ADILAGA

ADILAGA
ADILAGA 3


__ADS_3


Hening sejenak.


Mendadak Murca mengentak, “Ya! Akulah dewa segala dewa! Dan akan kubuktikan kekuatanku lewat tahap pamungkas pranaku, Mewujud Dewa, Meraih Nirwana!”


Barong berseru, “Hati-hati, Adilaga! Orang gila itu susdah putus asa dan bertekad menghancurkan tak hanya kita saja, tapi segalanya!”


Solara menambahkan, “Siapkan prana pamungkas! Kita akan meredam kekuatannya dengan sedaya-upaya!”  Cakra dan para pendekar lainnay mengangguk setuju.


Tiba-tiba satu gagasan timbul dalam benak Cakra. Si Pendekar Halilintar Merah bergegas menghampiri Solara dan membisikkan rencananya, disambut anggukan mantap si pengatur serangan.


Tentu saja Murca melihat itu semua, namun ia tak mempedulikannya. Ia bergegas menempelkan telapak tangannya pada arca Nyi Blorong, Si Ratu Ular tepat di celah tempat Keris Mpu Gandring tadi menancap.


Sambil menghimpun prana, Murca berseru, “Nyi Blorong! Saat aku mengambil tulangmu dulu untuk dijadikan inti Keris Mpu Gandring, kau telah berjanji untuk mewariskan seluruh kekuatanmu padaku, bila kelak aku bertekad membangun kerajaan siluman ular! Sekarang tekad itu sudah kubulatkan! Berikanlah padaku segalanya! Segala keberadaanmu! Bersatulah dengan diriku! Akan kita buktikan pada Ken Dedes yang tak tahu diuntung itu, aku, Ken Aroklah yang paling pantas menghadirkan kedamaian mutlak nan abadi di dunia!”


Seakan setuju dan mendukung ambisi Arok-Murca itu, terpancarlah larik-larik sinar putih dari arca Nyi Blorong. Tampak di mata para pengguna prana, larik-larik itu tak terhitung jumlahnya dan amat rapat, hingga membentuk bagai ubur-ubur laut hendak melahap makanannya, yaitu plankton.


“Ya, bagus! Lezat, sungguh menyegarkan! Lagi! Lagi!” Murca terus bergumam, sementara tubuh besarnya merentangkan tangan, membiarkan prana yang ternyata adalah pembentuk wujud dewata Si Ratu Ular merasukinya. Yang jelas, ia kini diliputi aura putih yang bersinar lembut, tak ubahnya dewa kahyangan.


Selain prana, ternyata proses ini juga berangsur-angsur mengubah wujud Murca. Tubuh besarnya berubah menjadi lebih tinggi dan lebih langsung. Tangannyapun memanjang hingga tiga kali panjang semula. Yang paling drastis, kedua kaki Murca menyatu, terbungkus semacam tubuh ular dan memanjang dengan amat luar biasa.


Selanjutnya, dari sepanjang punggung dan pinggang mencuatlah empat belas sulur yang lebih panjang dari “tangan baru” Murca itu. Bentuk kepala Murca berubah memakai mahkota berbentuk jumbai ular kobra. Wajah Murca berubah sepenuhnya menjadi perpaduan antara wajah ular dan makhluk yang amat asing. Tanduknyapun jadi tiga dan mencuat tegak, muncul satu mata hitam di tengah dahinya.


Wujud dewa Murca menatap sekelilingnya dengan ketiga mata hitamnya. Mulutnya berubah bentuk menjadi seperti moncong ular. Saat mulutnya terbuka, lidah ular terjulur keluar-masuk berulang-ulang seiring suaranya yang keras dan berdesis. “Akulah Murca Deva, pembawa murka dewata yang meraih Nirwana. Akulah leluhur Nyi Blorong dan Ken Arok. Aku bertekad mengembangbiakkan kaumku, siluman ular di negeri dan dunia yang baru, yang dibangun dari reruntuhan dunia lama yang sudah bobrok ini. Yang tunduk padaku hidup, yang menentangku binasa!”


Dengan amat heroik Taruna berseru, “Hei, siluman! Entah kau mengira dirimu dewa apapun, dunia ini, negeri ini sudah ada pemiliknya, yaitu Ia Yang Maha Kuasa!”


Rangda menambahkan, “Dan kami, para ksatria Adilaga adalah utusan Sang Khalik untuk menghentikanmu.

__ADS_1


Mendengar itu, Murca Deva malah tertawa dibuat-buat. “Itukah cara Sang Pencipta Dunia mempertahankan milikNya? Baik, akan kubuat Ia menyesal telah mengutus tikus-tikus ini, meremehkanku!”


Satu tikus saja bisa menumbangkan gajah. Tentunya kedelapan pendekar super Adilaga ini tak perlu mengatakannya. Mereka lebih memilih membuktikannya lewat tindakan.


Solara berseru, “Adilaga, bentuk formasi Bunga Kristal Es!”


Walau Cakra, Barong dan Rangda belum pernah ikut pelatihan tempur Liga Adilaga, naluri pendekar membuat ketiganya memahami formasi bertahan-sekaligus-menyerang itu sekali lihat, dan seketika masuk dalam formasi.


Seperti biasa, Barong yang terkuat selalu paling depan menghadapi musuh. Dua pendukung di lapis kedua adalah Hima, pendekar tipe menyerang dan Taruna, pendekar tipe bertahan. Di sayap kiri-kanan, menempati posisi terjauh di lapis ketiga adalah Rangda, si penembak jarak jauh dan Reog, pendekar super lincah. Di lapis keempat, dua penyihir, Solara dan Dahlia bersiaga mendukung rekan-rekan mereka.


Namun, yang terasa amat janggal di sini adalah posisi paling belakang yang seharusnya ditempati Solara atau Rangda malah ada si penerbang super, Cakra. Sebenarnya ini hanyalah perubahan kecil dari formasi sebelumnya yang menahan tahap Mewujud Iblis, Menjarah Neraka Murca tadi. Entah kali ini adalah pertaruhan nekad atau semacamnya, Solara pasti punya perhitungan matang dalam menyusun formasi yang “tak biasa” ini.


Di sisi lain, tentu saja “sang dewa” tak ambil pusing dengan formasi “basi” itu. Pikirannya terpusat pada penghimpunan prana, terus ke tingkat yang ia rasa cukup untuk menghabisi delapan pahlawan super dengan sekali gebrak.


Di puncak persiapannya, ketiga mata Murca Deva menyala merah nyalang. Lantas ia maju menyerang, mengulurkan dua tangan dan keempatbelas sulurnya. Dari semua itu ia menembakkan 108 larik cahaya sekaligus. 98 larik dari 14 sulur menyebar, ditambah 10 dari kesepuluh jari tangannya sama sekali tak memberi musuh ruang untuk berkelit, apalagi lari menghindar. Lintasan serangannyapun tak melulu lurus, ada banyak yang melengkung.


Terpaksa Cakra dan timnya mengerang kesakitan, diberondong sinar suci pemusnah yang seakan tiada habisnya. Rangda, Dahlia dan Hima bahkan nyaris ambruk, luka-luka yang terus bermunculan di tubuh mereka makin tak tertahankan, menambah parah kondisi tubuh mereka. Formasi Bunga Kristal Es terancam hancur, jaringan pertahanan berlapis-lapis ini bakal jebol, kerusakan amat parah takkan terhindarkan.


Justru di saat inilah Solara berseru keras, “Adilaga, kerahkan serangan balik pamungkas!”


Gelagat semua pendekar yang semula tertekan keras berubah drastis seketika.


“Biar kuterabas!” Barong mengerahkan jurus pamungkas bumi terbarunya, Gunung Menyambut Langit Runtuh. Kakinya Mengentak lantai tanah, mengirimkan daya guncangan gempa bumi pada lawan. Daya gempa dimanfaatkan Barong dengan melompat tinggi-tinggi, lalu ia terjun sambil memalukan kedua tinju dan pergelangan tangannya. Memanfaatkan gaya gravitasi bumi, serangannya ini jadi bagai langit runtuh.


Refleks, Murca Deva beringsut mundur menghindari serangan Barong. Namun kaki-kaki si pendekar Singa Putih Dewata kembali membentur tanah kuat-kuat dan membuat gempa lagi. Murca kali ini agak goyah, namun sekali lagi hantaman tinju langit runtuh menerpa ke arahnya. Terpaksa ia menangkis serangan itu dengan satu tangan. Bunyi berderak terdengar, tulang lengan sang “dewa” bisa jadi retak.


Memanfaatkan kesempatan emas ini, secepat kilat Barong memegang dan menarik kedua tangan super panjang Murca Deva, menjepit keduanya pada kedua ketiaknya dan menariknya keras-keras, dengan kaki bertumpu pada tubuh si siluman ular raksasa. Barong meraung keras, mengiring pengerahan tenaga terkuat sepanjang hayatnya ini.


“Aagh! Enyah kau!” Murca Deva cepat menggerakkan beberapa tentakelnya untuk mengusir Barong. Tanpa diduganya, kedua pendekar “lapis kedua”, Hima dan Taruna telah mendekat ke kedua sisi tubuh Murca Deva.

__ADS_1


Taruna menyabetkan senjata trisula, tombak bermata tiganya seganas ombak gempa lautan, tsunami dengan jurus pamungkas warisan Nyi Roro Kidul, Gelora Musnah Dunia.


Hima juga mengerahkan andalannya. Pedang Himawari disabetkannya berputar cepat, kuat dan akurat, memotong tiap sasarannya bagai Naga Es Sambar Selaksa.


Kedua pendekar itu sengaja mengincar sulur-sulur maut. Dengan satu jurus saja, Taruna berhasil memotong empat sulur dan Hima enam. Belum semua memang, tapi itu cukup untuk membuat serangan sulur-sulur lain jauh lebih mudah ditangkis dan dihindari.


Reog si pendekar terlincah membuktikan kenyataan ini dengan menangkisi sinar-sinar dari sulur-sulur yang tersisa. Ia berputar dengan bertumpu pada kedua tangannya, sementara kedua kakinya yang jenjang berputar-putar seperti baling-baling helikopter, membentuk pusaran energi pamungkas bagai Tornado Prahara Mayapada.


Tak perlu waktu lama hingga Taruna dan Hima membabat habis semua sulur Murca Deva, hingga serangan hujan sinar terhenti seketika.


“Menyebalkan! Enyah kalian!” Terpaksa Murca Deva Mengentak amat dahsyat, memboroskan prana dewanya untuk melepaskan tangannya dari cekalan Barong. Tubuh Barong terlempar jauh, namun memang itulah rencana sang pendekar. Dengan kedua tangannya itu Murca Deva menebar prana, memukul mundur Taruna dan Hima.


“Sadar dan bertobatlah, Murca!” Setelah mengatakannya, Solara merapal mantra. Lalu ia, Rangda dan Dahlia merapal sihir bersama-sama.


Kedua tangan Solara terayun lembut dan cepat, menebarkan bulir-bulir cahaya yang tak terhitung banyaknya seperti mencipratkan air yang digenggam tangan. Inilah sihir pamungkas Solara, Sinar Surya Menerangi Jagad.


Pistol semi-otomatis Rangda yang telah diperkuat menjadi senjata sihir menembakkan selarik cahaya ungu, tepatnya sebuah portal sihir berbentuk bintang heksagram di dalam lingkaran. Dari portal itulah sulur-sulur api yang tak terhitung banyaknya berlesatan bagai ular-ular terbang. Itulah pamungkas Hujan Api Neraka. Seluruh neraka bagai membuka pintunya, bergejolak untuk menarik masuk si pendosa.


Sedangkan Dahlia memainkan biolanya, gelombang suara membentuk udara, cahaya dan kekuatan pamungkas tumbuh-tumbuhan di dunia menjadi tujuh larik warna-warni Pelangi Nada Melintas Cakrawala. Dengan kekuatan sihirnya, Dahlia mengarahkan ketujuh larik itu mengejar Murca Deva, sekaligus memperkuat dan menambah rapat gabungan tiga serangan sihir ini.


Alhasil, tubuh setengah manusia, setengah ular raksasa Murca Deva diberondong tiga macam sihir gabungan bagai diguyur hujan asam. Setangguh apapun tubuh dewatanya, akhirnya lapisan prana pertahanannya jebol dan darah hitam mulai bercipratan dari sisik-sisiknya.


“Adilaga laknaaat! Masa’ aku harus mempertaruhkan segalanya untuk menghadapi kalian saja? Tidak! Aku menentang segala takdir yang menghalangiku, dan ini buktinya!” Murca Deva meraung sekeras-kerasnya.


Terpaksa, walau harus menunda ambisinya, walau harus bersemedi minimal satu tahun untuk memulihkan tubuh dewa dan prananya, Murca Deva akhirnya mempertaruhkan segalanya dalam satu gebrakan terakhir. Seluruh prana yang tersisa ia ledakkan, hingga Rangda, Solara, Dahlia serta para pendekar Adilaga lain dalam jangkauan terlanda.


 


 

__ADS_1


__ADS_2