terkalahkan ini dengan jurus sederhana itu!” Sambil mengatakannya, Singabarong maju menerjang, menyabetkan sepasang cakar keras dan lembut pamungkas sekaligus di tubuh Hima.


Entah meniru gaya tarung Singabarong yang mengandalkan prana pelindung tubuh atau sudah bertekad mati bersama lawan. Hima tak menangkis sama sekali. Hanya dengan pertaruhan nyawa inilah Hima akhirnya berhasil membenamkan pedang menembus prana pelindung Raja Naga Watu. Walau hanya sedikit menembus kulit tubuh Singabarong, pertumbukan dua prana itu menimbulkan ledakan. Bahkan Himapun terpental hingga membentur meriam kuno di depan Museum Fatahillah.


Satu luka mendalam lebih mematikan daripada seribu goresan dangkal.


“Hima!” Taruna dan Dahlia baru saja membuat pingsan dua warok terkuat, yang pecah konsentrasinya karena kekalahan guru mereka, Warok Tua yang memanfaatkan Singabarong. Keduanya langsung menyerbu Singabarong, penuh dendam. “Hantam dia! Balaskan dendam Hima!” seru Dahlia.


Namun langkah Taruna dan Dahlia terhenti. Tak jauh di depan mereka, tiba-tiba dua sosok manusia sudah berdiri di sisi kiri-kanan Singabarong. Yang mencengangkan, kostum mereka tampak seperti ondel-ondel, boneka raksasa yang merupakan maskot tradisional Kota Jakarta. Bedanya, ukuran tubuh sepasang “manusia ondel-ondel” pria dan wanita ini bukan raksasa. Kostum mereka adalah zirah berjubah seperti jaket panjang. Yang pria mengenakan helm-topeng merah-hitam, zirah merah dan jubah hitam. Sementara kostum si wanita itu bernuansa serba biru muda-tua.


Melihat kedua pendekar super ini, Singabarong malah berdecak tak senang. “Blakk Jak! Artazure! Aku bisa menaklukkan mereka bertiga sendirian! Lihat, satu sudah tumbang, yang dua itu pasti sudah kelelahan!”

__ADS_1


“Kami bukan membantumu, Singabarong!” sergah ondel-ondel pria bernama Blakk Jak itu.


Artazure, si wanita berhelm-topeng biru menimpali, “Tuan kita memerintahkan agar kau menghentikan pertempuran tak berarti ini. Kau dan pasukan warok direkrut untuk mengamankan rencana besar tuan kita, jangan mengacau di tempat keramaian ini, membeberkan keberadaan organisasi kita di depan khalayak ramai!”


“Tapi, aku sudah hampir berhasil mengenyahkan tiga anggota Adilaga! Justru kalianlah yang mengacau!” dalih Singabarong.


“Coba pikir,” kata Blakk Jak, topeng merah wajah pria berkumis hitamnya tampak berkilauan. “Bila rencana tuan kita lancar dan sukses, jangankan tiga, seluruh Adilaga akan musnah tanpa sisa! Dan seluruh Jakarta, bahkan seluruh Indonesia akan jadi boneka kita, mutlak dalam kekuasaan dan perlindungan Liga Angkara Murca!”


Singabarong terpana bagai tersambar petir. Lalu ia berteriak, “Baiklah! Pasukan warok, mundur! Mundur semua!” Mirip ninja, pasukan warok melemparkan bom asap ke lantai, semua orang di sana jadi tak terlihat.


Saat melarikan diri bersama Blakk Jak dan Artazure, suara keras Singabarong sekali lagi membahana, “Awas kalian, Adilaga! Akan tiba saatnya kalian takluk atau hancur! Hahahahaha!”


Kabut asap akhirnya sirna, yang masih berada di laun-alun Museum Fatahillah itu tinggal pasukan dari I.N.D.I.G.O serta Dahlia, Taruna dan Hima.


Sesaat kemudian, seseorang wanita berambut pirang berombak dan mengenakan seragam berjubah biru-keunguan, warna indigo, menandakan ia petinggi I.N.D.I.G.O menyeruak ke tengah alun-alun. Wanita bernama sandi Solara itu berseru lantang, “Amankan lokasi! Angkut semua korban! Rawat yang terluka di tempat lain! Gunakan ‘lampu’ pada massa yang menonton!”


Hima menyaksikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Telah jatuh korban tewas, lima warok dan tiga agen I.N.D.I.G.O. Belum lagi mereka yang luka berat maupun ringan. Gejolak emosi ini terlalu berat bagi sisi manusia dalam diri si pahlawan super ini. Penglihatan Hima melamur, lalu segalanya menjadi gelap.


Masih banyak pertanyaan dalam benak sang pewaris Jin Es Abadi, Gilang Kandaka ini. Tentang I.N.D.I.G.O, Adilaga, si wanita pirang berjubah biru keunguan, dan terutama, lebih banyak tenang musuh besar yang mereka hadapi ini, Angkara Murca.


Setidaknya, saat Gilang pulih nanti, ia sudah tahu akan berkiprah sebagai siapa mulai sekarang.

__ADS_1


HIMA.


__ADS_2