Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
21. Masih menegang.


__ADS_3

"Tidak, Aya tidak akan menikah dengan siapapun..!!"


"Tapi Aya sudah menikah adat sama Bang Adri." Jawab Aya.


"Kenapa kamu sebodoh ini Ayaaa???? Apa Mama tidak mengajarimu????" Mama Nai terlalu syok hingga nafasnya tersengal sesak dan akhirnya pingsan.


"Mamaaa.." pekik kedua Abang bersamaan.


"Aaahh.." Yesha masih merasa kesakitan dan perhatian Bang Risang teralihkan pada Yesha.


"Kamu rawat istrimu, Papa yang rawat Mama..!!" Kata Papa Igo yang mengerti kegelisahan putranya.


"Benar-benar kamu ya.. duduk di tempatmu..!!!!!" Bang Naru membentak Ayana yang sebenarnya sangat panik. "Lihat ulah apa yang sudah kamu buat..!!!!!"


"Aya nggak sengaja Bang. Aya sungguh nggak tau." Jawab Ayana terbata.


"Jawab jujur, sejujur-jujurnya. Adri sedang dalam penugasan dan baru bertemu sama kamu hari ini. Katakan kapan dan dimana kalian bertemu sampai kamu bisa hamil seperti ini..!!!!!!!"


"Bang Adri bisa pulang karena orang tuanya sakit. Lagipula saat kami bertemu nggak hanya berdua. Ada tiga lagi teman laki-lakinya."


"Apaaaa????????"


"Tunggu Aya, Adri sudah tidak punya orang tua. Kemarin waktu ijin itu.. dia ada test di Jawa karena ada seleksi ke Kongo. Di sini perwira yang di ajukan berangkat hanya dia karena kami sudah berangkat tahun lalu." Jawab Bang Abra.


"Jadi apa yang kamu lakukan sama empat laki-laki itu Ayaaaaaa??????" Bang Naru semakin murka dengan tingkah sang adik.


"Aya nggak ingat Bang, Aya hanya tau saat bangun dari tidur.. Aya lihat Bang Adri dan empat temannya sedang tidur."


"Tidur dimana???????" Tanya Bang Naru.


"Di kamar hotel, di ranjang yang sama dengan Aya." Jawab Aya terisak takut.


"Bodohnya kamu Ayaaaaaa..!!!!!"


plaaakk.. plaaaakk.. plaaakk..


Bang Abra menahan tubuh Bang Naru.


"Jangan Mas kasihan Aya..!!" Dara sampai histeris melihat kemarahan Bang Naru. Dara pun memeluk Ayana dan ikut menangis.

__ADS_1


"Abang nggak nyangka Aya, kamu tega mencoreng nama keluarga kita seperti ini." Bang Naru sampai menangis merasakannya.


Di dalam kamar, Bang Risang tak kalah hancurnya. Ia mengepalkan tangan mengurai perasaannya yang teramat sakit. "Akan kubunuh kamu Adri..!!" Gumamnya.


Yesha berusaha bangkit namun tubuhnya tak cukup kuat, ia pun kembali tak sadarkan diri.


"Dindaa... Sayang...!!" Bang Risang menyadarkan hati dan pikirannya. Ada sosok yang kini harus ia utamakan.


Di kamar sebelah, Mama Nai baru saja sadar. Mama Nai memegang tangan Papa Igo. "Tolong Pa. Apapun yang terjadi rawatlah anaknya Ayana. Dari siapapun bayi itu berasal, dia tetaplah cucu kita. Papa tidak bisa memungkiri kenyataan itu."


"Papa tau Ma, tolong beri Papa waktu untuk berpikir..!!" Pinta Papa Igo.


"Nikahkan dengan siapa saja Pa. Asalkan dia menikah." Kata Mama Nai.


"Siapa yang mau menikahi anak itu. Gadis rusak tak karuan."


"Papaa.. jangan katakan hal seperti itu. Hati Mama sakit sekali mendengarnya." Suara tangis Mama Nai memecah keheningan malam hari itu.


***


Para pria sedang duduk di ruang tamu. Agaknya lelah hati dan mental menguji batin para pria tersebut. Ingin rasanya ikut mengejar Adri yang kabur entah kemana tapi kondisi mental para wanita di rumah itu cukup membuat mereka ikut resah.


"Sekali lagi saya bertanya, jika diijinkan.. saya bersedia menikahi Ayana." Kata Bang Abra.


"Siap komandan.. saya paham maksud komandan, tapi menilai manusia tidak bisa hanya dari keperawanan saja. Seumur hidup saya tidak akan membahas hal ini dan dia akan menjadi gadis kesayangan saya." Ucap Bang Abra.


"Tidak mungkin, kamu mungkin tidak akan mengucapkan hal itu di depan Ayana.. tapi kamu akan mengingatnya seumur hidupmu." Kata Bang Naru.


"Risang, Naru.. kamu paham betul siapa diriku. Termasuk aku yang kenal kalian. Saya akan menyayangi Ayana dan anak itu akan menjadi anakku juga."


Papa Igo berpikir keras. Sampai beberapa ia terpejam. Rokok di sela jari pun sudah habis.


"Menikahlah, Papa merestui..!!"


:


"Aya nggak mau Pa. Kata Bang Adri, dia akan menaikan nama Aya di kantor..!!" Tolak Aya saat penghulu sudah datang.


"Aya, Abang mohon maaf.. Letda Adri memang sudah menaikan nama untuk pengajuan nikah tapi Abang mohon maaf itu bukan namamu, melainkan wanita lain." Kata Bang Bram memotong ucapan Ayana.

__ADS_1


Ayana kembali menangis seakan tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Pilihan ada di tanganmu Aya..!!" Ucap tegas Papa Igo.


...


Bang Abra mengajak Ayana ke kamar mess nya usai menikah.


"Awas kalau Abang macam-macam..!!" Ancam Ayana.


"Abang nggak akan macam-macam..!!" Jawab Bang Abra. "Kalau kebablasan ya anggap saja bonus." Goda Bang Abra.


"Kalau begitu Aya nggak mau..!!" Tolak Aya.


"Terus kamu mau kemana? Abang dan Papamu saja sudah ngamuk seperti itu. Kamu nggak takut?" Tanya Bang Abra. "Kamu belum kenal tempat ini lho dek..!! Disini adalah daerah hutan belantara. Masih ada.... Aahh Abang nggak mau cerita." Bang Abra kemudian berjalan meninggalkan Aya.


"Baang.. tunggu. Aya ikut..!!" Aya pun berjalan mengikuti langkah Bang Abra menuju kamar mess.


//


"Maas, Yesha lapar." Ucap Yesha saat baru saja Bang Risang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sejenak menghela nafas, Bang Risang mengangkat senyumnya. "Dinda mau makan apa?"


"Mau makan sop kaki kambing." Jawab Yesha.


"Alaah alaaah.. mau cari dimana semua pesananmu itu? Jadah saja belum sempat mas carikan.. ini sudah mau tambah sop kaki kambing. Kambingnya siapa coba yang mau di sop?" Gerutu Bang Risang bingung sendiri.


Yesha menarik selimutnya sembari menangis. "Ya sudah kalau nggak boleh."


"Boleeh.. tapi sabar tunggu pagi ya. Sekarang mas buatkan telur ceplok dulu ya?" Kata Bang Risang.


"Nasi kuning aja."


Darah Bang Risang rasanya naik turun mendengar inginnya sang istri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2