ADILAGA

ADILAGA
HIMA 1


__ADS_3

Walau sudah berkali-kali membulatkan tekad untuk tak lagi menginjakkan kaki di lereng Gunung Semeru, Gilang Kandaka tak dapat lagi menahan godaan untuk kembali ke tempat ini.


Kaki-kaki si mahasiswa tingkat akhir itu pernah menjejak Puncak Mahameru, 3676 meter di atas permukaan laut. Tak ada alasan untuk mengulangi prestasi yang sama di tempat yang sama pula.


Yang sesungguhnya dicari oleh Gilang adalah sesosok arca batu sebesar manusia berbentuk seperti jin atau raksasa. Arca itu tampak memanggul sebuah gada, kedua matanya membulat dan taring-taring besar mencuat dari ujung-ujung mulutnya yang lebar. Seakan terlindung keteduhan pohon-pohon di sekitarnya, arca ini telah berdiri berabad-abad, seolah-olah terus menjaga kelestarian lingkungan gunung ini.


Setelah yakin tak ada seorangpun di sekitar, Gilang berdiri tepat berhadapan dengan arca itu. “Gilang Kandaka datang, wahai Himawari.”


Tak ada jawaban.


“Gilang Kandaka datang, wahai Himawari.”


Masih tak ada jawaban.


Ingin rasanya Gilang berbalik pergi saja. Namun ia tetap berdiri, menunggu tanggapan si “penunggu arca”. Pemuda itu terus saja mematung, keringatnya bercucuran di bawah matahari. Apakah ini semacam ujian untuk mengukur kesadarannya? Atau si Himawari ini memendam murka mendalam pada Gilang atau sudah tak ada lagi di bumi?


Gilang harus mendapat kepastian tentang ini sebelum memutuskan untuk pergi dengan tangan hampa. Kalau perlu, ia takkan segan-segan menghancurkan benda peninggalan budaya yang bersejarah ini dan meringkuk dalam penjara. Gilang jelas-jelas tahu, “kepastian” itu ada dalam arca ini.


Setelah menunggu beberapa lama lagi, akal sehat menggerakkan Gilang untuk berbalik dan melangkah pergi.


Namun tiba-tiba sebuah suara merasuki benak pria muda itu. Beraninya kau datang lagi dan mengganggu tidur panjangku. Apa kau sudah bosan hidup, hah? Gilang Kandaka?


Gilang diam seribu bahasa, tak sudi menjawab pertanyaan “sobat lama”-nya itu.


Hng, mau main-main denganku, hah? Aku, Himawari, Jin Es Abadi tak terima itu!


Gilang tetap diam.


Dasar bodoh! Kalau kau tak mau menjawab, berarti kau minta mati! Kululuskan itu dengan senang hati! Sambil mengatakannya, Himawari menampakkan wujud bayangannya, yaitu sesosok jin bertubuh amat kekar dan seluruhnya berkilap laksana kristal biru-kehijauan. Satu lengannya membentuk sebuah pedang berbilah panjang.

__ADS_1


Himawari menghunjamkan pedang itu tepat ke arah jantung Gilang. Gilanya, Gilang tak bergerak sedikitpun. Sang jin tepat waktu menghentikan aksinya, ujung pedang mengancam kira-kira satu sentimeter dari dada si sasaran.


“Huh, rupanya kau lebih memilih mati daripada meladeni gertakanku. Baik, katakan apa maumu.”


Gilang, yang mengenal Himawari dua tahun yang lalu baru bicara setelah sang jin membuka celah menembus tembok keangkuhannya. “Silakan terawangi ingatanku, dan kau akan tahu.”


“Huh, mantan majikan yang merepotkan.” Menggerutu, Himawari melakukan suruhan Gilang.


Serangkaian citra berkelebat bagai film di benak sang jin. Mulai dari hilangnya Leony, usaha Gilang mencari kekasihnya itu dengan bantuan Julia dan Brian.


Perjumpaan mereka dengan Nyi Roro Kidul.


Brian menjadi pewaris Taruna dan menghilang setelah menghasil meredam bencana alam.


Gilang dan Julia jadi sepasang kekasih. Namun diam-diam Gilang memendam rasa tak puas. Pasalnya, tanpa kekuatan super, ia hanya jadi pembantu. Tak lebih dari pendukung bagi Julia, si pewaris Roro Jonggrang dan Zirah Dahlia.


Apalagi dengan kembalinya Brian dari “kematian” dan sepak terjangnya sebagai Taruna, menjadikannya anggota Liga Adilaga yang paling terkenal. Masalah tergawatnya, kini Julia dan Brian lebih sering ditugaskan bersama-sama sebagai satu tim. Akibatnya, hubungan Julia dan Gilang jadi terasa renggang, makin jarang bertemu dan menghabiskan waktu bersama.


Dengan kata lain, Julia telah selingkuh dengan Brian.


Karena itulah, entah karena cemburu, dendam atau keinginan untuk menggali jati dirinya sendiri, Gilang datang lagi di hadapan makhluk yang pernah membimbing sekaligus memperdayainya ini. Apapun yang ia bakal dapatkan, bisa jadi hingga sekedar petunjuk bahkan penolakan, akan sangat membantu Gilang untuk menentukan langkah-langkah ke depan.


Selesai menerawang, Jin Himawari tertunduk dalam diam. Dengan sabar pula Gilang berdiri siaga. Ia tahu tadi Hima hanya menggertak saja, tapi serangan berikutnya bisa jadi mencabut nyawa.


Masih tertunduk, si jin kristal bicara, “Terima kasih, Gilang Kandaka.”


“Untuk apa?” tanya Gilang.


“Mengungkapkan isi hatimu yang sebenarnya padaku. Sebenarnya kau masih was-was apakah aku masih Himawari yang dulu, yang menghalalkan segala cara, memperalat dan menipu pewarisnya, demi membalas kekalahannya dan penghinaan dari Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.”

__ADS_1


“Jadi, apa kau masih Himawari yang seperti itu?”


Bayangan Himawari menggeleng. “Saat akhirnya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso bersatu dalam keabadian, aku sadar ‘kemenangan’ dan ‘kepuasan’ yang kudapat ternyata sia-sia belaka. Justru sukacita yang kurasakan rupanya timbul karena aku telah menolong orang-orang lain. Jadi kebahagiaan Jonggrang dan Bondowoso adalah kebahagiaanku pula.”


“Jadi, karena itukah kau memutuskan untuk kembali menyepi, menata kembali segala pemikiran dan pandanganmu? Bilamana kau siap lagi suatu hari nanti, kau akan ‘memanggil’ calon yang kauanggap mampu mengemban warisanmu, seperti halnya roh Bandung Bondowoso memanggil diriku dulu.” Gilang mengenang.


Hima terdiam sejenak, lalu kembali bertutur, “Semua katamu itu tepat, kecuali satu hal. Aku merasa belum menemukan jati diri dan peranku, aku belum siap. Karena itulah aku diam saja saat kaupanggil tadi.”


Kata-kata itu malah memantik gagasan Gilang. Ujarnya, “Justru cara terbaik untuk menemukan jati dirimu adalah lewat kerjasama dengan seorang mitra, dan aku akan membantumu. Dengan begitu, kau akan dihormati dan dikagumi khalayak ramai sebagai pahlawan sakti.”


Hima terpaku, benaknya tengah mencerna segala kebenaran dari ucapan Gilang itu.


Melihat keraguan masih tersirat di raut wajah si jin es, Gilang menambahkan satu “pukulan pamungkas”. “Lagipula, hanya aku dan Julia yang tahu perihal hubunganmu dengan Legenda Roro Jonggrang. Seiring waktu, jasa-jasamu akan jauh lebih besar daripada kesalahanmu di masa lalu. Jadi, kutanya untuk terakhir kali, maukah kau menjadi mitraku sekali lagi?”


Hima tak menjawab. Bayangannya seakan mematung beberapa lama, lalu menghilang. Sikapnya itu tentu dianggap sebuah penolakan oleh siapapun. Termasuk Gilang, yang akhirnya menggeleng dan berbalik untuk pergi.


Namun tiba-tiba Gilang mendengar suara batu yang bergeser dan kembali menoleh. Benar saja, bagian rahang arca batu itu menganga amat lebar secara gaib. Tanpa pikir panjang ia lari, mengulurkan tangannya masuk ke mulut itu, lalu cepat-cepat menariknya keluar kembali. Hampir bersamaan, rahang arca itu kembali mengatup. Terlambat sedetik saja, satu tangan Gilang pasti hilang.


Kenyataannya, tangan itu masih utuh di tempatnya, dan kini menggenggam sebentuk kalung. Itulah Kalung Sakti Himawari, berliontin biru-kehijauan berbentuk sekeping kristal es. Kalung inilah yang pernah ditemukan, lalu dikembalikan lagi oleh Gilang dalam arca penjaga Semeru ini.


Untuk memastikan jawaban Hima yang sesungguhnya, Gilang mengenakan kalung kristal, mengerahkan prana es yang sudah lama tersimpan dalam tubuhnya sendiri dan memusatkannya di ulu hati. Alhasil kalung itu berpendar, memancarkan hawa es yang seketika membungkus Gilang dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Sesaat kemudian, hawa es sirna, meninggalkan Gilang dalam penampilan yang sama sekali beda. Seluruh tubuhnya berbalut kostum ketat dari leher sampai ujung kaki. Lengkap pula dengan topeng yang membungkus seluruh kepala dan wajahnya. Hima, si Pendekar Es Abadi telah tampil kembali, walau dalam keadaan menyendiri.


Pola kristal biru-hijau kembali menyorot dan menampilkan citra Jin Himawari. Seakan belum menanggalkan seluruh keangkuhannya, ia berdiri tegak berpangku tangan. Namun kata-katanya amat lembut dan sopan. “Nah, coba apa kau masih ingat jurus-jurus ajaranku yang dulu…”


 


__ADS_1


HIMA New Costume Design Concept


__ADS_2