
Langkah Bang Risang begitu lemah hingga Bang Bramantyo dan Bang Aryanto harus memapahnya.
"Anakku.. ayah minta maaf ya nak..!! Yeshaaa.. yeshaaaa..!!" Lirih suaranya yang begitu terpukul terus saja menyebut kedua wanita yang begitu di cintanya.
Bang Aryanto terus mengusap dada sahabatnya itu.
Ayana yang saat itu ikut dalam pemakaman keponakannya berusaha mendekati Bang Risang di temani Bang Abra. "Bang, Aya minta maaf...!!"
"Apa maafmu bisa mengembalikan semua keadaan?" Tanya Bang Risang. "Pernahkah sekali saja Abang tidak menyayangimu?" Bang Risang melangkah meninggalkan Ayana.
"Abang sudah bilang jangan dekati Abangmu dulu. Abangmu masih berduka dengan semua kejadian ini." Kata Bang Abra membujuk Ayana, kemarin ia sudah menegur keras ulah sang istri dan kini Ayana telah mengerti kesalahannya.
"Kesalahan Aya sudah terlalu besar Bang, mana mungkin Aya tidak mengejar maaf dari kedua Abang Aya, terutama Bang Risang."
"Kamu benar, tapi waktunya belum tepat dek..!!" Kata Bang Abra.
Saat itu beberapa orang anggota menghadang langkah Bang Risang. "Permisi.. kami dari pihak kepolisian militer pusat. Mohon ijin untuk membawa Lettu Risang terkait kejadian penusukan pada Letda Adri."
Bang Risang menatap wajah Papa Igo dan Mama Nai. "Pa.. Ma.. aku titip Yesha.. kalau bisa.. pindahkan pengobatannya di pindahkan tidak jauh dari sel tahananku..!!" Pinta Bang Risang yang menyadari jika dirinya akan mendekam pada jeruji besi.
"Iya, Papa akan urus semua..!!" Jawab Papa Igo.
Mama Nai memeluk putra pertamanya. "Kamu memang salah nak, tapi siapapun akan mengerti maksud hatimu le." Kata Mama Nai.
"Mamamu benar. Kamu sudah menunjukan arti seorang suami dengan caramu."
Bang Risang menarik nafas lalu menatap pada para anggota POM. "Saya minta waktu sebentar saja untuk pamit dengan istri saya..!!" Pinta Bang Risang.
"Siap komandan..!!"
:
"Dinda sayang, Kangmas berangkat ke Jawa dulu ya.. nanti Dinda menyusul..!!" Bang Risang menyentuh bibir Yesha yang berwarna pink pucat. "Waktu akan menjawab kesakitan kita.. tunggu Mas pulang ya sayang, istri prajurit tidak boleh lemah." Pesan Bang Risang kemudian mengecup kening dan bibir Yesha. "Apapun keadaanmu, Mas akan selalu mencintai dan menyayangimu. Luka di tubuhmu ini sudah menunjukan kesetiaanmu untuk Kangmas." Mata Bang Risang terpejam, untuk sejenak ia memeluk sang istri.
Bunyi alat medis terdengar sangat menakutkan. "Mas Ris hanya meminta kesanggupanmu menanti Mas pulang, anggap saja Mas sedang dinas luar. Saat Mas pulang nanti, kita akan mengurai rindu.. rindunya Mas Ris dan rindumu menjadi satu."
...
Tidak ada seorang pun memperlakukan Bang Risang dengan buruk bahkan mereka tidak memborgol kedua tangan Bang Risang layaknya tahanan.
__ADS_1
"Ijin Dan.. apa mau minum?" Tanya seorang anggota POM.
"Tidak.. terima kasih. Jangan panggil saya komandan lagi. Saya tau saat ini saya tidak memakai pangkat ini lagi..!!" Jawab Bang Risang. Ia seakan paham apa yang akan terjadi nanti.
"Dan.. keputusan belum di jatuhkan..!!" Kata Prada Radian yang saat itu ikut dalam team untuk mengawal Bang Risang.
//
"Calon bayimu aman..!! Siang ini juga sudah bisa di bawa pulang..!!" Kata dokter Emil pada Bang Naru.
"Terima kasih banyak Mil atas semua bantuanmu..!!"
"Aman bro.. jaga baik-baik bumil ya..!!" Pesan Dokter Emil.
"Pasti."
"Sekarang bagaimana dengan Risang?" Tanya dokter Emil.
"Ya pasti besok pemeriksaan untuk sidang kasusnya. Mungkin PTDH pot.." jawab Bang Naru tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Mudah-mudahan tidak ya.. dia hanya membela martabat sang istri dari kejahatan Adri." Kata dokter Emil.
"Kalau Adri bangun dan mencabut tuntutan kasus ini, baru Bang Risang dapat keringanan tapi kalau Adri tewas, hukuman Bang Risang pasti jauh lebih berat."
...
Kening Bang Naru berkerut. "Apa maksudmu dek?"
"Yesha sudah di anggap merusak citra kesultanan karena telah berzina dengan laki-laki lain, maka kesultanan akan mencarikan pengganti untuk menjadi istri Mas Risang dan keputusan ini biasanya mutlak Mas."
Mata Bang Naru sampai melotot mendengarnya. "Yang benar saja kamu dek??"
"Ini benar Mas, ibaratnya kesultanan mengganti barang yang rusak dan jika itu terjadi maka yang akan naik kali ini adalah Dinda ayu Cengkir Nageh Kamaratih.." Jawab Dara ikut cemas.
"Allahu Akbar.. Lailaha Illallah.. Bang Risang nggak mungkin mau dek..!!" Kata Bang Naru.
"Inilah hidup kami Mas. Wanita tidak memiliki pilihan."
"Jadi.. seandainya kenyataan itu terjadi. Siapa selir dan siapa permaisuri??" Tanya Bang Naru.
__ADS_1
"Yesha harus turun tahta menjadi selir dan Dinda Ratih akan naik jadi permaisuri..!!" Dara menghapus air matanya.
"Sudah.. sudah.. jangan nangis. Kamu tidak akan mengalami hal seperti ini. Mas janji kamu satu-satunya di hati dan tidak akan pernah menggeser namamu dalam keadaan apapun." Janji Bang Naru menenangkan hati Dara.
~
Papa Igo duduk masih memikirkan cara terbaik untuk putranya. Beberapa saat kemudian ia melihat Bang Naru keluar dari kamar. "Bagaimana keadaan Dara???"
"Ya begitulah Pa. Dara kepikiran dengan situasi ini. Masalah satu belum selesai, sudah ada masalah baru. Papa tau khan masalah kesultanan." Jawab Bang Naru.
"Iya, Papa baru dengar dari Mas Haryokusumo. Laki-laki bisa memilih untuk tidak beristri lagi tapi masalahnya Yesha di anggap sudah rusak, jadi kesulitannya di situ."
"Bagaimana kalau menolak?????" Tanya Bang Naru geram.
"Maka selir, dalam hal ini Yesha harus di asingkan dan di buang jauh-jauh di pulau milik kesultanan hingga akhir hayat dan tradisi ini masih berlaku. Satu-satunya jalan adalah memohon welas asih dari calon permaisuri." Jawab Papa Igo dengan mata berkaca-kaca.
#
"Si mbok, memanfaatkan waktu yang seperti ini sungguh tidak baik. Kasihan Gusti Ayu Yesha."
"Tapi ini ketentuannya ndoro ayu."
"Kangmas Risang pun pasti berat jika harus mendua. Ratih melihatnya begitu mencintai Mbak Yesha. Ratih tidak berani kalau harus merebut kebahagiaan wanita lain." Kata Ratih.
"Opo maksudmu Ratih??? Ini sudah ketentuan kamu yang akan naik tahta..!!!" Romo Adipuro yang masuk ke kediaman putrinya langsung menjadi murka. "Yesha sudah rusak, kini kamu yang harus memperbaiki nama kesultanan ini..!!!!"
"Mbak Yesha cacat bukan karena keinginannya Romo.. ini musibah. Tidak kah kesultanan ini mengerti????"
"Kamu menentang Romo mu?????? Hukum cambuk..!!!"
Para si mbok yang melayani Ratih sampai bersujud memohon ampun. "Maafkan si mbok, si mbok akan mengajari ndoro ayu..!!"
~
"Jika memang pernikahan kesultanan harus terjadi, Ratih mengajukan syarat..!!"
.
.
__ADS_1
.
.