
Gilang Kandaka kembali berlatih di bawah bimbingan Jin Himawari. Kadangkala ia beralihrupa menjadi Hima, kadang tidak.
Di waktu-waktu tertentu, kalung Hima berubah wujud menjadi pedang, tombak, kapak atau busur. Selain berlatih jurus, Gilang kadang menggunakan pedang untuk melawan hewan buas yang mengancamnya. Menebang cabang-cabang pohon dengan kapak untuk membuat api. Menombak ikan di sungai dangkal dekat lereng gunung. Memanah burung atau hewan lain dengan busur dan anak panah prana es.
Untunglah Gilang sering berkegiatan di alam liar terbuka, hingga usaha-usaha untuk bertahan hidup itu menjadi pelengkap bagi latihan-latihan jurusnya. Tanpa ia sadari, otot-otot tubuhnya makin terbentuk, makin keras dan makin kekar.
Namun, kesiapan Hima untuk “turun gunung” tetap harus diuji. Disaksikan sosok bayangan Himawari, kali ini Gilang dalam wujud Hima berdiri tegak, siaga dengan Pedang Himawari digenggam dengan dua tangan. Di hadapannya tampak pilar-pilar batu yang berjajar rapi dalam dua barisan, masing-masing terdiri dari delapan pilar batu.
“Nah, setelah kau berhasil memahat pilar-pilar batu dengan palu dan pahat dan membariskannya dengan kekuatan super dari pranamu, tibalah ujian terakhir,” ujar Jin Himawari.
Hima bertanya, “Apa aku harus membekukan dan memenggal semua pilar itu?”
“Benar, tapi lakukan itu semua dengan satu jurus saja.” Himawari mengacungkan satu jarinya.
“Apa?” Hima terperanjat. Jin Himawari sendirilah yang berkata muridnya amat berbakat. Semua jurus yang ia ajarkan telah dikuasai tuntas. Bahkan prana Himapun dinilai cukup kuat untuk menjalani ujian akhir ini. Namun, dengan prana yang tersisa setelah menempuh dua ujian sebelumnya, apakah Hima cukup kuat untuk mengemban tantangan ini?
Seolah membaca pikiran Hima, Himawari berkata, “Kau akan tahu bila kau mencobanya.”
Hima tertunduk sejenak untuk berpikir, lalu ia berdiri menghadap jajaran enambelas pilar itu. Ia tahu, cukup jurus andalan dan bukan pamungkas saja untuk menangani ini. Walau “musuh” tak bergerak, perlu kecepatan dan prana yang cukup untuk membekukan dan memenggal batu. Karena itulah, Hima menghimpun tenaga dalam hingga semacam pendar putih berkilauan terpancar dari raganya. Pedang Himawari tergenggam erat di tangan, sikap tubuh Hima tegak, dengan lutut agak ditekuk tak ubahnya kuda-kuda pembuka jurus.
“Naga Es Kembar Selaksa”.
Sambil mengucapkan nama jurusnya, Hima berlari maju. Ayunan pedangnya menyambar-nyambar. Bagai naga es mengamuk, rahang, cakar dan sayapnya menerjangi setiap batu yang ia lintasi. Setiap batu terkena persis empat sabetan pada tiap sisinya. Dengan pergerakan yang amat lincah, Hima membekukan pilar-pilar itu secara berurutan, dari pilar kiri-kanan terdekat hingga terjauh.
Tiba di ujung barisan, citra naga es itu lenyap seketika. Sang pendekar super berdiri tegak sambil mengibaskan pedangnya. Entah apakah kibasan itu bagian dari jurus, atau terjadi efek dari jurus terjangan tadi. Tonggak-tonggak batu itu bertumbangan.
Cerdiknya, Hima hanya perlu menumbangkan pilar-pilar garis pertama, dengan arah tumbang yang persis tegak lurus dengan garis kedua hingga kedelapan. Daya tumbang dari pilar-pilar dari deret terdekat dengan Hima hingga terakhir itu seperti kartu-kartu domino yang tersusun dalam barisan dan dirobohkan.
__ADS_1
Akhirnya, lima belas pilar batu tumbang. Tinggal pilar keenambelas yang masih tegak walau tertimpa pilar di depannya. Melihat hasil itu, Hima mengepalkan tinjunya sambil berdecak kesal.
Namun, yang berikutnya Hima dengar adalah suara tepuk tangan. Tak mempercayai reaksi ini, Hima cepat menoleh ke arah Jin Himawari, namun sang guru tampak diam saja. Selayang pandang lagi, Hima baru tahu ternyata yang bertepuk tangan itu adalah seorang pendatang baru.
Rupanya si pendatang itu adalah seorang pria yang berpenampilan misterius. Ia mengenakan jaket coklat muda bertudung, masker pengendara motor berbentuk aneh seperti hidung dan mulut buruk rupa, juga kacamata hitam untuk menyamarkan penampilan. “Bagus, bagus sekali,” ujarnya. “Sungguh sakti.”
“Siapa kau? Ada urusan apa kau menonton aksiku tadi?” sergah Hima, mengacungkan pedang panjangnya penuh ancaman.
Dengan suara amat serak pria itu menjawab, “Wah, wah, mana sopan-santunku ini.” Dengan perlahan ia membuka kacamata, lalu masker dan terakhir tudungnya. Tampak seraut wajah pria tua yang amat tak lazim. Rambutnya putih, panjang terurai, sama lebatnya dengan kumis putihnya. Yang paling aneh adalah kulitnya yang merah padam sewarna darah, berpadu rona kecoklatan akibat terlalu sering terpapar matahari.
Dengan sorot mata tajam penuh selidik, pria tua itu berkata, “Aku tak bernama, namun kaumku menjulukiku si Warok Tua.”
Lewat penglihatan dan indera benak saktinya, Hima mendeteksi aliran prana yang luar biasa pada aura Warok Tua. Jadi ia bersikap ekstra waspada dan berkata, “Lantas, apa urusanmu di sini? Kau pasti bukan pelancong atau pendaki gunung yang kebetulan lewat, ‘kan?”
“Tentu bukan,” jawab Warok Tua. “Aku telah lama mengamatimu, Gilang Kandaka, pewaris Himawari. Mulai saat kau menghilang, aku sudah menduga kau akan ke Gunung Semeru ini. Sengaja aku menunggu hingga kini aku yakin, kau sungguh sakti mandraguna. Jadi aku ingin memberikan sebuah penawaran untukmu.”
Sebagai Gilang, Hima belum pernah mendengar nama Warok Tua disebut-sebut oleh Julia. Apalagi Gilang memang tak tergabung dalam Liga Adilaga dan tak tahu apa-apa tentang Organisasi Rahasia I.N.D.I.G.O. Warok Tua pasti mengamatinya lewat sepak-terjang Dahlia. Jadi, untuk mengetahui di pihak mana si Warok Tua ini, mau tak mau ia mendengarkan penawarannya dahulu.
Dengan sorot mata tajam meyakinkan, Warok Tua bicara, “Bergabunglah denganku. Aku bekerja pada seorang tuan yang sangat kuat, baik dalam hal kesaktian maupun sumber daya. Baru-baru ini, untuk mendukung sebuah rencana besar, tuanku merekrut pendekar-pendekar sakti dari segenap penjuru negeri. Aku dan para warok telah bersumpah setia pada beliau, dan telah menikmati keuntungan besar lewat tugas-tugas yang telah kami jalankan.
Nah, agar keuntungan itu jadi lebih besar lagi, aku juga harus memperkuat pasukanku sendiri. Dengan bantuan kalian, jin dan pendekar sakit hati, kita akan jadi yang terkuat!”
“Hm, menarik,” ujar Hima sambil tertunduk, satu tangannya bertolak pinggang. “Tapi aku harus menanyakan beberapa hal sebelum mengambil keputusan.”
“Apa itu?”
“Siapa ‘tuan’-mu itu? Apa rencana besarnya? Tugas-tugas macam apa yang kalian jalankan, dan keuntungan apa yang kalian dapat? Apakah uang atau hal-hal lain?”
Warok Tua mulai menampakkan ekpresi kurang senang di wajahnya. “Untuk menjawabnya, biar kutegaskan syarat-syarat untuk bergabung. Pertama, kau harus memiliki kekuatan dan kesaktian istimewa, yang mana sudah kaupenuhi. Kedua, yang tak kalah pentingnya, kau tak perlu banyak tanya tentang organisasi kita. Kau hanya bekerja dan patuh padaku, aku seorang. Lakukan saja segala yang kusuruh, dan hidupmu pasti makmur dan berkelimpahan.”
__ADS_1
“Bagaimana bila aku melakukan kesalahan atau memutuskan untuk berhenti dari dunia kependekaran?”
“Maka aku takkan bisa menjamin keselamatan nyawamu.”
Hima terdiam. Beberapa saat kemudian baru ia bicara lagi, “Asal tahu saja, Warok tua. Kau ini lebih parah daripada mitra lamaku.”
“Apa maksudmu, hah?!” Nada suara Warok Tua berubah kasar dan makin serak.
“Aku meninggalkan rekan-rekan lamaku karena peranku tak lebih dari pembantu, tak punya akses ke organisasi mereka sama sekali. Aku kemari untuk mendapatkan kembali kesaktianku, supaya aku bisa berkiprah lebih besar lagi dalam organisasi itu.
Tapi kau malah muncul, memberikan penawaran tak jelas, mengekang rasa kebebasan dan hak asasiku. Mana mungkin aku mengabdi dengan sepenuh hati kalau begini? Maaf, sebaiknya kau cari orang lain saja untuk dijadikan abdimu.”
Darah Warok Tua menggelegak, seakan naik ke ubun-ubun. “Dasar tak tahu diuntung! Siapapun yang menolakku, hanya satu akibatnya! Mati tanpa kuburan!”
Sebelum Warok Tua sempat bertindak, tiba-tiba tubuh Hima kejang-kejang.
“H-hei! Apa-apaan… ini! H-Himawari!” seru Hima sambil berteriak kesakitan sejadi-jadinya.
Jin Himawari mengambil posisi di belakang Hima sambil berkata, “Maaf, sobat. Justru menurutku tawaran Warok Tua jauh lebih menjanjikan daripada bekerja bersama rekan-rekan lamamu. ‘Kerjakan tanpa banyak tanya, dan raup hasilnya!’ Kurasa itu jauh lebih masuk akal daripada ‘mengabdi dan hidup pas-pasan!’ Jadi, terpaksa sekali lagi kuambil alih tubuhmu, hingga kaku sepenuhnya sadar dan menerima kalau Warok Tua memang benar.”
“Tidak, Himawari! Kita sudah sepakat… J-jangaan!” Kata-kata Gilang dalam tubuh Hima makin senyap, lalu lenyap.
Berikutnya, suara Gilang kembali bergema, namun kini dengan pikiran si jin penjajah raga. “Aku, Hima dari Himawari adalah abdimu, Warok Tua Sakti.”
Hima berlutut khidmat di hadapan tuannya yang baru.
“Bagus! Bagus sekali! Dengan bantuanmu, Himawari, kejayaan tanpa batas akan jadi milik kita!” Disusul tawa puas Warok Tua yang menegadah, menantang langit. “Hahahahaha!”
Sudah terlambat bagi Gilang untuk menyesalinya. Seharusnya Ia tak kembali lagi ke Gunung Semeru ini, selamanya.
__ADS_1