
Sebagai penyidik profesional, Rania Giselda harus menerapkan tiga prinsip, yaitu kerahasiaan, kematangan persiapan dan kecepatan, baik dalam pengambilan keputusan maupun tindakan.
Demi menjaga kerahasiaan klien dan “sosok lain” timnya, Rania kini bersama Adhyaksa Wiguna dan pria muda, kurus, berkulit gelap dan sebaya keduanya, Bondan Prasetyo mendatangi lokasi “sengketa”, sesuai petunjuk para klien mereka, Indra Lukmanto dan Dian Megaranti.
“Apa kau yakin ini tempatnya, Rania?” tanya Bondan sambil menjauhkan matanya dari teropong lensa gandanya yang dilengkap penerang infra merah untuk melihat dalam kegelapan malam. “Walau memang besar, rumah tua itu tampak tak layak huni. Halamannya tak terurus, penuh rerimbunan tumbuhan. Suasananya amat sepi, seakan sudah ditinggalkan bertahun-tahun.”
Rania menjawab dengan tenang, “Coba ingat-ingat lagi pengaduan klien kita, Bondan. Para makhluk gaib menduduki rumah itu, pasti mereka menjadikannya seperti rumah hantu.”
“Ya, aku ingat kok,” gerutu Bondan.
“Lagipula yang bakal kita hadapi adalah Gangren dan Okkult, para manusia hidup yang bersatu raga dengan pocong dan kuntilanak. Dengan kekuatan bertiga, kesempatan menang kita makin besar,” tutur Adhi tanpa bermaksud sok tahu sama sekali.
Namun kata-kata itu malah membuat Bondan mendengus sengit. “Hei, hei, siapa kau? Darimana kau tahu banyak tentang Gangren dan Okkult? Aku bahkan tak memberitahu Rania tentang itu.”
Rania menyorotkan tatapan tajam pada Bondan dan berkata, “Ini rekan baru kita, Adhyaksa Wiguna. Dia pernah bertarung bersamamu melawan para manusia setengah hantu itu.”
“Oh, jadi kau ini… Cakra?” Bondan ternganga.
“Ya, dan kau pasti Reog, ‘kan?” Adhi sudah bisa menebak identitas rahasia Bondan dari penuturan si rambut gimbal tadi. “Kurasa inilah yang namanya ‘dipersatukan’ oleh musuh yang sama!”
Bondan tertawa, mencairkan suasana kaku tadi.
Rania menjentikkan jari. “Nah, ayo kita berubah wujud dan mulai bergerak. Ingat, gunakan radio mini dan ilmu lacak prana agar kita selalu saling terhubung bila berpencar!”
Pusaka topeng, cincin dan ikat pinggang milik Bondan, Rania dan Adhi berpendar, dan ketiganya seketika berubah menjadi Reog, Rangda dan Cakra. Dengan ini segala persiapan rampung sudah. Tinggal bertindak dan mendayagunakan segala pengalaman sebagai penyusup untuk mengambil serangkaian keputusan sepanjang misi ini.
Dengan penglihatan malam super, ketiga pendekar legenda mengendap-endap mendekati rumah gedung tua itu nyaris tanpa suara, dari arah berlain-lainan. Rangda dari depan rumah, dan Reog yang gerakannya paling lincah masuk lewat pintu belakang.
Sebagai satu-satunya “penerbang” dalam tim, Cakra menyusup dari lantai atas gedung bergaya Eropa-Kolonial Belanda ini. Tebakannya, sanak keluarga Indra yang pernah tinggal di sini sangat mungkin adalah keturunan pejabat tinggi atau tuan tanah, orang Belanda.
Cakra masuk lewat jendela yang dibiarkan terbuka, ke dalam sebuah kamar yang luas. Ternyata itu kamar anak-anak, penuh hiasan dan mainan yang berbalut debu tebal dan sarang laba-laba. Lalu ia keluar dan mengamati kamar besar di sebelahnya. Suasana kamar tidur utama amat berantakan, sesuai keterangan para klien. Debu dan sarang laba-laba di sana setara banyaknya dengan yang di kamar anak. Memang benar rumah ini jarang ditinggali dan direbut paksa, tapi kapan? Yang pasti bukan seperti keterangan para klien, yaitu “baru-baru ini”.
__ADS_1
Sambil berusaha mengingat semua temuan itu untuk diselidiki lebih lanjut, Cakra memutuskan untuk terus mengendap-endap. Harapannya, ia berpeluang untuk memberi kejutan pada musuh di sini.
Saat berjalan melalui koridor lantai atas, tiba-tiba Cakra dikejutkan oleh sebuah sosok yang berkelebat dari kiri ke kanan, menyeberang di ujung koridor itu. Ia berlari ke ujung dan melihat sekeliling, yang tampak hanyalah koridor lain di kanan dan jendela di kiri. Cakra berjalan lebih cepat menyusuri koridor ini sampai ke tangga arah naik. Tak terjadi apa-apa. Ia tidak naik, malah terus ke ujung koridor dan belok kanan ke koridor berikutnya.
Saat lewat di kamar pertama koridor itu, tampak pintunya dibuka. Cakra mengintip ke dalam, ternyata itu adalah perpustakaan yang penuh buku-buku berdebu dan dua jendela yang tirai-tirainya berkibar dihembus angin malam. Selain itu, tak ada seorangpun di sana.
Tak buang waktu lagi, Cakra keluar ke kiri dan melihat tangga besar menuju ke lantai bawah. Mendadak, angin kencang berhembus melintasinya lagi. Cakra berbalik ke arah hembusan angin itu dan melihat sosok putih tadi melesat bagai angin. Kali ini tampak jelas ia masuk ke sebuah ruangan di koridor arah kiri.
Cakra melesat secepat kilat menyusul. Saat tiba dalam ruangan, ia disambut tusukan dan sabetan berbagai senjata tajam. Dengan kecepatan melebihi atlet pelari, Cakra menghindari beberapa pedang, tombak dan golok yang mencecarnya. Namun serangan itu terus bertubi-tubi seakan takkan pernah berhenti. Dalam sesaat saja, Cakra harus memeras otak untuk mengatasi masalah ini, atau mati.
Mengandalkan ketajaman naluri supernya, Cakra melacak arah datangnya senjata-senjata itu. Lalu ia menembakkan petir dari telapak tangannya dengan tambahan daya dorong dari lengan. Hasilnya, petir itu melesat jauh lebih cepat dan tak terduga, tak terhindarkan, menyambar sesosok makhlouk yang melayang-layang di udara. Makhluk itu terdorong mundur, serangannya terhenti seketika.
“Wah, wah, kita bertemu lagi, Cakra,” kata wanita berkulit amat pucat, bergaun dan berambut putih-panjang itu.
“Okkult. Sudah kuduga, aku akan menemukanmu di sini,” ujar Cakra sambil mendesis sinis.
“Terus-terang, aku tak menyangka kau ternyata bekerjasama dengan Detektif Rania Giselda menyelidiki tempat ini. Sungguh ini hari keberuntunganku. Mengumpan satu tikus, tiga yang terpancing.”
“Bisa saja ya, tapi tidak.”
“Lantas ada apa ini sebenarnya?”
Okkult mengulurkan tangan dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya yang berkuku panjang-runcing. “A-a-ah! Kalau kau ingin tahu yang sebenarnya, kau harus menyelidikinya sendiri! Tapi maaf saja, aku akan melangkahi mayatmu dan membuat rohmu jadi hantu penasaran.”
“Atau sebaliknya, kubuat kau jadi hantu sungguhan.” balas Cakra. “Maaf juga, aku tak berminat untuk main denganmu.” Ia berbalik hendak keluar dari ruang latihan beladiri merangkap tempat penyimpanan senjata ini.
Namun tiba-tiba rambut putih Okkult menghadang di ambang pintu. “Eits! Mau memperingatkan rekan-rekanmu? Sudah kubilang, kau pasti jadi mayat dalam jaring laba-labaku, hai lalat kecil!”
Cakra menghunus kerisnya dan mencoba memotong rambut itu. Sarat prana kegelapan, rambut Okkult malah melentur seperti karet lalu menegang lagi, mementalkan keris Cakra yang tak berkekuatan penuh.
Refleks, si penyandang keris berbalik menyerang si pemilik rambut yang bisa memanjang, bisa memendek itu. Namun kuku-kuku hitam Okkult sudah melesat ke arahnya. Terpaksa Cakra menangkis ujung-ujung kuku itu dengan kerisnya. Cakar keduapun melesat, memaksa Cakra berkelit dengan berbalik badan.
__ADS_1
“Jangan lupa koleksiku ini!” Yang dimaksud Okkult adalah senjata-senjata yang terikat di ujung rambutnya itu, yang ia hunjamkan serentak ke sisi kiri-kanan lawan. Terkurung, Cakra terpaksa “menerima” hunjaman dan sabetan senjata-senjata itu.
Manusia biasa pasti sudah tewas terkena serangan macam ini. Kenyataan bahwa Cakra masih bernapas dan bisa bergerak menunjukkan bahwa ia memang manusia super. Prana Halilintar Merah yang membungkus seluruh tubuhnya masih cukup kuat, hingga ia kebal terhadap senjata-senjata lawan.
Cakra berdiri tegak, siap melawan lagi. Tiba-tiba nyeri mendera seluruh tubuh pemuda itu akibat percikan prana gelap yang menyusupinya. Senjata-senjata dan rambut Okkult menghujaninya lagi. Kali ini Cakra secepat kilat menebar petir merah lewat kesepuluh jarinya. Petir-petir itu menyelusup lagi dengan luar biasa cepat melewati senjata-senjata, semua menghujani satu sasaran.
Seketika, hujan senjata terhenti persis di depan tubuh Cakra. Tak hanya itu, segala pedang, tombak, belati dan sebagainya jatuh berkelontang di lantai. Sebabnya jelas, si empunya tersambar petir hingga lumpuh sesaat.
Memanfaatkan kesempatan emas ini, Cakra keluar dari ruang latihan, menyusuri koridor. Mendekat tangga besar menuju lantai bawah, sedikitnya tiga wanita menghadang Cakra. Baju ketat garis-garis hitam-putih horisontal dan topeng aneh yang mereka kenakan menunjukkan inilah pasukan pendekar gaib yang disebut leak.
Tak mau tersusul Okkult, Cakra berseru, “Minggir!” Dengan satu kibasan tangannya dan entakan kakinya, ia menepis dan menerobos para leak dan terbang di langit-langit. Rupanya ia sudah tiba di balairung utama. Inilah ruangan terbesar dalam rumah tua ini, tingginya dua tingkat dan cukup luas untuk pesta dansa ala Eropa, yang sangat mungkin dulu sering diadakan di sini.
Cakra menoleh ke bawah, melihat Rangda si mantan Ratu Leak dan Reog, Pendekar Angin Hitam sedang dikeroyok pasukan gabungan leak dan warok, lebih rincinya para wanita bertopeng dan pria berkulit merah. Di antara para pengeroyok tampak pula seorang pria bertudung dan bertubuh amat tinggi-besar. “Gangren,” desis Cakra, mengenali lawan lamanya.
Saat Cakra menghimpun prana untuk membantu kedua rekannay itu, tiba-tiba desir prana dahsyat nyaris menyerempetnya. Cakra menoleh, melihat Okkult berhasil menyusulnya.
“Mau membantu mereka? Tak semudah itu, bung!” si kuntilanak hidup menyambar ke arah Cakra dengan kuku beracunnya.
Refleks, Cakra terbang menghindar. Selanjutnya, ia menghimpun prana sambil terus mengelak dari serangan beruntun lawan. Di pertarungan keduanya melawan Okkult ini, Cakra harus memikirkan variasi serangan yang belum pernah ia gunakan pada lawan tangguh manapun. Satu-satunya pilihan adalah jurus pamungkas Mandala Semesta Darah, yang bila dilepaskan pasti bakal menguras prananya. Masalahnya, haruskah ia melakukan pertaruhan hidup-mati ini?
“Terbang menghindar terus seperti pengecut, kutantang kau adu jurus, adu nyawa!” seru Okkult, mendadak berhenti menembak lalu melayang saja, mengumpulkan prana.
Okkult suka pura-pura diam lalu mencuri serang bila lawan terpancing tipuannya. Memahaminya lewat pengalaman, Cakra mengambil jarak yang cukup jauh dulu baru melayang, menyiapkan jurus sambil berhadap-hadapan dengan lawan.
“Suka tipuan baruku?” Dalam sekejap mata, sosok Okkult di hadapan Cakra menghilang, berganti posisi tepat di belakang Cakra. Belum habis kalimat tuturannya, wanita amat licik itu menghunjamkan kuku maut beracunnya ke punggung bawah Cakra.
Namun aneh, kuku-kuku Okkult malah membentur sebuah benda keras. Itulah Keris Cakra Sudarsana, dengan roh Mpu Gandring yang bersemayam di dalamnya secara refleks muncul di tangan Cakra, menyelamatkan sang pewaris dengan amat tepat waktu.
“Kaukira hanya kau yang bisa pakai tipuan? Saatnya potong kuku!” Cakra mendemonstrasikan ketajaman kerisnya, mengayunkannya sekuat tenaga hingga mematahkan kuku-kuku Okkult tanpa ampun. Entah sampai kapan kuku-kuku itu akan kembali panjang dan bisa digunakan lagi. Setidaknya kini Okkult takkan keracunan bila menggaruk badan karena kegatalan.
“Aargh! Laknat kau, Cakra!” Gelap mata, Okkult menghunjamkan tangan kedua.
__ADS_1