
Ratih memegangi kaki Bang Risang, ia manatap mata suaminya penuh permohonan dengan mata berkaca-kaca.
Bang Risang sempat melihat kaki Ratih yang membiru juga seorang algojo yang sedang membawa tongkat kayu. Ia pun tak tega melihat Ratih dan segera mengangkatnya, membawanya ke paviliun utama.
~
"Kembalilah ke kamar Mbak Yesha Mas, Ratih nggak apa-apa. Ratih yang akan tanggung jawab..!!" Ratih mendorong bahu Bang Risang.
"Cukup Dinda.. Sampai kapan kita mau seperti ini? Kangmas menyadari sudah memiliki dua istri. Kamu juga punya Kangmas........"
"Hubungan kita hanya sebatas teman, sahabat Kangmas. Ratih hanya melakukan apa yang sewajarnya di lakukan seorang sahabat."
"Apa kamu lupa kita sudah menikah Dinda??" Kata Bang Risang.
"Ratih tau Kangmas, tapi Kangmas telah beristri dan Ratih tidak mau menyakiti hati wanita lain. Kangmas hanya milik Mbak Yesha. Ratih tidak mau berebut sesuatu yang bukan menjadi milik Ratih."
Entah mengapa ada rasa sakit tersendiri dalam hati Bang Risang. Jelas dirinya tak akan membiarkan sang istri menerima kesakitan ini seorang diri.
Bang Risang membuka laci nakas untuk mencari surat perjanjian, tak menemukan disana Bang Risang pun membuka lemari pakaian Ratih dan akhirnya menemukan surat tersebut, segera saat itu Bang Risang merobeknya dengan kalap.
"Jangan Kangmas.. Ratih mohon..!!"
"Hati Kangmas pun masih tidak ingin percaya kalau kita sudah menikah, tapi kenyataannya memang kita ini adalah suami istri. Yesha sakit hati, memang benar. Kangmas sakit hati.. itu juga benar, tapi Kangmas juga tau perasaanmu Dinda. Yesha tidak salah, Dinda juga tidak salah, yang salah adalah Kangmas, Kangmas yang memilih untuk menikahi kalian dan mengucapkan akad nikah."
Ratih merosot lemas membendung air mata. "Jangan sakiti Mbak Yesha..!!"
Bang Risang duduk disamping Ratih lalu mendekap bahu sang istri.
"Dari sisi manapun, Kangmas akan tetap menyakitinya.. juga kamu Dinda."
***
Belum ada banyak kata yang terucap dari Ratih namun raut wajah istri kedua Bang Risang itu sudah menunjukkan banyaknya beban dalam diri.
Dengan telaten Bang Risang mengoles salep pada kaki Ratih yang memar. Awalnya ia ragu untuk mengoleskan salep tersebut namun saat mengangkat dress sang istri, ia banyak menemukan luka lebam hingga nyaris di seluruh kaki. Penasaran akan darimana datangnya luka itu.. Bang Risang menyingkap pakaian Ratih perlahan sampai mengintip batas pinggangnya.
"Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah.. apa yang mereka lakukan sama kamu Dinda Ratih. Demi kami.. kamu menahan sakit dan luka ini?? Apa yang sebenarnya terjadi???"
Bang Risang meletakan salep tersebut, ia ikut merebahkan diri di samping Ratih lalu mendekapnya dari belakang. "Maafkan Kangmas Dinda Ratih. Maaf.. hati ini memang belum bisa mencintaimu tapi sungguh pengorbananmu menyentuh hatiku..!!"
__ADS_1
-_-_-_-_-
"Sakit Mbook.." rintih Ratih saat si mbok mengoleskan salep pada tubuhnya.
"Selir utama yang memeriksa kain itu menagih kejujuran ndoro ayu, apa benar Ndoro ayu dan Raden mas belum melakukannya?" Tanya si mbok.
"Kami sudah tidur berdua mbok, semalam saja kami sudah tidur berdua."
"Ya Allah ndoro ayu.. maksud si mbok, apa Ndoro ayu sudah melayani hasrat Raden mas? Melepaskan pakaian bersama dan hmmm.........." Si mbok sampai bingung bagaimana menjelaskan pada majikannya.
Bang Risang memejamkan matanya, ia menyentuh perutnya yang sempat ia gores untuk memberikan tanda pada kain putih.
"Aaahh.. mbok.. sakiit. Nggak kuat Mbook"
"Owalaah ndoro, di antara semua ndoro ayu.. hanya ndoro saja yang tidak tahan sakit tapi ndoro paling pintar menyembunyikan kesakitan diri, sehat-sehat ya ndoro ayu..!!" Kata si mbok sampai matanya berkaca-kaca.
"Aamiin mbok, cepat oleskan mbok..!! Mbak Yesha harus segera minum obat..!!"
~
Lagi-lagi Bang Risang melihat senyum Ratih saat merawat Yesha. Tidak pernah istri keduanya itu mengeluh meskipun harus membersihkan kotoran Yesha hingga menjadi wangi dan cantik di setiap harinya.
Yesha pun tersenyum mendengarnya. "Terima kasih."
"Sama-sama Mbak. Oiya, sebentar lagi Kangmas datang. Habiskan hari ini ya..!!" Kata Ratih.
Bang Risang pun akhirnya masuk ke dalam kamar Yesha. "Assalamu'alaikum..!!"
"Wa'alaikumsalam.." Ratih menebar senyumnya.
"Wa'alaikumsalam mbak, itu Kangmas sudah datang. Ratih tinggal ya..!!" Bisik Ratih.
"Ratih pamit Kangmas..!!" Ucap Ratih yang menghindari Bang Risang lalu segera pergi.
:
"Cobalah buka hati Mas untuk Ratih, dia gadis yang baik."
"Kangmas nggak bisa sayang, hati ini hanya untukmu seorang." Tolak Bang Risang.
__ADS_1
Yesha membelai wajah Bang Risang. "Tidak boleh begitu, Kangmas adalah suaminya Ratih juga. Ratih juga berhak Kangmas sayangi."
"Jangan bohongi hati Kangmas.. hanya Kangmas yang tau isi hati Kangmas sendiri..!!"
Tak ingin lebih banyak perdebatan dengan Yesha, Bang Risang mengecup bibir sang istri. Perlahan tapi pasti, Bang Risang mengajak Yesha untuk bercinta.
-_-_-_-
"Selama ndoro ayu belum hamil, tidak ada yang keluar dari kesultanan." Kata selir utama yang bertanggung jawab atas ndoro ayu Ratih.
"Saya harus membawa kedua istri saya karena saya harus bekerja, saya harus menghidupi kedua istri saya." Dengan tegas Bang Risang meminta pada selir utama untuk membawa Ratih dan Yesha untuk keluar dari kesultanan.
"Kalau saya jahat, saya sudah melapor pada Kanjeng Sultan bahwa kain putih itu tidak sesungguhnya terjadi. Raden telah merendahkan martabat seorang putri. Kalau Raden tidak suka, kami bisa menggantinya......"
"Cukup, ndoro ayu sudah pandai menyenangkan hati saya. Masalah kain putih itu.. bukankah tidak semuanya harus sama.. saat itu ndoro ayu masih sangat takut. Bukankah ibunda paham keluguan ndoro ayu Ratih..!!" Alasan Bang Risang membuat selir utama terdiam sejenak.
:
"Kangmas, kenapa ada disini? Mbak Yesha pasti menunggu."
Bang Risang mendekati Ratih dengan tatapan tegas. Ratih pun mundur perlahan.
"Kangmas kenapa? Apa Ratih berbuat salah? Ratih minta maaf..!!"
Bang Risang tidak menjawabnya. Ia langsung mendekap Ratih. "Kita lakukan saja. Kamu mau khan hamil anak Kangmas??"
"Nggak Kangmas.. Ratih tidak ingin memiliki anak karena sebuah paksaan dan tekanan." Tolak Ratih.
"Dinda Ratih.. Kangmas melakukannya dengan sadar dan tanpa paksaan. Kangmas berusaha adil untuk kedua istri Kangmas. Maaf jika semuanya harus Kangmas langgar."
"Kangmaaaass.. jangaaan..!!!" Teriak Ratih ketakutan.
.
.
.
.
__ADS_1