
"Permisi Raden.. ndoro ayu pengen buah leci..!!" Kata Si mbok yang menjaga Yesha.
Bang Risang melirik Ratih yang belum sadar. "Tolong sadarkan Gusti ayu. Saya mau beli leci..!!"
...
"Gusti Ayu mau apa? Mungkin kalau Gusti Ayu bilang, mualnya bisa berkurang, bawaan jabang bayi biasanya berkurang kalau di tengok bapaknya." Kata si mbok yang menjaga Ratih.
"Ratih hanya ingin memegang tangan Kangmas..!!"
~
"Nanti ya mbok, ndoro ayu masih lemas. Besok pagi saya ke paviliun utama." Pinta si mbok yang menjaga Ratih.
"Ndoro ayu biar sama si mbok Raden..!!" Kata si mbok yang menjaga Yesha.
"Biar saya yang menjaganya sendiri."
Si mbok saling menatap tapi tak bisa berbuat apapun karena permintaan Ratih.
...
Ratih menggigil tapi suhu tubuhnya sangat panas.
"Si mbok panggilkan Raden ya Gusti Ayu..!!" Kata si mbok.
"Jangan mbok. Kangmas sudah lelah menjaga Mbakyu.. jangan ganggu Kangmas."
Si mbok sangat kasihan melihat keadaan Ratih. "Gigit saja tangan si mbok..!!"
Ratih menggeleng tapi ia memeluk si mbok.
"Gusti Ayu pasti rindu dengan Raden. Sudah biasa ibu yang sedang hamil sangat merindukan suaminya." Gumam si mbok sembari mengusap punggung Ratih.
***
"Kangmas, bisa tolong carikan Dinda buah 'juwet'?" Tanya Ratih saat Bang Risang sedang sibuk dengan ponselnya karena suaminya itu sudah menyiapkan merintis dari awal pekerjaannya yang baru.
"Kangmas sibuk Dinda.. sebentar lagi mau ke kamar Dinda Yesha, dia sedang pengen di suapi. Nggak apa-apa khan Dinda?"
"Iya Kangmas.. Dinda paham." Jawab Ratih.
Si mbok yang mendengarnya benar-benar menggeleng sedih.
***
Pagi ini ada acara ke pesarean agung para sesepuh terdahulu dan Ratih pun ikut serta, ia mendorong kursi roda Yesha untuk menuju pesarean agung. Bau asap kemenyan menguar tajam.
__ADS_1
Samar saat itu mata Yesha bisa melihat keadaan sekitar hingga kemudian ia benar-benar bisa melihat dengan jelas.
Baru saja ia akan mengatakannya pada Ratih tapi madunya itu berlari menjauh dari para sesepuh dan keluarga yang lain.
"Gusti ayuu.. hati-hati..!!" Si mbok sampai berlari mengikuti langkah Ratih.
Semua perhatian pun tertuju pada Ratih tak terkecuali Bang Risang dan refleks langsung berjalan menghampiri sang istri yang muntah hebat di balik pohon.
"Gusti, lebih baik Raden tau.." kata si mbok.
Kening Bang Risang berkerut sampai di sana. "Tau apa mbok??" Tanya Bang Risang.
Para abdi dalem seketika tanggap dengan apa yang terjadi. "Sugeng rawuh Gusti alit. Mugi-mugi Gusti Ayu di paringi Gangsar." ( Selamat datang pengeran / putri kecil. Semoga gusti ayu di beri kelancaran. )
Bola mata Bang Risang membulat besar, matanya beralih memandang wajah ayu Ratih. "Sungguhkah itu Dinda? Kamu hamil?"
Kaki Ratih gemetar ketakutan, ia menekuk lututnya. "Injih Kangmas.. Dinda nyuwun pangapunten" Ratih berlutut mencium kaki Bang Risang.
Saat itu rasa haru menyelimuti hati Bang Risang. Saking terharunya Bang Risang tak sanggup membendung air mata. Ia mengajak Ratih untuk berdiri. "Matur suwun Gusti Allah, matur suwun Dinda Ratih." Bang Risang memeluk Ratih namun seketika itu juga Ratih tak sadarkan diri.
Para abdi dalem sigap membantu Raden mas yang mengangkat sendiri Gusti Ayu hingga ke saung kecil.
~
"Kenapa si mbok tidak bilang??" Tegur Bang Risang.
"Jadi selama ini si mbok mondar mandir minta saya ke paviliun karena ndoro ayu sedang ngidam?" Tanya Bang Risang dengan kecemasannya.
"Nggih Raden."
"Ya Allah Dindaaa.. kamu pasti tersiksa." Bang Risang ingin melepaskan genggaman tangan Ratih karena ingin membantu menyadarkan sang istri tapi genggaman itu terasa begitu kuat.
"Gusti Ayu sejak kemarin hanya ingin memegang tangan Raden." Kata si mbok.
"Dinda Ratih.. Kangmas nggak akan kemana-mana. Nanti Kangmas temani Dinda..!!" Bang Risang menyadari sudah waktunya dirinya untuk memperhatikan Ratih juga, sungguh istrinya ini begitu kalem dan bisa membuat hatinya berantakan tak karuan.
Beberapa menit kemudian Ratih mulai sadar. Ia melepaskan genggaman tangannya. "Dimana mbak Yesha. Ratih meninggalkannya sendirian..!!" Ratih bangkit begitu saja hingga rasa nyeri menekan seluruh syaraf perutnya. "Aaahh.." jeritnya.
"Pelan-pelan Dinda..!!"
"Mbak Yeshaaaa..!! Kangmas.. tolong cari Mbak Yesha...!!"
"Dindaa..!!"
"Mbak Yesha sama siapa??" Ratih tetap berusaha bangkit.
"Dindaaaaa..!!" Terpaksa Bang Risang membentak Ratih dan karena bentakan tersebut, Ratih menunduk dan menangis. Bang Risang pun memeluknya. "Tenangkan dirimu, sudah banyak yang menemani Yesha. Jangan hanya pikirkan Yesha, Dinda juga berhak bersama Kangmas."
__ADS_1
"Maaf Kangmas, Dinda sudah menyakiti hati Mbak Yesha."
"Dinda nggak menyakitinya. Sekarang kita pulang. Besok pagi Kangmas akan membawamu dan Yesha keluar dari kesultanan. Mas sudah ada pekerjaan, Mas rasa jika kita keluar dari kesultanan.. hidup kita akan tenang." Jawab Bang Risang.
"Dinda ikut Kangmas..!!"
"Kangmas akan mencari dua orang untuk menjaga kalian di rumah."
"Dinda masih sanggup menjaga Mbak Yesha." Tolak Ratih.
"Kangmas mengerti tapi Kangmas ingin kalian semua banyak istirahat. Kangmas ingin anak kita sehat." Kata Bang Risang.
"Kangmas.. boleh Dinda tau Kangmas kerja apa?"
"Tidak jauh dari ranah militer, Mas kerja di bagian intelijen khusus. Membantu Naru dan kawan-kawan. Karena Mas bukan seorang militer lagi, maka pergerakan mas jauh lebih bebas. Mas juga membuka pelatihan menembak dan beladiri. Do'akan rejeki Mas lancar ya. Semua untuk Dinda, Dinda Yesha juga anak-anak."
"Aamiin.. do'a Dinda selalu untuk Kangmas." Jawab Ratih.
Tanpa ada kesiapan dari Ratih, Bang Risang sudah mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirnya. Abdi dalem pun langsung menunduk melihat hal tak terduga itu. "Terima kasih banyak Dinda."
Ratih menunduk hingga pipinya merah merona.
...
Ratih bingung, sesaat tadi Bang Risang mengajaknya untuk pulang tapi kini malah berbelok ke sebuah rumah sakit.
"Kita mau apa Kangmas?"
"Kemarin Kangmas sudah periksakan kandungan Yesha, sekarang Kangmas ingin tau keadaan kandunganmu. Hati Kangmas suka sakit sendiri melihatmu sering pingsan."
~
"Memang darah rendah Pak. Tekanan batin juga membuat ibu sering pingsan. Ibu hamil harus tenang dan bahagia agar kandungannya pun sehat." Kata dokter.
Bang Risang memahami apa yang menjadi beban pikiran Ratih.
"Berat badan untuk bulan depan harus naik ya Pak..!!"
"Saya akan mengusahakan yang terbaik dok..!!" Jawab Bang Risang.
.
.
.
.
__ADS_1