Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
27. Sebuah proses.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Bang Naru menemui Adri di rumah sakit, persidangan Bang Risang hampir mencapai babak final.


"Saya tidak mengancam mu sebagai atasanmu tapi sebagai manusia biasa. Kau tau Adri.. hidup kita hanya sementara. Saya bisa saja membunuhmu tapi kalau kamu langsung mati, kamu tidak akan merasakan pahitnya penderitaan."


"Apa yang aku lakukan semata karena aku mencintai tiga wanita secara bersamaan. Pertama Yesha, kedua Ayana dan ketiga adalah calon istriku. Kini aku menyadari cinta itu tidak ada di dunia ini. Cinta hanya menciptakan penderitaan." Jawab Bang Adri.


"Tidak jika kamu tidak tamak. Kamu terlalu serakah karena ingin memiliki semuanya. Kelakuanmu pun sudah di luar batas kewajaran Adri. Kedatangan saya kesini juga tidak ingin memohon, hanya perlu kamu ingat.. perbuatanmu sudah membuat nyawa keponakan saya hilang, kondisi Yesha sangat memprihatikan dan yang pasti mereka sudah hancur lebih. Berikan keputusanmu..!!"


\=\=\=


"Dengan ini korban mencabut segala tindakan dari kasus penikaman dan meminta tersangkanya utama untuk di bebaskan dari tuntutan tersebut namun kasus ini tidak bisa menjadi contoh dan tauladan di kalangan militer maka dengan ini Lettu Risang Amukti Parepen di kembalikan kepada masyarakat umum..!!"


Mama menangis histeris, Papa Igo memejamkan matanya sejenak. Sungguh dalam hatinya ada rasa sakit, namun inilah jalan takdir hidup. Dulu.. saat sang putra lulus dari akademi, ia begitu bangga melihat prestasi sang putra berada di urutan nomer satu. Kini segalanya harus terkubur bersama segala kenyataan pahit yang ada.


Bang Risang bersandar di bahunya dan Bang Naru mendekat. Ia memberikan penghormatan pada Abangnya. Bang Risang menghambur memeluk adiknya, tangisnya tumpah ruah. Kini dirinya bukan lagi seorang militer.


"Abang tetap littingku, tetap atasanku.. kau yang terhebat Bang..!!" Kata Bang Naru. "Walau tidak memakai seragam ini lagi, kau tetap perwira dari semua abdi negaramu..!!"


Para anggota yang lain memberi hormat salut pada atasannya. "Loyalitas kami tetap pada atasan. Hormat salut Lettu Risang Amukti Parepen..!!"


Bang Risang pun memeluk mereka satu persatu.


Tak lama, hadirlah sosok yang sedang di dorong di sebuah kursi roda oleh seorang wanita masuk ke dalam ruang sidang.


"Sayang.. Mas rindu.." Bang Risang langsung memeluk Yesha, tubuhnya tidak seperti dulu lagi. Tangan itu meraba wajah Bang Risang, air matanya pun meleleh.


"Kangmas.. Mbak Yesha tidak bisa berjalan, tidak bisa bicara lancar, tidak bisa mendengar dan.... tidak bisa melihat.." kata Ratih.


"Kamu siapa?"


"Ratih..!!" Jawab Ratih kemudian menunduk tak berani menatap wajah Bang Risang.

__ADS_1


Bang Risang tidak paham siapa sosok di hadapannya.


"Nanti Papa jelaskan..!!" Kata Papa saat melihat raut wajah kebingungan dari putranya.


...


"Jadi aku harus menikahi dia???? Aku nggak mau Pa.. dan kamu..!!!! Kamu memanfaatkan keadaan istri saya agar saya menikahi kamu???"


Ratih terus menunduk saat Bang Risang membentaknya di hadapan semua orang.


"Duduk dulu Risang.. kita bicara..!!" Bang Aryanto membuka suaranya lalu mengajak Bang Risang untuk duduk. "Aku Abang kandung dari Yesha. Kau pasti tau perasaanku akan sakit menyaksikan kamu harus menikahi perempuan lain, kamu akan menduakan adikku.. tapi kita semua sedang tertimpa musibah. Pahamilah Risang, kita sedang berada dalam lingkungan yang tidak biasa, kita hidup dalam lingkungan kesultanan kuno yang penuh dengan aturan."


"Ini nggak benar Ar..!!"


Bang Aryanto beringsut dan bersujud di hadapan Bang Risang. Gusti Raden Mas Risang Parepen.. Kulo nyuwun tulung..!! Aku mohon nikahilah Ratih, hanya cara ini yang bisa menyelamatkan Yesha agar tidak di asingkan ke pulau seberang..!!"


"Tidak perlu menikahi Ratih, aku akan menjaganya di pulau seberang..!!"


"Astagfirullah.. kenapa kalian semua menekanku??? Aku bukan pion yang bisa kalian atur seenaknya..!! Aku punya pilihan." Teriak Bang Risang memberontak.


"Sayangnya tidak Ris." Bang Bramantyo pun ikut menunduk. "Jika kamu menolak, korban akan semakin banyak."


ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtt..


Bang Naru menjawab panggilan telepon dari Dara. "Assalamu'alaikum sayang, sebentar lagi mas pulang ya."


"Wa'alaikumsalam Mas.... aduuhh..!!"


"Kenapa Dinda??"


"Maass.. Dara nggak kuat, si adek sudah minta keluar..!!" Pekik Dara di seberang sana.


"Iyaa.. iyaaa.. Mas kesana sekarang..!!" Kata Bang Naru.

__ADS_1


"Mama ikut.." kata Mama Nai.


"Papa juga.."


...


"Dara nggak kuat Mas..!!"


"Jangan bilang begitu ndhuk, Dara pasti bisa, Dara pasti kuat. Mama ikut temani Dara ya..!!" Mama Nai mengusap kening menantunya.


"Rebe.. kenapa hanya diam seperti patung saja.. usap punggungnya..!!" Tegur Papa Igo melihat Bang Naru terpaku di tepi ranjang.


"Ini sudah dua jam Pa? Kenapa belum lahir juga?" Tanya Bang Naru.


"Ini proses melahirkan Be.. bukan proses nunggu goreng tempe mendoan yang asal celup terus matang." Jawab Papa Igo.


"Kalau begini terus, Dara bisa semakin kesakitan Pa. Kenapa nggak tindakan operasi saja." Kata Bang Naru.


"Operasi juga sakit setelahnya Be. Kamu bagaimana sih mikirnya." Sambar Mama jadi pusing karena sedari tadi Bang Naru beradu dengan pikirannya yang tidak jelas.


"Aaarrghh.." Bang Naru terpekik kaget saat tiba-tiba Dara menggigit punggung tangannya. "Sakiit Dindaaaa..!!"


"Sakitnya nggak seberapa Be. Yang melahirkan lebih sakit" Papa Igo memilih keluar karena bulu kuduknya mulai merinding. Sampai kapanpun fase persalinan adalah yang membuatnya pernah tidak sanggup makan selama tiga hari lamanya.


"Permisi ya Bu, saya lihat." Kata Bu Bidan. "Waahh sudah lengkap nih. Ayo ngejan..!!" Ajak Bu bidan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2