
“Tidak!” teriak Artazure.
Blakk Jak menyahut, “Ini penghinaan! Berani menghina kami, akibatnya pasti amat mengerikan! Saksikanlah!”
Sementara bicara tadi, rupanya diam-diam Artazure dan Blakk Jak menghimpun tenaga dalam. Artazure berseru keras, “Jakarta, inilah saatnya untuk Empat Unsur Merombak Ibukota!”
Kedua telapak tangan masing-masing mengepal dan terulur lurus. Blakk Jak menembakkan sinar merah berunsur api-angin, sementara Artazure sinar biru berunsur air-tanah. Sasaran mereka bukan Lunar dan Solara yang terpencar, melainkan… puncak api emas Monas.
“Jangaan!” Solara melecutkan Samandiman untuk menjerat kaki Artazure. Rantai Kartika Chandra digerakkan untuk membelenggu Blakk Jak, namun mental oleh pancaran prana tingkat puncak sepasang pendekar ondel-ondel itu.
Akibatnya, dasar puncak emas yang sudah sejak tadi dipotong membuka. Puncak emas terodorong terus miring, miring… Hingga akhirnya seperti tercerabut, jatuh dari ketinggian hingga berdebum amat keras, membuat ceruk amat besar di tanah. Setidaknya tak ada korban jiwa, karena kebanyakan orang berkumpul di sisi lain Monas.
Ketakutan Solara dan Lunar merusak Monas menyebabkan mereka tak mau menggunakan kekuatan puncak, tak sanggup menghentikan musuh. Namun kini, setelah musuh menuntaskan sendiri apa yang mereka takutkan itu, kemarahan mendorong sepasang pendekar matahari-bulan itu lebih cepat mengumpulkan prana sampai tingkat pamungkas.
Melihat gelagat mereka, Artazure menghardik, “Hoi, percuma saja pamungkas kalian! Peringatan telah disampaikan, saatnya kami pergi!”
Solara menghardik, “Enak saja, mau lempar batu sembunyi tangan, hah!? Blakk Jak, Artazure, kalian kami tangkap karena telah melakukan aksi teror!”
“Tangkap kami kalau bisa,” sindir si ondel-ondel merah sambil menghimpun prana lagi, diikuti oleh si biru. Posisi keduanya dekat di bibir lubang besar yang baru saja mereka buat.
Sambil berteriak, Lunar lari, lalu dengan nekad melompat mengincar Blakk Jak. Lunar terjun sambil melepaskan tendangan beruntun yang amat dahsyat bagai Hujan Meteor Serpihan Bulan, nama jurus andalannya. Blakk Jak menyambut dengan tinju beruntun nan cepat, menembakkan prana bagai Badai Api Peruntuh Bangunan.
Selama beberapa saat, Lunar bagai melayang akibat dorongan daya prananya, daya kosmik terus berbenturan dengan daya badai api.
Di saat bersamaan, kedua telapak tangan Solara teracung, menembakkan sihir rentetan Sinar Surya Penerang Jagad, beradu tembak dengan semburan prana air dan bebatuan yang lebih rapat dan kuat bagai Banjir Bobol Bendungan dari Artazure. Kedua wanita itu terus lari, saling incar dan menghindar.
Di akhir bentrokan, ternyata posisi lebih atas memberikan keunggulan berupa gaya gravitasi bumi. Rentetan tendangan Lunar akhirnya membobol prana tinju lawan. Tubuh Blakk Jak jadi bulan-bulanan “hujan meteor”, hingga akhirnya tersuruk di lantai.
Di sisi lain, serangan Artazure yang lebih kuat menghantam telak Solara, sedangkan larik-larik sinar dari si Ratu Matahari Emas lebih banyak menerpa lawan, membuat kedua wanita itu sama-sama terpuruk.
Lunar mendarat di dinding miring, lagi-lagi mengempos prana di telapak kaki agar tak tergelincir ke bawah. Baru tampak olehnya dua helikopter yang sejak tadi rupanya melayang di sekitar Monumen Nasional, namun tak berani mendekat. Tentu karena dahsyatnya pertarungan antara para pendekar super tadi.
__ADS_1
Salah satu helikopter adalah dari stasiun televisi, dan yang satu lagi dari kepolisian. Terdengar suara keras dari helikopter kepolisian itu. “Kalian berempat telah merusak Monumen Nasional! Menyerahlah, atau terpaksa akan kami tembak!”
Lunar berseru balik, “Tunggu! Kami Lunar dan Solara dari Liga Adilaga, justru sedang akan meringkus para teroris! Biar kami menuntaskan tugas kami, ini sudah di luar kewenangan polisi!”
“Jangan banyak alasan!” hardik polisi di helikopter itu. Ia jelas tak tahu sama sekali tentang kesepakatan antara kepolisian dengan Liga Adilaga dan I.N.D.I.G.O. Bila musuh adalah penjahat super, pendekar atau makhluk gaib, makhluk ruang angkasa dan semacamnya, polisi wajib menyerahkan penangkapannya pada anggota I.N.D.I.G.O yang hadir di tempat kejadian perkara.
Atau, yang lebih masuk akal mungkin penuturan polisi itu selanjutnya, “Kami melihat kalian berempat menggabungkan kekuatan sehingga menumbangkan puncak Monas!”
Lunar terkesiap. Rupanya para polisi di helikopter itu hanya melihat dari jauh, tanpa teropong pula. Lagipula, mereka tak mampu membedakan apakah prana dan jurus semata-mata untuk membantu atau menyerang lawan. Jadi mereka berasumsi yang pertamalah yang terjadi.
Sebelum Lunar sempat meluruskan kesalahpahaman ini, Blakk Jak dan Artazure terlanjur pulih dan bergegas ke tepian. Blakk Jak bahkan sempat bicara, “Yah, begitulah polisi, bung. Itulah sebabnya pula aksi kita tadi amat penting.” Ia sengaja membuat duri kesalahpahaman makin meruncing dan menusuk makin dalam.
“Hei, berhenti kalian!” Polisi di helikopter berseru sambil memberondong dengan senapan otomatisnya. Namun Blakk Jak dan Artazure sudah terjun sambil mengembangkan jubah mereka dengan prana hingga berfungsi sebagai parasut.
Tinggal Lunar yang pontang-panting menghindar. Ia menghampiri Solara yang masih lemah akibat prana dahsyat Artazure tadi, membuat semacam payung dengan rantainya yang melingkar, lalu dengan “payung” itu melindungi istrinya dari tembakan polisi kedua yang rupanya diarahkan pada mereka.
Akhirnya Lunar tak tahan lagi. “Peluk aku terus, Solara! Apapun yang terjadi, jangan lepaskan!” Sambil mengatakannya Lunar malah berlari ke arah datangnya tembakan. Dengan arah pandangan mata terhalang perisai rantai, ia mengandalkan penglihatan supernya.
Teriakan Solara itu terlambat. Di ujung puncak Monas, Lunar mengurai perisai rantainya dan terjun bebas bersama pasangannya itu. Solara berteriak histeris.
Lompatan Lunar yang dibebani satu orang ini tak cukup jauh untuk langsung meraih helikopter polisi. Namun ia tak kehabisan akal. Dilontarkannyalah Rantai Kartika Chandra sekuat tenaga. Lantas, ujung rantai yang “hidup” itu membelit dan mengait kaki-palang pendarat di bagian bawah helikopter. Ada gaya tarikan ke bawah yang membuat pilot helikopter tersentak, lalu berjuang menstabilkan kembali kendalinya. Setelahnya, tak ada tekanan lagi karena Lunar dan Solara tinggal meluncur turun.
Malang, entakan tadi malah melontarkan satu polisi bersenapan yang bertengger tanpa sabuk pengaman di sisi helikopter yang terbuka. Pria malang itu meluncur jatuh menuju kematiannya. Tiba-tiba, Cambuk Samandiman membelit tubuh polisi yang mengenakan rompi anti peluru itu. Karena sudah dekat ke tanah, Solara melepas belitan si polisi yang jatuh dengan aman dan selamat di tanah.
Solara sendiri masih berpelukan dengan Lunar saat keduanya mendarat pula. Tentu rantai dilepaskan dari helikopter, dengan cepat memendek sebelum melecut tanah agar tak mengenai sembarang orang.
Melihat sekeliling, Solara menemukan Blakk Jak dan Artazure yang sedang dikepung para polisi. Juga ada puluhan agen I.N.D.I.G.O termasuk Penasihat Umum, Herman Winarno. Yang sungguh membuat dua penjahat super itu sulit melarikan diri adalah kepungan lima anggota Adilaga, yaitu Taruna, Hima, Dahlia, Reog dan The Stickler.
“Wah, wah, main keroyokan rupanya,” ujar Artazure dengan nada sinis.
“Kemana larinya prinsip Adilaga yang menjunjung tinggi sikap ksatria?” timpal Blakk Jak, berdiri memunggungi istrinya. “Kalian tak beda dengan Liga Angkara Murca, yang tak mengirimkan pasukan untuk membantu kami di sini.”
Tak ada “gangguan” lagi dari atas, Solara dan Lunar menghampiri sepasang manusia ondel-ondel itu. “Justru karena kalian hanya berdua, para saudara kami itu hanya bertindak sebagi pagar betis agar kalian tak melarikan diri, sekaligus melindungi massa dari kekuatan pengrusak yang dahsyat,” ujar Solara. “Sejak awal kami, Solara dan Lunarlah lawan tarung kalian berdua.”
__ADS_1
Lunar menegaskan maksud mereka. “Dan kamilah yang harus menuntaskan tugas kami ini tanpa campur tangan para pahlawan lain.”
“Benarkah? Apa jaminanmu mereka takkan ikut campur?” tanya Artazure, memainkan tongkat-pitanya tak sabaran.
“Nama baik Adilaga,” jawab Lunar tegas, penuh wibawa.
“Kalau sampai ada polisi atau agen kalian melanggar?”
“Langsung kami tindak di tempat,” timpal Winarno sambil mengangguk pada kedua direktur I.N.D.I.G.O. “Slakan, Lunar dan Solara.”
Tentunya, “waktu basa-basi” tadi dimanfaatkan Lunar dan Solara untuk menghimpun energi hingga ambang batas. Blakk Jak dan Artazurepun sudah sejak tadi menghimpun prana sebanyak-banyaknya. Taruna, Dahlia, Hima dan The Stickler telah menyiapkan dinding prana air, suara, es dan lem untuk meredam prana dahsyat yang nyasar. Reog bertugas memberi aba-aba dengan menerbangkan daun yang turun, turun hingga mendarat di tanah.
Blakk Jak dan Artazure berseru bersamaan, “Empat Unsur Merombak Ibukota!”
Bersamaan pula dengan teriakan Lunar dan Solara, “Revolusi Bulan dan Matahari!”
Solara yang gesit berlari lebih dulu, bersama Lunar menembakkan sabit-sabit emas dan perak sambil lari mengelilingi para lawan di tengah kepungan.
Sebaliknya, Blakk Jak dan Artazure mencoba terus menghindar dan menembaki kedua lawan dengan larik sinar merah dan biru. Semula dua warna sinar itu bergabung emnjadi amat kuat. Namun larik berbentuk lurus itu sulit mengenai kedua pelari cepat itu. Walau tembakan mereka terarah ke tempat yang akan dilalui para lawan, terbukti lebih banyak sepasang ondel-ondel itu yang terkena serangan.
Dari pihak Adilaga, selain Lunar dan Solara, Dahlia dan Hima juga terluka. Itu karena perisai prana mereka pecah saat meredam serangan lawan. Para agen I.N.D.I.G.O yang kebanyakan pendekar membantu menyalurkan prana pada para pahlawan super, sehingga perisai muncul lagi dan lebih kuat dan mampu menahan serangan pamungkas.
Sabit-sabit emas-perak Solara-Lunar terus-menerus mencecar. Akibatnya Blakk Jak dan Artazure terpaksa berpencar, menembak-nembak dengan lebih cepat dengan tangan terpisah.
Satu perbedaan lagi, tembakan-tembakan Artazure-Blakk Jak diredam dinding prana “pembatas arena”. Sementara, sabit-sabit cahaya dari Lunar, misalnya, dipantulkan dengan perisai prana Solara yang laksana cermin, begitu pula sebaliknya. Ternyata efek inilah inti jurus pamungkas kombinasi ini. Akibatnya, jumlah sabit jadi makin banyak, tanpa terlalu banyak memboroskan prana. Para lawanpun makin kewalahan.
Akhirnya, di batas ketahanan mereka, lima sabit prana menghantam Blakk Jak sekaligus, sementara Artazure tiga. Beberapa sabit lagi membongkar pertahanan mereka, hingga akhirnya keduanya roboh.
Lunar dan Solara membiarkan sabit-sabit sisanya buyar di dinding-dinding prana yang juga lenyap setelahnya. Rupanya, walaupun lebih sedikit terkena serangan, kedua pemimpin Adilaga ini jatuh berlutut. Kehabisan prana setelah mengerahkan jurus pamungkas turut jadi penyebabnya.
__ADS_1