Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
23. Menjalani hidup.


__ADS_3

Dokter Emil melihat tiga pasang suami menyebalkan sedang duduk di ruangannya usai jam dinas kantor.


"Ayo Bu Risang lebih dulu..!!" Ajak dokter Emil dengan senyumnya.


~


"Sudah kelihatan nih. Mamanya khan kalem. Ini perempuan.." kata dokter Emil.


"Darimana kamu tau tandanya Mil????" Bang Risang lebih bersemangat sampai berjingkat mendekati layar monitor.


"Ini lho, kelihatan garis dompetnya." Jawab dokter Emil.


"Waaahh dompet ya??? Alhamdulillah.. ada dua yang cantik di rumah " kata Bang Risang.


"Sementara bapaknya dulu yang paling ganteng." Gerutu dokter Emil. "Sehat ya ini, sudah lengkap seluruhnya. Lincah juga."


"Alhamdulillah.."


~


"Masih di tutup tangan. Nggak kelihatan"


"Ya kok begitu, alatmu rusak kali Mil.. sini aku yang pakai..!!" Bang Naru merebut alat USG dari tangan dokter Emil.


Dokter Emil tak bisa berbuat apapun selain pasrah pada ulah kakak beradik ini. Ia hanya memandangi tingkah sok tau Bang Naru yang menggeser alat kesana kemari di atas perut Dara.


"Sudah.. anakmu bisa botak kalau alatnya kamu geser." Kata Dokter Emil kemudian mengambil kembali alatnya.


~


"Sehat ya bayinya. Kalau dari gelagatnya.. bayinya ini perempuan, karena dia tenang."


"Alhamdulillah.. apa saja saya terima dok..!!" Bang Abra tersenyum sumringah mendengar kata dokter. Matanya terus tertuju pada layar monitor sedangkan tangannya mengusap perut Ayana.


Ayana memalingkan wajahnya mengurai rasa haru. Tak terungkapkan bagaimana kesedihan hatinya saat ini. Sembilan Minggu bersama Bang Abra sungguh membuat hatinya tersentuh. Pria itu tak sekalipun pernah membentaknya. Selalu tersenyum padanya meskipun dirinya tak pernah bersikap baik pada sang suami dan yang lebih menyentuh hati adalah setiap hari ia mendo'akan sang jabang bayi dan tidak pernah memaksanya untuk berhubungan badan. Selain karena belum boleh, Bang Abra mampu menahan diri meskipun ia tau sang suami sangat menginginkan hal tersebut.


"Laaahh.. kenapa dek?? Ada yang sakit???" Bang Abra panik melihat Ayana menangis. "Lu kasar ya Mil..!!!" Tanyanya pada dokter Emil.

__ADS_1


"Nggak pot, mana ada aku kasar. Kamu lihat sendiri tadi." Jawab dokter Emil.


"Bang, Aya nggak apa-apa."


"Terus kenapa nangis???" Tanya Bang Abra lagi.


Aya tak bisa menjawabnya, ia hanya bisa menangis.


...


"Aya kenapa ya Mas?" Tanya Dara.


"Biar dia menyadari kesalahannya. Mungkin dia sadar kalau Abra menyayanginya."


"Apa selama ini Aya tidak mencintai Bang Abra?" Tanya Yesha ikut bingung.


"Ada perbedaan di antara pernikahan kita dan pernikahan Aya. Kita memang ikhlas untuk menjalin rumah tangga sedangkan Aya menikah karena di paksa oleh keadaan. Mas langsung menyentuhmu sedangkan Aya dan Abra belum terikat secara batin dalam hal itu." Jawab Bang Risang.


"Penting kah Mas?" Dara pun jadi penasaran dan ikut bertanya.


Yesha dan Dara mengangguk paham maksud dari suami mereka.


"Maas, coba pegang..!!" Yesha mengarahkan tangan Bang Risang yang sedang menyetir ke arah perutnya.


Bang Risang langsung menoleh ke arah Yesha. "Apa ini dek? Kedutan?"


"Si adek gerak Mas." Jawab Yesha.


Raut wajah Bang Risang begitu bahagia mendengarnya. "Denmas, lagi apa nih di dalam?" Sapa Bang Risang.


"Iihh.. anaknya masih di dalam perut Mas."


"Meskipun di dalam tapi dia dengar apa yang Papanya bilang." Kata Bang Risang.


"Dek, anak kita gerak nggak?" Bisik Bang Naru.


"Iya Mas, dari tadi."

__ADS_1


"Yaaa.. kenapa nggak bilang sama Mas? Mas juga pengen tau rasanya di tendang si adek..!!" Mimik wajah Bang Naru terlihat kecewa.


"Dara nggak tau kalau itu ternyata tendangan. Dara kira memang Dara mau sakit perut." Jawab Dara dengan polosnya.


"Ya Tuhan.. sini Mas jitak ubun-ubun mu..!!" Kata Bang Naru.


//


Bang Adri sudah hampir gila merasakan pengapnya sel tahanan POM. Besok dirinya akan di bawa menuju sidang kode etik militer. Ia melihat keadaan sekeliling.


***


Bang Risang dan Bang Naru berjingkat dari tidurnya mendengar berita bahwa Letda Adri kabur dari sel tahanan.


Secepatnya mereka berdua mendatangi tahanan setempat untuk melihat TKP.


~


"Bagaimana kronologi kaburnya Letda Adri sampai kalian tidak tau dia kabur??" Tanya Bang Risang yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menegur anggota POM.


"Ijin Dan, beliau membobol fentilasi ruang tahanan." Jawab Bang Khatam.


"Kurang ajar. Dia selalu saja mencari masalah..!!" Perasaan Bang Risang sudah jengkel tak karuan merasakan masalah Letda Adri sampai ada beberapa orang anggota POM berlarian menaiki mobil tahanan dan bersenjata.


"Ada apa?" Tanya Bang Naru.


"Ada yang melihat Letda Adri memasuki kawasan asrama Batalyon dan menuju sekitar barak perwira." Jawab salah seorang anggota POM.


"Ayo kita ikuti..!!" Saran Bang Risang..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2