ADILAGA

ADILAGA
REOG 3


__ADS_3


Setelah lari-lari dari halte dan bertanya sana-sini, sampailah Bondan di tempat tujuannya. Mandi keringat dan terengah-engah, ia melangkah ke dalam sebuah kafe pinggir jalan di bilangan Blok M, Jakarta Selatan.


Bondan menoleh kiri-kanan, lalu menghampiri seorang wanita yang duduk sendirian dekat jendela. Wanita berparas ayu itu tampak mengenakan blus putih yang dibalut blazer biru tua serta celana blue jeans yang agak ketat. Satu kakinya bersandar di atas paha, sepatu botnya tampak tetap gaya meskipun sering dipakai berjalan dan berlari di segala medan. Wanita itu menoleh, menatap Bondan lewat kacamatanya dengan mata indah penuh selidik.


Tak sengaja tatapan Bondan tertuju pada sebentuk cincin batu mirah di jari manis kiri wanita itu. Cincin itu tampak antik, permatanya berkilau merata diterpa cahaya dari luar.


“P… permisi, Mbak Rania Giselda?” tanya Bondan. Walau ciri-ciri wanita itu persis seperti Rania yang di tayangan televisi, lebih sopan bertanya daripada berlagak sok tahu.


“Ya. Kamu Bondan Prasetyo?” Rania mendelik.


Bondan mengangguk.


“Kamu terlambat,” cerca Rania dengan nada dingin. “Untung saya belum sampai bosan menunggu, lalu pergi ke rumahmu membawa Surat Perintah Penangkapan.”


Kali ini Bondan menelan ludah.


Sikap pemuda itu membuat Rania menghela napas dan berkata, “Ya sudah, duduklah.” Ia sengaja menunjuk ke kursi yang menghadap ke arahnya, dan Bondan menurut saja.


Dengan anggun Rania menghirup Iced Hazelnut Latte-nya. Lalu ujarnya, “Nah, Bondan, saya detektif yang khusus disewa untuk mengusut kasus pencurian Topeng Reog ini. Dan saya perlu bicara denganmu.”


“Saya sudah tahu beritanya. Tapi, apa hubungan saya dengan kasus itu?”


“Kamu adalah tersangka utamanya, Bondan.”


Mata Bondan terbelalak bagai disambar petir. “Saya? Yang benar saja, mbak! Kalau saya pencurinya, saya pasti sudah sembunyi!”


“Bicara saja mudah,” ujar Rania. “Tapi untuk meyakinkan yang berwajib, kita butuh bukti. Data dari museum menunjukkan namamu tercantum di daftar tamu hampir tiap hari selama dua minggu belakangan ini.”


“Ya, saya memang meneliti Topeng Reog untuk bahan skripsi kuliah arkeologi, karena benda pusaka itu unik dan belum ada di buku sejarah bahkan segala versi legenda tentang Reog sendiri.”


Sekali lagi, alasan masuk akal yang sama dengan yang Bondan utarakan pada semua orang. Namun kali ini, tatapan mata Rania padanya malah makin tajam.


“Hanya itu saja?” tanya si detektif.


Bondan mengangguk takut-takut. “Ya.”


“Tak ada lagi yang perlu kamu sampaikan?” Rania sengaja membuka kacamatanya, tatapannya makin kuat menekan lawan bicaranya.


Bondan berkeringat dingin. Ini adalah teknik interogasi paling “halus”. Di bawah tekanan terus-menerus, ditambah kekuatiran akan mengalami interogasi yang lebih keras, akhirnya Bondan mengatakan hampir seluruh kebenarannya.


Tentang andil Bondan mengurus penyerahan Topeng Reog ke museum. Tentang pesan sang kakek. Tentang kakek buyutnya, seorang petani yang tak sengaja terperosok ke dalam lubang di perbukitan dekat Ponorogo.


“Ternyata lubang itu adalah sebuah gua. Di dalamnya, beliau menemukan topeng itu pada sebuah prasasti, dengan kata-kata beraksara Jawa Kuno terpahat di sana. Kakek buyut tak bisa membaca tulisan itu, jadi beliau hanya membawa topeng itu saja.”


Baru sekarang Rania mengangguk. “Nah, kini saya baru bisa percaya padamu, Bondan… sedikit.”


Justru yang “sedikit” itu membuat Bondan sedikit lega. Setidaknya jeruji tahanan tak jadi tempatnya bermalam hari ini.


Rania melanjutkan keterangannya, nada bicaranya lebih santai daripada sebelumnya. “Jadi, saya akan berbagi sedikit fakta lagi dengan kamu. Saat menyelidiki tempat kejadian kemarin, say amenemukan kaca display topeng hancur berkeping-keping, semua CCTV dilumpuhkan dan para petugas keamanan ditemukan tewas.”


Bondan terbelalak. Penuturan Rania ini amat berbeda daripada yang di berita televisi. Fakta-fakta yang memang sebaiknya tak disampaikan pada publik kini dibeberkan di hadapannya.


“Jadi kesimpulannya, si pencuri bertubuh sangat kuat, dibantu oleh rekan-rekannya yang sama-sama sakti mandraguna. Masalahnya kini, apa kamu berkomplot dengan mereka? Jangankan jadi pencurinya, saya ragu kamu jadi informan atau semacamnya.”


Walau pernyataan Rania tadi terkesan meremehkan, amarah Bondan tak terpancing. Reaksi si lawan bicara itulah yang membuat Rania berkata, “Tapi, jangan senang dulu. Kalau keteranganmu tadi itu benar, nyawamu dalam bahaya.”


“Apa!?” Kali ini Bondan terkejut bukan buatan. “Waduh, saya masih jomblo, belum siap mati muda!”


“Kalau begitu, satu-satunya cara untuk selamat adalah bekerjasama dengan saya. Dari keterangan kamu tadi, kita harus memulai penyelidikan dari tempat Topeng Reog pertama kali ditemukan.”


“Jadi kita harus ke Ponorogo?”


“Persis. Temui saya besok jam tujuh pagi di Gambir, kita berangkat dengan kereta api.”


Rania memang tak memberikan pilihan lain bagi Bondan, dan usul yang lebih baik tak terpikirkan oleh si gimbal itu.


Bondan hanya bisa mengangguk lesu. “Baiklah Mbak Rania, sampai besok.” Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan gontai keluar dari kafe.


Sebaliknya, Rania tetap duduk santai sambil menghabiskan kopinya.


 


 


\==oOo==


 


 


Kemacetan jalan yang cukup parah hari itu membuat Bondan baru sampai kembali di Depok menjelang malam. Ia menyusuri gang sempit yang sepi itu, berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.


Di gang yang amat sepi dekat rumah kos Bondan, tiba-tiba seorang pria mencegat si pemuda kurus itu dan menghardik, “Kau Bondan Prasetyo?”


Melihat pria bertampang sangar, berpenampilan ala preman punk dan tak sopan itu, Bondan jadi was-was. “Bukan, saya Rudi.”


“Jangan bohong, ciri-cirimu persis seperti orang yang kucari.” Tiba-tiba si preman malah menyeringai aneh. “Karena itu, kau harus MATI!”

__ADS_1


Seluruh wajah dan kulit tubuh si preman berubah semerah darah dan dijalari urat-urat hitam. Tubuhnya tampak berubah kekar. Jantung Bondan serasa copot. Seumur hidupnya, inilah kali pertama ia menyaksikan gejala gaib.


Si preman menerjang maju dnegan belati lipat di tangan. Bondan berkelit, menghindari tikaman pisau ke arah jantungnya, namun perutnya terhantam telak tinju lawan. Sebagai anak kos yang sudah pernah berkelahi sebelumnya, rasa sakit bagai terhantam palu godam ini berarti lawan bukan manusia biasa.


Tanpa bekal ilmu beladiri apapun, apalagi kesaktian, Bondan hanya dapat mengandalkan tinju dan tendangan sederhana untuk mempertahankan nyawanya. Ditambah daya tahan tubuh yang cukup mumpuni, pemuda asal Ponorogo itu pulih dengan cepat, bangkit dan kembali berkelit dari rentetan sabetan dan tusukan belati.


Namun, lawan yang sakti berhasil menggores kulit dada Bondan. Semua gerakan Bondan terlalu mudah terbaca, nyawanya kini di ujung tanduk.


Tanpa terduga, satu tendangan Bondan telak menghantam pipi lawan. Anehnya, lawan malah bergeming, lalu balik meninju kaki Bondan hingga kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab.


Tanpa menghiraukan rasa sakitnya, Bondan bangkit berdiri. Namun saat akan berbalik untuk melarikan diri, ujung bilah belati sudah mengancam jantungnya.


Tiba-tiba terdengar letusan pistol. Pisau terlontar dari pegangan, si preman tersurut mundur dengan luka tembak di tangan. Bondan menoleh ke belakang dan melihat penyelamat jiwanya, Rania Giselda yang sedang membidik dengan pistol semi-otomatisnya.


Gadis itu berseru lantang, “Tahan, bung! Menyerahlah, kalau tidak peluru berikutnya akan bersarang di jantungmu!”


Lagi-lagi pria merah itu menyeringai aneh, wajahnya jadi makin menyeramkan. Ujarnya, “Coba saja… kalau bisa!” Ia menerjang maju lagi, gerakannya jauh lebih cepat daripada sebelumnya Pistol menyalak lagi, dan ia berkelit bagai bayangan, menghindari peluru.


Si preman lantas maju lagi, namun langkahnya terhenti seketika. Dirabanya darah hitam yang mengalir dari luka tembak di dadanya. Walau meleset dari jantung, manusia biasa pasti mati bila tertembak di paru-paru. Sialnya, preman itu bukan manusia.


“Uhh… bagaimana bisa?” rutuk si preman. Ia menatap pada Rania yang kini menggenggam dua pistol, giginya gemeletak.


Rania kembali mengancam, “Jantung, gagal. Berikutnya kepala.”


“Grrh, awas kalian!” Geram, si preman melarikan diri menyusuri gang itu.


Rania bergerak akan mengejar si preman, namun urung niatnya. Orang banyak tampak berkerumun di mulut gang, kemungkinan besar karena suara letusan pistol tadi.


Dengan cepat, Rania menyarungkan pistol di balik blazer-nya. Lalu ia berteriak ke arah massa penonton, “Tenang semuanya! Mas ini tadi dipalak preman! Sudah beres sekarang, mohon bubar!”


Sambil kasak-kusuk bagai kerumunan lebah, massa penonton membubarkan diri. Toh mereka sebenarnya tak peduli dengan detil masalahnya, hanya ingin tontonan seru ala film laga saja. Tak lama kemudian, tinggal Rania dan Bondan saja yang ada di gang itu.


Melihat luka-luka Bondan, Rania cepat-cepat memapahnya ke rumah terdekat. Untunglah pemilik rumah itu bersedia membantu memberikan pertolongan pertama. Luka gores di dada Bondan sudah dibalut, pendarahannya berhasil dihentikan.


Setelah memastikan si penghuni rumah tak mencuri dengar, Rania baru bicara pada Bondan, “Kita harus berangkat malam ini juga. Rumah kosmu kini tak aman lagi. Para warok itu lebih terorganisir daripada dugaanku.”


“Y-yang tadi itu… warok?” Bondan terbata-bata sambil gemetaran. “Seperti pasukan penari bertopeng merah dalam Reog?”


“Tepat sekali. Para warok ini adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kebal dan berkekuatan luar biasa, hasil latihan mistis dengan mitra mereka, para gemblak. Manusia biasa nyaris mustahil bisa mengalahkan warok.”


Bondan tambah merinding. “Astaga, peluru mbak tadi saja tak mampu membunuhnya. Bukankah usaha kita ini bakal sia-sia?”


“Tidak juga,” jawab Rania, menjaga nada suaranya tetap lembut. “Kepala dan kulit dada di posisi jantung warok tak kebal senjata. Tadi sengaja tembakanku meleset agar aku bisa menginterogasinya. Sayang, warok itu lebih sakti dari rata-rata, tak melemah setelah terkena banyak tembakan. Lain kali, aku harus langsung membunuh mereka.”


Tembak. Langsung. Bunuh.


Inikah aturan mainnya mulai saat ini?


Andai bisa memilih, Bondan sama sekali tak mau terlibat dengan kekuatan mistis manapun sepanjang hidupnya.


Kini, ia malah menggantungkan nyawanya pada seseorang yang baru ia kenal.


Apakah manusia biasa seperti Bondan dan Rania hanya bisa pasrah menghadapi ancaman yang melebihi batas-batas alamiah?


Ini sungguh tak adil.


 


 


\==oOo==


 


 


Ponorogo, Jawa Timur.


Tak boleh ada waktu terbuang.


Baru saja Bondan menjejakkan kaki di kota tempat ia pernah tinggal ini, ia dan Rania harus bergegas lagi. Hujan deras membuat tengah hari ini tampak seperti senja. Toh perjalanan dengan mobil angkutan umum dari Stasiun Kereta Api Selo Aji ini tak bisa dinikmati sama sekali. Benak Bondan kini penuh sesak oleh satu pikiran saja.


Semoga kakeknya selamat.


Saat tiba di rumah sang kakek, Bondan dan Rania terkesiap. Pita kuning “Garis Polisi” melintang sepanjang pagar yang mengelilingi rumah yang sederhana namun tampak asri ini.


Rania lantas berinisiatif, bertanya pada para tetangga. Bondan melakukan yang sama pula. Saat kembali bertemu di depan rumah sang kakek, wajah keduanya tampak pucat pasi.


“Kakek saya… dibunuh dua hari yang lalu,” ujar Bondan terbata-bata, membendung ledakan tangisnya. “Kata mereka, pelakunya adalah para perampok yang menyatroni rumahnya.”


“Kita tahu siapa pelaku sebenarnya, ‘kan?” sergah Rania. “Kita harus ke rumah sakit yang menampung almarhum dan memeriksa hasil otopsinya.”


Bondan malah menggeleng. “Nanti saja itu. Sekarang yang lebih penting adalah menemukan peta tempat Topeng Reog ditemukan. Kakek buyut yang menggambarnya di tempat rahasia.”


Kali ini Rania mengangguk setuju. Keduanya lantas masuk lewat pintu yang tak dikunci itu.


Di dalam rumah, Bondan tak hentinya terkesiap. Hampir seluruh perabotan di ruang tamu, ruang keluarga, kamar-kamar hingga dapur berserakan, porak poranda. Barang-barang yang cukup berharga seperti televisi dan sebagainya raib, seolah kasusnya benar-benar perampokan. Yang paling mengenaskan adalah jejak bekas darah yang telah mengering di lantai, dan gambar figur manusia dari kapur putih di lantai kamar tidur kakek.


Saat mencoba menggali kembali kenangan-kenangan indah bersama kakek tercinta dalam benaknya, tiba-tiba Bondan teringat sesuatu. Diikuti Rania, ia bergegas dan membuka pintu ruangan rahasia di balik sebuah lemari besar. Ada tangga di balik pintu itu, Bondan dan Rania menuruninya.

__ADS_1


Di ruang bawah tanah, Bondan menyalakan lampu listrik. Kali ini, giliran Rania yang tercengang oleh pemandangan sekitarnya.


“Astaga, kakekmu… penari Reog?”


“Ya, waktu beliau masih muda. Setelah menikah dan mapan, beliau membuka sanggar untuk melatih penari-penari Reog generasi muda. Benda-benda dalam ruangan ini adalah warisan keluarga kami turun-temurun. Semuanya pernak-pernik yang biasa digunakan dalam pertunjukkan Reog.”


“Apa kamu bisa menari Reog juga, Bondan?”


“Ngg, tidak. Saya kurang berbakat. Saya malas latihan, apalagi kalau harus mengangkat Barongan itu tanpa memegangnya.”


Rania melayangkan pandangan pada Barongan, boneka raksasa berbentuk kepala harimau bersurai bulu-bulu merak, perlambang figur Raja Singabarong itu. Konon, aliran Tari Reog murni mewajibkan si penari mengangkat Barongan hanya dengan menggigitnya saja, sementara tangan dan kakinya melakukan gerakan-gerakan khusus. Jadi, butuh kesaktian tertentu untuk melakukannya, dan Bondan tak memiliki itu.


Walau demikian, rasa penasaran mendorong Bondan menghampiri Barongan itu dan menyorongkan kepalanya ke dalamnya. Kecuali celah kecil untuk melihat keluar, bagian dalam boneka raksasa ini serba gelap.


Iseng, Bondan ingin tahu apa bahan bagian dalam Barongan ini hingga jadi amat berat. Dengan ponselnya sebagai senter, ia menerangi bagian dalam boneka kuno itu. Yang tampak adalah kulit sapi yang dijalin pada rangka yang terbuat dari bambu.


Yang aneh adalah gambar pola-pola begelombang dan beberapa titik hitam dalam kulit sapi itu. Apakah ini semacam gambar mistis untuk menyihir si penari agar kuat mengangkat Barongan? Bondan berinisiatif memotret seluruh gambar itu dengan kamera ponselnya.


Saat keluar dari Barongan, Bondan melihat Rania sedang mencari-cari di antara tumpukan barang-barang berdebu. Rasa frustrasi tergurat di wajah wanita itu, apalagi saat ia melihat Bondan.


“Kau ini bagaimana, Bon?” tegur Rania. “Aku sibuk mencari peta, kau malah asyik main Barongan!”


Acuh tak acuh, Bondan malah menunjukkan layar ponselnya pada Rania. “Tidak juga, aku sempat memfoto gambar magis ini. Ini temuan penting, lho!”


Rania tak menengok sedikitpun. “Sudahlah, jangan main-main lagi. Carilah petanya!”


“Tapi ini juga penting! Siapa tahu ada hubungannya… “


Dengan amat cepat namun kasar Rania merebut ponsel dari tangan Bondan. “Kubilang, ini penyelidikan kasus kriminal, bukan riset skripsi…!”


Tanpa sengaja, tatapan Rania tertumbuk pada citra di layar ponsel Bondan, dan ia membisu sejenak. Lalu, Rania berseru, “A-astaga! Ini dia petanya! Bondan, kau jenius!”


Si gimbal garuk-garuk kepala. “Masa’ sih? Dari mana mbak tahu?”


“Dari sini.” Rania memperlihatkan peta Ponorogo yang terpampang di layar smartphone-nya, membandingkannya dengan yang di ponsel Bondan. Ada kemiripan antara pola-pola di kedua gambar itu.


Bondan ternganga, tak mempercayai keberuntungannya. Padahal sudah bertahun-tahun ia tinggal di rumah sang kakek setelah kedua orang tua serta adiknya tewas dalam sebuah kecelakaan tunggal. Mobil yang mereka tumpangi terperosok ke dalam jurang saat berkunjung ke rumah sang kakek di Ponorogo. Mungkin karena rasa bersalah, sang kakek mengasuh Bondan, satu-satunya yang selamat dari kecelakaan itu.


Seruan Rania membuat Bondan tersadar dari lamunannya. “Nah, dapat! Lokasi gua berprasasti itu adalah di perbukitan di barat daya Kota Ponorogo. Ayo Bondan, kita berangkat!”


Di ujung tangga naik keluar dari ruang rahasia, tiba-tiba Rania merentangkan tangannya, menghalangi Bondan. “Tunggu! Ada bau asap amat menyengat dari balik pintu ini!”


Bondan baru sadar, udara jadi terasa makin panas dan pengap pula. Matanya terbelalak ngeri. “Rumah kakek kebakaran!”


“Apa ada jalan keluar lain?”


Bondan menggeleng.


“Kalau begitu tak ada pilihan, kita harus menerobos api.”


“Hah!? Tapi, mustahil…!”


“Percayalah pada saya. Atau kamu mau mati kehabisan oksigen di sini?”


Percaya pada Rania? Apa maksudnya? Ini sungguh tak masuk akal bagi Bondan atau siapapun. Namun, lebih baik bertaruh nyawa daripada pasrah. Toh pemadam kebakaran belum tentu bisa diandalkan.


“Baiklah, saya ikut usul mbak,” ujar Bondan akhirnya.


Rania mengangguk. “Merunduklah terus, saya akan melindungimu. Kita buka pintu, lalu lari cepat hingga ke pintu keluar. Siap?”


“Siap!”


Bersamaan, Bondan dan Rania menendang pintu sampai terbuka, lalu ambil langkah seribu.


Bondan terus merunduk dan memicingkan matanya yang pedih terkena asap. Hanya satu hal yang ada dalam benaknya, Ingat-ingat di mana pintu keluar kalau masih ingin melihat matahari.


Seumur hidup Bondan, debar jantungnya tak pernah sekeras ini, Mengentak-hentak bagai musik heavy metal. Salah langkah, salah arah, ia akan hangus bersama rumahnya dan Rania.


“Uuaghh!” Sebuah balok kayu membara jatuh tepat di depan kaki Bondan, membuatnya tersandung. Sakitnya bukan kepalang. Namun anehnya, sepatu bahkan celana panjang Bondan tak terbakar sama sekali.


Bondan tak sempat memikirkan penyebabnya. Ia hanya terus berlari. Lantas, memanfaatkan daya larinya, ia menendang pintu depan rumah keras-keras. Bondan terkejut, rupanya pintu itu sengaja dipalang dari luar supaya ia dan Rania terjebak. Selayang pandang, begitu pula semua jendela yang ternyata tertutup rapat.


Rania yang ternyata masih memegangi pundak Bondan sejak tadi menyusulkan satu tendangan lagi. Ditambah Bondan dua kali dan Rania sekali tendang lagi, barulah pintu dan palangnya jebol dan terbuka lebar.


“Cepat, cepat!” Bondan dan Rania lari keluar, tepat saat lautan api yang makin menggila nyaris menyambar mereka.


“Tadi itu gila, gila sekali! Mereka membakar rumah kakek… rumahku!” rutuk Bondan sambil menyandarkan dirinya di pohon. Mungkin hanya ia dan Rania yang bisa menduga, kebakaran tadi adalah jebakan maut yang disulut oleh para pencuri Topeng Reog, yang hampir pasti adalah para warok.


Kerumunan penduduk yang sejak tadi bergotong-royong memadamkan api atau sekedar menonton bergegas menghampiri Bondan. Rania lagi-lagi cepat-cepat bicara dan menghalangi mereka.  Melihat itu, Bondan teringat ada satu hal dalam diri wanita itu yang membuatnya bingung.


Pasalnya, sejak keluar dari ruang bawah tanah tadi, tangan Rania terus merengkuh bahu Bondan. Gilanya, Bondan tadi bagai kebal api, dan Rania yang melindunginya juga tak terbakar sama sekali. Bahkan blazer yang Rania gunakan seperti tudungpun hanya sedikit bernoda hitam saja.


Bondan menatap sosok Rania dari belakang sambil merinding.


Apakah si detektif ini memiliki kesaktian yang membuatnya kebal api?


Pada kesempatan berikutnya, Bondan akan menanyakan semua itu pada mitranya ini.


Ia harus tahu. Ia sudah kehilangan segalanya agar sampai sejauh ini. Ia berhak mengetahui semua kebenaran. Tentang Topeng Reog. Juga tentang Rania, pribadi penuh misteri ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2