
Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam kamar Yesha. Ia sedang duduk menghadap ke cermin. Kutau meskipun ia menatapnya tapi dirinya tidak akan pernah melihat rupa wajahnya. Hatiku terpukul dengan banyaknya beban di dalam hatiku, aku telah menduakan istri yang sangat kusayangi.
Aku mendekatkan bibirku di telinganya. "I love you sayang..!!" Agar dia mendengarnya.
Yesha tersenyum getir. "Selamat atas pernikahan Kangmas dan Ratih..!!"
"Kangmas tidak menyentuhnya Dinda.." jawabku jujur.
"Kalau Kangmas tidak menyentuhnya berarti Kangmas tidak bisa bersama Yesha." Kata Yesha memukul perasaanku.
"Itu hukum yang di buat manusia. Bukan hukum Tuhan." Aku mendaratkan sekilas kecupan di pipinya. "Kangmas sangat merindukanmu sayang."
Tak tahan lagi memendam hasrat yang selama ini kupendam, kurebahkan istriku secara perlahan.. kusayangi dirinya bagai saat pertama aku menyentuhnya. Satu persatu kubuka kancing pakaiannya. Aku pun melepas pakaianku kemudian beralih naik ke atas tubuh istriku Yesha.
POV Bang Risang off..
:
Ratih membawa nampan berisi makan siang Yesha, ia tak mempedulikan dimana keberadaan Bang Risang karena fokusnya hanya ingin merawat Yesha.
Saat itu ia langsung masuk seperti biasa dan tak menyangka bahwa Bang Risang sedang berada di dalam kamar bersama Yesha. Lebih kaget lagi saat dirinya mendapati pria tersebut memeluk Yesha di dalam satu selimut. Dengan langkah pelan dirinya keluar dari kamar dan saat itu juga Bang Risang terbangun karena ada suara langkah kaki.
'Ratih??? Apa dia melihatku memeluk Yesha????'.
:
Bang Risang melihat si mbok mengantar makanan untuk Yesha padahal biasanya Yesha yang akan mengantar.
"Kenapa si mbok yang mengantar??" Tanya Bang Risang.
"Gusti ayu sedang membuatkan obat untuk ndoro ayu Yesha. Beliau membuatnya seminggu sekali." Jawab si mbok.
"Dimana membuatnya mbok? Biar saya kesana..!!"
"Di belakang pendopo pepawonan Raden." Kata si mbok.
"Tolong suapi ndoro ayu ya mbok..!! Saya mau mencari Gusti Ayu."
~
"Mau di bantu?" Sapa Bang Risang.
__ADS_1
Ratih pun menoleh pada sumber suara. "Kangmas.. kenapa masuk dapur?"
"Apa di haramkan?" Tanya Bang Risang.
"Aneh saja, banyak laki-laki yang tidak bersedia masuk ke dapur."
"Laki-laki atau perempuan sama saja Dinda. Laki-laki juga bisa mengambil tugas perempuan." Bang Risang pun mengambil irisan kunyit lalu menatanya di atas nyiru ( tampah ).
"Jangan Mas, nanti tangan Mas jadi kotor." Ratih mengambil kembali nyiru dari tangan Bang Risang.
"Kenapa semua wanita disini harus seperti ini? Ini aturan apakah merendahkan diri, sikap mereka seakan menunjukkan pria adalah segala penguasa yang tidak pernah salah. Pria juga tidak bisa hidup tanpa wanita."
Ratih tersenyum kecut mendengarnya. "Terima kasih sudah mau mengerti kami, tapi jika memang pria menginginkan nyawa kami.. maka kami pun harus patuh." Jawab Ratih kemudian kembali sibuk dengan tugasnya.
Bang Risang memperhatikan raut wajah Ratih yang begitu tenang. "Sungguhkah kamu setenang itu Dinda?"
"Apa yang harus di ributkan? Di jalani saja..!!"
'Siapakah kamu sebenarnya Dinda Ratih?'
//
"Aaawwhh.. sakit Ma..!!" Terdengar Dara merintih kesakitan saat putranya belajar minum ASI.
"Rebe.. kenapa kamu nggak bantu istrimu?" Tanya Papa Igo.
"Takut Pa..!!" Jawab Bang Naru sembari menghisap rokoknya.
"Takut kenapa? Istri begitu juga karena ulahmu. Masa kamu nggak kasihan?" Tegur Papa Igo.
"Paaa.. aku hanya butuh waktu, kemarin saat aku membersihkan semua sisa persalinan rasanya aku mau pingsan, bagaimana bisa perempuan masih kuat berjalan kesana kemari setelah berjuang antara hidup dan mati." Kata Bang Naru.
"Sekarang kamu sudah paham perjuangan seorang wanita, jadi kamu jangan pernah menyakiti hati istrimu juga. Dia sudah melahirkan bayi yang kamu inginkan."
"Iya Pa. Mana pernah sih aku kasar sama Dara."
"Ya sudah kalau begitu nanti malam kamu yang temani Dara tidur..!! Jangan Mama terus donk. Papa juga pengen di temani Mama." Sindir Papa Igo.
Bang Naru menepuk dahinya. "Ampuun dah Papaa..!!!! Jangan reproduksi terus lah Pa. Main saja sama cucu..!!" Ledek Bang Naru.
//
__ADS_1
Waktu sudah petang dan Ratih masih di dalam kamar Yesha untuk menstimulasi pendengaran Yesha melalu alat dari dokter.
"Ratih.. lebih baik tidak perlu terapy seperti ini lagi." Yesha ingin melepas semua alat di tubuh dan telinganya tapi Ratih menolak.
Ratih mendekatkan wajahnya dan berbicara di telinga Yesha. "Mbak Yesha harus sabar, jangan patah semangat. Kasihan Kangmas yang ingin Mbak Yesha segera sehat. Lihatlah perjuangannya untuk mempertahankan Mbak Yesha." Bujuk Ratih.
"Sudah ada kamu.. Mbak sudah tenang." Ucapnya sangat lirih.
"Mbak, Ratih hanya adik bagi Kangmas. Mbak jangan mikir macam-macam. Kangmas akan selalu jadi milikmu, Ratih tidak akan mengambilnya darimu." Kata Ratih.
"Jangan begitu, pernikahan kalian tidak untuk main-main. Seperti keikhlasan mu.. Mbak juga ikhlas Kangmas menikah lagi, asalkan itu bersamamu." Jawab Yesha.
"Ratih tidak ingin menjadi pelampiasan hati yang patah. Ratih pun punya harga diri untuk tidak merebut sesuatu yang bukan milik Ratih. Cepatlah sehat Mbak, Kangmas sangat mencintaimu." Bisik Ratih.
Di luar kamar, Bang Risang hanya bisa mengusap dadanya yang terasa sesak. Perlahan ia sadari pernikahan bukanlah sebuah permainan, tapi kini ada dua hati yang benar harus ia jaga.
"Kamu menahan semua ini demi kami Dinda Ratih. Bagaimana Mas harus membalas semuanya?" Gumam Bang Risang.
...
Bang Risang gelisah karena si mbok mengunci pintu kamar paviliun atas perintah Yesha.
"Kenapa?? Saya mau menemui istri saya..!!" Suara Bang Risang terdengar sampai luar.
Si mbok sampai berlutut takut. "Nyuwun pangapunten Raden. Kalau Gusti Ayu belum hamil, Raden tidak boleh bermalam di paviliun selir dan hanya boleh mengunjunginya sampai matahari terbenam."
"Peraturan apalagi ini?????? Bagaimana kalau Raden Ayu baru bisa hamil dua tahun lagi???" Bentak Bang Risang.
"Pangapunten Raden..!!" Ucap si mbok sampai menangis.
~
"Kenapa Raden malah tidur di kamar selir????? Apa kamu tidak melayani Raden dengan baik???" Bentak Romo sampai murka.
"Mboten Kanjeng Romo. Kangmas hanya mengucapkan selamat malam saja." Kata Ratih.
Romo mengangkat tangan dan hampir menampar wajah Ratih tapi Bang Risang menghadang tangan Romo. "Jangan menyakitinya. Gusti Ayu memang putri Romo.. tapi Gusti Ayu adalah istri saya. Nuwun Sewu Kanjeng Romo. Saya akan membawa kedua istri saya untuk keluar dari kesultanan..!!"
.
.
__ADS_1
.
.