
Seumur hidupnya, baru dua tahun terakhir inilah I Made Johnny Wardhana kerap merasakan semangat tarung yang meluap-luap. Apalagi saat ini, dalam pesawat jet bersandi Sempati ini tubuh besar nan kekar itu seakan membara, darahnya seakan mendidih.
Bagaimana tidak, inilah kesempatan emas untuk mengakhiri rentetan prahara yang telah kurang-lebih dua tahun menghantui Johnny dan keluarganya.
Saat menerima kabar tentang “terobosan penting” ini dari I.N.D.I.G.O lewat nanochip komunikasi yang ditanam hingga menancap di tulang tengkuknya, Johnny langsung bergegas meninggalkan ruang rapat Kantor Pusat Wardhana Enterprises di sela-sela pertemuan penting. Ia lantas berkendara sendirian ke Bandara I Gusti Ngurah Rai dan langsung menaiki Sempati yang disamarkan menjadi pesawat pribadinya.
Kkurang dari dua jam setelah bertolak dari Denpasar, Bali, suara sang pilot yang adalah wanita agen khusus I.N.D.I.G.O terdengar merdu dari interkom. “Mendekati lokasi penerjunan, mode pesawat jet berubah menjadi mode helikopter dalam tiga, dua, satu… sekarang!”
Terdengar suara-suara seperti pelat-pelat baja yang bergeser. Laju pesawat kini berubah lebih lamban daripada sebelumnya. Suara bising mesin jet yang teredam berganti suara putaran baling-baling raksasa.
Saatnya berubah wujud. Kalung medali bergambar wajah singa suci, Barong di dada Johnny berpendar putih-terang. Rambut Johnny yang panjang terurai dan berubah warna menjadi putih. Tubuhnya berbalut kostum ketat berwarna putih, berlapis zirah putih keemasan. Topeng putih keemasan menutupi wajah tampan Johnny, membuatnya tampak lebih tangguh. Inilah sosok pewaris Singa Suci Dewata, Barong.
Tindakan selanjutnya, Barong mengenakan ransel parasut dan bersiap di depan pintu pesawat. Saat pintu pesawat itu terbuka, tampak jelas sebuah gunung tunggal yang dikelilingi hutan dan daerah persawahan.
Menjulang 1320 meter dari permukaan tanah, yang paling aneh dari Gunung Sadahurip di Desa Sukahurip, Pangatikan, Garut, Jawa Barat ini adalah bentuknya yang seperti piramida di Mesir. Walau bersisi lima dan posisinya tak persis menghadap arah-arah mata angin, gunung ini pernah membuat heboh dunia arkeologi akibat dikira adalah bangunan piramida atau situs peninggalan makhluk ruang angkasa.
Sesaat, Barong terpana. Bilamana ini memang tempat tujuannya, pasti ada misteri lain dalam gunung ini yang menunggunya. Misteri yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
Setelah cukup dekat, suara si pilot bergema lagi. “Silakan terjun. Semoga berhasil dan selamat, Pendekar Barong.” Barong setengah berharap tadi itu suara Wenny, istri Johnny. Ia terjun dari helikopter, membawa harapan agar dapat mendengar suara Wenny dan anak-anaknya lagi.
Parasut mengembang, sang pahlawan super melayang perlahan hingga mendarat di pematang sawah dekat lereng gunung. Barong menanggalkan dan meninggalkan peralatannya, lantas berlari kencang ke arah Gunung Sadahurip.
Namun, di manakah persisnya “tempat rahasia untuk acara utama” di Gungun Piramida Sadahurip ini? Jawabannya terpampang gamblang di depan Barong, yaitu tempat meletusnya pertempuran paling sengit.
Saat Barong berlari makin dekat, tampaklah para agen dan prajurit I.N.D.I.G.O berseragam biru keunguan sedang terdesak, tatkala menghadapi pasukan gabungan warok dan leak. Di luar dugaan, musuh yang memang unggul jumlah malah bertambah kuat, persenjataan tempur tak sanggup mengimbanginya.
Sambil berteriak seperti auman singa, Barong terjun membantu, menumbangkan musuh satu-persatu. Ia memang pernah menghadapi pasukan leak dan warok sebelumnya, namun prana gelap pasukan di sini jelas lebih kuat. Sambil bertarung ia mencoba melacak sumber tambahan prana itu. Benar saja, asalnya dari pintu masuk yang menganga di lereng gunung piramida.
Sedikitnya lima tinju warok dan sepuluh tendangan leak mendarat di tubuh perkasa Barong, membuat pendekar kekar itu terhuyung sesaat. Satu leak mengira itu kesempatan dan bakal membenamkan kuku-kuku beracunnya di tubuh lawan. Barong sudah siaga. Satu tinju penuh prana tanah didaratkannya telak di wajah si leak, kesempatan buyar sudah.
Barong bertempur sambil terus maju, diiringi sorak-sorai penyemangat dari para agen I.N.D.I.G.O dan teriakan-teriakan kesakitan dan marah dari pasukan musuh. Berbekal pengalaman sebagai atlit tinju, Barong bergerak amat lincah bagai kupu-kupu dan “menyengat” akurat bagai lebah. Alhasil, semangat pasukan penyerbu terangkat, bertahap tapi pasti mereka mulai mendesak para prajurit yang bertahan.
Makin mendekati lereng gunung piramida, tampak traktor dan alat-alat berat yang diparkir tak jauh dari mulut gua. Dengan penglihatan supernya, Barong mengenali lambang keris di sisi tiap kendaraan itu. Tak salah lagi, itu semua milik SS Corporation. Gua itu pastilah hasil penggalian berkedok riset arkeologi. Lalu SS menutup-nutupi “hasil”-nya dari mata publik dengan menghentikan riset. Lalu mempublikasikan “fakta” bahwa Sadahurip hanya gunung biasa, tak ada keanehan apapun selain bentuknya yang hampir menyerupai piramida.
__ADS_1
Suara-suara benturan keras dekat deretan alat-alat berat itu seakan memancing Barong mendekat. Firasatnya tepat, tampak dua pendekar tangguh tengah berlaga di sana. Yang satu bertubuh kurus, berambut gimbal dan mengenakan kostum hijau berloreng-loreng hitam dari leher hingga ke ujung kaki. Yang satu lagi bertubuh besar dan kekar, berkostum warna jingga dipadu loreng-loreng dan zirah coklat.
Barong tahu, ia pernah bertarung dengan keduanya. Tampak si kostum hijau sedang jadi bulan-bulanan lawannya. Tiap tinju yang dilontarkan si “Kembaran Barong” itu tampak jauh lebih bertenaga daripada sebelumnya. Satu tinju si surai jingga dari bawah menghantam telak si rambut gimbal di atasnya hingga membubung ke atas. Tinju kedua yang lebih dahsyat siap menyambut tubuh yang jatuh tanpa pertahanan itu.
Dengan perhitungan waktu yang amat matang, Barong menghantamkan kedua tinjunya ke tanah dengan jurus pamungkas yang kini jadi andalannya, Bumi Berguncang Langit Gempar. Si zirah coklat terjatuh akibat hentakan gempa yang adalah bagian awal jurus ini. Dan dengan bagian akhirnya, Barong menangkap tubuh si hijau loreng di udara, menghindarkannya dari cedera tambahan akibat tarikan gravitasi dan benturan dengan bumi.
“Hei, kau masih sadar, Reog?” seru Barong pada si gimbal.
Terkesiap mengenali penyelamatnya, Reog menolakkan tubuhnya menjauh sambil berdesis, “Barong! Beraninya kau ikut campur!”
“Tentu aku berhak ikut campur! Aku ingin membuat perhitungan dengan kalian, Reog dan Singabarong sehubungan pertarungan yang lalu, di Gua Warok!”
Reog protes, “Untuk apa? Aku telah bergabung di Liga Adilaga, dan kini kami sedang bertempur melawan Liga Angkara Murca dan SS. Biar kutangani Singabarong dulu! Setelah misi tuntas, akan kupenuhi tantangamu kapan saja!”
“Kau anggota Adilaga?” Barong tak nampak terkejut. “Kalau begitu urusanku tinggal dengan Singabarong saja.”
Tiba-tiba Singabarong yang baru pulih dari “gempa” tadi bangkit dengan cepat dan menyela, “Hei-hei, rupanya si pembokong itu kembaranku sendiri, ya. Ayo Barong, saatnya menentukan siapa yang terkuat di antara kita!”
“Oi, oi, oi! Singabarong itu bagianku!” sergah Reog. “Kau majulah terus ke dalam sana, Barong! Musuh masih banyak, bantulah rekan-rekan kita di sana!”
“Bagus! Ayo kita adu tinju…!” Sebelum Singabarong sempat melayangkan tinjunya, kekuatan gempa bumi yang menebar dari rangsekan tubuh Barong terlanjur menerpanya, membuat tubuh besar si Raja Satwa Siluman itu terpelanting jauh ke belakang, membentur deretan alat-alat berat.
“Silakan, Reog!” Barong tak berhenti untuk memastikan kondisi Singabarong. Setidaknya, aksinya tadi mungkin bisa membuat Reog yang masih terluka akibat pertarungan-pertarungan sebelumnya bisa mengimbangi Singabarong, musuh bebuyutannya, pemimpin tertinggi pasukan warok yang mencap Reog pengkhianat itu.
“Baik, hati-hati, Barong!” Setidaknya kini Reog tahu, pahlawan super yang pernah ia tumbangkan dulu itu tak mendendam padanya sama sekali.
\==oOo==
__ADS_1
Saat melintasi ambang “pintu masuk”, pemandangan amat remang-remang di sekeliling Barong tak ubahnya gua di pegunungan pada umumnya. Permukaan lantai dan dinding-dindingnya amat kasar berbatu-batu. Juga bertebaran stalaktit dan stalagmit, dengan penerangan lampu pertambangan yang disambungkan dengan pembangkit listrik tenaga surya di luar gua.
Para leak dan warok yang menghadang Barong di sini jelas lebih kuat daripada di luar tadi. Pertanda dari firasat Barong makin jelas, ada sumber kekuatan kegelapan yang tak terkira besarnya di dalam sana. Pasti sumber itulah yang kini diincar dan digunakan SS. Tapi apa itu?
Daripada menebak-nebak jawabannya, Barong memilih bereaksi pada suara-suara pertarungan yang lebih gaduh daripada yang di depan tadi. Namun pesertanya kali ini lebih sedikit. Setidaknya Barong mengenali dua pahlawan Adilaga yang bertarung di sana, yaitu Hima dan Dahlia. Lawan yang mereka hadapi adalah para anggota Angkara Murca, yaitu Okkult dan Gangren, pendekar kuntilanak dan pocong.
Hima, pewaris Jin Es Abadi berbalut kostum serba biru-hijau menggunakan Pedang Es Himawari menyayati tubuh besar si pocong, Gangren. Namun tiap luka Gangren dengan cepat merapat kembali, seakan serangan tadi sia-sia belaka.
Tak beda dengan Dahlia, pertarungan jarak jauhnya dengan Okkult yang terbang bebas dalam ruangan gua yang besar nan luas ini tak kunjung menemukan titik terang. Lagipula, Dahlia harus menghindari kuku-kuku beracun yang masih tersisa di salah satu tangan wanita setengah hantu itu. Lagipula, agak sulit mempengaruhi mental Okkult yang memang telah “rusak” dan “gila” dengan kegemarannya menyiksa orang lain.
Mengamati pertarungan ini sejenak, Barong mendapat gagasan. Ia bergerak mendekati Dahlia dan membisikkan maksudnya. Wajah bertopeng gadis manis berambut kepang dua itu merengut sejenak. Akhirnya ia mengangguk dan bergerak pergi, menyerahkan lawannya pada Barong. Jalannya terseok-seok, tanda ia mengalami banyak luka.
“Wah, wah, ada apa lagi ini?” seru Okkult dari ketinggian. “Pengecut dari Adilaga lari, membiarkan rekannya menggantikannya, bukan membantunya bertarung?”
“Setidaknya kami tak suka main keroyokan,” dalih Barong. “Lagipula, aku hendak menagih sesuatu dari kalian berdua.”
“Apa itu? Kami tak berhutang apapun pada siapapun!”
“Justru kalian terus-menerus menumpuk hutang yang jumlahnya tak terhitung, hutang nyawa pada para korban kalian, termasuk supir dan kenek mobil Wardhana Logistics.”
“Heh, untuk menjalani profesi dan pengabdian kami pada Sang Raja Abadi, pertumpahan darah adalah keharusan yang tak terhindarkan,” tandas Okkult, sikap dan nada bicaranya tak menyiratkan rasa sesal sedikitpun. “Justru itulah kesenangan kami, banyak darah sebagai persembahan, tanda kesetiaan kami pada sang pemberi kekuatan.”
Wajah Johnny di balik topeng Barong berkerut dahi. Perkembangan informasi baru itu belum tuntas ia cerna, jadi terpaksa disimpannya dulu untuk ia rangkai dengan potongan-potongan petunjuk lainnya. Pasti ini ada hubungannya dnegan biang keladi prahara yang bakal dihadapi Adilaga nanti.
“Terima kasih atas penjelasanmu… Okkult, bukan?” ujar Barong berdasarkan informasi yang ia dapat dari pimpinan Adilaga. “Sebagai balasannya, silakan serang aku.” Sang pendekar super terkuat merentangkan kedua tangannya.
Senyum mencemooh menghiasi wajah sepucat mayat Okkult. Barong, yang disebut-sebut sebagai pendekar super terkuat di Liga Adilaga membiarkan dirinya diserang. Walaupun ini jebakan, mustahil ia mampu berbuat banyak pada musuh yang bisa terbang.
Saat bicara tadi, Okkult sengaja menghimpun prana. Lantas ia melepas jurus pamungkasnya, Wabah Hitam, menembakkan bayangan-bayangan tengkorak berambut panjang yang mengandung racun dan prana gelap, semua mengarah ke tubuh Barong.
__ADS_1