ADILAGA

ADILAGA
SOLARA 2


__ADS_3


Aldrin balik bertanya, “Lho, bukankah sudah jelas SS Corporationlah biang keladinya? Ini berdasarkan segala informasi yang kita dapatkan dari I Made Johnny Wardhana, pengaduan ke polisi yang dilimpahkan ke I.N.D.I.G.O dan hasil jerih-payah para agen dan para pahlawan super Liga Adilaga yang kita rekrut dan latih itu?”


“Benar. Tapi menurut para mata-mata kita di SS Corporation, tak ada hal yang mencurigakan di kantor pusat perusahaanitu. Satu-satunya keanehan adalah, mereka tak pernah bertemu Presiden Komisaris di sana.”


“Lho, bukankah menurut peraturan Presiden Komisaris harus ada di perusahaan jenis Perseroan Terbatas Terbuka?”


“Memang ada, namanya Kenneth Tohjaya. Namun keberadaan orang itu tak pernah jelas. Segala komunikasi dengan beliau harus melalui asisten pribadinya, yaitu seorang pria misterius yang dipanggil Mr. K.”


“Bisa jadi Mr. K itu Kenneth sendiri, dan ia sengaja bicara dan bersikap seolah dia bukan si Presiden Komisaris.”


“Sungguh masuk akal, Aldrin. Tapi tetap saja, tak ada informasi tentang rupa dan penampilan Mr. K itu. Kecuali ia hanya muncul sebagai gambar hitam-putih yang sangat kabur di monitor saat bicara dengan Dewan Direksi dan Komisaris. Jadi saat ini kita tak tahu di mana kita bisa menemukan Kenneth atau Mr. K itu. Yang pasti mereka bukan di Kantor Pusat SS Corporation.”


Aldrin bertopang dagu mendengarnya. Sebuah perusahaan yang menutupi jejaknya dengan amat rapi, bahkan segala kekuatan psikis supernatural yang ia milik tak berhasil menembusnya. Sejenak timbuk keheningan. Pasangan petinggi ini tengah memeras otak, mencari solusi untuk kasus amat luar biasa ini.


Beberapa saat kemudian terdengar suara isyarat dari interkom. Yvonne menjawabnya, “Ya, ada apa?”


“Pak Winarno ingin bicara dengan anda berdua,” kata suara wanita sekretaris di interkom.


“Persilakan masuk.”


Herman Winarno lalu masuk lewat pintu yang dibukakan sekretaris. Walau usia pria gemuk berambut jingga itu kini enam puluh tahun lebih, kilau semangat di wajahnya yang agak gemuk, berkacamata itu seakan takkan pernah padam.


Rupanya, setelah bencana Tsunami di Pelabuhan Ratu yang melibatkan Nyi Roro Kidul, kakek yang akrab disapa “Pak Win” ini memutuskan turun gunung, bergabung kembali dengan I.N.D.I.G.O sebagai penasihat. Beliaulah yang lalu merekrut Dahlia dan Taruna dalam Liga Adilaga.


“Lain kali langsung masuk saja, Pak Win,” ujar Yvonne, sesaat menanggalkan formalitasnya.


“Yah, aku tak mungkin melangkahi suamimu itu, yang sah-sah saja mengganggumu kapan saja, Yvonne,” jawab Winarno sambil menyisipkan sindiran halus.


Aldrin menjawabnya, “Lho, Pak Win ‘kan salah seorang pendiri I.N.D.I.G.O, artinya bapak ini adalah ‘ayah’ kami semua. Jelas bapak lebih berhak keluar-masuk ruangan kami kapan saja… saat ada penghuninya, tentunya.”


“Wow, wow, sopanlah sedikit pada sesepuh kita ini, Al!” Yvonne juga menimpali sambil menepuk pundak suaminya itu.


“Hahaha. Nah, kembali ke pokok masalah.” Ekspresi wajah Direktur Utama Aldrin berubah serius seketika. “Pak Win, tentunya bapak tahu betul situasi yang kita hadapi ini, ‘kan?”


“Ya. Justru aku kemari untuk melaporkan hasil analisisku tentang kasus SS Corporation, tentunya menurut bidang-bidang spesialisasiku, yaitu sejarah, legenda dan alam gaib,” jawab Winarno gamblang.

__ADS_1


Yvonne dan Winarno memilih duduk di kursi masing-masing, sementara Aldrin berdiri dekat jendela sambil berpangku tangan. “Silakan, paparkanlah,” ujar Aldrin.


Dengan singkat namun padat Winarno menjabarkan kasus-kasus pencurian benda-benda pusaka, mistis dan keramat dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun terakhir. Cincin hidung dari kerangka seorang pembunuh berantai dalam kain kafan. Batu opal dari kerangka seorang wanita yang diyakini mati penasaran dan menjadi hantu kuntilanak paling sakti di dunia.


Sepasang cincin kembar yang diduga adalah milik pasangan suami-istri berkekuatan dewa, pendekar gaib legendaris dari Kerajaan Jayakarta, sekarang Jakarta, cikal-bakal boneka Ondel-Ondel. Cincin Api Rangda yang disegel dalam situs Sangir di Bali. Keris Mpu Gandring dari mobil Wardhana Logistics. Dan tentunya, Topeng Reog dari Museum Nasional.


“Semua benda tersebut diyakini sarat kekuatan gaib dari pemilik aslinya,” papar Win lebih lanjut. “Nah, para anggota Liga Adilaga, para agen dan pasukan pendekar I.N.D.I.G.O, bahkan Direktur Yvonne sendiri pernah bertarung, bertemu atau melihat para pengguna benda keramat itu. Tentunya berdasarkan semua laporan yang ada, kita dapat menarik benang-benang penghubung yang ujung-ujungnya menyatu pada satu sumber…”


“Liga Angkara Murca,” jawab Aldrin sambil menjentikkan jarinya.


“Ya, dan kita sudah tahu beberapa anggotanya, yaitu Gangren, Okkult dan Singabarong.”


Yvonne bertanya, “Jadi, apakah kunci petunjuk keberadaan Mr. K dan keterlibatan SS Corporation ada di tangan mereka, para penjahat super itu?”


“Belum tentu mereka semua,” jawab Winarno. “Namun, sangat mungkin para anggota Angkara Murca yang paling kuat dan paling fanatik memiliki akses langsung pada pimpinan tertinggi, bisa saja dia Mr. K, Kenneth atau siapapun.”


“Jadi yang perlu kita lakukan adalah memancing para anggota Angkara Murca agar beraksi, lalu membiarkan mereka melarikan diri dan diam-diam membuntuti mereka. Para pengikut fanatik pasti hanya punya satu tempat untuk pulang, yaitu markas rahasia SS yang sesungguhnya,” kata Winarno.


“Tapi, bagaimana kita bisa tahu tempat yang mereka datangi itu markas SS atau bukan? Bisa jadi itu malah jebakan,” tanya Yvonne.


“Dengan menggunakan Ilmu Lacak Prana, tentunya,” jawab Winarno. “Kurasa Direktur Aldrinlah yang paling tepat untuk memimpin operasi penguntitan dan pengintaian ini.”


Reaksi Yvonne tentu menghampiri suaminya, menerawang ke arah yang dituju dengan penglihatan dan pendengaran supernya. Tampak dua orang, pria dan wanita berjalan berdampingan di taman menuju Monumen Nasional atau lebih akrab disebut Monas. Itu sebuah tugu setinggi gedung bertingkat-banyak, bentuknya mirip lilin raksasa dengan patung berbentuk kobaran api emas di puncaknya.


Kedua orang itu tampak santai dan tak terburu-buru, tak ada gelagat yang mencurigakan sama sekali. Alasan Aldrin sangat mungkin karena ia adalah satu-satunya orang dalam ruangan ini, mungkin pula kantor ini yang mampu mendeteksi prana atau aura luar biasa dari jarak jauh.


Sejauh ini Yvonne belum juga mendengar pembicaraan mencurigakan antara kedua “sasaran” itu. Mereka hanya berbincang akrab layaknya suami-istri, juga saling menyebut nama, yaitu Indra dan Dian.


Namun Aldrin langsung bergegas keluar ruangan. “Ayo Yvonne, kita harus menghentikan si Indra dan Dian itu! Pak Win, laksanakan protokol darurat! Amankan daerah Monas, Istana Negara dan sekitarnya!”


Yvonne menyusul sambil bertanya bingung, “Lho, mengapa?”


“Aku mendeteksi gejolak agresi pada aura mereka!” jawab Aldrin yang lalu meneriakkan perintah lewat alat komunikasi khusus, semacam ponsel mini. “Regu Komodo, cegat pasangan suami-istri yang akan masuk Monumen Nasional, sekarang!”


“Laksanakan, Direktur Lunar!” seru suara dari ponsel itu. Regu Komodo memang bertugas patroli paling dekat dengan Monumen Nasional, Istana Negara sekaligus Markas Skyheim.


Sambil terus bergegas, Yvonne bicara pada Aldrin, “Nah, saatnya wujud tempur, Direktur Lunar.”

__ADS_1


“Kau juga, Direktur Solara.” Sambil mengatakannya, Aldrin memusatkan prananya. Penampilannya seketika berubah mengenakan zirah dengan lambang bulan di tengah dada, juga jubah perak berkilap yang panjangnya semata kaki. Kacamatanya tak berubah wujud, batu amethyst gaib tunggal tetap di posisi mata kiri. Rambut panjangnya menjadi berwarna keperakan. Inilah pewaris kekuatan Chandra, Dewa Bulan dari Mitologi Veda, yaitu Lunar, Raja Bulan Perak.


Anting berlian berpendar, penampilan Yvonnepun berubah, mengenakan gaun gaya Jawa Kuno serta hiasan kepala berlambang matahari memperindah rambut pirang panjang bergelombangnya. Kini ia menjadi Solara, Ratu Matahari Emas, pewaris Dewa Matahari Veda, Surya.


Nama sandi Lunar dan Solara mereka pilih berdasarkan kecocokan sumber prana serta kerjasama kemitraan Yvonne dan Aldrin, bagai matahari dan bulan yang mengendalikan keseimbangan alam di bumi.


Pasangan itu terus berjalan menyusuri koridor dan keluar ke teras di lantai teratas gedung pencakar langit ini. Lantas Lunar dan Solara terjun langsung dari gedung itu ke bawah.


Tentunya Solara dan Lunar yang bukan tipe penerbang menggunakan kekuatan cahaya dan telekinesis yang terpancar dari tangan mereka sendiri lewat senjata-senjata sakti mereka, Cambuk Samandiman dan Rantai Kartika Chandra. Pasangan pendekar super itu mengaitkan ujung-ujung senjata mereka di dinding gedung, berayun, dan mendaratkan kedua kaki masing-masing dengan cukup mantap di trotoar.


Cambuk Solara dan rantai Lunar diulurkan lagi. Bergerak secepat kilat sambil melayang dan bergelantungan di lampu-lampu jalan, kedua pahlawan super itu tiba di depan Monumen Nasional, disingkat Monas. Dalam monumen menuju ke lift, Solara dan Lunar melihat beberapa orang, termasuk petugas keamanan dan tiga agen I.N.D.I.G.O berpakaian preman terkapar tak bergerak, mengerang kesakitan. Segelintir pengunjung lain berhamburan meninggalkan lokasi kejadian.


Solara langsung bertindak, memulihkan mereka yang terluka dengan kekuatan penyembuhan gaibnya. Sementara Lunar menyentuh kepala salah seorang agen, menatap mata pria itu dan bertanya, “Apa yang terjadi tadi?”


Si agen sejenak melupakan rasa sakitnya dan menjawab lemah, “Kami sempat mencegat pasangan suami-istri itu. Namun mereka malah melumpuhkan kami dan sudah naik lift ke puncak!”


Lunar menanggapinya, “Gawat! Kalian pulihkan diri dan panggil bala-bantuan! Ayo Solara, kita hadapi musuh!”


“Baik!” Solara meninggalkan “pasien”-nya, menyusul pasangannya. Di depan monumen, Lunar sedang menunjuk ke arah puncak, kembali Solara menggunakan penglihatan dan pendengaran supernya.


Di anjungan puncak, tampak suami-istri berambut pendek tadi bersiap hendak keluar. Si suami berkata pada istrinya, “Hari ini, Indra Lukmanto dan Dian Megaranti akan menggegerkan Jakarta.”


“Ayo kita lakukan ini,” ujar Dian. Rupanya tadi mereka telah lebih dahulu melumpuhkan orang-orang di anjungan. Kini, setelah yakin tak seorangpun melihat mereka, Indra dan Dian bergandengan tangan. Sepasang cincin kawin yang tersemat di jari manis masing-masing berpijar merah dan biru. Pijaran itu mulai membungkus tubuh pasangan itu.


“Lunar, tolong naikkan aku ke puncak dengan telekinesismu!” Maksud Solara adalah Ilmu Gaib Pemindah Benda.


Namun Lunar menggeleng. “Kita harus menghadapi mereka berdua bersama-sama. Coba apa aku bisa memancing mereka turun.”


Dengan kekuatan super, Lunar memperkeras suaranya. “Indra Lukmanto dan Dian Megaranti, kalian sudah terkepung! Kami sudah tahu rencana kalian, menyerahlah baik-baik dan kita akan membicarakan pemecahan terbaik. Tak perlu membuat kehebohan.”


Berbalut sinar biru, Dian berseru lantang dengan suara yang dibesarkan dengan kekuatan super. “Terlambat! Inilah pemecahan terbaik, yaitu dengan cara kami!”


Di saat bersamaan, kedua sinar itu menyeruak, memecahkan kaca pembatas dan melayang ke dekat puncak monumen yang berbentuk seperti kobaran api emas.


“Gawat! Aku salah langkah!” Lunar berseru sambil memutar-mutar rantai berpemberatnya. “Tembak mereka!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2