Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
7. Menjelang hari H.


__ADS_3

"Kangmas Risang Amukti Parepen.. Dinda menerima pinangan Kangmas." Jawab Yesha.


"Dan untuk Kangmas Ratanca kili Baruna, Adinda menerima pinangan Kangmas." Suara Dara lebih lembut, mungkin karena sifatnya yang lebih kalem daripada Yesha.


"Terima kasih Dinda Yesha."


"Matur suwun Dinda." Jawab Bang Naru.


...


Setelah acara prosesi lamaran dan perundingan keluarga, Panglima mengarahkan untuk pengajuan nikah mereka tidak boleh bertemu, maka beliau yang akan bertanggung jawab untuk kelolosan surat dan seluruh administrasi pengajuan nikah.


Bang Risang dan Bang Naru sudah tidur pulas di dalam mobil hanya menggunakan celana pendek. Sejak tadi mereka berdua hanya meributkan kain yang melilit mengganggu langkah gerak.


"Pa.. sebentar lagi kita punya mantu perempuan." Kata Mama Nai.


"Sudah waktunya Ma, anak-anak sudah dewasa, sudah pantas menikah."


"Bagaimana dengan Ayana Pa. Tidak ada laki-laki yang berani mendekat." Mama Nai memeluk Papa Igo.


"Aya masih muda, lagian dia terlalu usil. Mana ada yang berani dekat sama dia. Ajudan saja sampai mengundurkan diri." Jawab Papa Igo. "Hari ini untung saja dia tidak ikut, Abangnya saja begitu.. apalagi adiknya.. bisa rusuh acara lamaran."


\=\=\=


Hari ini Yesha bertemu dengan Dara untuk acara persiapan pernikahan mereka. Sultan pun menepati janjinya memotong sepuluh ekor kerbau untuk warga dan menikahkan tujuh pasang warga.


"Kalian tenang, aku sudah mengatur Wedding organizer untuk penataan acara megah kalian berdua." Kata Ayana yang datang untuk membantu Yesha dan Dara.


"Mbak deg-degan dek." Kata Dara.


"Tenang saja. Abang itu sangat penyayang." Jawab Ayana.


"Ngomong-ngomong Mas Ris nggak mau pakai kain. Maunya pakai baju kebesaran. Bagaimana nih?" Tanya Yesha.


"Apakah dunia militer itu kaku seperti Kesultanan? Mas Bram saja nggak pernah pulang karena dinas di luar Jawa." Dara pun jadi penasaran dengan dunia militer.


"Nggak juga Mbak. Sama saja seperti di kesultanan." Jawab Ayana. "Eehh ngomong-ngomong kalian pilih kebaya atau dodotan?"


"Kami pakai dodotan." Dara pun kemudian terdiam sejenak.


Beberapa saat setelahnya.

__ADS_1


"Sebentar ya, pacarku telepon." Ayana pun menghindar.


~


"Ini masih antar calon kakak ipar ke butik sama ke catering untuk acara pernikahan." Ayana menjawab panggilan telepon dari Bang Adri.


"Waaahh.. asyik donk?"


"Iya Bang, hmm.. kira-kira apakah ada niat Abang untuk melamar Aya?" Tanya Ayana.


"Sabar ya dek. Kalau sudah kembali ke kesatuan, Abang usahakan bicara sama Papamu..!!" Kata Bang Adri.


"Iya Bang. Sehat terus ya disana..!!"


~


"Kamu nggak kangen sama Mas? Belakangan ini kamu lebih banyak diam." Tanya Bang Adri pada Yesha.


"Ehmm.. mas, kita sudahi dulu ya. Yesha mau ada kegiatan di rumah." Yesha pun kini lebih mengurangi intensitas komunikasinya dengan Bang Adri namun cinta itu masih ada dan masih melekat erat di dalam hatinya. Ia pun mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa Mbak Yesh? Pacar ya..!!" Tegur Ayana yang sekarang mulai membiasakan diri menyapa mbak karena Yesha akan menjadi kakak iparnya selain itu usia Yesha juga lebih tua satu tahun darinya.


"Aku tidak bisa membelamu atau Abang, Juga tidak bisa menyalahkan mu juga Abang. Yang jelas, kalian akan menikah.. tinggalkan masa lalu. Abangku juga tidak seburuk itu." Bujuk Ayana sembari memeluk Yesha.


"Aku tau."


//


Bang Risang menghembuskan asap rokok. Dua minggu penantian terasa sangat lama. Ingin rasanya detik demi detik segera berlalu.


"Tinggal dua hari saja rasanya lama sekali." Gerutu Bang Naru.


"Dua hari saja masih siraman, lanjut midodareni. Baru hari selanjutnya kita akad nikah." Jawab Bang Risang.


"Aaarrghh aku keburu lumutan Bang."


"Ya sama, kepalaku rasanya sudah berkerak." Imbuh Bang Risang.


Bang Risang kembali menghisap batang rokoknya. Ia memejamkan mata. Ada rasa lelah yang tidak bisa ia uraikan datangnya.. entah lelah fisik ataukah lelah pikiran dan mental.


Bang Naru melepas kaos lorengnya yang basah usai lari siang dan memilih bertelanjang dada. "Terus terang aku cemas tidak bisa mengimbangi tata cara keluarga Dara."

__ADS_1


"Kita jalani saja..!! Yang penting kita meminta mereka secara baik-baik."


\=\=\=


Besok adalah siraman dan lanjut prosesi midodareni tapi Mama Nai malah jatuh sakit. Badannya demam dan menggigil.


"Istirahat saja dek.. kalau kamu nggak kuat, besok Abang juga nggak ikut acara. Biar Papa saja yang mewakili." Kata Papa Igo.


"Sudah sangat lama Nai nggak dengar panggilan itu." Mama Nai mengurai senyumnya.


"Yaa.. Abang rindu saat kebersamaan kita dulu. Entah kenapa Abang bisa menikahi gadis kecil sepertimu.." Papa Igo mengusap pipi Mama Nai menahan tangisnya.


"Maafkan istrimu yang tidak pernah bisa menjadi dewasa."


"Itu yang Abang suka, cantikku..!!" Papa Igo mengecup kening Mama Nai yang terasa sangat panas.


Bang Risang dan Bang Naru sangat sedih melihat keadaan sang Mama. Apalagi Papa Igo yang selalu panik setiap Mama sakit.


"Esok hari yang sangat penting dan bersejarah untuk kedua anak kita. Mama ingin hadir untuk melihat mereka menikah."


Tak tahan lagi, kedua putra Galigo bersimpuh di kaki sang Mama. Tangis mereka tumpah.


"Mama merestui kalian. Ingat pesan Mama. Wanita adalah makhluk istimewa.............."


"Dia madu, juga racun." Papa Igo melanjutkan ucap Mama Nai. "Biarkanlah dia merajuk manja. Jika kamu tahan.. jangan membentaknya apalagi sampai memukulnya. Jika istri tidak lagi manja padamu, maka hancur lebur seluruh duniamu. Papa tau terkadang kita pun lelah dengan berbagai kegiatan yang kita jalani, tapi percayalah.. tak ada tempatmu pulang dan berkeluh kesah meluapkan segala rasa selain pada istrimu. Hanya dia yang tau baik buruknya dirimu.. termasuk kelemahanmu. Didiklah istrimu, berilah hak lahir batinnya. Kamu akan tenang..!!"


Air mata keduanya masih berlelehan.


"Papa juga merestui. Bahagialah kalian bersama istri."


"Siaap...!!!"


"Siaap...!!!" Jawab kedua putra Galigo bersamaan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2