Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
39. Berbagi kasih.


__ADS_3

Yesha tersenyum menatap mata sang suami yang begitu meratukannya malam ini. Saat ia tidur tadi, Bang Risang mengajaknya memadu cinta. Kali ini dirinya mengakui bahwa sang suami 'tidak bisa lepas' darinya, dari pelayanannya.


"Mas sayang sama Yesha?" Tanya Yesha.


"Pertanyaan apa itu? Jelas Mas sayang." Jawab Bang Risang.


Jawaban Bang Risang membuatnya tersipu, tiba-tiba hatinya merasa tenang dan tidak memiliki saingan. "Yesha sayang Mas Ris."


"Mas juga sayang Dinda. Sayang sekali." Sesaat kemudian Bang Risang menyelesaikan 'tugasnya'.


-_-_-_-_-_-


Mama Nai melihat Yesha memijati pundak Ratih. Entah amalan apa yang di gunakan sang putra untuk menenangkan kedua istrinya yang jelas kedua istri Bang Risang mampu menahan diri dari segala perselisihan.


"Apa tidak sebaiknya kamu check up lagi ke dokter tentang kandunganmu?" Saran Yesha.


"Kata dokter memang bawaan bayi mbak, nanti hilang dengan sendirinya." Kata Ratih.


"Nanti malam biar Mas Ris memijatmu."


"Hmm.. Mas Ris sama mbak Yesha aja. Ratih agak mual kalau Mas Ris ada di kamar." Alasan Ratih.


Mama Nai menarik nafas lalu menghapus air matanya.


Tiba-tiba Papa Igo menyentuh bahu istrinya. "Ada apa?" Bisiknya.


Mama Nai menarik tangan Papa Igo agar segera menjauh.


~


"Ya Allah.. kenapa begitu. Memang semua tidak adil Ma, tapi memberi kasih sayang pada istri memang tugas suami."


"Iya Pa, Mama tidak tega melihat Ratih. Dia serba salah dan terus saja berusaha mengalah sedangkan Yesha berusaha menguatkan batinnya untuk menerima kehadiran wanita lain." Kata Mama Nai.


"Cckk.. nanti Papa akan coba bicara sama Risang. Sekarang dia masih sangat sibuk melatih tembak di lapangan samping bersama anak buahnya."


"Iya Pa, cobalah bicara. Kasihan menantu kita.. bagaimana juga nasib cucu kita yang ada di dalam perut. Mereka harus sehat Pa..!!" Mama Nai sampai menggoyang lengan Papa Igo dengan gelisah.


"Iya Ma.. iyaa.. sabar to..!!"


-_-_-_-_-


Bang Risang bersandarkan di sofa ruang tamu. Dirinya langsung memejamkan mata karena lelah seharian bekerja.

__ADS_1


Ratih membawakan segelas teh hangat dengan amat sangat pelan meletakannya di atas meja kemudian ia berjongkok melepas sepatu Bang Risang.


"Jangan Dinda.. mas bisa sendiri..!!" Tolak Bang Risang sembari menarik kakinya.


"Nggak apa-apa Mas."


"Dimana Yesha dan yang lainnya?"


"Mbak Yesha baru saja tidur karena baru minum obat Mas, kalau Papa mengajak Opa yang pengen lihat konser penyanyi dangdut di balai kota." Jawab Ratih.


"Astagfirullah.. Opaa..!!" Bang Risang menepuk dahinya.


Ratih sedikit kesulitan melepas sepatu Bang Risang hingga membuat suaminya itu gemas. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Ratih lalu menariknya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Kangmaas, jangan.. ada mbak Yesha." Pekik tertahan Ratih.


"Kalau kamu menurut, Yesha tidak akan dengar..!!" Kata Bang Risang yang kemudian langsung menyambar bibir Ratih namun siapa sangka sang istri malah menolak disaat dirinya sedang berada di atas puncak kerinduan. "Kenapa Dinda??" Tanya Bang Risang bingung terhadap penolakan istrinya.


"Nggak ada apa-apa Kangmas. Dinda hanya capek saja." Alasan Ratih.


"Kamu tidak perlu bersusah payah. Biar Mas yang menyenangkan kamu." Bang Risang kembali mendekati Ratih namun lagi-lagi sang istri menolak. Sungguh ada rasa amarah dan kesal dalam hati Bang Risang namun ia tidak ingin emosinya meluap hanya karena urusan bawah perut, sebisa mungkin dirinya menekan bara yang sedang menyala dalam diri. Ia mencoba membelai pipi sang istri karena ia sudah memahami cara menaklukkan masing-masing hati sang istri. "Ada apa Dinda? Apa Kangmas membuat kesalahan sampai Dinda marah?" Tanya Bang Risang selembut mungkin. "Menolak suami itu berdosa Dinda, kita ini suami istri.. katakan apa yang mengganjal dalam hatimu. Kalau Mas salah, mas akan memperbaikinya."


"Tidak ada Kangmas." Jawab Ratih singkat.


Sikap Ratih memang menolak tapi istri Bang Risang itu tetap menyandarkan tubuhnya tanpa beralih sedikitpun. Bang Risang mulai menyadari ada yang tidak beres. Ia pun segera mengangkat tubuh Ratih untuk masuk ke dalam kamar.


~


:


Yesha terbangun dari tidurnya dan tidak melihat Bang Risang atau Ratih di sampingnya, ia tau pasti Bang Risang sedang bersama madunya dan dirinya lebih memilih memainkan ponselnya untuk mengalihkan pikiran.


...


Ratih membuka lemari es hingga lemari dapur untuk mencari apapun makanan yang berasa asam tapi tak kunjung di temukannya makanan yang berasa asam disana.


"Ibu cari apa?" Sapa Cakra saat melihat istri kedua boss nya mencari sesuatu.


"Cari apa saja yang penting asam Om" Jawab Ratih.


"Biar saya carikan Bu."


"Nggak usah Om. Saya nggak terlalu pengen." Tolak Ratih.

__ADS_1


"Ibu sedang mengidam khan? Nggak apa-apa biar saya carikan. Di belakang rumah ada pohon mangga." Kata Cakra.


~


"Mau nasi kebuli? Ya sudah mas carikan ya." Bang Risang mengecup kening Yesha lalu mengambil jaketnya. "Itu saja?" Tanya Bang Risang.


"Iya Mas."


Tidak membuang waktu lama, Bang Risang segera keluar dari kamar Yesha.


Tak sengaja saat melintas di samping dapur, Bang Risang melihat Ratih duduk menyendiri sambil menikmati mangga muda yang sudah di cocol garam dan cabai. Bang Risang pun segera menghampiri. "Makan apa Dinda??"


Ratih gelagapan dan takut, ia menyembunyikan buah mangga yang sudah di makannya lebih dari setengah bagian. "Maaf Kangmas, Ratih ambil buah mangganya kangmas."


Bang Risang celingukan mencari buah hasil unduhan Ratih. "Mana mangganya?" Tanya Bang Risang.


Dengan takut Ratih menunjukan sebuah mangga yang hanya tersisa sedikit.


"Satu biji??" Tanya Bang Risang lagi.


Ratih mengangguk mengiyakan.


Bang Risang menggeleng gemas. "Dinda sudah makan?"


"Belum."


"Buah mangga itu juga punyamu Dinda, tapi perut juga tidak boleh kosong. Nanti makan sama Kangmas ya, sekarang Kangmas mau beli nasi kebuli pesanan Yesha. Dinda mau apa?"


Ratih menggeleng menandakan tak ada yang menjadi keinginannya.


"Tunggu Kangmas sebentar ya..!!" Bang Risang mengecup kening Ratih lalu berteriak mencari Cakra.


"Cakraaaa..!!"


"Siap boss..!!"


"Tolong ambilkan mangga lagi untuk istri saya, tapi jangan yang terlalu muda ya..!!" Pinta Bang Risang.


"Baik Boss..!!" Jawab Cakra segera melaksanakan tugas.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2