
Namun pengorbanan luar biasa itu memberikan hasil setimpal. Sejauh mata memandang, tampak para pahlawan Adilaga terkapar tanpa bisa bangkit, berserakan di seantero medan laga.
“Hahaha! Sudah kubilang, segala kekuatan di alam raya ini takkan mampu menandingi keilahianku!” Murca Deva berseru lantang. “Nah, kalian semua sudah jadi sampah, saatnya dimusnahkan!”
Sebentuk bola energi cahaya berpendar di antara dua telapak tangan Murca Deva yang membentuk bunga teratai merekah. “Selamat jalan untuk selamanya, Adilaga!”
“Masih ada aku!” seru Cakra yang melayang bebas di udara, dalam areal perut Gunung Sadahurip yang amat luas itu. Tentu saja Murca Deva menoleh ke arah Cakra dan berseru balik, “Oh ya! Tentu saja, si pewaris biang pengacau bebuyutan, Mpu Gandring! Biar kumusnahkan dulu duri dalam daging ini!” Murca Deva seketika mengalihkan bidikan tangannya ke arah Cakra. Lalu ia menembakkan sinar putih berkekuatan penuh seperti meriam, yang mampu melumat “orang biasa” yang diterpanya.
Bukan menghindar, Cakra malah menukik dari udara, menyambut serangan itu secara frontal. Ia lantas memusatkan seluruh prana pamungkasnya, Mandala Semesta Darah ke satu titik, yaitu ujung Keris Cakra Sudarsana warisan Mpu Gandring.
Keris itu teracung lurus, tubuh pemiliknyapun meluncur lurus hingga tampak dari jauh seperti anak panah halilintar merah, bentuk sejati Cakra Sudarsana. Ujung anak panah merah itu lantas membelah larik cahaya putih yang tampaknya lebih tebal, bagai ujung anak panah membelah ujung tongkat kayu. Larik putih jadi terpencar-buyar, walau ada pula yang masih tersisa dan melukai si pengerah larik merah.
Namun, laju sosok panah merah tak surut, malah makin cepat.
Akhirnya, panah merah itu menghunjam hingga tembus di balik punggung si Dewa Siluman Ular, Murca Deva.
Ketiga mata hitam Murca Deva terbelalak. “Ahkk! M-mustahil! Bagaimana bisa…? Ragaku ini, wujudku… wujud dewa! Kekuatan satu orang saja… tak mungkin menembus… pertahanan pranaku yang berlapis-lapis!”
Seketika itu pula prana merah sirna, berganti pemandangan Cakra yang telah membenamkan bilah kerisnya di belahan tengah dada Sang Dewa Ular.
“Justru karena kau punya raga, darah-daging duniawi, kau bukan dewa sejati,” sanggah Cakra. “Seabadi apapun usia, raga tetap raga, unsur duniawi yang masih bisa dirusak dan dibunuh. Darahmu yang tercurah ini, jantungmu yang tertembus ini adalah bukti alami tak terbantahkan.”
Seluruh kekuatan dewa Murca sirna sudah. Bahkan menghalau Cakrapun ia tak kuasa. Tak ada gunanya berdebat, toh ia harus takluk, tak bisa lepas dari takdir yang membelenggunya kini. Takdir yang lahir dari kehendak mutlak Yang Maha Kuasa atas alam semesta.
__ADS_1
Baru pula Murca menyadari satu kenyataan lain. Selama keabadiannya ini ia selalu bersembunyi dari takdir sejatinya. Andai Murca tampil menantang takdir bertahun-tahun, bahkan berabad-abad silam, kekuatan-kekuatan setara Adilaga pasti bangkit saat itu pula, membawa Murca pada takdir sejatinya yang takkan lebih dari setipis kertas jaraknya dari takdirnya sekarang ini.
Namun, masih ada satu ganjalan hati yang harus diungkap si biang angkara. “Heh, aku tak habis pikir, mengapa kau, Cakra tak kuasa menghabisiku pada pertarungan terdahulu?”
“Itu karena kali ini, aku mendapat asupan prana dari ketujuh rekan Adilaga lainnya,” jawab Cakra. “Saat dalam formasi, kami saling menguatkan rekan-rekan kami dengan tenaga dalam. Karena mereka tahu aku memiliki ‘kunci’ kelemahan utamamu, mereka menyalurkan separuh prana pamungkas masing-masing padaku, dan menggempurmu hanya dengan separuh tenaga.”
Murca terperangah. Kekuatan masing-masing anggota Adilaga sudah kalah di Tahap Iblis Hitam. Jadi para pahlawan super itu mustahil mengulangi kesalahan yang sama dan mempertaruhkan segalanya di tangan satu orang saja, yaitu Cakra.
Murca Deva menghela napas. “Ah, kekuatan takdir sungguh tiada bandingnya.” Dengan sisa tenaganya, ia malah menggenggam telapak tangan Cakra, lalu mencabut paksa bilah keris dari dadanya. “Ah, kejadian itu terulang lagi, memutar-balik nasibku sekali lagi.”
Darah hitam bercucuran tiada henti. Si dewa ular roboh, bersandar pada patahan raksasa yang semula adalah arca Nyi Blorong, Sang Ratu Ular. Murca Deva pasti mati dalam hitungan menit.
Namun jiwa Ken Arok meneriakkan kesesakan hatinya lewat mulut di raga sekarat itu, “Tapi… aku tak boleh mati! Aku pasti masuk neraka, padahal Ken Dedes tengah menungguku di Nirwana! Kumohon, wahai penentu takdirku, walau aku tak mungkin lagi bersama belahan jiwaku dalam kehidupan abadi di dunia, jangan pisahkan kami lagi! Jiwa Dedes pasti akan tersiksa selamanya! Ia pasti akan meminta pindah ke neraka, tapi mustahil Yang Maha Kuasa mengubah ketetapanNya! Keberadaannya di Nirwana akan jauh lebih menyiksa dirinya sendiri daripada di neraka!”
Tiba-tiba sebuah suara menyela, “Masih ada harapan bagi kita, Ken Arok.”
Wanita yang ia maksud ternyata masih mewujud sebagai bayangan roh di samping Rangda. Rupanya Ken Dedes tadi pura-pura “pindah dunia”. Aura Rangda sengaja “membungkus” aura Ken Dedes, menyembunyikannya dari terawangan Ken Arok.
Kini, segala kebenaran terungkap, setelah Ken Arok mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya dan tumbang oleh takdir Yang Maha Kuasa. Kesadaran yang datang setelahnya pastilah terlambat, kalau bukan karena kemunculan kembali sang tumpuan segala harapan ini.
Apalagi saat Ken Dedes menyunggingkan senyum yang konon bisa membuat semua bidadari Kahyangan tersipu malu. Ia menyampaikan pesan, “Ya, ini aku, Arok. Sebenarnya, selama masa kesunyian dalam arca Nyi Blorong, sesosok makhluk berwujud manusia bersayap, berpakaian serba putih dan tubuhnya bercahaya mendatangiku. Ia mengaku utusan Sang Maha Kuasa, datang memberiku pengampunan atas tindakan bunuh diri pengorbanan yang telah kulakukan, dan mengajakku tinggal di Nirwana.”
Para pendengar terhenyak. Mungkin saja pengampunan itu datang setelah ratusan tahun arwah bertapa. Ini anugerah Yang Maha Kuasa yang amat langka, nyaris tak pernah dialami siapapun yang mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.
__ADS_1
Arwah Ken Dedes melanjutkan, “Namun aku memohon agar setidaknya aku bisa berusaha mengajakmu besertaku, Ken Arok, cintaku. Seperti yang kukatakan tadi, mana mungkin jiwaku tenang di Nirwana tanpa jiwamu menemaniku di sana? Mungkin aku ini bodoh, tapi setidaknya aku mengerti kau pasti masuk neraka akibat segala sepak-terjangmu. Aku bunuh diri, berharap menemanimu di neraka, tapi jiwaku malah terpenjara dalam arca. Aku juga tak tahu bahwa ambisimu pasti menghalangimu untuk melihat celah jalan sempit menuju surga. Jadi maaf, hanya inilah satu-satunya yang dapat kulakukan untuk menarikmu kembali pada cahaya.”
“J-jadi, walaupun aku tak bisa lagi hidup abadi di dunia ini… Aku masih bisa… mendampingimu di Nirwana… Ken Dedes?” Suara Ken Arok makin lemah, seiring darah hitam yang membanjir di bawah tubuh dewanya, bahkan bercampur dengan aliran air di parit-parit.
Ken Dedes mengangguk. “Ya, mari berangkat.” Ia mengulurkan tangannya. Anehnya, citra Ken Arok masih terpaku di tempatnya.
“Ayo, tunggu apa lagi? Tenang saja, bahkan Anusapati, Tohjaya, Ken Umang dan Tunggul Ametungpun telah memaafkanmu dan sedang menunggumu di sana.”
Arok sekilas menengok ke belakang, ke tubuh rusak sang “dewa” yang telah menyesatkannya selama ini. Dengan berat hati ia berbalik, lalu melangkah amat lamban, mencoba melepaskan belenggu keraguan terakhir dari hatinya.
Pada akhirnya, setelah berabad-abad terpisah tangan dua sejati pengukir sejarah Nusantara itu kembali bersambutan. Ken Arok dan Ken Dedes berpelukan mesra, lalu bergandengan tangan lagi menuju seberkas cahaya yang muncul tiba-tiba di kejauhan.
Tiba-tiba roh Ken Arok menghentikan langkahnya. Cakra dan yang lainnya terkesiap dan berusaha bangkit berdiri. Namun Arok hanya berbalik saja dan berkata, “Terima kasih, para pendekar Adilaga. Berkat kalian, kini aku menemukan kebahagiaan dan arti hidupku yang sejati. Sekarang, cepatlah kalian keluar dari candi terkutuk ini! Raga Sang Dewa Ular tak lagi sanggup menampung sisa parananya dan akan meledak dahsyat dalam hitungan menit! Sekali lagi, terima kasih dan selamat tinggal!”
Tak perlu dikomando, Cakra dan semua anggota Adilaga lainnya bergegas keluar dari ruangan pusat Candi Blorong ini. Karena semua terluka, mereka saling memapah, bahu-membahu menuju keselamatan sampai jauh di luar lereng Gunung Sadahurip.
Firasat mendorong Cakra untuk sejenak menoleh ke belakang. Tampak olehnya bukan dua, melainkan tiga arwah manusia yang bergandengan tangan memasuki cahaya kemuliaan. Selain Ken Arok dan Ken Dedes yang tersenyum bahagia, Cakra juga kenal betul si “sosok ketiga” itu.
Sambil memapah Hima, Cakra menoleh kembali ke pintu keluar.
Teriring sepenggal kata yang terbit dari dalam benaknya.
Selamat beristirahat dalam damai Mpu Gandring, guruku yang baik.
__ADS_1