
"Mas, Yesha minta maaf..!! Yesha nggak sengaja." Yesha sampai terisak karena paviliun utama menjadi ricuh.
Berita ketamakan Gusti Ayu pun sampai naik ke telinga Sultan.
"Kamu tau Dinda.. setelah ini Dinda Ratih akan mendapat sanksi tegas. Kenapa kamu jadi seperti ini?? Apa kamu lupa Kangmas lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu daripada Dinda Ratih. Kangmas lebih mengutamakan inginmu sampai melupakan Dinda Ratih. Dia tidak pernah protes dengan semua itu." Tegur Bang Risang.
"Tapi Kangmas lebih menyayanginya."
"Siapa yang bilang begitu??? Kangmas sayang semua. Sayang sama kamu, juga sayang Dinda Ratih. Kamu harus ingat Dinda.. Dinda Ratih juga berhak atas diri Kangmas.. bukan kamu saja."
Yesha terisak menyesali kesalahannya.
"Sejak kapan kamu bisa melihat?" Tanya Bang Risang.
"Tadi pagi."
"Sejak kapan suaramu mulai timbul?"
"Bersamaan dengan mata Yesha bisa melihat." Jawab Yesha.
"Dinda Ratih belum makan karena memikirkan kamu Dinda. Kangmas kira dia akan memilih makanan untuknya sendiri, ternyata semua yang dia beli hanya untuk kamu."
Baru kali ini Yesha melihat Bang Risang amat sangat marah padanya.
"Apakah Kangmas mencintai Dinda Ratih?" Tanya Yesha.
Tepat saat itu beberapa tenaga medis kesultanan keluar dari kamar Gusti ayu Ratih. Bang Risang segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan Gusti Ayu..!!" Tanya Bang Risang.
"Hmm.." para tenaga medis saling melirik. "Gusti Ayu baik-baik saja Raden, kandungannya pun baik."
"Alhamdulillah..!!" Bang Risang bernafas lega kemudian melirik Ratih yang sudah dalam posisi duduk di ranjangnya. Sang istri melempar senyum ke arahnya. Bang Risang pun segera menghampiri kemudian mengusap punggung Ratih. "Maafkan Dinda Yesha ya.. kalau Dinda mau marah, luapkan pada Kangmas..!!"
"Dinda tidak marah Kangmas. Dinda pahami.. Dinda yang salah" jawab Ratih.
__ADS_1
Dengan lembut Bang Risang memeluk Ratih.
"Dindaku.. tolong jangan sakit lagi. Dinda tidak tau berapa sakitnya hati Kangmas melihatmu sakit."
Yesha menunduk dalam tangisnya, ada makna di balik kata-kata Bang Risang. Ia mulai menyadari ada hati yang lain di dalam diri sang suami.
Ekor mata Bang Risang melihat Yesha yang menangis menatapnya.
Tau Yesha terus memperhatikan dirinya, Ratih pun berusaha menghindar tapi Bang Risang semakin mempererat pelukannya.
Ratih mendongak merasa tidak enak dan Bang Risang tau kegundahan hati sang istri. "Yesha urusan Kangmas. Kamu baik-baik jaga anak kita ya..!!" Pesan Bang Risang.
:
"Apa Bang Risang menghubungi Abang?" Tanya Yesha.
"Iya, selain itu Abang juga sedang ada tugas disini dan bisa menjengukmu." Jawab Bang Aryanto. "Kenapa sikapmu jadi seperti itu?"
"Sikap yang mana?"
"Apa itu berarti Kangmas Risang hanya membalas budi??" Tanya Yesha.
"Yesha.... mungkin awalnya memang begitu.. tapi Ratih juga sudah mengandung benihnya, tidak mungkin Risang tidak menyimpan rasa."
Air mata yesha berlelehan dan Bang Risang yang mendengarnya di balik pintu sampai tidak percaya dengan sikap istrinya.
"Ngomong-ngomong kenapa beberapa hari ini kamu dekat dengan mbok emban selir utama Romonya Ratih?"
"Beliau baik sama Yesha." Kata Yesha.
...
"Ampuuuunn Raden Mas..!!" Mbok mban sampai bersimpuh di kaki Bang Risang saking takutnya. Amarah Raden mas meluap hingga membawa cambuk ke paviliun selir utama kesultanan.
__ADS_1
"Kamu sudah buat saya bersitegang dengan kedua istri saya..!!" Bentakan seorang Risang yang notabene adalah eks tentara sudah barang tentu membuat selir utama ketakutan.
"Tidak sopan..!!" Kata selir mengalihkan suasana.
"Jangan banyak bicara dan jangan pernah mengatur saya..!!" Gelegar suara Bang Risang menggegerkan suasana kesultanan. "Jauhkan abdi dalem mu dari keluarga saya..!!!!!!"
"Ada apa ini? Tegur Romo Sultan.
"Katakan pada selir utama Romo agar tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga saya..!! Mbok mban sudah mempengaruhi ndoro ayu Yesha, ulah mbok mban membuat Gusti Ayu nyaris celaka..!!"
Raut wajah Bang Risang yang sangat marah membuat Romo paham kelakuan selir utama yang kerap mencari perkara, bahkan dulu selir utama pernah hampir mencelakai permaisuri.
"Kangmas..!!" Ratih datang langsung menenangkan sang suami dan mengusap dadanya.
"Kenapa Dinda kesini, bukankah seharusnya Dinda istirahat?" Bang Risang merendahkan nada suaranya mendapat belai lembut dari Ratih.
"Malam ini Dinda kesepian Kangmas. Boleh temani Dinda tidur?" Tanya Ratih.
Seketika Bang Risang tersenyum, mana bisa dirinya menolak ajakan sang istri apalagi suara itu begitu terdengar manja.
Romo Sultan ikut tersenyum melihat bujukan sang putri pada suaminya. Beliau pun melihat kesungguhan Raden Risang dalam mencintai sang putri melalui sorot matanya. Beliau pahami jika Raden Risang tidak ada hati pada putrinya, maka menantunya tidak akan semarah ini hingga mengacaukan istana selir utama.
"Pulanglah ke paviliun. Sepertinya Raden sedang lelah dan butuh hiburan." Kata Kanjeng Romo dengan senyumnya. "Dan untukmu Raden, besok Romo mengijinkanmu membawa dua Sekar Kedaton dari Kesultanan..!!"
"Matur sembah nuwun Kanjeng Romo..!!" kini Bang Risang bisa tersenyum lega.
"Jika tidak bisa mencintai putriku, minimal jangan membuatnya menangis..!!" pesan seorang ayah.
.
.
.
__ADS_1
.