ADILAGA

ADILAGA
CAKRA 4


__ADS_3


“Yah, kami dari I.N.D.I.G.O juga berhutang maaf pada kalian,” ujar Solara terus-terang. “Istri Wage telah menghubungi polisi, namun Kepolisian lambat melimpahkannya pada kami. Kami sudah bergerak sejak tadi lewat komunikasi radio polisi yang kami sadap, namun kemacetan Jakarta lagi-lagi menghambat kami hingga kami terlambat datang.”


“Tak perlu salahkan siapa-siapa. Sekarang aku harus ke Kantor Sanggabuana…” Cakra memaksa diri bangkit berdiri dan hendak terbang pergi, tapi ia roboh lagi.


Solara maju dan memapah “teman baru”-nya ini berdiri. Ia lantas bicara pada Cakra dan Reog, “Biar para agen I.N.D.I.G.O menanganinya. Mereka amat terlatih, dan beberapa di antara mereka, seperti Agen Abimanyu dan Agen Srikandi adalah pendekar sakti.”


Cakra melayangkan pandangan ke rumah Wage. Tampak si tersangka telah digiring ke mobil dan keluarganya telah ditenangkan. Kemungkinan mereka akan mengungsi dari rumah itu entah sampai kapan. Suasana tampak tak terlalu berisik, tanda para agen sungguh amat piawai dalam melakukan kerja mereka.


“Yah, kurasa kau benar,” ujar Cakra akhirnya.


“Ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui, Cakra dan Reog.” Solara terkesan sedang memilah kata-katanya. “Ada kelompok elit khusus dalam I.N.D.I.G.O, anggotanya terdiri dari para pendekar yang memiliki kekuatan super dan atau kesaktian istimewa, yah, seperti kalian ini.”


“Benarkah?” Reog tampak mulai tertarik. “Apa namanya?”


“Liga Pahlawan, ADILAGA.”


Reog terpaku sejenak, lalu menanggapinya, “Oh, jadi itu nama ‘organisasi rahasia’ yang kami cari? Adilaga?”


“’Kami’? Siapa saja yang kaumaksud itu, Reog?”


“Oh, hanya rekan detektifku… dan kliennya. Tapi menurut kabar burung yang beredar, justru Adilaga yang disebut-sebut sebagai nama organisasi rahasia penyelidik kasus-kasus supranatural, dan nama I.N.D.I.G.O hanya disebut sebagai istilah umum saja.”


Solara menanggapi Reog, “Justru memang kami sengaja menonjolkan nama Adilaga yang tak jelas keberadaannya untuk menyamarkan I.N.D.I.G.O. Apalagi menghadapi organisasi kejahatan terselubung, I.N.D.I.G.O harus mengenakan selubung yang lebih rapat, kalian mengerti, bukan?”


“Belum sepenuhnya, tapi kurasa cukup,” jawab Reog.


“Aku juga,” tanggap Cakra. “Tapi apakah ini tawaran untuk jadi semacam agen atau prajurit dalam satu pasukan?”


“Tidak juga,” ujar Solara. “Adilaga adalah sebuah jaringan, dimana para pahlawan super saling tolong-menolong, bahu-membahu. Kebanyakan pahlawan lebih suka beraksi sendiri-sendiri, sebagian dalam tim-tim kecil.”


Cakra dan Reog mengangguk setuju. Jelas mereka berdua adalah tipe pahlawan yang lebih suka bergerak sendirian.


Solara melanjutkan, “Tapi bila menghadapi musuh yang terorganisir amat rapi seperti SS Corporation, satu-satunya mengimbangi mereka adalah dengan dukungan jaringan Liga Adilaga dan Organisasi I.N.D.I.G.O.”


“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Cakra.

__ADS_1


“Kami akan menanam semacam alat pelacak dalam tubuh kalian. Alat ini akan membaca kondisi tubuh dan otak. Bila kalian dalam bahaya, alat akan mengirim sinyal lewat satelit ke markas I.N.D.I.G.O dan kami akan mengirimkan bala-bantuan sesegera mungkin.”


Tiba-tiba roh Mpu Gandring “membisiki” Cakra, dan Cakra tak ragu-ragu menyampaikan seluruhnya pada Solara. “Kalau begitu, aku terpaksa harus menolak tawaranmu untuk masuk Liga Adilaga.”


“Lho, apa alasannya?”


“Satu, aku lebih suka bergerak sendirian dalam keadaan apa pun, menghadapi musuh sekuat apa pun.”


Reog protes, “Lho, bukankah tadi kalau aku tak membantumu, kau pasti mati?”


Cakra mengangguk. “Ya, aku mengerti, dan aku berterima kasih untuk itu. Karena itu pula, alasan kedua, kalaupun aku harus berkelompok, aku lebih suka bergerak bersama-sama. Aku tak mau seseorang menanam sesuatu di tubuhku dan memberi perintah padaku. Aku akan membantu bilamana perlu, tapi itu harus berdasarkan kemauanku sendiri.”


“Hei, jangan begitu, Cakra,” ujar Reog dengan gaya. “Lain kali kau belum tentu seberuntung tadi, ada aku datang menolongmu dan Solara yang…”


Solara menyela, “Rupanya keputusanmu sudah bulat, Cakra, kuhargai itu. Aku takkan memaksamu atau siapapun. Nah, bagaimana denganmu, Reog?”


“Tentu saja aku mau bergabung. Tapi aku harus memberitahu rekanku dan kliennya pula tentang Adilaga, I.N.D.I.G.O dan Cakra ini.”


“Lho, memangnya mereka pahlawan super pula?” tanya Solara.


“Sayangnya, ya.” Nada bicara Reog saat mengatakannya tak seantusias tadi. Cakra yang menyadari itu pula menduga, ada sesuatu yang tak beres dalam hubungan antara Reog dan kedua pahlawan super lainnya.


“Kalau tak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku minta diri dahulu, ujar Cakra, mulai melangkah meninggalkan tempat kejadian ini.


“Silakan,” kata Solara sambil mengibskan rambut indahnya, tak kalah anggun dari Debora tadi. “Kapanpun kau berubah pikiran, carilah kami.”


“Kau tahu aku takkan melakukannya.”


“Lihat saja nanti.”


Walau belum bisa terbang lagi, Cakra menggunakan prana yang baru pulih seadanya untuk berlari secepat sambaran halilintar.


Sebagai Adhyaksa Wiguna, hanya ada satu pikiran dalam benaknya. Memastikan rekan-rekannya di Harian Sanggabuana baik-baik saja.


 


\==oOo==

__ADS_1



Tak ada serangan apapun malam itu. Suasana rumah-kantor tempat Kantor Redaksi Harian Sanggabuana itu tampak amat sepi dan lengang. Diam-diam Cakra, yang kini telah beralihrupa menjadi Adhi sekali lagi dibuat takjub dan kagum oleh kesigapan para agen I.N.D.I.G.O ini.


Keesokan paginya, sebuah paket dititipkan di depan pintu masuk rumah-kantor Harian Sanggabuana, yang pintu teralisnya masih tertutup rapat. Semenit kemudian, paket itu meledak.


Tak ada korban jiwa baik dari pihak Sanggabuana dan penghuni rukan-rukan di sebelahnya. Namun kerusakan berat yang ditimbulkan pada ruangan depan rukan tak menyurutkan semangat surat kabar independen ini untuk aktif menguak fakta dan mengungkapkannya, walau dengan lebih hati-hati kini. Belum tentu setiap kali mereka beruntung, ada yang mengabarkan peringatan sebelum bencana tiba.


Sebenarnya Adhyaksa Wiguna amat terganggu dengan “melembeknya” Sanggabuana. Namun apa boleh buat, kehati-hatian memang satu-satunya cara bertahan hidup di Negeri Para Tikus ini.


Tapi tak apa, setidaknya masih ada pekerjaan untuk Adhi, yang berarti masih ada sumber informasi bagi Cakra untuk melanjutkan aksi-aksinya membasmi kejahatan yang terus mewabah di Ibukota Jakarta.


Contohnya, Cakra kini sedang mendarat dari langit malam, berdiri tegap dan menantang, berhadapan langsung dengan satu geng motor yang terkenal brutal.


“Huh, kupikir kau saja yang sakti, bung?” teriak si pemimpin geng, pria yang penuh tato hijau bahkan sampai seluruh wajahnya, sambil mengacungkan golok panjangnya. “Biar aku, Buto Ijo memenggal kepala lucumu untuk pajangan di ruang tamu! Semua, terjang dia bersama-sama!” Ia maju memacu motor besarnya, diikuti semua anak buahnya.


Dengan wajah amat tenang, Cakra malah belum bergerak. Baru saat motor terdepan masuk jarak tembak, Cakra menembakkan beberapa larik petir merah dari kedua tangannya.


Petir menyambar roda dan mesin motor hingga benda-benda besar itu terpelanting di udara, menjatuhkan para penunggangnya. Tak hanya itu, petir itu menyambar secara berantai, menumbangkan semua motor lain pula.


Andai Buto Ijo bukan manusia sakti, ia pasti mati dengan tulang leher remuk. Ternyata pria besar itu hanya terkapar pingsan di jalan beraspal. Para anak buahnya rata-rata mengerang kesakitan, tepat saat sirene polisi meraung-raung di kejauhan, mendekati tempat pertarungan.


Seperti biasa, Cakra selalu ambil langkah seribu, memilih lari daripada terbang dan dikenali polisi. Saat tiba di tempat sepi, Cakra berpikir untuk berubah wujud kembali menjadi Adhyaksa Wiguna. Namun niatnya urung karena merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.


Cakra berbalik dan melihat seorang gadis cantik berkostum seperti penari Bali, warnanya serba ungu-merah marun. Gadis itu mendekat ke jarak tembak pistol, kacamata topeng merah marunnya berpendar, gelagatnya tak bersahabat.


“Siapa kau? Ada urusan apa kau denganku?” sergah Cakra tak gegabah, menyelidiki dahulu apakah wanita bertopeng ini kawan atau lawan.


Dengan wajah tanpa ekspresi, si wanita bertopeng menggenggam sepucuk pistol yang dibidikannya ke arah Cakra. Serunya, “Aku kemari untuk menuntaskan dendam padamu, Cakra!”


“Dendam apa? Aku tak mengerti.”


“Jangan pura-pura tak tahu! Perhatikan rupaku, coba ingat lagi masa lalu dari namaku.”


RANGDA.


 

__ADS_1


 


__ADS_2