ADILAGA

ADILAGA
BLORONG


__ADS_3

Mungkin karena letaknya yang terpencil, Gunung Sadahurip yang bentuknya seperti piramida Mesir Kuno tetap saja menjadi tempat yang sepi kunjungan wisata.


Didukung jaringan yang amat kuat di kalangan pemerintah dan dunia jurnalistik, I.N.D.I.G.O berhasil menutup-nutupi perihal pertempuran di Gunung Sadahurip, dan tetap menjadikan rahasia di gunung piramida ini sebuah misteri besar. Di mata publik, Gunung Sadahurip tak lebih dari bentuknya yang mirip piramida bila dilihat dari jauh, itu saja.


Namun, tentu ada saja orang yang tak mau menerima “kenyataan”, mati-matian berusaha menemukan misteri Gunung Sadahurip dengan kekuatannya sendiri.


Contohnya gadis muda yang satu ini, yang tampak amat tomboi dengan rambut pendek, berbalut t-shirt serta jaket dan celana jins, satu-satunya yang tampak feminin pada dirinya adalah ransel imut berwarna hijau-biru pastel yang tersandang di punggungnya.


Pagi menjelang siang itu, saat tiba di lereng Gunung Sadahurip yang tertutup batu-batu besar, gadis itu mengeluarkan alat perekam suara digital, yang bentuk dan ukuran dan bentuk seperti coklat atau permen batangan kecil. Ia lantas menaruh bibirnya dekat mikrofon dan bicara, “Ekspresi Sadahurip hari ketiga. Aku Evelyn Chaniago, mahasiswi arkeologi.”


Evelyn lantas menerawang sekeliling. Lantas ia menghela napas dan kembali bicara, “Sudah dua hari aku mencoba mengelilingi lereng gunung ini, namun tak menemukan keanehan apapun. Gempa yang tak wajar belum lama ini di Sadahurip jelas-jelas akibat kegiatan supranatural yang amat dahsyat. Namun rupanya siapapun yang terlibat telah menghilangkan segala jejak dengan amat rapi.”


Frustrasi, Evelyn tertunduk sambil berpikir keras. Mencari petunjuk apa saja, sekecil apapun itu. Tiba-tiba, ia terkesiap melihat sesuatu di tanah. Tampak ada yang aneh pada pola rerumputan di sana. Ada bekas rumput yang tergiling di sana-sini oleh alat-alat besar.


Karena baru tiga bulan berselang setelah gempa, ada bagian tanah yang masih botak, belum tertutup rumput atau tumbuhan apapun. Hujan mungkin telah memudarkan beberapa jejak, dan sisanya “dihilangkan” manusia.


Namun daya pengamatan Evelyn yang tajamlah yang menguatkan asumsinya, bahwa banyak orang dan beberapa kendaraan berat pernah lalu-lalang di sisi lereng gunung ini. Dan ini sudah berlangsung jauh sebelum “gempa ajaib” terjadi.


Namun bukti terkuat yang mengukuhkan teori Evelyn ini adalah sobekan cutting sticker bergambar lambang keris merah yang membentuk huruf “SS”. Dengan mata berbinar Evelyn memungut potongan itu, lalu merekam penuturannya lagi. “Kecurigaanku terbukti sudah. Apapun yang terjadi di Gunung Sadahurip ini, pasti ada campur tangan SS Corporation di dalamnya.”


Saat berikutnya, kilau semangat di mata Evelyn berganti kerutan dahi. “Sesuatu pasti terjadi di sini, dan ada rahasia besar di dalam sana, tapi aku tak melihat gua, celah atau jalan masuk apapun! Aagh, di mana ya kira-kira tempatnya?”


Evelyn mencari-cari dan mengamati setiap jengkal bebatuan yang bertimbunan, membentuk dinding lereng gunung itu. Lama kemudian, gadis itu jatuh terduduk, mendengus kesal. Matahari tengah hari makin menyengat, dan rasa lapar mendorongnya untuk menyerah, mencari tempat teduh, lalu mengamati sisi lereng gunung yang lain saja.


Saat si peneliti muda berbalik untuk pergi, tiba-tiba bisikan parau seorang wanita merasuki benaknya. Tunggu, anak muda.

__ADS_1


Evelyn terkesiap dan menoleh ke kiri-kanan dengan panik. “S-siapa itu? Tunjukkan dirimu!”


Ya, itu yang kuinginkan, sahut bisikan wanita itu. Tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaanku. Bukankah kau datang kemari untuk mengungkap suatu rahasia besar pada dunia?


“B-bagaimana kau tahu…?”


Jawab dulu pertanyaanku!


“I-iya, kurasa begitu…” Bibir Evelyn bergetar.


Perlu kau tahu, saat rahasia ini kauungkap, seluruh hidupmu akan berubah, selamanya!


“A-apa maksudmu?”


Rahasia ini berupa kekuatan yang luar biasa, yang bila dikembangkan bisa jadi tak terbatas, bahkan nyaris setara kekuatan dewata. Nah, maukah kau mewarisi kekuatan ini? Kau bisa menggunakannya untuk meraih nasib dan hidup yang lebih baik.


Bagaimana? Jawablah, Evelyn Chaniago. Itu namamu ‘kan? Silakan bila kau menolak, pergilah, dan aku akan menunggu calon lain.


Akhirnya, rasa ingin tahu Evelynlah yang mengalahkan segalanya. Akhirnya ia bertutur sambil tubuhnya gemetaran, “B-baiklah.”


Bagus, kalau begitu silakan masuk ke tempat suciku dalam perut gunung ini.


“Tapi bagaimana? Dinding lereng gunung ini terdiri dari bebatuan besar-besar. Bagaimana aku bisa masuk?”


Oh, rupanya batu-batu itu menutupi jalan masuk lewat mulut gua, desis suara wanita itu lagi. Kalau begitu, biar kuberikan “bantuan kecil” padamu. Cepat mundur menjauh kalau tak mau mati tergilas!

__ADS_1


Si gadis tomboi dengan sigap lari menjauh dari lereng gunung. Beberapa saat kemudian, tanah di bawha kakinya seakan terangkat dan bergeser. Rupanya itu tadi rentetan gelombang kejut semacam gempa, yang asalnya dari perut gunung. Hasilnya cukup mencengangkan, beberapa batu besar yang memang belum menyatu betul dengan dinding lereng gunung berjatuhan. Dua di antaranya berguling jauh, membuat Evelyn pontang-panting menghindari resiko tergilas.


Setelah segala sesuatunya reda, Evelyn baru melihat hasilnya, yaitu mulut gua yang menganga di lereng gunung piramida. Menepati kata-katanya tadi, gadis cantik itu bergegas masuk.


Bermodalkan senter, Evelyn melangkah dengan hati-hati melalui jalur gua yang menyempit akibat gempa dan jadi gelap-gulita. Sampai di bagian gua yang dindingnya penuh gambar pahatan relief, Evelyn tercengang melihat penggalan-penggalan kisah yang belum rusak. Mungkinkah si perempuan bertubuh setengah ular itu adalah yang bicara lewat telepati pada Evelyn tadi?


Jawaban untuk pertanyaan itu dituturkan seketika saat seluruh keberadaan Evelyn melangkah dalam perut Gunung Sadahurip, di reruntuhan yang semula adalah Candi Blorong.


Selamat datang di Candi Blorong. Inilah rahasia Gunung Sadahurip yang kau cari. Aku adalah pewaris pertama Murca, Dewa Ular dan telah lama menghuni tempat sepi-tersembunyi ini. Akulah Sang Ratu Ular, panggil aku Nyi Blorong.


Evelyn terkejut bukan kepalang. Selama ini ia menganggap legenda Nyi Blorong tak lebih dari legenda rakyat, sekutu Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul. Kini, bahkan akal sehatnya mengakui keberadaan dan selanjutnya, keterkaitan makhluk amat gaib itu dengan sejarah Nusantara.


Apalagi kini wujud Nyi Blorong yang hampir mirip arca raksasa yang tergeletak tumbang di lantai gua terpancar bagai hantu. Tentu saja Evelyn diperkenankan melihat sosok ini. Kecantikannya dan pancaran auranya konon setanding dengan para wanita legendaris dalam Legenda-Legenda Nusantara seperti Ken Dedes, Roro Kidul dan Roro Jonggrang. Tubuh atasnya mengenakan kebaya kemben ala Jawa Kuno berwarna hijau bersulam emas. Tubuh bawahnya yang amat panjang tak ubahnya ular hijau raksasa yang melata.


Bedanya, aura yang dipancarkan Nyi Blorong amat gelap nan pekat, sarat energi negatif yang menekan, menyesakkan siapapun yang berada di dekatnya. Termasuk pula Evelyn yang saat ini masih berstatus “orang biasa”.


Menyadari hal ini, Evelyn menyurut mundur dan berkata terbata-bata, “A-ampun, Nyi Blorong Yang Mulia. Setelah hamba pikir-pikir lagi, hamba merasa tak yakin mampu mengemban kekuatan yang dijanjikan Yang Mulia. Mungkin sebaiknya hamba minta diri saja…”


Suara Nyi Blorong jelas terdengar telinga awam kini. “Sudah terlambat untuk mundur, gadis muda!”


Evelyn berbalik hendak melarikan diri. Namun tiba-tiba tubuhnya terasa berat luar biasa, seakan-akan ditindih dan dicengkeram tubuh dan tangan-tangan raksasa. Hawa prana merah yang adalah tahap pertama ilmu Dewa Ular Murca merasuki tubuh wanita itu bagai hunjaman selaksa jarum. Bahkan sandangan ranselnya putus, punggungnya terbuka, siap menerima asupan prana.


Tak ayal Evelyn berteriak-teriak kesakitan, “Ampun, Nyi Blorong! Ampuun! Tolong, jangan ubah hamba! Hamba masih ingin hidup normal!”


“Hei, tenang saja, pewaris baruku! Seperti yang kujanjikan, kehidupanmu akan jauh lebih baik, penuh kemashyuran dan kemakmuran! Terima saja anugerah ini, karena kita memang telah ditakdirkan untuk bertemu!”

__ADS_1


Tahap selanjutnya, sebentuk cincin berpermata amethyst ungu dan alasnya hijau keluar dari mulut arca Blorong di lantai. Cincin itu lantas terpasang di jari manis tangan kiri Evelyn, menyesuaikan ukuran lingkarnya hingga nyaman dikenakan. Lantas, Nyi Blorong berseru, “Bagus! Ternyata kau memang pantas menjadi pewarisku, Evelyn Chaniago! Bila kau beraksi kelak, kau akan tampil dalam wujud tarung baru sebagai samaran. Mulai saat ini, kau akan dikenal sebagai Pendekar Ular Iblis…”


BLORONG.


__ADS_2