Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
44. Secercah harapan.


__ADS_3

"Apa Kangmas tidak punya perasaan meminta Dinda memberi ASI untuk anaknya Dinda Ratih??" Pekik Yesha menangis dan memalingkan wajahnya.


"Jika kamu memang marah dan kesal dengan ibunya, Kangmas masih bisa menahan diri.. tapi ini tentang nyawa seorang bayi. Dari rahim manapun dia berasal, dia tidak salah Dinda.. dia butuh kehidupan..!! Disini siapa yang tidak punya perasaan??" Kata Bang Risang.


"Baiklah kalau Kangmas memaksa.. Dinda akan mengurus anak itu tapi cepat ceraikan Dinda Ratih..!!" Bentak Yesha. Ia menahan rasa sakit padahal sayatan pada perutnya lumayan menyiksa.


Mata Bang Risang sejenak terpejam. Tubuhnya lemas hingga terhuyung. Kepalanya terasa berat. "Kangmas sangat mencintai dan menyayangimu.. sayang itu melebihi apapun di dunia ini. Dulu.. saat Kangmas meminangmu, sungguh rasanya seakan Kangmas menjadi pria paling bahagia di dunia. Dinda yang lembut di balik sikap pemberani itu, namun sekarang Kangmas bertanya-tanya.. kemana sikap itu?" Bang Risang mulai membuka perasaannya. "Saat itu kita tidak punya pilihan dari kenyataan pahit yang kita alami, di saat itu pula Dinda Ratih datang merawatmu dan menjagamu. Dia adalah tangan kananmu yang patah. Apa kamu tau Dinda Ratih memberikan kehidupan kedua untukmu, dia memberi cangkok ginjal untukmu. Berkali-kali Dinda Ratih nyaris terbentur masalah dalam kesultanan karena melindungimu. Sadarkah Dinda, waktumu bersama kangmas lebih banyak daripada Dinda Ratih."


"Kenapa Kangmas dengan mudahnya mencintai wanita lain. Dinda berharap Kangmas menikahi Dinda Ratih tanpa mencintai.. bukan untuk memberinya keturunan.. Apakah Kangmas tidak ingin punya istri yang sakit dan lumpuh?"


Serangan emosi merangkak naik. Ucapan Yesha kali ini begitu menusuk perasaannya. Ia menghirup nafas sedalam dalamnya dan membuang nafas secara perlahan. "Astagfirullah hal adzim.." gumamnya amat sangat lirih, nyaris tak terdengar. Tangan itu mengusap lembut pipi Yesha. Ditahannya sekuat mungkin emosi dalam diri. "Nanti kita bicara lagi. Dinda istirahat ya..!!"


Yesha mengusap air matanya, enggan menatap wajah Bang Risang.


Bang Risang yang tidak ingin terpancing emosi semakin dalam, lebih memilih untuk keluar dari kamar.


Papa Igo yang sedari tadi hanya diam, memberi isyarat pada Mama Nai dan Oma Nindy agar menjaga dan menasihati menantu mereka Yesha.


~


Bang Risang menggendong bayi keduanya. Penuh kasih ia mencium wajah putranya. "Kamu juga kebanggaan ayah. Jangan sampai kamu tidak akur dengan Abangmu. Kalian adik kakak walau tidak lahir dari rahim yang sama. Kalian semua darah ayah.. putra kandung ayah" linangan air mata menetes menahan kepedihan yang ia rasakan.


Saat itu Bang Naru masuk ke kamar bayi untuk memberi semangat pada Abangnya. Ia melihat nama Larung Palagan di papan nama pada box bayi tersebut. Senyumnya pun melebar.


"Mudah-mudahan putramu ini pun mampu melarung segala pertikaian dalam rumah tangga ayah dan bundanya." Sapa Bang Naru.


Bang Risang menoleh lalu secepatnya mengusap air mata.

__ADS_1


"Nangis lu Bang? Malu sama Larung..!! Masa ayahnya cengeng..!!" Sengaja Bang Naru meledek untuk mencairkan suasana.


"Apa lu kamp*et." Senyum Bang Risang pun mengembang.


"Sudah dua aja nih ekornya. Aku saja masih tahan diri, takut Papa nggak bisa momong cucunya. Reina saja masih pemegang tahta tertinggi." Ledek Bang Naru sembari melirik Papanya.


"Reina ini beda Be. Dia pengen nempel sama Opanya." Jawab Papa Igo berkilah.


Bang Risang dan Bang Naru menyembunyikan senyumnya. Sang Papa memang sangat gengsi mengakui cintanya pada cucu pertamanya.. Reina.


Belum sempat Papa Igo melanjutkan bicaranya. Beberapa orang dokter anak berlarian menuju ruang bayi, Bang Risang pun segera menyerahkan baby Larung pada Bang Naru lalu menyusul dan melihat ke ruang bayi yang ada di sebelah ruangan.


~


"Bayi Pak Risang harus segera mendapatkan ASI. Bayi memang bisa bertahan beberapa waktu tanpa ASI, tapi keadaannya sekarang beda Pak. Bayi bapak kurang nutrisi, asupan gizinya harus segera di kejar." Kata dokter bayi.


Hati Bang Risang masih merasakan kepedihan melihat putranya namun saat itu juga dokter berjalan cepat menuju ruang khusus untuk Ratih. Bang Risang yang panik segera menghampiri para dokter. "Ada apa dok?? Kenapa istri saya?"


Jantung Bang Risang pun seakan terhenti mendengarnya.


"Risang.. sabar dulu..!!" Opa Ricky mengajak Bang Risang untuk duduk.


"Kenapa tidak ada surutnya masalah hidupku Pa. Rasanya berat sekali."


"Kamu pasti bisa menghadapi semua. Kamu harus kuat..!!" Kata Opa Ricky.


~

__ADS_1


"Nggak Mas, Dinda nggak mau..!!"


Bang Risang menekuk lututnya dan memeluk kaki Yesha yang sedang duduk di kursi roda.


"Tolong Dinda, Wilang sudah lapar. Dia terus menangis. Tidak apa-apa kalau Dinda marah sama Kangmas, tapi Wilang tidak salah."


"Dinda tidak mengharapkan hal seperti ini Kangmas. Dinda ingin Kangmas fokus pada keluarga kita. Kenapa apapun yang terjadi Kangmas selalu memikirkan Dinda Ratih dan Wilang. Dinda dan Larung juga menunggu perhatian Kangmas..!!"


Seluruh anggota keluarga ikut bingung dengan keadaan ini. Bang Risang pun sudah lelah. Pikiran dan hatinya sudah semrawut. Papa Igo cemas, takut putranya salah ucap dan mengambil keputusan yang salah.


Tak lama Bang Naru masuk menggendong baby Ganendra Darojati putranya. "Bang.. Dara bersedia menyusui Wilang. Abang bisa urus tindakan untuk Ratih. Aku sama Dara handle Wilang."


Tangis Bang Risang pecah, ia sampai merangkak dan memeluk kaki adik kandungnya itu. "Terima kasih banyak Be. Aku berhutang nyawa sama kamu dan Dara."


"Baaang.. jangan begitu.. ayo berdiri. Wilang juga anakku. Cepat Abang selesaikan masalah Ratih. Biar kami bantu Abang disini..!!"


Bang Risang berdiri dan segera berlari menuju ruang tindakan untuk Ratih.


"Yesha.. saya mau bicara sama kamu..!!" Bang Naru menatap tajam ke arah Yesha.


"Yesha nggak mau dengar apapun Mas. Berbagi suami sangat sulit untuk Yesha." Kata Yesha.


"Kita di beri anugrah akal dan pikiran Yesha. Seharusnya sejak awal kamu tegaskan pada dirimu atas kesanggupanmu itu. Pernikahan bukanlah permainan. Wilang pun sudah terlahir, dia hidup.. dia punya nyawa. Saya tidak bisa membenarkan keputusan Bang Risang tapi saya juga tidak bisa menyalahkan. Pria tidak akan bisa seadil mungkin untuk membagi perasaan pada dua istrinya. Tapi bagi saya pribadi.. tindakan Bang Risang sudah termasuk bertanggung jawab." Ucap tegas Bang Naru menegur Yesha.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2