Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
34. Cemburu.


__ADS_3

"Dinda mau makan apa?" Tanya Bang Risang sepulang mereka berdua dari rumah sakit.


Ratih melihat banyak makanan di sepanjang jalan. Ia pun meminta Bang Risang untuk menepi.


:


"Enak khan mbak.. makan yang banyak ya biar si adek sehat..!!" Ratih terus saja menyuapi Yesha. Ternyata semua makanan yang di belinya tadi hanya untuk Yesha saja.


Yesha tersenyum mendengarnya, wajahnya berbinar rona bahagia.


"Biar si mbok yang suapi ndoro ayu ya Gusti Ayu..!!" Kata si mbok yang menjaga Yesha.


"Si mbok bisa kerjakan pekerjaan lain. Ndoro ayu sama saya..!!"


Bang Risang menarik nafas panjang lalu membuangnya dan masuk ke dalam paviliun dan mengabaikan aturan yang ada. Ia mengarahkan agar si mbok keluar dari kamar.


"Kangmas sudah makan malam?" Tanya Ratih namun Bang Risang tak menjawabnya, ia mengambil piring dari tangan Ratih lalu menyuapi Yesha istri pertamanya.


:


"Kangmas bertanya supaya kamu makan. Kenapa di pikiranmu hanya ada Yesha???" Bang Risang sampai menaikan intonasi suaranya karena gemas menghadapi Ratih.


"Ratih masih bisa menjaga diri sendiri, tapi mbak Yesha harus di bantu. Mbak Yesha tidak bisa memilih apa yang di inginkannya." Jawab Ratih.


"Kamu bisa menjaga diri?????? Kamu sendiri masih lemas, bisa bisanya kamu memikirkan yang lain."


"Mbak Yesha bukan orang lain, jika Mbak Yesha bahagia.. Ratih juga bahagia."


"Kangmas tau Dindaaa.. tapi tidak dalam segala hal. Di perutmu juga ada anak Kangmas. Kamu harus pikirkan dia juga..!!!!!" Bang Risang sampai membentak Ratih.


Ratih tersentak, menunduk kemudian menangis.


"Ya Tuhan.. kenapa sih perempuan selalu menyelesaikan segala hal dengan tangis??? Kangmas hanya bicara, nggak mengajakmu ribut..!!!!" Suara itu sekali lagi mengisi seluruh ruang kamar.


bbllgghh..


"Astagfirullah.. Dindaaaa..!!" Bang Risang lumayan kaget saat istri keduanya kembali tak sadarkan diri.


~


Bang Risang memijati kaki Ratih. Ada sesal dalam hatinya karena tidak bisa menahan rasa marah. Hati Ratih begitu lembut, istrinya itu sangat kalem hingga suara keras pun bisa menyakiti perasaannya belum lagi saat ini kondisi Ratih tengah mengandung jabang bayinya. "Kangmas minta maaf Dinda. Kangmas hanya ingin jika kita sedang bersama.. jangan pikirkan yang lain..!!"


"Dinda tidak berhak apapun atas diri Kangmas. Sungguh Dinda tidak ingin Mbak Yesha merasa sedih karena hadirnya Dinda." Kata Ratih memalingkan wajah menghindari Bang Risang.

__ADS_1


"Kita sudah menjalani rumah tangga seperti ini Dinda, jadi kita harus saling legowo dan berbesar hati menghadapinya. Posisimu dan Yesha sama di mata Kangmas dan Kangmas berusaha memberi kalian berdua kasih sayang yang sama." Ucap Bang Risang.


//


"Mbok mban lihat sendiri Raden lebih sayang dengan Gusti Ayu Kamaratih. Beliau sering memanjakan Gusti Ayu dan sepertinya Gusti Ayu tidak suka dengan Ndoro ayu." Kata si mbok pendamping selir utama kesultanan. "Sekarang ndoro sudah bisa melihat, lebih baik ndoro datang dan tiba-tiba memberi kejutan pada Raden Mas dan Gusti Ayu agar ndoro ayu bisa melihat jahatnya Gusti Ayu, beliau yang sok polos merayu Raden Mas untuk dirinya sendiri."


"Saya nggak percaya kalau gusti ayu sejahat itu mbok." Lirih suara Yesha semakin hilang merasakan kegundahan batinnya.


"Baiklah ndoro ayu, kita keluar kamar dan melihat Raden mas sudah terpengaruh bujukan Gusti Ayu." Bisik mbok mban. "Malam ini seharusnya Raden mas menemani ndoro ayu tapi beliau lebih memilih bermalam di paviliun utama."


//


Bang Risang membelai dan menyisir lekuk wajah Ratih dengan bibirnya, rasa bersalah sungguh menekan batinnya. Satu bulan lebih dirinya terlalu sibuk dengan Yesha hingga mengabaikan istri keduanya yang tidak pernah sedikitpun menuntut padanya. Saat ini dirinya datang bukan karena paksaan, melainkan datang pada Ratih karena menyadari dirinya memang suami dari Gusti Ayu Ratih yang sah, ada sepercik rasa rindu yang sulit ia ungkapkan.


"Kangmas, ini sudah terlalu malam. Apa tidak sebaiknya Kangmas kembali ke paviliun Mbak Yesha?" Ratih menegur Bang Risang yang terus menyerusuk ke sela lehernya. Tangannya pun sudah mulai menjalar kesana kemari.


"Kenapa kamu membuat Kangmas tidak punya kamar? Kangmas pengen sama kamu Dinda." Ucap jujur Bang Risang.


"Tapiii.. Mbak Yesha pasti sudah menunggu Kangmas."


"Kangmas sudah terlalu sering menginap disana Dinda." Perlahan Bang Risang membuka pakaian Ratih kemudian dengan pakaiannya sendiri. "Kangmas bawakan obat anti mual untuk kamu Dinda..!!" Bujuk Bang Risang.


"Kangmaas.. Dinda nggak berani..!! Apakah boleh kita seperti ini lagi?" Ratih yang sangat polos begitu ketakutan karena Bang Risang sudah semakin mendekapnya.


"Apa Kangmas rindu?"


"Kangmas punya istri, tentu saja Kangmas rindu. Maaf Dinda Ratih.. Kangmas sempat melupakanmu..!!" Jawabnya sembari beralih posisi.


:


"Kamu suka Dinda?"


"Iya Kangmas, Dinda suka."


Bang Risang tersenyum nakal, d**ah panjang Bang Risang pun terdengar, dirinya sudah nyaris mencapai puncaknya. Sungguh saat itu Bang Risang tak bisa menahan perasaan mendengar rintih manja Dinda Ratih. Ia menggenggam erat jemari Ratih, dekapan itu terasa sangat kuat.


"Semua untukmu Dinda..!!"


Satu detik.. dua detik.. tiga detik..


Pintu kamar terbuka, Yesha melihat Bang Risang begitu menikmati kebersamaannya bersama Ratih.


"Mbak Yesha..!!" Ratih sangat kaget sampai menarik selimutnya dan Bang Risang ikut melihat Yesha sudah berada di pintu.

__ADS_1


"Aarraggh.." Bang Risang merasa kesakitan hingga kepalanya terasa pening karena tidak jadi menyelesaikan hasratnya. "Dindaa.." Bang Risang menyambar pakaiannya. "Tunggu di luar..!!!!!" Pintanya sedikit menaikan suara.


~


"Siapa yang mengantarmu ke paviliun utama??????" Tegur Bang Risang. Amarahnya meluap karena batinnya masih berantakan. "Itu tidak sopan Dinda..!!!!"


"Apakah seorang istri harus minta ijin untuk menemui suaminya??? Kenapa Kangmas tidak pulang ke paviliun Yesha?" Tanya Yesha. "Kamu Dinda Ratih, kenapa kamu menginginkan Kangmas untukmu sendiri?? Kamu ingin merebut Kangmas??"


"Astagfirullah.. darimana datangnya pikiran burukmu itu Dinda???" Bang Risang semakin murka.


Ratih mencegahnya kemudian berlutut di hadapan Yesha. "Dinda mohon maaf Mbak, Dinda nggak bermaksud merebut Kangmas."


"Kurang ajar kamu. Bermulut manis untuk mendapatkan simpati Kangmas. Hatimu benar-benar busuk..!!"


Plaaaakk..


bruugghh..


"Aarrhh.." Ratih merintih, kepala Ratih terbentur sisi meja dan perutnya terhantam guci besar di sampingnya.


"Yeshaaaaa..!!" Bang Risang benar-benar marah dengan tindakan Yesha. "Keterlaluan kamu..!!"


Secepatnya Bang Risang memeriksa keadaan Ratih.


"Dindaaa.. apa yang sakit."


Ratih hanya menggeleng saking takutnya berhadapan dengan Yesha, istri pertama Kangmas Risang.


"Bilang Dindaa..!!!" Pinta Bang Risang menepuk pipi Ratih.


"Aaaaarrhh.." Ratih hanya meremas kuat perutnya.


Bang Risang tau ada yang tidak beres dengan kandungan Ratih. "Mbookk.. panggil semua bagian kesehatan..!!" Teriak Bang Risang.


"Dinda nggak apa-apa Kangmas sungguh..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2