
Hari telah berlalu.
"Mas, Yesha sudah siapkan sarapan."
"Iya, terima kasih." Bang Risang tersenyum sekilas. Sudah beberapa bulan ini sikapnya begitu dingin dan kaku meskipun dirinya masih mau tidur satu kamar dengan Yesha, suaminya itu juga masih memberinya nafkah lahir batin tanpa lalai, namun perhatian itu terkadang terpotong karena pekerjaan dan juga Bang Risang yang kadang sibuk atau pergi keluar kota untuk mencari Ratih. "Nanti mas pulang malam sekali ya. Kamu tidur sama Mama dulu. Mas mau cari Ratih. Hati-hati kalau turun dari tangga, pakai lift saja atau amannya kamu pindah tidur di kamar bawah..!!" Kata Bang Risang.
"Iya Mas." Ucap Yesha pasrah.
Bang Risang menyempatkan mengecup kening Yesha lalu mengusap perut yang sudah besar berusia sembilan bulan. Ini adalah detik-detik Yesha menuju persalinan.
"Adek baik-baik sama Bunda ya, Ayah mau cari bunda Ratih dulu. Jangan nakal ya nak..!!" Pesan Bang Risang sebelum dirinya beranjak pergi.
-_-_-_-_-
"Bagaimana Be???"
"Sesuai seperti analisa Abang.. Ratih ada di luar kota, sebagai buruh pemetik teh kalau pagi dan malamnya bekerja di loundry tempat WO kampung setempat. Wajahnya tidak di kenali karena istri Abang itu sekarang berjilbab. Jadi sosok yang Abang lihat bulan lalu memang benar adanya, dia adalah Ratih." Jawab Bang Naru.
"Allahu Akbar.. ya sudah, Abang berangkat dulu ke sana..!!"
Melihat jam tangannya sudah menunjuk hari menjelang tengah malam, pastilah saat ini Ratih berada di tempat loundry.
"Ayo Cakra.. kita cari ke lokasi kemarin..!!" Perintah Bang Risang.
"Siap boss..!!"
//
"Kenapa ndhuk?" Tanya Mama Punai melihat posisi duduk Yesha yang semakin lama semakin gelisah.
"Perut Yesha rasanya penuh, sakit ma.. seperti kram tapi hilang timbul." Yesha mengadu pada Mama mertuanya.
"Bawa saja ke rumah sakit bersalin Ma, sepertinya cucu kita mau lahir." Kata Papa Igo sembari menggendong Reina, cucu perempuan pertama kesayangan Papa Igo. "Bi.. tolong jaga Reina. Saya mau antar Mbak Yesha ke rumah sakit..!!"
~
"Kamu dimana? Istrimu butuh kamu..!!"
"Saya sudah tau keberadaan Ratih Pa. Saya mau menjemputnya..!!"
"Tapi Ris.. ini Yesha............" Papa Igo tak bisa melanjutkan ucapannya karena Bang Risang sudah mematikan panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Sudah Pa, nggak apa-apa. Yesha sehat kok. Mungkin ini juga yang dirasakan Ratih saat harus mengalah sama Yesha dulu." Kata Yesha.
Papa Igo menarik nafas panjang. "Sabar ya ndhuk..!!"
//
Plaaaakk..
Byuuuurr..
"Siapa yang menyuruhmu mengambil makanan di dapur?????" Bentak majikan Ratih.
"Maaf ndoro..!!" Ratih sampai menyentuh kaki pemilik loundry itu. Ia memegangi perutnya yang sudah terasa luar biasa sakitnya.
"Jangan sentuh kakiku dengan tangan kotormu itu. B*bu miskin. Kamu sudah menumpang disini untuk tidur, dan sekarang kamu mencuri makananku????"
"Maaf ndoro, saya benar-benar lapar." Tangan Ratih sampai gemetar apalagi bibir dan hidungnya sudah mengucurkan darah karena tamparan ibu pemilik loundry.
Tepat saat itu Bang Risang sudah tiba dan mendengar keributan di dalam ruang tertutup gerbang besi yang sangat tinggi.
Ibu pemilik loundry tersebut mengambil sebilah kayu lalu menghantam tubuh Ratih.
Buugghh..
Dengan satu tendangan, Bang Risang menendang gerbang tersebut. Suara pintu besi mengagetkan semuanya. Terlihat beberapa orang petugas keamanan dan beberapa anak buah Bang Risang menyerbu masuk.
Saat itu Bang Risang melihat Ratih Dangan keadaan sangat memprihatikan. Pakaiannya lusuh dan sobek. Wajah dan tubuhnya sudah di penuhi darah dan luka. "Astagfirullah hal adzim.. Dindaaa..!!" Bang Risang segera menghampiri Ratih.
"Aaaaaahh.." tiba-tiba Ratih mengerang kesakitan.
"Berani sekali kalian melukai istri saya..!!" bentak Bang Risang penuh amarah.
"Kalian tangani manusia-manusia ini. Saya mau urus istri saya dulu..!!" Perintah Bang Risang pada anak buahnya yang lain. "Cakra.. kamu lajur sama saya ke rumah sakit..!!"
"Siap boss..!!"
...
"Dindaaa.. kenapa kamu lari Mas??" Bang Risang membersihkan wajah Ratih dengan tissue basah yang ada di mobil.
"Kasihan mbak Yesha. Mbak Yesha butuh Kangmas ada disana?" Kata Ratih terbata ia mencengkeram lengan Bang Risang dengan kuatnya. "Allahu Akbar.. sakit sekali Kangmaas..!!"
__ADS_1
Bang Risang memeluk Ratih. Tangisnya pecah. Tubuh Ratih sangat kurus sampai matanya terlihat cekung. "Dinda lapar? Kita makan dulu ya..!!" Tangan Bang Risang sampai sibuk melakukan ini dan itu termasuk memberi Ratih minum dari botol air mineralnya.
Ratih menggeleng ketakutan. "Ini suamimu Dinda.. ini kangmasmu..!! Sampai kapan Dinda membuat jarak di antara kita. Kangmas sayang kamu Dinda..!!"
Nafas Ratih terasa tercekat, Bang Risang merasakan perut Ratih yang menegang kencang. Ia akhirnya membalas memeluk Bang Risang. "Kangmas.. bayi kecilmu sudah tidak sabar ingin bertemu ayahnya. Dinda sudah merasakannya sejak semalam."
"Ya Allah Dinda..!!" Hati Bang Risang gelisah dan ketakutan, jarak dari daerah itu sangatlah jauh menuju kota. Kurang lebih masih satu jam lagi menuju jalan besar utama dan kini mereka masih di tengah pedesaan, lebih tepatnya kebun.
Bang Risang menyentuh 'tubuh' Ratih untuk memastikan kesiapan waktu untuk kelahiran bayinya. "Cckk.. aku yakin sudah di pintu." Gumamnya. Bang Risang melirik Ratih, istrinya sangat lemas, memaksa melahirkan di saat kurang tenaga seperti ini sangatlah beresiko. "Cakra.. apa tadi kamu melihat rumah makan di sepanjang jalan? Saya tidak fokus, yang ada di pikiran saya hanya istri saya."
"Saya juga tidak begitu ingat boss. Oh iya boss, saya sempat beli wedang jahe sama serabi.. tapi tadi belum sempat saya makan karena terburu-buru. Maaf boss saya nggak tahan dingin." Kata Cakra.
"Boleh saya minta?"
"Ambil saja boss..." Cakra tau istri bossnya sangat kelaparan.
"Tolong kamu menepi di daerah aliran sungai. Kita butuh banyak air..!!" Perintah Bang Risang.
~
"Sedikit lagi sayang..!!" Bang Risang dengan telaten menyuapi Ratih langsung dari plastiknya. Tak hentinya ia terus membujuk Ratih. "Dinda harus punya tenaga, Dinda mau lihat dia lahir khan?"
Akhirnya dengan susah payah Ratih mau makan. Tak jauh dari sana, Cakra sibuk menyiapkan kayu bakar yang akan digunakan untuk merebus air panas. Mudah saja dirinya menyiapkan semuanya sebab segala peralatan dalam mobil sang boss sangat lengkap. Maklum bossnya adalah ex anggota militer tak tertandingi.
Sesekali Bang Risang mengintip ke arah bawah dengan cemas.
"Sudah Kangmas." Ratih mendorong serabi di tangan Bang Risang. "Dinda nggak kuaatt.. sakit sekali..!!"
"Tahan sedikit sayang, kasihan anak kita..!!" Bang Risang sangat paham Ratih yang notabene seorang putri benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya.
//
"Paa... tolong hubungi Risang lagi..!!" Pinta Mama Nai.
"Ini sedang di hubungi Ma, nggak di angkat." Kata Papa Igo.
.
.
.
__ADS_1
.