Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
20. Kacau balau.


__ADS_3

Kota itu sangat kecil. Sangat mudah mencari Ayana yang kabur saat itu.


"Bagaimana dengan Adri?" Tanya Bang Risang.


"Saya kirim ke POM untuk di periksa Bang..!!"


"Astaga.. Papa bisa ngamuk."


"Kita nggak punya pilihan Bang." kata Bang Naru.


:


"Darimana Abang tau Aya ada di hutan mangrove???" Aya mengibaskan tangan Bang Risang.


"Abangmu ini Intel. Kau pun pergi hanya sejengkal dari rumah. Mana bisa seperti ini di sebut kabur. Ini namanya jalan-jalan. Cepat pulang. Yesha sakit..!!" Bang Risang kembali menarik tangan Ayana.


"Biar saja dia sakit sampai mati. Kenapa dia merebut pacar orang." Teriak Ayana.


"Kamu jangan mikir pakai isi kepalamu yang hanya ada Barbie. Kita belum saling bicara dan tatap muka dek..!!" Bentak Bang Naru.


"Aya nggak mau pulang, Aya nggak mau lihat wajah Yesha. Aya benci Yesha.. Dasar istri tukang selingkuh..!!"


"Ayaaaa..!!!!" Intonasi suara Bang Risang meninggi. Ia sampai mengangkat tangan bersiap menampar Aya.


"Baang.. cukup Bang..!!" Cegah Bang Naru.


"Bela dia, bela istrimu itu. Aya yang sedarah denganmu malah tidak Abang bela."


Bang Abra mencoba mendekati Ayana. "Ayaa.. dengar kata Abang. Situasi sedang tidak kondusif. Abangmu stress berat karena Yesha nyaris keguguran. Kamu jangan membuat situasi jadi tambah runyam.


"Oohh.. jadi dia hamil??? Coba tanyakan. Itu anak Abang atau hasil dari Mela**r..!!"


"B*****t kau ya..!!"


plaaaakk..


Akhirnya satu tamparan mendarat di pipi Ayana. "Kamu memang adik kandung Abang, tapi Yesha adalah istri Abang. Yang sedang berada dalam rahimnya adalah darah daging Abang."


"Dan Aya juga sedang hamil tapi Abang perlakukan Aya seburuk ini..!!!!" Teriak Aya.


"Astagfirullah hal adzim Ayaaaaa..."


Amarah kedua Abang tak terbendung lagi. Bang Bramantyo mendekap keduanya dan menjauhkannya dari Aya sedangkan Bang Abra menarik Aya dan menjauhkan dari kedua Abangnya.

__ADS_1


"Saya bawa Aya.. kalian pulang dalam satu mobil..!!" Saran Bang Abra.


...


Papa Igo memejamkan mata saat mendapatkan kabar bahwa Yesha sempat masuk rumah sakit karena khilaf putra pertamanya. Hal yang ingin di tutupi tapi tidak semudah membalikan telapak tangan karena rekan Papa Igo pun tersebar hampir di seluruh penjuru negeri.


Saat Papa Igo membuka matanya. Sorot itu begitu tajam menusuk. "Apa Papa pernah mengajarkan kamu hal sekasar itu sama perempuan??? Kalau saja Yesha sampai keguguran, penyesalanmu tidak akan habis sampai kamu mati Risang..!!!"


Bang Risang menunduk karena memang dirinya yang salah. Tangannya hanya mengusap perut sang istri. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun merasa ngeri jika sampai terjadi sesuatu pada calon bayinya dan juga Yesha.


"Papa bisa maklumi kalau kamu belum peka atas kehamilan istrimu, tapi soal kasarnya kamu sampai Yesha pendarahan.. papa benar-benar nggak bisa terima. Papa merasa gagal mendidik kamu. Sebenarnya kenapa sampai kamu kasar sama istrimu????" Ucap Papa Igo penuh penekanan.


"Karena Adri datang Pa." Bang Naru menjawab mewakili semuanya.


"Kenapa kalau Adri datang."


"Adri pacaran sama Ayana, juga sama Yesha. Hubungan Yesha dan Adri terputus karena Bang Risang menikahi Yesha." Jawab Bang Naru.


"Astagfirullah.." Papa Igo sampai bersandar mendengarnya. Kini mata Papa Igo menatap menantunya. "Lalu kamu masih ada hubungan setelah menikah sama Mas Ris ndhuk??"


"Nggak Pa, demi Allah Yesha tidak membalas pesan apapun dari Bang Adri, panggilan telepon juga Yesha biarkan. Yesha tidak mengkhianati Kangmas. Papa bisa cek seluruh isi ponsel Yesha. Foto Bang Adri sudah Yesha buang, yang ada hanya foto Mas Ris." Yesha sungguh takut berada dalam posisi seperti ini.


"Kalau begitu kamu yang terlalu cemburu Ris." Kata Papa Igo.


"Sekarang jelaskan bagaimana kamu bisa ada kontak dengan Adri??" Papa Igo berganti menatap putrinya.


"Aya kenal waktu pulang dari kampus. Lalu kami berpacaran." Jawab Ayana.


"Kamu dan Yesha bersahabat sejak lama. Kenapa kalian tidak tau kalau Adri orang yang sama dan apa kalian tidak saling tau pacar sahabat kalian?" Selidik Papa Igo.


"Itu privasi." Ayana sangat malas melihat wajah Yesha.


Yesha menunduk tanpa jawaban dan karena mungkin jawaban itu juga sama.


"Sudah Pa, masalah yang ini sudah clear.. tapiii......" Bang Naru seakan tak sanggup mengatakannya.


"Tapi apa?"


"Ayana hamil Pa." Ucap Ayana tanpa takut.


"Jangan bercanda kamu..!!"


"Iya Pa. Aya nggak bohong."

__ADS_1


Seketika Mama Nai syok hingga bersandar kasar di sofa ruang tamu Bang Risang.


"Kamu bangga dengan semua itu Nai???????" Bentak Papa Igo.


"Kata Bang Adri yang penting ada bapaknya..!!" Jawab Aya dengan polosnya.


Papa Igo berdiri. Tatapan mata itu semakin terasa begitu menakutkan, siapa sangka sang Papa melayangkan tangannya lalu menampar pipi Aya dengan keras.


plaaakk..


Saat kakinya bersiap menghantam putrinya itu. Bang Risang dan Bang Naru segera menghalangi hingga tendangan tersebut mendarat di tubuh kedua Abang.


"Jangan Pa, kasihan yang di perut..!!" Kata Bang Risang.


"Papaaa.. tolong Pa.. bayinya tidak salah..!!!!!" Bang Naru ikut memohon.


"Bawa Adri kesini. Aku tidak sudi menerima bayi ini..!! Ma


Ayana begitu syok.. tiba-tiba dirinya panik tak pandai menerka dan memahami apa yang terjadi, seingatnya Bang Adri sudah menikah dengannya sesuai dengan ucapan Bang Adri.


"Mohon ijin Dan..!!" Om Eman datang tergopoh-gopoh membuat seisi ruangan panik tak terkecuali Bang Bram dan Bang Abra yang berada disana. "Letda Adri kabur."


"Seluruh anggota, cari dan kejar Adri..!!!!!!" Perintah Bang Bram.


"Inilah hasil dari kelakuan bodohmu Aya..!!!!" Bentak Papa Igo. "Sudah berapa bulan kandungan mu????


"Kata dokter.. tujuh-delapan minggu." Jawab Aya terisak.


"Gugurkan..!!!" Mata Papa Igo berkaca-kaca. Suaranya pun melemah.


"Paaaa.. dia cucu kita juga..!!" Kata Mama sesenggukan.


"Tidak ada tawar menawar lagi.. gugurkan..!!"


Saat Bang Risang dan Bang Naru ingin menjawabnya ada seseorang yang membuka suara.


"Biar saya yang menjadi ayahnya jika Adri tidak mau tanggung jawab..!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2