
“He-eh, tak usah banyak tanya,” jawab Stickler, zat kenyal kembali terhimpun dan terserap di tubuh dan tangannya saat ia menghimpun tenaga. “Pedang telah disingkirkan, kini giliran pemiliknya.”
The Stickler, atau siapapun identitas aslinya tak mengenal Gilang, jadi takkan ragu mencelakai Hima. Apalagi Taruna masih terkapar tak berdaya. Terpaksa benak Gilang berteriak, Itu lem! Kekuatan super The Stickler menjadikannya perekat yang berbahaya! Kalau sampai terkurung lem super itu, kita berdua pasti celaka!
Himawari sibuk pula menghimpun tenaga. Jawabnya dalam hati, Kau benar, Gilang. Kalau begitu kita lihat siapa yang bakal terkurung lebih dahulu. Dengan kata lain, ia berniat mengerahkan jurus pamungkas, Beku Mutlak Penjara Dewata.
Di sisi lain, The Stickler memusatkan energi lem super di satu telapaknya. “Hima, ya, aku sudah diberitahu siapa dirimu. Sadarlah, kau telah memilih pihak yang salah. Kalau aku tak menghentikanmu sekarang, cepat atau lambat mereka pasti bakal menjegalmu pula. Para pemuja kekuatan seperti Liga Angkara Murca tak terhormat, tak bisa dipercaya!”
“Huh! Memangnya kau pikir aku bakal percaya hanya pada kata-katamu saja, hei tukang tempel!? Justru lewat kekuatanlah kejayaan dapat diraih! Falsafah Liga Adilaga, yaitu melindungi yang lemah berlandaskan cinta kasih tak berarti dibanding Angkara Murca, bagai semut dengan gajah!”
“Justru kenyataannya, semut mampu membunuh gajah lewat kerjasama. Baik, kalau itu maumu, biar kita buktikan kebenarannya lewat gebrakan ini!” Sambil berteriak penuh semangat, The Stickler melesat maju.
Himapun maju dengan tinju berpendar, siapapun yang terkena pasti berharap lebih baik dibakar api neraka. Saat masuk jarak pukul, ia melakukan pukulan lurus ala pencak silat. Stickler menyambut dengan telapak lemnya, namun tiba-tiba Hima menarik kembali tinjunya. Stickler tertipu, dan Hima meliukkan tubuh untuk memasukkan pukulan dari samping.
Dengan amat gesit, The Stickler berjongkok, kedua tangannya terjulur dan… mencengkeram kedua paha Hima. Sama cepatnya pula cairan lem merambat dari paha hingga ke ujung kaki. Tentunya paling banyak ada di ujugn kakinya, seakan merekatkan Hima di satu tempat.
“Sial! Lepaskan aku!” Entah nekad atau panik, Hima malah meninju pundak The Stickler. Energi es pamungkas mengalir deras ke seluruh tubuh lawan. Alhasil, bukan hanya tubuh The Stickler saja, lem cair yang berlumuran di kaki Himapun membeku. Makin sulitlah Hima lolos dari “belenggu abadi” ini.
Sungguh, tindakan Hima tadi adalah kesalahan yang amat fatal. Kalau sampai The Stickler mati beku, Taruna, Dahlia dan para agen Adilaga takkan mengampuni Hima. Jadi Hima harus bebas dari es berperekat ini, tapi apa akal?
Saat itu pula, di depannya tampak Warok Digdaya tengah menghadapi dua lawan sekaligus, yaitu Taruna dan Dahlia. Himawari mendapat akal, lalu berteriak, “Warok Digdaya, bebaskan aku! Kita hadapi Dahlia dan Taruna bersama-sama!”
Warok Digdaya menatap Hima sekilas dari sudut matanya, lalu berseru, “Tolong saja dirimu sendiri, bung! Biar aku yang bereskan mereka berdua, maka seluruh jasa akan jadi milikku saja!”
Kata-kata sang rekan itu menyambar hati nurani Hima, tepatnya Jin Himawari bagai petir di siang bolong. Entah mengapa, rasa ketakutan mulai menjalari dirinya. Bisa saja sewaktu-waktu ada agen yang melihat keadaan Hima dan mengambil kesempatan untuk menghabisinya.
Kekuatiran Hima tampak jadi nyata, atau lebih parah lagi, tatkala Dahlia memisahkan diri dari pertarungan dan menghampiri dua pendekar yang terbelenggu itu. Saat sudah cukup dekat, Dahlia baru berkata, “Bebaskan The Stickler, dan ia akan membebaskanmu pula.”
“Huh, kaupikir aku bakal percaya itu? Sudahlah, habisi saja aku, dan biar si manusia lem pecundang ini mati kehabisan napas gara-gara kebodohannya sendiri,” hardik Hima.
__ADS_1
“Tanya Gilang,” tanggap Dahlia dengan tenang. “Dia tahu kami takkan membiarkan teman-teman kami celaka. Bahkan lawan pula, bila masih ada nurani dalam dirinya.”
“Tapi mengapa? Bukankah dengan tersingkirnya lawan dan saingan, kau akan jadi yang terkuat?”
Dahlia menggeleng. “Di Liga Adilaga, seseorang dihargai bukan karena kekuatannya, melainkan hatinya. Termasuk pula kemampuannya bekerjasama, melindungi yang lemah, menegakkan keadilan dan kebenaran, serta menangani masalah dengan bijaksana. Gilang mengajakmu bermitra dengannya lagi karena ia ingin menyumbangkan lebih banyak kebaikan bagi dunia lewat Adilaga. Harus kuakui, kau memang sangat kuat, Himawari. Dan kau akan lebih kuat lagi dengan bantuan para rekan dan sahabat di Adilaga dan induk organisasinya, I.N.D.I.G.O.”
“Heh, Himawari ini bukan bodoh. Aku masih bisa menilai situasi dan segala pilihan yang ada. Daripada aku yang tak percaya kata-kata ini bertanya padanya, kurasa sebaiknya Gilang kembali pegang kendali raganya dan juga kekuatan gaib Hima. Biar dia buktikan padaku apakah keyakinannya itu benar… Atau kami lagi-lagi terjebak jaring si pengkhianat.” Selesai mengatakannya, tubuh atas Hima bergetar hebat, meliuk-liuk aneh seperti orang kesurupan.
Beberapa saat kemudian, Hima berhenti bergerak dan tertunduk. Lantas ia bicara dengan nada dan gaya yang amat berbeda dari sebelumnya, “Terima kasih, guru. Inilah bukti baktiku padamu.”
Gilang dalam diri Hima lantas mengambil napas dalam-dalam, mengerahkan ilmu menghimpun prana. Kali ini, yang diserapnya adalah prana es Beku Mutlak Prana Dewata yang memerangkap The Stickler. Dengan perlahan namun pasti prana es mengalir kembali lewat kepalan yang menyatu, juga secara langsung ke tubuh Hima.
Bahkan lem The Sticklerpun ikut luruh, seluruhnya telah menjadi es padat yang kini sirna. Yang pasti, prana es Hima tak lantas jadi bersifat lem mulai sekarang.
Saat bebas dari kungkungan es, The Stickler meraung geram. “Habis kau, Himaa!” dan mengayunkan tinjunya lagi. Namun tangan Dahlia bergerak dengan ilmu kung fu, mengunci gerakan rekannya.
“Tahan, Stickler!” seru Dahlia. “Hima teman kami, dan kini dia di pihak kita. Hima telah membebaskanmu dari resiko mati lemas dalam penjara esnya.”
“Enak saja! Jangan percaya dia, Dahlia! Hima ini sangat licik, mungkin ini salah satu siasatnya saja!” sergah The Stickler.
The Stickler menghardik, “Ya! Bogem mentahku pasti mendarat di mulut siapapun yang memanggilku ‘Sticky’!”
“Ya sudah, ya sudah!” sahut Hima dengan gaya bicara Gilang. “Ayo Stinky, kita bantu teman-teman kita…!”
“Hei, namaku Stickler! The Stickler…!” Tiba-tiba si manusia lem roboh di tanah, seluruh kekuatannya serasa sirna.
“Wah, maaf, mungkin kekuatanmu terserap terlalu banyak olehku tadi,” ujar Hima.
“Sudahlah…! Cepat, bantu Taruna! Tampaknya dia terdesak!” seru The Stickler sambil menunjuk ke satu arah.
Hima dan Dahlia bergegas ke arah yang ditunjuk. Benar, tampak Taruna sedang kewalahan menghadapi lawan baru, bukan si Warok Digdaya.
__ADS_1
Kostum si lawan baru itu tampak berbeda, semacam zirah berwarna coklat yang melapisi pakaian ketat berwarna jingga berloreng-loreng coklat seperti bola bulu harimau. Sosok itu mengenakan topeng jingga berloreng-loreng coklat yang menutupi seluruh wajahnya, menebar ancaman nan buas ke setiap lawannya.
Yang paling mengerikan tentu adalah kekuatan orang ini. Tubuh besar nan kekar seukuran Warok Digdaya itu mampu bergerak cepat, kuat dan lembut sekaligus.
Taruna yang tenaganya terkuras setelah menghadapi dua lawan tangguh hanya bisa mati-matian bertahan. Bila sebelumnya hantaman Warok Digdaya membuatnya mundur dua langkah, tiap pukulan makhluk coklat-jingga ini selalu membuat Taruna nyaris jatuh tersuruk.
Menyadari situasi ini, Dahlia berseru, “Jangan hadapi lawan! Amankan Taruna dulu!”
Sayangnya, Hima yang sedang penuh energi malah terus maju, menerjang di antara kedua manusia super yang sedang bertarung sengit itu. Dalam hitungan detik, ia menepis tinju gemulai si besar, mendorong Taruna menjauh dari lawan dan bergabung dengan Dahlia.
Sekilas, si topeng loreng terpana. Ia lantas menunjuk lurus dan menghardik, “Jahanam! Kau mau berkhianat, Hima!?”
“Kau dan Angkara Murca sudah lebih dahulu mengkhianatiku, Warok Tua!” sahut Hima, berasumsi bahwa si zirah coklat ini adalah salah satu wujud mantan rekannya itu. “Dahlia dan The Stickler telah menyelamatkanku, merekalah sahabat sesungguhnya!”
“Cih! Sudah kuduga, kau ini sangat lemah, Hima! Tak pantas kau bergabung di Angkara Murca dan jadi rekanku! Tapi tak apa, wujud terkuatku, Singabarong sudah cukup untuk melumat tiga cacing seperti kalian!”
Dahlia, yang paling lama bergabung di Adilaga di antara tiga sekawan ini berseru, memperingatkan rekan-rekannya, “Awas! Raja Satwa Siluman, Singabarong pernah menghadapi tiga pendekar super sekaligus, Reog, Rangda dan Barong! Hati-hati dengan kombinasi jurus bersifat keras dan lembutnya!”
Di saat bersamaan, dua warok yang kekar dan besar baru saja menumbangkan empat lawan sekaligus, lalu langsung bergabung dengan Singabarong sambil berseru, “Biar kami bantu, guru!”
“Baik!” jawab Singabarong. “Kalian lihat, kedua muridku ini kuat, lebih pantas di Angkara Murca daripada kalian bertiga!”
Taruna balas bersilat lidah, “Hei, hei, justru kami tak suka dibantu saat sedang kuat saja dan ditinggal saat terdesak! Ayo Hima, Dahlia, kita tunjukkan kekuatan sejati dari persahabatan!”
“Ya!” Tiga sekawan pahlawan super lantas maju ke arah para musuh. Taruna dan Dahlia mengincar kedua warok, sementara Hima yang paling penuh prananya menghadapi Singabarong.
Tanpa banyak bicara, tanpa memberi sedikitpun kesempatan, Hima melesatkan pukulan sarat prana Tapak Es Himawari. Singabarong menghindar dan balas mengayunkan cakar dengan energi Harimau Perkasa yang bersifat keras.
Di luar dugaan, Hima mengelak dengan langkah-langkah lincah pencak silat, lalu menyarangkan tendangan sarat energi di rusuk lawan. Singabarong mengaduh. Rasa sakit bercampur dingin merasuk tulang ini sangat asing baginya.
“Lihat caraku mengatasi kecepatanmu! Hah!” Singabarong lantas bergerak bagai menari, nyaris gemulai. Inilah jurus Merak Kencana. Sepasang telapak tangan bergerak gemulai bagai burung merak, membentangkan ekor dan sayapnya yang indah, kaki-kakinya melangkah lincah.
__ADS_1
Hujan tinju dan tendangan Hima seakan hanya membelai udara. Sebaliknya, begitu Hima salah langkah, Singabarong telah menempatkan diri di baliknya, pertahanan Hima terbuka lebar. Maka, si siluman harimau-merak mendaratkan satu tapak di punggung Hima dengan gerakan seperti satu sentuhan lembut. Dari pukulan itu timbul rasa bagai ledakan dalam tubuh lawan. Saat Singabarong menarik telapaknya, Hima terpaku sejenak lalu jatuh berlutut.
“Hah, pahlawan super apaan!?” ejek Singabarong. “Baguslah pecundang sepertimu enyah dari Angkara Murca! Sekarang, mewakili tuanku, kujatuhi kau hukuman mati!”