Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
11. Malam pengantin.


__ADS_3

"Tinggalkan saya bersama ndoro ayu..!!" Pinta Bang Risang.


~


"Dindaa.." Bang Risang menepuk pelan pipi gadis yang masih memakai riasan lengkap. Ia menurunkan kain dodotan yang memang sempat berantakan sama seperti Naru. Kain Naru pun bahkan masih tertinggal di kamar itu.


Perlahan kesadaran Yesha mulai kembali. "Yesha nggak mau.. Yesha takut..!!" Ucapnya berontak dari dekapan Bang Risang.


"Dinda.. ini Kangmas..!! Buka mata dulu..!!" Pinta Bang Risang.


Nafas Yesha terasa sesak. Ia pun meronta dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Bang Risang karena ketakutan.


"Kamu di apakan sama Naru? Biar Mas yang hajar..!!"


"Mas Naru mau buka bajunya."


Kening Bang Risang berkerut, apa yang terjadi pada Yesha tidak seperti kelakuannya saat pertama kali mereka bertemu, yang suka pemer tingkah nakal dan sangat menggoda. Ada keraguan dalam diri Bang Risang tapi ia harus memastikan segalanya. "Garwanipun Kangmas Risang, umpami Kangmas nyuwun wadah jenang marang Dinda menopo di paringi?"


Seketika tangis Yesha berhenti, ia berkedip-kedip menatap wajah Bang Risang. "Mas Ris ngomong apa? Yesha nggak ngerti."


"Kamu nggak paham bahasa krama?" Tanya Bang Risang.


"Paham, tapi nggak paham yang Mas minta. Wadah jenang apa?"


"Mas pengen punya anak dari kamu..!!" Jawab Bang Risang tak bertele-tele.


Meskipun hasratnya begitu menggebu, tapi Bang Risang tidak ingin membuat Yesha semakin takut. Perlahan tangan itu merebahkan tubuh Yesha. "Nurut sama Mas Ris. Penak kok dek..!!" Bujuk Bang Risang.


Tangan Bang Risang menyentuh lembut tubuh Yesha untuk pertama kalinya. Bang Risang pun beralih posisi untuk mendekap tubuh Yesha. "Mas Ris ketuk pintu.. di buka ya dek..!!"


//


"Kangmas janji tidak akan mengulangi kecerobohan seperti tadi. Kangmas ngaku salah..!!"


"Janji..!!!" Tegas Dara.


"Janji Dindaaa..!!"


Dara yang kalem hanya mengangguk saja. Bang Naru paham pasti ada rasa sakit dalam hati Dara.


Untuk beberapa saat mereka berdua hanya saling pandang dan pandangan itu sangat mengganggu laju detak jantung Bang Naru.

__ADS_1


"Percaya sama Mas..!!" Bang Naru melepas pakaiannya. Rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun, apalagi ia melihat Dara sedang melepas pentul di atas kondenya.


"Sabar to Kangmas..!!"


"Nggak betah Dinda..!!!!" Bang Naru pun mengangkat Dara ke atas tempat tidur.


"Kangmaaaass sabaaar..!!!" Pekik Dara samar terdengar hingga keluar kamar, hingga terdengar di telinga Bang Risang yang sedang eksekusi lahan gerak.


//


"Dinda nggak kuat lagi Mas..!!" Yesha merintih kesakitan saat Bang Risang menghentaknya begitu kuat.


Rasa panas di tubuhnya sungguh tak tertahan hingga rasa lelah pun tak dirasa. Merasa sangat tanggung, Bang Risang pun mempercepat ritme untuk penyelesaian.


"Maaaaaaaaaass..!!"


***


Tengah malam, paviliun Bang Risang berkasak kusuk agar tidak membangunkan yang lain. Terpaksa Bang Risang meminta tolong si mbok untuk membantunya merawat Yesha yang tengah kesakitan. Sesaat tadi bibirnya sempat ternganga melihat banyaknya bercak pada kain putih di atas ranjang.


"Selamat Raden semoga cepat dapat momongan..!!"


"Tidak usah gembar gembor di luar mbok. Cukup mbok saja yang tau bahwa hanya saya saja yang menyentuh ndoro ayu. Saya sudah menikahi ndoro ayu, saya yang berhak atas rumah tangga saya..!!" Ucap tegas Bang Risang.


"Maaaass..!!"


"Masih nyeri ya dek.."


Yesha pun mengangguk tak nyaman.


"Mbok.. tolong ambilkan air hangat, biar saya yang merawat ndoro ayu.. setelah itu silahkan mbok istirahat..!!"


:


"Kenapa nggak bilang sama mas kalau kamu tidak paham. Lalu selama ini apa yang kamu lakukan di luar sana??" Dengan telatennya Bang Risang mengompres perut Yesha.


"Ada teman Yesha yang mengajari, kalau ingin selamat dari makhluk bejat berjenis jantan.. kita harus pura-pura pandai agar tidak di perdaya." Jawab Yesha.


"Siapa?? Adri?? Sepertinya mas harus berterima kasih sama dia." Kata Bang Risang.


"Bukan, malah cara ini Yesha terapkan untuk menghindari Bang Adri."

__ADS_1


"Oya??? Predator juga dia." Bang Risang sampai tersenyum sengit mendengarnya.


"Hmm.. Mas, apakah benar Mas akan pindah tugas?" Tanya Yesha.


"Iya, kamu siap khan?"


"Insya Allah Yesha siap Mas."


"Matur suwun Dinda."


Bang Risang tersenyum lega. Sungguh ada rasa yang tidak bisa tergantikan oleh apapun juga. Bisa menikahi wanita yang pernah ia anggap tinta merah yang akan ia abaikan namun malah kejutan indah yang ia dapatkan. Bang Risang menyentuh jemari Yesha lalu mengecupnya. "Terima kasih juga untuk malam ini, luar biasa.. Mas sampai panik.."


"Sami-sami Kangmas..!!"


"Cepat sembuh Dindaku.. biar Kangmas bisa mengulangnya lagi..!!" Goda Bang Risang mulai terbiasa dengan suasana kesultanan.


"Maaaaass..!!"


-_-_-_-_-


"Buang mbok, jangan di perlihatkan siapapun..!!" Pinta Bang Naru.


"Baik Raden.. si mbok yang simpan." Jawab Bang Naru karena beberapa orang sudah menunggu di depan kamar.


"Selamat Raden, semoga cepat mendapatkan momongan..!!"


"Terima kasih..!!" Jawab Bang Naru singkat.


"Ndoro ayu masih belum bisa bangkit?" Tanya si mbok.


"Nggak apa-apa mbok. Ada Kangmas Naru."


Bang Naru melirik Dara. Sang istri memercing kesakitan.


"Si mbok bisa tinggalkan kami, biar saya tangani ndoro ayu..!!"


"Baik Raden.. si mbok pamit..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2