
Gilang sudah menduga, suatu hari kelak ia akan kembali lagi di Jakarta. Tapi kali ini, ia sungguh berharap tak kembali. Tidak dalam keadaan seperti ini. Lagi-lagi kehilangan kendali pada raga sendiri.
Apa daya Gilang mencegah Himawari menggerayangi ingatannya? Mengungkap identitas asli Taruna dan Dahlia, lalu memaksanya menghubungi Brian dan Julia, kedua sahabatnya itu? Mengatur janji jumpa di suatu tempat?
Apa daya Gilang mencegah si Warok Tua mempersiapkan pengepungan di tempat pertemuan itu, di alun-alun depan Museum Fatahillah, gedung bekas Balai Kota sarat dengan bukti sejarah Batavia Zaman Kolonial di daerah Kota Tua Jakarta? Untuk menjebak teman-temannya sendiri?
Gilang sengaja mengatur waktu janjian dan datang pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja terbit. Selain untuk menimbulkan jumlah korban akibat bentrokan yang hampir pasti meledak, waktu pertemuan yang tak lazim untuk anak muda di hari biasa, bersinggungan pula dengan jadwal kuliah dimaksudkan agar Julia dan Brian curiga dan siap-siaga. Karena itulah, mahasiswa yang selalu mengenakan jaket jingga ini kali ini menggunakan topi pet jingga dan berdiri sendirian di tangga depan pintu masuk museum.
Tak lama menunggu, mata Gilang terpaku pada dua orang yang datang di kejauhan. Ditilik dari kostum keduanya yang “tak biasa”, jelas mereka adalah dua pahlawan super bernama Dahlia dan Taruna.
“Wah, wah, ternyata kalian telah ‘mencium’ rancanganku, ya?!” ujar Himawari dalam tubuh Gilang sambil tersenyum getir. “Tapi tak apa, kalian toh datang juga, jadi mari kita berunding.” Ia juga berjalan ke arah kedua pahlawan.
Sebagai Julia, Dahlia sudah cukup mengenal identitas jin pendukung Gilang ini. Mereka pernah bentrok di Candi Jonggrang di kompleks Candi Sewu. Gadis berkostum hijau-pink berambut dikuncir dua itu berseru, “Tak perlu basa-basi. Pihak yang kami dukung sudah jelas, jadi apapun yang kau tawarkan, jawaban kami pasti tidak.”
Taruna adalah pendekar bertopeng, berambut pirang, berkostum biru muda dan tua bergaya punggawa Zaman Majapahit, Jawa Kuno. Ia menimpali, “Ternyata Gilang salah menilaimu, Jin Himawari. Bukan menyadari kesalahanmu dan bekerjasama dengan Gilang dan membuka lembaran baru, kau malah merebut kendali atas raganya, dan menggunakannya untuk menjebak kami di tempat ini. Untunglah kami kenal betul Gilang, jadi kami sudah siaga.”
“Ah, begitu ya. Jadi aku tak perlu sungkan lagi.” Raga Gilang seketika beralihrupa menjadi Hima, titisan Jin Es Abadi. “Tapi, supaya ‘pesta reuni’ ini jadi lebih meriah, tentu aku membawa teman.”
Hima mengulurkan tangannya, menunjuk ke arah Warok Tua yang berjalan dari arah lain. Tiba-tiba tubuh ringkih pria tua itu berubah jadi amat kekar dan besar. Kulit merahnya mengencang dan wajahnyapun terlihat lebih muda dan jauh lebih sangar.
Suara serak Warok Tuapun berubah menggelegar. “Hei anak-anak muda! Aku, Warok Digdaya adalah anggota liga pendekar terkuat di jagad raya, Angkara Murca! Kukatakan untuk pertama dan terakhir kalinya, tinggalkan Liga Adilaga dan bergabunglah dengan kami!”
Taruna menghampiri pria yang kini berjulukan Warok Digdaya itu tanpa gentar, berbekal kesaktian warisan dua gurunya, Resi Taruna dan Nyi Roro Kidul. Serunya, “Kalau kami menolak?”
Warok Digdaya Mengentakkan tenaga selaksa satwa dan menggebrak tanah hingga melesak, berbentuk seperti dua kawah kecil. “Maka kalian akan bernasib sama dengan lantai alun-alun ini!”
“Terus terang, kami pernah menghadapi gertakan yang jauh lebih dahsyat daripada ini.” Maksud Taruna adalah pertarungan bersama Dahlia melawan Nyi Roro Kidul yang murka, hingga menggerakkan salah satu jenis bencana alam terdahsyat, gempa laut. “Jadi, menyimak cara kalian bekerja dan membujuk, maaf saja, kami lebih suka menghadapi tsunami daripada menjadi antek-antek Angkara Murca.”
“Ck, ck, ck, jawaban yang salah!” seru Warok Digdaya sambil berpangku tangan dan menggoyangkan jari telunjuknya. “Kami, Angkara Murca jauh lebih besar, lebih kuat dari Adilaga, dan inilah buktinya! Pasukan warok, maju!”
__ADS_1
Sejauh mata memandang, tampak sosok-sosok pria bermunculan. Penampilan mereka semua seperti anggota geng preman, hampir semuanya membawa pelbagai macam senjata jarak dekat. Mereka kira-kira berjumalh seratus, siap mengeroyok dua pendekar super kapan saja.
Yang lebih mengerikan, saat berjalan mendekat sambil mengempos prana, warna kulit mereka berubah menjadi merah darah, senada dengan Warok Digdaya.
“Wah, rupanya mau main keroyokan?” sindir Dahlia. “Kami tak keberatan melayani kalian semua, tapi untungnya, Adilaga selalu mempersiapkan solusi yang lebih baik!” Dengan biola saktinya, Julia menggesekkan satu nada tinggi, melengking, panjang dan memekakkan telinga.
Di saat hampir bersamaan, muncul satu pasukan yang terdiri dari para pria dan berpakaian hitam-hitam, mengenakan topeng masker dan bersenjata lengkap layaknya pasukan elit tentara. Mereka berlarian dengan teratur, mengepung para Warok. Mereka bersenjata baton, pedang, belati dan sebagainya. Senjata tembak, lempar dan berpeledak tak mereka gunakan, demi meminimalisir resiko kerusakan pada Museum Fatahillah dan gedung-gedung tua bersejarah lainnya di sekitar alun-alun itu.
Maka, tak perlu dikomando, terjadilah bentrokan antara pasukan warok dan Pasukan Khusus I.N.D.I.G.O. Para warok tampak lebih kuat berkat prana gaib mereka, namun gaya bertarung mereka yang cenderung ganas ala preman mampu diimbangi Pasukan Kasuari dan Cendrawasih yang unggul dari segi kecepatan dan teknik yang dilatih dengan disiplin tinggi.
Melihat itu, Warok Digdaya meludah di tanah. “Cih! Jangan pikir kalian sudah unggul, Adilaga! Ayo, Hima! Kita timpakan celaka bagi semua penentang kita!”
Hima menyambut, “Ya!” Keduanya menyerbu maju ke arah para lawan. Hima ke arah Taruna, sedangkan Warok Digdaya mengincar Dahlia.
Mengandalkan Tapak Es Himawari-nya, Hima tampaknya hendak menjajaki dan mengukur kekuatan lawannya. Tentunya dipadu dengan jurus-jurus pencak silat dari ingatan Gilang.
Dengan gaya bertarung tangan kosong kickboxing muay thai, Taruna meladeni Hima. “Heh, sudah lama tak menguji siapa petarung berteknik terbaik di antara kita,” komentarnya. Taruna melesatkan kombinasi pukulan jab dan straight sarat dengan Prana Arung Samudera miliknya.
Dengan lincah bagai merpati, Hima menghindari pukulan-pukulan itu dan balas menyabetkan Tapak Es Himawari bagai golok. Namun satu tendangan keras Taruna menohok perutnya, membuat Hima tersuruk mundur.
Taruna tentu tak mau kalah. Tubuhnya meliuk-liuk dan footwork kakinya bak menari menghindar. Ia menangkis satu-dua tapak dengan teknik pertahanan perisai dua lengan, double cover yang tentunya dilapisi prana air.
Walau demikian, satu tapak Hima berhasil menembus pertahanan dan menghantam rusuk Taruna. Anehnya, Taruna malah tersuruk mundur sambil mengerang kesakitan. Karena sifat es adalah membekukan air, tapak Hima berhasil mengubah prana air di tangan Taruna jadi es. Pergerakan Taruna jadi melamban, hingga ia tak sempat melindungi rusuknya dari pukulan.
Menyadari keunggulan nyata lawan atas dirinya, Taruna menoleh sekilas ke arah lain. Dahlia tampak sedang menggesek biolanya, sengaja bertarung dengan Warok Digdaya di tempat jauh supaya Taruna tak terkena daya telepati sihir yang ia rambatkan lewat gelombang suara.
“Hei, ingin bertukar lawan, Taruna? Baru sadar kau mustahil menang dariku?” Hima sengaja mengatakannya.
Namun emosi Taruna tak terpancing. Ia berkata dengan tenang, “Justru aku tak ingin membunuh Gilang bila kukerahkan tenaga penuh. Dahlia mungkin bisa menanganimu dengan cara yang lebih ‘halus’!”
“Aku sudah pernah menghadapi Dahlia, dan semua sihirnya takkan mempan lagi untuk kedua kalinya padaku. Sudahlah, hentikan basa-basinya. Ayo kita tarung secara jantan, yang terkuatlah yang menang.”
__ADS_1
“Setuju!” Ditantang seperti itu, Taruna makin bersemangat. Terbit sebersit rasa hormatnya pada Jin Himawari yang bermartabat tinggi namun salah jalan itu. Kedua petarung seketika menghimpun prana, bersiap untuk adu jurus, adu kuat.
Kedua tangan Hima dan Taruna teracung bersamaan, teriring teriakan keras membahana. Dari kedua tapaknya yang menyatu, Hima menembakkan Semburan Badai Es dengan daya dahsyat-membekukan. Sementara dari kedua tinju Taruna melesatlah dua Naga Laut Kembar yang menyatu, bergerak seperti kumparan yang saling menguatkan dan berkesinambungan.
Kedua semburan itu lantas saling bertumbukan di tengah jalan, saling menekan. Di saat bersamaan, prana es lagi-lagi membekukan prana air, terus mengembang dan menekan ke arah Taruna. Prana air juga berbelok ke tanah, terus membeku hingga membentuk dinding.
Namun si Pangeran Laut Selatan tak kehabisan akal. Kedua tinjunya yang semula menyatu ia rentangkan. Prana air terpecah dua, lantas meluncur dan berkelok melewati dinding es. Sebelum si Pendekar Es Abadi sempat mengubah jurus, kedua Naga Laut Kembar terlanjur menghantamnya hingga terpental mundur.
Hima terkapar di tanah, mengerang kesakitan.
“Nah, sudah jelas ‘kan siapa yang terkuat di antara kita?” ujar Taruna sambil menghampiri Hima. “Kini saatnya kita bicara dan mendengarkan nurani bicara…”
Saat sosok Taruna sudah tampak di atas tubuh dan depan mata Hima, tiba-tiba si pendekar es bangkit dan menanduk perut lawannya dengan prana sekuat tenaga. Dari balik topengnya, suara Taruna bergetar. “K-kau! Mana kehormatanmu tadi, Hima?! Dasar licik-rendahan!”
“Seharusnya pendekar super sepertimu paham, kehormatan takkan menghasilkan apa-apa. Sikap pura-pura terhormatlah yang paling sempurna untuk mengambil keuntungan! Pikirkanlah itu di perjalananmu menuju neraka!”
Hima menghunus Pedang Es Himawari dan mengayunkannya untuk membelah tubuh Taruna jadi dua. Di tengah jalan laju pedang itu terhenti, seolah membentur sesuatu. Lebih tepatnya, kekuatan serta suara pedang itu seakan diredam sebuah benda yang kenyal.
Yang lebih mengejutkan lagi, “benda kenyal” itu berbentuk seperti agar-agar yang bening dan transparan, dan disemburkan dari tangan-tangan seseorang.
Hima bereaksi, menoleh ke arah si pengganggu seraya berseru, “Hei! Beraninya kau ikut campur dalam pertarungan ini!”
“Biar kuluruskan beberapa hal dulu,” ujar pria berwajah gemuk, bertubuh kekar dan berkostum kuning-hijau itu sambil berjalan mendekat penuh gaya. “Pertama, panggil aku ‘The Stickler’, bukan ‘hei’! Dan yang kedua, ini jelas-jelas pertempuran, bukan pertarungan. Wajar toh aku, anggota Liga Adilaga ikut campur!?”
“Hih, ternyata pendekar aneh, seaneh namanya,” cemooh Hima. “Majulah, biar kurekatkan mulut besarmu itu hingga selamanya tak terbuka lagi.”
“Wah, kebetulan kau menyebutnya, aku memang ahli rekat-merekat. Rasakan ini!” Dengan satu entakan, The Stickler melompat tinggi-tinggi. Telapak tangannya tampak terbungkus zat kenyal-transparan tadi.
Belum paham tentang kekuatan “lawan baru” ini, Hima memilih menghindar dulu. Saat telapak Stickler menerjang dan meleset, baru ia mengayunkan Pedang Himawari ke arah lawan. Ia terperanjat, rupanya Stickler mengulurkan telapak satunya lagi yang juga dilambari zat kenyal, menahan bilah pedang itu.
Tak hanya bertahan, The Stickler melumuri Pedang Himawari dengan lebih banyak zat kenyal dan menekannya hingga menancap di lantai. Refleks, Hima menebar prana es untuk mencabut pedangnya. Namun cairan kenyal itu malah makin keras dan beku, pedang jadi makin sulit dicabut.
__ADS_1
Hima terburu-buru melepaskan tangannya agar tak ikut menempel dan membeku, hanya bisa menatap pedangnya yang tampak bagaikan pajangan museum dalam lemari atau peti kaca.
“Z-zat apa itu?” Jin Himawari bertanya-tanya. Ia mungkin bisa “bertanya” pada Gilang, namun terlalu tinggi hati untuk melakukannya.