ADILAGA

ADILAGA
MURCA 3


__ADS_3

Dengan mudah Cakra membaca serangan ini. Jadi sambil menghindar ia malah menyentuhkan tapaknya yang penuh daya listrik-petir ke tubuh lawan. Energi yang sedianya untuk jurus pamungkas itu menjalar lewat perut, menyebar ke seluruh tubuh si wanita setengah hantu itu.


Tubuh Okkult terguncang hebat. Reaksi prana gelap dalam dirinya malah menghantarkan daya Halilintar Merah. Namun hasilnya sama dengan bila jurus sederhana tak bernama ini mengenai manusia biasa. Saat Cakra menarik tangannya, tubuh Okkult jatuh membentur lantai, tak bergerak lagi. Energi gelap terkuras habis, si wanita berkekuatan hantu ini tak sadarkan diri.


Melihat salah satu pimpinan mereka tumbang, beberapa leak lantas menolong, memapah Okkult. “Mundur! Mundur!” seru pemimpin pasukan leak, diikuti semua rekan sekaum yang lain.


“Hei! Hadapi aku! Jangan pergi, kalian pengkhianat!” Rangda, sang Ratu Leak mengejar para mantan “rakyat”-nya itu.


“Maaf, ‘mantan ratu’, kami punya tuan baru kini!” seru wanita leak pemimpin pasukan, sengaja melambatkan larinya untuk mengatakan hal itu pada Rangda.


Cakra menyusul Rangda sambil menumbangkan satu warok. Lantas Reog mendekati Cakra dan Rangda dan berseru, “Kalian kejar mereka! Biar aku yang menahan para musuh di sini!”


Rangda protes, “Tapi Gangren dan para warok…!”


“Mereka bagianku!” sergah Reog sambil menerjang langsung ke arah kerumunan musuh. Ucapannya sarat dendam, baik pada pendekar super yang belum takluk dalam duel mereka yang lalu, maupun kaum pemuja kekuatan yang menganggap Reog pengkhianat ini.


Walau tampaknya makin sulit bagi Reog mengalahkan mereka semua sendirian tanpa bantuan Cakra dan Rangda, semangat Reog untuk membukakan jalan warok sejati dan menyelamatkan kaumnya mungkin akan jadi tambahan kekuatan yang berlipat ganda. Namun Reog harus melakukannya sendiri, ikut campurnya para rekan yang beda pemikiran hanya akan menghambatnya saja.


Menyadari hal itu, Cakra terus menerjang maju sambil berseru, “Ayo, Rangda! Kita ungkap tempat misterius ini sampai tuntas! Hati-hati, Reog!”


Suara-suara pertarungan Reog, para warok dan Gangren sayup-sayup menjauh, dan Rangda tak punya pilihan selain lari mengikuti Cakra, rekannya ini.


Mengikuti jejak prana musuh di kejauhan, Cakra tiba di ruang kerja, lengkap dengan kursi dan meja besar, dikelilingi lemari-lemari kayu jati yang memenuhi dinding. Jejak prana yang kuat itu makin lemah dan menjauh, tapi ke mana para musuh pergi dari ruangan tak berjendela ini?


Cakra bergegas ke arah sekelumit jejak prana yang tersisa, dan hanya menemukan hamparan lantai keramik yang tampak mewah namun pecah-pecah tak terawat.


“Lho, apa mereka pergi lewat lantai ini? Kalau ini jalan rahasia, bagaimana cara membukanya?” Cakra bertanya-tanya.


“Entahlah, coba kulacak apakah ada yang aneh di sekitar sini.” Rangda menoleh ke pelbagai arah, menajamkan segala inderanya.


Tampak di meja kerja berdiri sebuah patung kayu. Itu figur Garudeya, tunggangan Dewa Wisnu versi Mitologi Hindu Nusantara, sosok manusia-elang yang diukir amat detil dan indah. Hanya satu saja kekurangannya, letaknya agak condong dan menunduk.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Rangda menarik patung itu hingga tertelungkup. Rupanya ada semacam tuas di bawah patung itu. Tuas itu lantas mengaktifkan mekanisme berantai dari meja hingga ke bawah lantai.


Lantai di bawah kaki Cakra terbuka, hingga ia dengan refleks melayang mundur. Tampak di bawah lantai itu ada deretan anak tangga menuju ke bawah dengan jalur berpilin.


“Mereka pasti lewat jalan rahasia ini! Ayo, Cakra!” Rangda cepat-cepat memasuki jalan rahasia, dan Cakrapun menyusul tak kalah lincahnya.


Apa dan siapa saja yang menanti Rangda dan Cakra, dua pahlawan legenda di ujung tangga itu?


 


 


\==oOo==


 


 


Dengan kekuatan Ilmu Lacak Prana, Cakra dan Rangda terus melacak arah perginya para leak. Aura tubuh Cakra agak melemah akibat tarung dengan Okkult tadi, jadi ia membiarkan Rangda berjalan paling depan. Lagipula Rangda takkan kesulitan melacak aura para leak, kaumnya sendiri.


Namun yang lebih parah lagi, sebuah firasat lain menghadirkan rasa gelisah yang menyesakkan dalam diri Cakra. Ingin ia meminta petunjuk gurunya, Mpu Gandring yang menghuni keris-zirah Cakra Sudarsana. Namun, tak sepatahpun kata bimbingan terngiang dalam benaknya. Jadi yang bisa ia lakukan sekarang adalah terus melangkah cepat, jangan sampai tertinggal.


Saat tiba di ujung tangga turun, Cakra terperangah melihat pemandangan di depannya. Tampak hamparan anjungan besi yang saling menjembatani, serta deretan tangga-tangga yang semuanya menuju ke bawah. Dengan penerangan lampu bawah tanah, tempat yang mampu menampung ratusan peti kemas ini tak ubahnya sebuah pabrik besi-baja atau semacamnya.


Cakra melangkah dengan hati-hati, sesekali menengok ke bawah. Dilihatnya hamparan peti berbagai ukuran, juga tiga kendaraan forklift yang lalu-lalang membawa dan mengambil barang-barang dari tumpukan-tumpukan itu. Tebakan Cakra, barang-barang di gudang bawah tanah rahasia itu pasti ilegal.


“Rupanya di sinilah pangkalan kegiatan haram SS Corporation,” kata Rangda. Ia dan Cakra sudah pernah bertukar informasi sebelumnya, jadi mereka sudah menduga sejak awal, segala sepak terjang Gangren, Okkult serta pasukan leak dan warok yang amat terorganisir sangat mungkin berhubungan dengan SS Corporation. Dan, penemuan tempat ini jelas membuktikan kebenaran dugaan mereka ini.


“Segala bisnis SS di permukaan ternyata hanya kedok untuk menutupi semua ini,” tanggap Cakra sambil terus berjalan, mengamati sekitarnya. “Tapi aneh. Seharusnya banyak penjaga di sini, tapi tak tampak seorangpun di mana-mana.”


“Ya, aneh sekali.”

__ADS_1


Cakra dan Rangda berjalan sambil ambil kuda-kuda siaga. Rangda siap menembakkan pistolnya, sedangkan keris Cakra kembali “terbenam” dalam zirahnya hingga si empunya kembali mengandalkan prana petir merah saja. Saat itu pula, gemuruh langkah kaki terdengar. Sosok-sosok manusia berdatangan dari segala penjuru, mengepung dua pendekar super di tengah.


Cakra berdecak. “Pantas saja, bau anyir leak dan warok amat semerbak di sini.” Maksudnya, sejak tadi ia dan Rangda sudah melacak aura musuh yang amat banyak di sekitar, namun pura-pura tak tahu. Lebih baik mereka di tengah-tengah “jebakan” dan memancing musuh keluar, daripada diserang mendadak saat menjelajah.


“Menantang kami semua sekaligus? Rupanya kalian ingin cepat mati,” sindir seorang komandan warok berkepala botak. “Semua, habisi para penyusup!” Hampir serempak, para leak dan warok maju menyerbu.


“Saatnya pesta!” Sambil berseru, Cakra dan Rangda yang saling memunggungi menembaki pasukan musuh dengan rentetan petir merah dan api magis. Beberapa musuh bertumbangan, namun beberapa yang lain berhasil mendekat.


Karena jalur-jalur pelataran itu sempit, Cakra dan Rangda menghajar musuh satu-persatu dengan tinju petir dan tapak api. Namun, satu leak yang amat lincah menyelinap dan menendang Rangda hingga hampir terlempar jatuh dari pagar pelataran. Dan satu warok melompat dari punggung rekannya, mencangkulkan kakinya ke bahu Cakra yang tak sempat menangkis.


Sebelum serangan berikutnya menyusul, Rangda yang cepat pulih dari tendangan tadi menembak tepat di wajah si leak hingga terpelanting, menimpa leak di belakangnya. Cakra yang jadi bulan-bulanan para warok terpaksa mengerahkan tenaga lebih, menerobos kepungan dengan tinju uppercut sambil terbang.


Di udara, Cakra lantas melihat Rangda yang sedang menuruni tangga dihadang dan dikejar musuh.  Tak hanya para warok dan leak, sepasukan tentara bersenjata lengkap juga bermunculan. Bermaksud membantu rekannya, Cakra menembaki para pengejar dengan petir. Namun, melihat para tentara bayaran SS menggunakan senapan, ia terpaksa mengalihkan tembakan. Peluru-peluru berdesingan, larik-larik petir menyambar.


Cakra terbang amat gesit, sulit dijadikan sasaran, selalu menghindar. Hanya satu-dua peluru menyerempet zirahnya, sementara para sasarannya malah satu-persatu bertumbangan. Setelah menyapu bersih para penembak, Cakra menoleh dan melihat Rangda sudah menuruni tangga demi tangga. Jadi si pendekar terbang melayang turun ke lantai dasar, tempat puluhan lawan tengah menantinya.


Cakra sengaja mendarat di atas setumpukan peti besar dan mulai berlari lagi. Ia mencari satu pancaran prana yang unik di kejauhan. Ia merasakan prana itu amat dikenalnya, yang membuat hatinya amat gelisah. Ingin rasanya ia lari saja. Namun ia tak tega meninggalkan Rangda sendirian di tempat ini. Lagipula prana aneh itu seakan bagai magnet, menarik dirinya, lebih tepatnya, roh Mpu Gandring. Dorongan untuk mendekat makin kuat, seakan segala jawaban ada di tempat prana itu berada.


Sambil menyusul untuk membantu Rangda, Cakra mengamuk bagai dewa petir, menyambut para leak dan warok yang memanjat tumpukan peti dan menyerangnya. Setiap serangan lawan yang mengenai Cakra, tiap serangan yang ia elakkan dan ia tangkis ia balas dengan tinju petir yang lebih dahsyat lagi.


“Cakra, kendalikan dirimu!” teriak Rangda, walau tahu itu percuma saja. Ia juga merasakan prana yang amat besar dan kuat itu, namun si Penembak Api malah ingin melarikan diri saja, seolah menolakkan magnet berkutub sama. Firasatnya berkata, mereka berdua sudah salah langkah, mustahil mengatasi kekuatan sebesar itu berdua saja. “Ayo, kita mundur dulu dan mencari bala bantuan!”


Melihat Cakra malah terus maju, Rangda berdecak kesal. Mau tak mau ia juga ikut menerobos kepungan musuh di lantai gudang.


Akhirnya tibalah Cakra dan Rangda di depan sebuah dinding batu luas. Di sana ada sebuah pintu besi besar yang setengah terbuka, seolah mengundang siapapun untuk memasukinya. Pancaran prana amat kuat tadi bahkan menyelusup dari celah di pintu itu, membuat langkah-langkah kedua pahlawan super penyusup itu terhenti seketika.


Pandangan Cakra beralih antara Rangda, pintu besi itu dan keadaan sekitarnya. “Gila, para warok dan leakpun bahkan tak tampak di sekitar pintu ini,” ujar Cakra was-was.


Rangda menyahut, “Kau benar. Kurasa kita jangan masuk ke sana.”


“Lantas kau mau apa? Lari? Menghadapi hadangan sepasukan pendekar sakti dan tentara lagi? Bagaimana jika orang di balik pintu ini keluar dan mengejar kita?”

__ADS_1


Walau kurang nyali, benak Rangda cepat mengambil keputusan. “Kalau begitu tak ada pilihan kecuali masuk, bukan?”


Cakra menjawab dengan mendorong pintu besi dengan dua tangan. Lalu kedua pendekar itu bertukar tatapan penuh arti. Untuk pertama kalinya mereka bergandengan tangan, lalu berjalan masuk.


__ADS_2