
Mengandalkan penglihatan malam lewat lensa gaib pada topengnya, Cakra mampu melihat musuh saat bertarung dalam kegelapan. Ditambah bekal Ilmu Lacak Prana dari gurunya, Mpu Gandring, bahkan lawan yang amat lincah dan tak terlihat mata seperti Okkultpun dapat ia hantam.
Berhubung lawannya, Okkult juga mampu melihat jelas dalam gelap dan melacak prana, aksi jual-beli serangan Okkult dan Cakra tampak seperti rentetan kembang api merah bila dilihat dari jauh. Di satu sisi, Okkult berusaha menggoreskan cakar beracunnya, sementara petir terus menyambar-nyambar dari telapak tangan Cakra. Setelah beberapa lama, keduanya tak menunjukkan tanda-tanda melemah. Nampaknya pertarungan mereka ini akan berlangsung semalam suntuk.
“Saatnya membuat terobosan!” Okkult menghunjamkan kelima jari tangannya yang dirapatkan, membentuk hawa racun bagai belati tepat ke arah perut Cakra yang hanya terlindung kain gaib. Refleks, si pendekar merah berkelit agak ke bawah, namun satu tendangan keras menghantam tubuhnya.
Tubuh Cakra menukik tak terkendali, hingga terhantam amat keras di tanah. Manusia biasa pasti tewas saat itu pula, Cakra yang sakti saja mengerang kesulitan luar biasa, tubuhnya menggelepar.
Melengkapi deritanya, Cakra melihat Ki Rogohjiwo yang baru bangkit dari semaputnya berjalan ke arahnya sambil berkata, “Giliranku.” Tubuh kurus pria setengah baya itu mendadak mengembang menjadi amat besar dan kekar, warna kulitnya berubah menjadi abu-abu. Pakaian serba hitamnyapun berubah wujud menjadi semacam kain kafan putih kusam dan robek-robek. Mungkin tubuh besar makhluk itu yang membuat kain pembungkusnya seakan robek dan berfungsi sebagai tudung saja. Akibatnya, wajahnya kini tak terlihat, kecuali mulut tak berbibir macam dengan deretan gigi-gigi mirip tengkorak yang menyeringai amat lebar dan menyeramkan.
Okkult berseru dari udara, “Silakan, Gangren! Habisi dia, dan balaskan cederamu dengan kematiannya!”
Raungan Gangren, makhluk amat besar yang tak bisa bicara itu membahana, dan ia menyerbu maju mendekati Cakra yang masih tak berdaya. Mulut Cakra ternganga diterpa kengerian berganda. Ia telah salah langkah menantang dua lawan yang ternyata bukan pendekar biasa. Dan kini nyawanya akan sirna ditelan dua jawara kegelapan yang mengeroyoknya ini.
Tiba-tiba terdengar suara lantang seorang pria, “Hei, tumpukan daging busuk! Hadapi aku, jangan bisanya main keroyok saja!”
Gangren, Okkult dan Cakra menoleh hampir bersamaan ke arah sumber suara. Tampak dari gerbang depan seorang pria berambut gimbal, mengenakan topeng dan kostum aneh berwarna hijau dan belang-belang hitam berjalan amat santai ke arah para petarung.
“Siapa kau?! Beraninya ikut campur!” Okkult menunjuk ke arah si pendatang seperti maharani pada budaknya.
“Reog!” Sambil menyebutkan namanya, tiba-tiba si Pendekar Darah Hitam bergerak bagai hembusan badai, langsung menyerang ke arah Gangren.
Terlalu lamban untuk berkelit, si raksasa menyilangkan kedua lengannya untuk menangkis. Akibatnya, sedikitnya sepuluh kali cakar Reog menggores lengan, paha dan kaki “Pocong Hidup” ini. Pocong adalah sejenis mayat hidup atau hantu yang seluruh tubuhnya terbungkus kain kafan.
Anehnya, tak ada darah keluar dari luka-luka Gangren itu. Setidaknya ini membuktikan satu hal, “kelebihan otot” tubuh Gangren adalah zirahnya, sementara tubuh asli Ki Rogohjiwo bersemayam dalam “zirah” itu.
Reog bergerak hendak menusuk punggung Gangren, namun si raksasa cukup cerdas menebak gerakannya ini. Maka, yang menyambutnya adalah sapuan tinju dan lengan bawah, telak menghantam si pendekar gimbal. Ia terpelanting, lalu cepat mengubah gerakannya menjadi salto, mendarat dalam posisi berdiri di tanah.
__ADS_1
“Biar kubantu!” Okkult menukik untuk melancarkan serangan dari udara.
Melihat gelagat ini, Cakra yang baru pulih melesat terbang, “menjegal” si kuntilanak dengan pukulan uppercut horisontal bertenaga penuh.
Okkult terdorong, masih melayang. Ia lantas membentak Cakra, “Oh, rupanya kau minta mati pertama, ya? Baiklah! Rasakan jurus racun terdahsyat, Wabah Hitam!”
Tampak prana hitam dari mata, lubang hidung, mulut, kuku-kuku serta baiduri di choker Okkult terpancar dan berseliweran di sekitar tubuh wanita berkekuatan hantu sakti itu.
Cakra tentu berusaha menangkal, mengimbangi pamungkas lawan itu dengan jurus andalannya sendiri, Cakrawala Halilintar Darah. Ia memusatkan energi petir-api-darahnya di ulu hati, tepat di permata jasper di titik tengah bulatan pada zirahnya. Tampak energi merah di sana, berpusar bagai baling-baling.
Dengan satu raungan keras, Okkult mengulurkan kedua telapak tangannya. Seketika, dari tubuhnya tampak melesat sejumlah tengkorak berambut panjang, semua berwarna putih-kelabu. Pergerakan mereka tampak acak, tak beraturan, namun semuanya menuju ke sasaran bagai peluru kendali.
Saat bersamaan, Cakra berputar sambil mengibaskan kedua tangannya. Walau aksinya ini sepersekian detik lebih lamban dari Okkult, peluru-peluru petir merah sepanjang pedang yang ia tembakkan melesat jauh lebih cepat dari “peluru-peluru tengkorak” lawan.
Akibatnya, kebanyakan peluru petir membuyarkan hampir semua peluru tengkorak dan menghunjam tubuh Okkult tanpa ampun. Sebaliknya, tiga peluru tengkorak mengenai Cakra dan dua lagi mengenai Reog yang masih bertarung melawan Gangren.
Terluka paling parah, Okkult jatuh menghunjam tanah. Cakra juga terluka, dan ia berusaha memanfaatkan kesempatan melumpuhkan lawan dengan bergerak maju. Namun tiba-tiba Gangren menghadangnya, melayangkan satu tinju yang berdesir membelah udara. Cakra lantas bergerak mundur, firasatnya berkata ia tak mau terkena pukulan ini.
Wajah serupa tengkorak tersingkap dari tudung Gangren. Hanya bisa meraung, si manusia pocong raksasa mengubah bentuk lengannya dengan cara yang amat aneh. Satu lengan menyusut jadi bagi kulit membalut tulang, sementara lengan lainnya mengembang dua kali lebih besar dari bentuk kekarnya. Ia lari menerjang ke arah Reog dan Cakra bagai kereta api diesel yang melaju dengan kecepatan penuh. Iblis Lapar Meruntuhkan Menara, nama jurus Gangren ini.
Cakra, yang prananya belum pulih setelah tarung dengan Okkult hanya terbang menghindar.
Sementara Reog bergerak di tanah bagai kelebat bayangan, lebih cepat dari Cakra, apalagi Gangren. Ia melompat, bersalto satu kali di udara. Lalu dengan gerakan melenting menghunjamkan sepasang cakar tangannya di punggung besar lawan dengan prana angin yang berpusar kencang seperti bor. Kekuatan jurus andalan Reog, Pusaran Badai Hitam ini cukup membuat si pocong raksasa jatuh tersuruk di tanah.
Cakra bereaksi cepat, berlari maju untuk melumpuhkan si raksasa. Namun tiba-tiba Gangren bangkit. Kali ini, bentuk tubuhnya tak beraturan, bagian punggungnya menggelembung dan dadanya mengempis hingga tampak seperti orang bungkuk. Cakra melesat mundur sambil menembakkan beberapa larik petir, namun tiba-tiba tubuhnya terasa berat, sulit bergerak cepat.
Rupanya Gangren menerima peluru-peluru petir itu di tubuhnya yang kembali ke bentuk kekar semula begitu saja. Lantas ia berbalik, menggendong rekannya, Okkult yang masih lemas dan berlari menuju gerbang depan.
“Hei, tunggu kau, pengecut!” Reog hendak mengejar, namun pergerakannya melamban, teriring rasa nyeri seperti ditusuk ribuan jarum.
__ADS_1
Reog dan Cakra jatuh berlutut di tanah. Wajah Cakra yang ditutup sebagian membiru, nampaknya mereka keracunan. Kedua pahlawan super itu hanya bisa menyaksikan Gangren dan Okkult kembali beralihrupa menjadi Ki Rogohjiwo dan Debora.
Ki Rogohjiwo berteriak, “Awas kalian! Akan kubalas penghinaan ini! Kantor Harian Sanggabuana pasti luluh-lantak, rata dengan tanah!” Kedua penjahat super itu lantas melarikan diri dengan mobil yang dikendarai oleh supir.
“Tidak… Jangan!” Cakra berusaha bangkit untuk terbang menyusul, namun ia tersuruk lagi. Ia dan Reog terpaksa duduk bersila, mengerahkan prana untuk memaksa racun keluar dari tubuh sebelum mencapai jantung.
Beberapa menit kemudian, tampak beberapa orang berpakaian hitam-hitam seperti agen rahasia turun dari dua mobil. Salah satunya, seorang wanita berambut panjang berombak bergegas menghampiri Cakra dan Reog. Penampilan wanita itu sungguh aneh, mengenakan topeng dan kostum bermotif seolah-olah ia penari tradisional Jawa atau pendekar wanita dari Jawa Kuno.
“Jangan bergerak, kalian berdua!” seru wanita itu. Tak ada pilihan, seruannya langsung dilaksanakan oleh kedua pria berkostum itu.
Dengan suara lemah Cakra berseru, “Tunggu! Mereka akan menyerang… Kantor Harian Sanggabuana!”
Wanita itu lantas berseru pada dua agen rahasia di sebelahnya, “Agen Srikandi, Agen Abimanyu! Bawa Tim Babirusa ke Kantor Harian Sanggabuana! Evakuasi semua orang disana! Bila musuh menyerang, lawan!”
“Baik, Direktur Solara!” kata wanita bernama sandi Srikandi itu. Lalu bersama Agen Abimanyu, mereka bergegas pergi.
Lantas, Solara kembali melakukan aksinya. “Tahan, kalian berdua! Akan kupaksa racunnya keluar!” Dengan kekuatan sihir penggerak benda, Telekinesis, ia menggerakkan tubuh kedua “pasien”-nya hingga saling memunggungi. Solara menempelkan kedua telapak tangannya di punggung mereka berdua, lalu ia memompakan aliran energi berwarna putih pualam yang disebut Prana Matahari Suci lewat kedua telapaknya itu.
Cakra terus bersila melawan nyeri. Saat darah hitam ia muntahkan, barulah pemuda itu menarik napas lega.
“Fiuh, untunglah racun di tubuh kalian tak banyak dan belum sampai membahayakan jiwa,” ujar Solara sambil melepaskan kedua tapaknya dan menarik napas dalam-dalam, mengistirahatkan dirinya sendiri. “Seperti yang kalian dengar tadi, nama sandiku Solara, dan aku adalah Direktur Pelaksana Lapangan I.N.D.I.G.O.”
“I.N.D.I.G.O.? Apa itu?” tanya Reog.
“Indonesian Nether and Divine Investigation – Governmental Organization, organisasi rahasia penyelidik supranatural, bertanggungjawab langsung pada Menteri Pertahanan dan Keamanan. Nah, bisa kalian jelaskan aksi nekad yang telah merusak rumah seorang pejabat terpandang ini?”
Cakra menoleh, bergidik melihat dinding depan rumah Wage yang seakan baru terkena bom. Lalu ia menceritakan duduk perkaranya pada Solara sambil memperkenalkan diri – tentunya tanpa memberitahukan identitas aslinya. Tak ada salahnya berterus-terang pada wanita yang telah menyelamatkan nyawanya ini.
Setelah selesai, Solara mengangguk. “Hm, rupanya SS Corporation makin ‘menggila’, dan satu rekan sekongkolannya ini rupanya agak ceroboh. Biar I.N.D.I.G.O. ambil alih dari sini, kami akan mengorek lebih banyak informasi dan harap saja, cukup bukti untuk menjatuhkan SS Corporation lewat si Wage itu.” Ternyata musuh kuat yang sedang dihadapi Cakra ini adalah SS Corporation. Gangren dan Okkult saja sudah demikian mengerikan, entah siapa lagi penjahat super yang bekerja pada perusahaan besar, kaya-raya dan sering beraksi semena-mena itu.
__ADS_1
Solara menoleh pada Reog dan bertanya, “Dan kamu, apa yang membuatmu muncul tiba-tiba dan membantu Cakra?”
“Namaku Reog. Aku juga sedang memata-matai Wage atas suruhan rekanku, seorang detektif swasta,” jawab Reog sambil merapikan rambut gimbalnya. “Saat ternyata kedua agen SS itu adalah pendekar-pendekar gaib bernama Okkult dan Gangren, saat mereka mengeroyok Cakra sampai terdesak, baru aku turun tangan.”