
Karena sudah bersatu hati dan jiwa dengan Julia, Dahlia tentunya ambil insiatif pertama. “Enak sekali bicaramu! Memangnya kau ini seorang dewi, lantas boleh seenaknya?” Ia menggesek biolanya, melantunkan serangkaian nada melengking penghentak jantung yang pernah menaklukkan Leony sebelumnya, lagu Memuja Mawar, Mengentak Hati.
Anehnya, kali ini tak ada reaksi pada Roro Kidul. Sang Ratu berujar, “Hei, aku memang dewi, takkan takluk dua kali oleh jurus yang sama! HEAAAA!” Kali ini, ia membalas dengan teriakan yang tak kalah keras dan Mengentak.
Benturan kedua gelombang suara yang mendadak ini tak ayal membuat Dahlia lagi-lagi terdorong mundur. Ia lalu tergelincir di permukaan batu karang yang licin dan jatuh terduduk.
“Dasar payah! Kau tak layak disebut pahlawan, apalagi pewaris legenda! Matilah!” Roro Kidul komat-kamit merapal mantra. Seketika, dua pilar air berwujud Dewa Naga Laut Kembar menerjang ke arah Dahlia.
Dahlia bereaksi, menggesek biolanya lagi satu kali saja. Jurus bernama Nada Tunggal Perisai Gema itu memunculkan sebentuk perisai prana gelombang suara tepat di depan tubuhnya. Kedua ular naga air itu membentur dinding. Sebagian besar daya perusak air itu berhasil diredam perisai. Namun banyak larik kecil air mampu menerobos dan memecahkan perisai itu, lalu menghunjami tubuh Dahlia bagai banyak tombak.
Sekali lagi Dahlia roboh. Sesaat kemudian, Roro Kidul telah tiba persis di samping tubuhnya sambil mengejek, “Cukup sudah sandiwaramu, pahlawan palsu. Istirahatlah kau untuk selamanya.”
Sambil mengatakannya, Rara membacokkan telapak tangannya ke arah tubuh Dahlia yang terkapar dengan kekuatan setajam Kapak Air Pembelah Roh. Namun, betapa terkejutnya ia melihat yang dibelahnya hanya batu karang. Bingung sejenak, Rara menoleh ke belakangnya dan melihat Dahlia sudah kembali berdiri tegak di “jarak aman”.
“Luka sebegini takkan membuatku habis,” ujar Dahlia, senyum penuh percaya diri mekar di bibirnya. “Kini giliranku!”
Sesaat kemudian, serangkaian nada lain mengalun dari biola Dahlia. Kali ini, lagu yang dimainkan terdengar merdu dan iramanya teratur.
“Hahaha! Kaupikir musik indah seperti itu bisa mempengaruhi pikiranku? Kau salah, gadis kecil! Biar kutunjukkan…”
Nyi Roro Kidul tak melanjutkan kata-katanya. Ia berdiri mematung, tatapan matanya berubah kosong. Dalam keadaan seperti ini, ia bisa jadi sasaran empuk petarung lain. Tapi sayang, Gilang masih sibuk “menangani” Brian jadi tak bisa membantu.
Mau tak mau Dahlia meneruskan sihirnya itu hingga rampung.
Sesaat kemudian, Kidul mengulurkan tangannya dan bergumam, “Aih… Mengapa tak terpikirkan olehku sebelumnya? Bukankah Taruna mencintaiku? Bukankah aku memilih berada di alam yang sama dengannya? Andai aku mengampuninya, meninggalkan dendam, kami akan bersama menguasai lautan. Aku takkan kesepian, tak perlu lagi menari tumbal agar bisa ke daratan…”
Ternyata, lagu klasik Moonlight Sonata ciptaan Ludwig van Beethoven ini berhasil menguak kenangan dalam lubuk hati terdalam. Harapan-harapan yang tak terpenuhi, juga dilema masa lalu. Baik itu manis atau pahit. Walhasil, semangat tarung menurun. Kemarahan dan kebencian terlupakan, berganti perenungan.
Tiba-tiba, kedua mata Kidul terbelalak nyalang. “TIDAK!” teriaknya nyaring. “Taruna telah merenggut segalanya dariku, termasuk hakku untuk bahagia! Yang tersisa dalam diriku hanya dendam!”
Kebencian Kidul yang telah mendarah daging terlalu kuat, dan semua itu disalurkannya lewat satu teriakan nyaring lagi. Permainan biola Dahlia kacau seketika dan tubuh gadis itu terlontar ke belakang. Tak hanya itu, ia bahkan terlempar dari tebing dan tercebur di air asin. Kabar baiknya, Kidulpun terpental akibat hentakan tenaganya sendiri dan jatuh dari sisi lain tebing.
Muntah darah dan terasa sesak di dada, Dahlia terluka dalam. Walau demikian, ia masih bisa bangkit dan susah-payah berenang ke tepian.
Tiba-tiba, Dahlia dikejutkan oleh teriakan Gilang. Ia menoleh dan melihat Brian sedang menjadikan lawannya bulan-bulanan, memberondongnya dengan tinju, tendangan kaki dan lutut ala Muay Thai. Sesakti apapun Taruna, Gilang sebagai inangnya tetaplah manusia biasa yang bisa sekarat dan tewas.
Gawat! Aku tak bisa berubah wujud, dan kekuatan Prana Samudera Luas tak bisa kukerahkan sampai sempurna! Hanya bisa bertahan! gumam Taruna dalam raga Gilang. Kalau begini terus, Gilang bakal tewas di tangan sahabatnya sendiri!
Satu tendangan lutut yang amat keras di perut Gilang membulatkan tekad Taruna. Maaf, Gilang, tinggal ini satu-satunya cara…
Mengerahkan sisa tenaganya, Taruna-Gilang menangkap dan mencekal kedua tangan Brian. Brian yang kerasukan roh jahat mendaratkan tendangan lutut ke perut Gilang, namun cekalan di tangannya tak mengendur sedikitpun.
Mendadak, kedua gelang pelindung di tangan Gilang terbuka dengan sendirinya, terlepas, dan kembali mengatup di pergelangan kedua tangan Brian. Inilah pertaruhan gila terakhir Taruna. Jangan-jangan… ia berniat menjadikan Brian inang barunya.
Kehabisan tenaga dan nyaris sekarat, Gilang roboh tak sadarkan diri.
Di sisi lain, tubuh Brian kejang-kejang. Jelas terjadi pertarungan antara roh Taruna dan roh entah siapa dalam tubuhnya. Sesaat kemudian, kejang-kejang itu terhenti seketika. Asap hitam tampak mengepul dari tubuh Brian, lalu membubung dan hilang, diiringi suara bak hantu yang lirih teredam. “Huuuuu…”
Walau tampak lelah, tubuh Brian tetap berdiri. Terdengar ucapan dari mulutnya, “A-aku… bebas? Hah? Apa? Kau… Kita bekerjasama menghadapi Roro Kidul? Baik!”
Saat itu pula, tubuh Brian bagai terbungkus gelembung air seperti mumi. Saat lapisan air buyar, penampilan pria berambut pirang itu berubah total. Sebentuk topeng berwarna biru laut menutupi seluruh wajahnya. Tubuh Brian dari leher sampai ke ujung kaki terbalut zirah berwarna kombinasi biru dan biru kehijauan, persis warna air laut.
Jiwa-raga Brian dan roh Taruna ternyata adalah kombinasi yang tepat untuk menghadirkan sosok sejati Taruna, sang dukun sakti merangkap ksatria digdaya. Melihat itu, semangat Dahlia bangkit teriring tegaknya kembali raganya.
__ADS_1
Hampir bersamaan, Sang Ratu Penguasa Lautan tampak kembali meniti ujung terjauh Karang Hawu. Garis-garis kemurkaan tergurat jelas di wajahnya melihat Dahlia masih berdiri tegak, apalagi melihat Taruna tampak prima, berzirah lengkap. “Ternyata aku memang benar-benar tinggal sendirian.”
“Kau sudah memaksaku terlalu jauh, Taruna!” Suara Roro Kidul berubah membahana. “Kini, aku terpaksa menunaikan sumpahku lewat sihir terkuatku! Ya, walau harus memusnahkan dunia sekalipun, siapapun yang membangkitkan murka Nyi Roro Kidul akan musnah tak bersisa!”
Taruna melangkah maju dan berteriak, “Hentikan, Rara! Jangan lakukan ini! Sudah berkali-kali kukatakan, aku sangat menyesal telah mencelakaimu! Aku memang layak dihukum, layak mati! Jangan libatkan orang-orang lain yang tak berdosa!”
Tiada tanggapan dari Rara, panggilan akrab Roro Kidul. Tangannya terentang dan berpendar, mengumpulkan segenap energi lautan luas untuk merapal sihir pamungkas.
Dahlia lantas bicara pada Taruna, “Roro Kidul kini dikuasai dendam. Percuma saja membujuknya.”
Taruna menghela napas, “Kau benar. Kalaupun ia ingin sadsar dan bahagia, seharusnya ia melakukan itu berabad-abad silam. Kini, kita hanya bisa melakukan satu hal saja, menghentikan kegilaannya! Nah, Dahlia, perkuat diriku! Aku harus hentikan rapalan sihirnya!”
“Baik!” Dahlia langsung bertindak. “Bersiaplah, Taruna! Brian, jaga dirimu!” Kembali ia menggesek biolanya, melantunkan lagu sihir penyemangat dan penguat, Anggrek Reka aneh terdengar. Dahlia sengaja mengambil posisi di belakang Taruna, sehingga sebagian besar gelombang suara ditangkap oleh Taruna seorang.
Taruna lantas melepas satu tinju berkekuatan penuh tepat ke kepala Roro Kidul, namun tinju itu terhenti, teredam oleh dinding energi gaib. Taruna rupanya lupa, semua penyihir yang sedang merapal selalu melindungi diri dengan aura yang ia pancarkan sendiri.
Dahlia tak ketinggalan melesatkan jurus pamungkasnya, Pelangi Nada Hujan Halilintar, langsung menyerang lawan dengan larik-larik gelombang suara bagai terjangan tujuh pedang berwarna-warni pelangi. Namun sama saja, semua larik itu buyar saat membentur dinding gaib ciptaan Roro Kidul.
“Heh! Percuma saja! Baguslah kalian buang tenaga, biar kalian telan bulat-bulat rapalan sihirku yang baru rampung ini!” seru Nyi Roro Kidul. “Sambut pamungkasku, Gelora Musnah Dunia!”
Inilah pamungkas dari segala pamungkas. Seketika, dari belakang punggung Sang Ratu tampak ombak lautan dari kejauhan, makin besar dan tinggi hingga tampak melebihi tinggi pegunungan di latar belakang Pantai Karang Hawu.
Dahlia terperangah. Ini Tsunami! Gawat!
Gempa lautan yang pernah meluluhlantakkan Aceh, Asia Tenggara dan Jepang akan melanda Pantai Selatan Jawa. Walaupun skalanya tak luas, kekuatan Tsunami kali ini cukup untuk meluluhlantakkan Pantai Karang Hawu sampai Kota Pelabuhan Ratu.
Tak sedikitpun terlintas di benak Dahlia, Taruna dan massa yang mulai memadati Pantai Karang Hawu itu, Roro Kidul senekad ini hanya demi dendam kesumat pada Taruna.
Bahkan Pak Winarno yang sejak tadi ikut menyaksikan ini semua berseru, “Sudah bapak bilang, bila Nyi Roro Kidul murka, ia akan membawa bencana! Sesakti apapun kalian, takkan bisa mencegahnya!”
Dengan kekuatan puncak berlipat ganda, Brian alias Taruna melangkah maju. Ia menoleh pada Dahlia dan berujar, “Selamat tinggal, Dahlia, Julia. Selamanya kau dan Gilang adalah sahabatku yang baik.”
Dahlia hanya bisa terhenyak. Takdir kehilangan satu lagi sahabat tak terelakkan.
Melihat Taruna mendekat, Roro Kidul berujar, “Taruna, untuk apa kau menahannya? Toh kita semua akan terlanda gelombang raksasa itu, bukan?”
Melewati Roro Kidul, giliran kepribadian Taruna bicara, “Agar kau tak dipersalahkan karena mencelakai orang-orang tak berdosa.”
Lantas Taruna menoleh pada Rara, penampilannya sekilas berubah menjadi si dukun tampan yang sebenarnya adalah titisan dewa itu. Katanya, “Baru kupahami sekarang. Separah apapun perlakuanmu padaku, sekejam apapun tindak-tandukmu, di mataku kau tetap Rara terjelita. Walau harus berkorban seribu kalipun, demi kebaikanmu, aku rela. Cintaku padamu takkan berubah selamanya.”
Sang perapal bergeming.
“Selamat tinggal, Rara!” Taruna terus berjalan ke ujung tebing. Nampaknya, ia akan nekad menggunakan seluruh kekuatan untuk memecah gelombang Tsunami.
Tiba-tiba Rara menyusul dan memegang pundak Taruna. “Tunggu, Taruna!” Taruna menoleh, dan Rara bicara lagi, “Ayo, kita cegah bencana ini bersama.” Tangannya terulur dan Taruna menyambutnya.
“Mari!” sambut Taruna. “Kita terbang bagai dewa-dewi Nirwana!”
Dahlia sempat mendengar Pak Winarno berkomentar, “I… Inikah yang disebut kekuatan dewata? Betapa agungnya! Ternyata pandanganku pada Nyi Roro Kidul harus berubah!”
Sambil berpeluk pinggang, kedua sosok digdaya, Taruna dan Roro Kidul itu lepas landas dari ujung karang. Kekuatan gabungan mereka berdua yang setara dewa membuat mereka bagai terbang. Tak hanya itu, tubuh mereka dilambari cahaya menyilaukan hingga mereka tampak seperti sebuah peluru raksasa.
Tepat saat itu pula gelombang Tsunami melanda, dan tepat berbenturan dengan “peluru” Taruna-Kidul. Peluru meledak, memancarkan energi ke dua arah seperti dinding sihir. Walhasil, gelombang air membentur dinding dan pecah ke segala arah. Hanya percikan-percikan air laut saja yang melewati dinding, mengguyur Pantai Karang Hawu bagai hujan lebat. Lalu, ombak mereda dan laut berangsur tenang kembali seperti biasa.
Keajaiban terjadi sudah. Salah satu bencana terbesar dalam sejarah umat manusia telah berhasil dicegah.
__ADS_1
Dahlia menatap ke kejauhan. Tak tampak tanda-tanda keberadaan Taruna dan Nyi Roro Kidul dimana-mana. Asumsinya, raga Brian dan Leony pasti remuk-redam atau hancur akibat tumbukan “peluru raga” dan gelombang raksasa tadi. Air mata kini membasahi pipinya. Bagaimana tidak, dua sahabatnya telah gugur sebagai pahlawan.
Tampak banyak orang sekitar Karang Hawu menyaksikan pertarungan dahsyat ini. Diperkirakan, media massa takkan menayangkan berita yang “keterlaluan anehnya” ini, dan kejadian ini takkan pernah terungkap dalam catatan sejarah.
Namun, Dahlia tak mau ambil resiko. Kembali gadis sakti itu menggesek biolanya, melantunkan lagu perpisahan bagi mereka yang terhilang, yang berpulang. Selain nadanya merdu, rupanya ini adalah lagu ajaib penghilang ingatan berjudul Hampa Benak, Harum Kamboja.
Kebanyakan massa harus melupakan segala yang mereka saksikan di sini.
Hanya Gilang Kandaka yang sudah sadar dari pingsannya dan Pak Herman Winarno yang menutup telinga rapat-rapat, memilih untuk mengenangnya.
Sedangkan Dahlia sendiri, yang lantas berubah wujud kembali menjadi Julia Pranata Lin terpaksa harus menerima kenyataan ini, entah ia mau mengenangnya atau tidak.
Di Pantai Karang Hawu ini tersimpan kisah tentang mereka yang datang dan pergi, tentang cinta yang akhirnya bersatu setelah melalui abad demi abad, dan meninggalkan jejak abadi dalam sanubari.
\==oOo==
Satu tahun kemudian…
Julia dan Gilang kini berada di atas perahu, yang terapung di laut tak jauh dari Pantai Karang Hawu. Keduanya menaburkan semua bunga yang mereka bawa di permukaan air, sedikit demi sedikit.
“Nah, Brian, Leony, kami datang lagi,” ujar Julia dengan lembut.
“Walau orang-orang mungkin sudah melupakan kejadian di Karang Hawu ini, kami selalu mengenangnya,” sambung Gilang.
Julia berkata, “Kurasa kalian pasti sedang bersenang-senang di surga sekarang. Yah, kuharap demikian.”
Gilang yang kini tak lagi mengenakan topinya tampak lebih tampan dari biasanya. “Selama setahun jadian, aku dan Julia jadi tim yang bagus.”
Juliapun menatap Gilang sambil menyunggingkan senyum termanisnya. “Benar itu. Sekarang Gilang jadi pemberani, lho! My hero…!”
“Tak hanya itu, semangat Brian, Taruna dan Rara yang rela berkorban juga telah membuat aku, Julia dan Dahlia makin kuat,” lanjut Gilang dengan mantap. “Bahkan Dahlia telah makin terkenal sebagai salah satu dari para Satria Adilaga, pembela kebenaran dan keadilan.”
Saat itu langit tampak memerah pertanda senja menjelang. Julia dan Gilang memanjatkan doa, memohon ketenangan arwah sahabat dan kekasih, Brian dan Leony di alam baka. Juga menghaturkan segala hormat pada pasangan dewata, Nyi Roro Kidul dan Taruna.
Setelah beberapa lama, Julia berkata, “Nah, kami pamit dulu, teman-teman. Sampai jumpa lagi tahun depan.” Nampaknya acara “tabur bunga” di Karang Hawu akan menjadi tradisi antara Julia dan Gilang, entah sampai kapan.
Lama setelah perahu motor yang ditumpangi Brian dan Julia sudah jauh dari “tempat ziarah”, tampak taburan bunga masih tersebar.
Tiba-tiba, dari antara tebaran bunga, dari permukaan air laut sebentuk rambut pirang menyembul, seolah-olah terangkat. Lalu berangsur-angsur tampak kepala yang mengenakan topeng, leher, tubuh, tangan dan kaki lengkap dengan zirah biru. Anehnya, walau datangnya dari air, rambut si sosok pria itu tetap tegak. Mata pada topengnya menatap lurus ke arah pantai, sementara kedua kakinya tampak sedang meniti permukaan air.
Lewat aksi unjuk kesaktian ini, si pemakai kostum seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia telah kembali. Untuk apa? Apa rencananya? Tak seorangpun tahu.
Hal pertama yang perlu diketahui dari manusia super ini adalah namanya.
TARUNA.
__ADS_1