
Papa Igo menemani Mama Nai yang sampai harus mendapatkan infus tambahan agar kondisi tubuhnya kembali stabil.
Tidak ada yang bisa tidur termasuk Bang Risang dan Bang Naru sedangkan Ayana tertidur di paha Bang Risang sedangkan kakinya bertengger di paha Bang Naru.
Adzan subuh pun berkumandang.
"Ay.. bangun dek..!! Sholat subuh dulu..!!" Bang Risang membangunkan sang adik dengan lembut.
"Ay lagi dapet Bang. Nggak sholat."
"Aahh kamu dek, pantas kena celana Abang nih..!! Abang kira kuah kecap, semalam kita baru makan semur" Protes Bang Naru. "Busyeeet dah punya adik perempuan satu aja jorok amat. Kudu mandi apa dah Abang."
"Lagi deras Bang, perut Ay sakiit..!!" Rintih Ayana.
"Duuuuhh.. ada-ada saja." Bang Risang beralih posisi lalu mengangkat Ayana masuk ke dalam kamar adik bungsunya tersebut.
Papa Igo sampai menggeleng mendengar keributan di pagi buta. Mata itu terus memperhatikan ketiga anaknya. Dua Abang pelindung bagi adiknya, satu orang gadis manja yang membuat dirinya nyaris kehilangan istri tercinta.
//
Siang telah tiba. Gusti Bendoro Ayu Sih Bidara menitikan air mata karena kakak keduanya.. Mas Bramantyo Darojati tidak hadir dalam acara pernikahannya.
"Sudahlah dek, Bramantyo pasti sedang menjalankan tugas negara. Kamu harus legowo jika Masmu itu tidak bisa datang." Bujuk Mas Cahyadi, kakak pertama Dara.
Dara mengangguk pasrah meskipun ia sangat menginginkan sang kakak ada di sisinya.
"Ayo.. kita ke tempat siraman."
~
Satu persatu pihak keluarga menyiram tubuh dara juga Yesha dari tujuh sumber mata air juga bunga setaman. Lelehan air mata membasahi pipi Dara.
"Mas Bram.. Dara ingin Mas Bram ada disini..!!" Gumam Dara. Isaknya begitu sesak hingga para si mbok turut menangisi Gusti Bendoro Ayu.
Dari jauh terlihat Bang Bram berlarian menuju tempat prosesi siraman. Dara yang melihat Abangnya datang tak bisa lagi membendung air matanya.
"Maaass..!!"
Bang Bram menubruk dan memeluk adik perempuan satu-satunya itu. "Mas Bram datang ndhuk, jangan nangis.!!" Berkali-kali Bang Bram menciumi wajah Dara. "Bahagia selalu ndhuk..!!"
"Maaf.. dara melangkahi Mas Bram." Ucap lirih Dara.
"Nggak apa-apa. Mas ikhlas, hati Mas lebih tenang kalau kamu ada yang menjaga." Kata Bang Bram kemudian berdiri untuk menyiram tubuh Dara.
Bang Bram pun juga tak bisa membendung tangisnya saat air kembang mengguyur tubuh Dara.
__ADS_1
"Mas Braaamm..!!" Dara kembali memeluk tubuh sang kakak yang masih memakai pakaian loreng lengkap hingga tubuhnya lemas.
"Tolong handuk.. Gusti Ayu sudah kedinginan." Pinta Bang Bram.
Para si mbok secepatnya mengambil handuk. Karena Romo Sultan sudah tidak kuat menggendong, maka Bang Bram yang mengambil alih tugas beliau.
Di sisi lain. Yesha pun tak kalah histeris, ia memeluk Bang Aryanto dengan erat.
"Ini keinginanmu dek. Apa benar hatimu sudah mantap memilih Risang?" Tanya Bang Aryanto.
"Yesha sudah siap Bang"
"Maka jangan menangis. Abang sedih melihatnya." Jawab Bang Aryanto.
"Abaaaang.."
"Weeeess.. simpan tangisnya..!! Ini hari bahagiamu..!!" Bang Aryanto mengecup kening Yesha.
//
Hhttccii
"Bisa di ganti air hangat nggak?" Tanya Bang Naru yang sebenarnya menahan tangis saat sang Mama mengguyur tubuhnya.
"Ini bukan spa..!!" Jawab Papa Igo.
Bang Risang pun berdiri dari duduknya.
"Mau kemana kamu??" Tegur Opa Hara.
"Ganti celana pendek Opa. Sudah basah semua, tembus sampai dalam..!!" Jawab Bang Risang.
"Duduk..!!!" Perintah Opa Hara.
Saat itu Mama Nai berdiri di antara kedua putranya.
"Putraku Risang dan Naru. Aku adalah Galuh Intan Pualani.. ibu kandungmu, ibu yang telah mengandungmu buah cinta dari pernikahan dengan seorang pria yang sangat tangguh dan hebat.. Panjer Mas Galigo. Sungguh perjuangan panjang saat mengandung kalian berdua.. terutama dirimu Naru, tapi semua tidak pernah menjadi soal karena aku mencintaimu dengan segenap hatiku." Ucap Mama Nai membuat hati Bang Risang dan Bang Naru lemah tanpa daya. "Putraku Risang dan Naru. Sungguh bahagianya aku melihatmu tumbuh sehat, dan betapa lemahnya aku saat kalian sedang tidak sehat, aku merasa gagal menjadi seorang ibu."
Papa Igo kemudian menghampiri saya ang istri dan memeluknya.
"Tapi kini aku bahagia, kalian telah menemukan tambatan hati. Pelipur lara dari sisi yang tidak bisa kulakukan sebagai seorang ibu. Jika selama ini ada kurangnya diriku menjadi seorang ibu. Tolong maafkan kesalahanku."
Bang Naru dan Bang Risang menghambur memeluk kaki sang Mama. Jerit tangis histeris seorang anak tak terhindarkan.
"Kelak, sayangilah istrimu. Lihatlah cara ayahmu mencintai ibumu..!!" Pesan Mama Nai.
__ADS_1
"Aku janji Ma..!!" Kata Bang Naru.
"Aku akan mencintai istriku..!!" Jawab Bang Risang.
"Dua kebanggaanku.." Papa Igo melanjutkan kata-kata Mama. "Sungguh aku yang menginginkan kalian ada dari rahim seorang wanita yang sangat aku cinta. Jika selama ini didikanmu melukai hatimu.. aku minta maaf, dan kalian boleh membalasnya sekarang."
Tak tertahan rasa sesak dalam dada Bang Risang dan Bang Naru mereka memeluk Papa dan Mama.. tak sanggup berkata-kata.
...
"Sudah nangisnya gembeng...!!" Ledek Opa Ricky yang baru saja selesai menangis.
"Tak tau lah punya cucu kok gampang sekali menangis." Imbuh Opa Hara.
"Dadaku rasanya sesak Opa." Jawab Bang Risang.
"Cemen lu." Sambar Bang Naru yang baru saja melepas tabung oksigen dari hidungnya.
"Kalian harus dengar ucap Mama dan Papa."
"Iya Opa."
"Iyaaa" jawab Bang Naru.
-_-_-_-_-
Malam hari keluarga menjalani prosesi midodareni. Sang calon mempelai pria sama sekali belum melihat calon istrinya, bahkan terakhir kali Bang Risang dan Bang Naru melihat calon pengantinnya saat acara lamaran dan itu pun hanya sebentar.
Para calon mempelai pria tidak di perkenankan makan di tempat mempelai wanita dalam acara midodareni.
"Bang, ngintip nyonya yuk..!!" Bang Naru berbisik mengajak mencari perkara.
"Nggak boleh Be." Tolak Bang Risang.
"Ya makanya kita diam-diam."
"Matamu nggak lihat itu ada abdi dalem di sekeliling kamar putri. Punggungmu mau di tombak??" Jawab Bang Risang.
.
.
.
.
__ADS_1