Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
36. Rumah baru.


__ADS_3

Bang Risang sejenak membiarkan sang istri menikmati indahnya memadu kasih. Senyumnya tersungging karena Ratih sudah mampu mengekspresikan apa yang ia inginkan.


Melihat sang istri sudah terbuai, ia pun terbawa suasana. Tak ingin lagi ada gangguan, Bang Risang sudah mengunci pintu dan kini dirinya mengambil alih seluruh permainan.


***


"Kangmas, bangun..!! Ibadah dulu lalu cepat kembalilah ke kamar Mbak Yesha..!!"


Bang Risang mengerjab dan melihat tangannya. Masih pukul setengah empat pagi dan adzan subuh masih lumayan jauh.


"Ibadah apa Dindaa?"


Senyum Bang Risang membuat Ratih tersipu malu dan Bang Risang pun sampai gemas di buatnya. Sikap kalem Ratih selalu terngiang dalam benaknya.


"Ada cicak dalam lubang, I love sayang." Goda Bang Risang tak tahan membiarkan Ratih berdiam menatapnya terlalu lama. "Lagi yuk..!!" Ajak Bang Risang.


"Apa Kangmas?"


Bang Risang mencolek dagu Ratih. "Di sayang Kangmas lagi mau nggak?"


Ratih melihat sudah ada yang menantang dari balik sarung Bang Risang. "Iihh.. Kangmas"


...


"Kangmas kembali tidur lagi mbok. Sepertinya seharian kemarin sudah membuatnya sangat lelah." Kata Ratih.


"Injih gusti ayu. Si mbok hanya mau bilang kalau seluruh barang gusti ayu dan ndoro ayu sudah siap di bawa ke rumah baru."


"Terima kasih ya mbok. Biar saya tunggu Kangmas bangun."


Sesaat kemudian Yesha masuk ke paviliun utama milik Ratih. "Kangmas Risang belum bangun?" Sapa Yesha.


"Mbak Yesha.. maaf Kangmas belum bangun. Biar Ratih bangunkan." Ratih lumayan kaget melihat madunya datang menghampiri ke paviliun nya.


"Saya saja ya, boleh khan?" Tanya Yesha.


"Iya mbak, masuk saja..!!" Jawab Ratih.


Yesha pun membawa kursi rodanya masuk ke kamar Ratih. Perlahan, ia mengecup bibir Bang Risang yang masih tertidur pulas bertelanjang dada.


"Dindaku sayang.. Kangmas masih kangen Dinda Ratih..!!" Mata Bang Risang yang belum sempurna itu tak menyangka jika suaminya menyebut nama lain selain dirinya.


"Ini Yesha Kangmas." Kata Yesha.

__ADS_1


Bang Risang membuka matanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.


"Kenapa kamu masuk ke kamar ini lagi?" Tanya Bang Risang yang kemudian mencari kaosnya dan segera memakainya.


"Maaf Mas."


"Kalau kamu berniat masuk ke kamar madumu dan mendapati suamimu ada disana, seharusnya tidak boleh ada lagi rasa cemburu karena kamu juga sudah mengikhlaskan Mas untuk menikah." Kata Bang Risang kemudian mengancingkan celananya.


"Kapan Mas pulang ke paviliun Yesha?"


"Dindaa.. satu bulan ini Mas lebih banyak bersamamu. Mas juga tidak pernah bermalam di kamar Dinda Ratih, apakah masih kurang?" Bang Risang mencoba memberi pengertian pada Yesha yang agaknya kini sedang terpengaruh ucap mbok mban juga efek ngidam yang lebih pencemburu.


"Yesha istri pertama, wajar khan kalau istri pertama di utamakan." Jawab Yesha meskipun bernada lembut.


Bang Risang memejamkan mata sesaat sembari menarik nafas dan membuangnya berat. "Dalam hidup Mas tidak ada yang pertama dan kedua. Semua istri mas dan tidak ada yang berbeda. Kamu memang yang pertama mas nikahi tapi bukan berarti segalanya hanya untuk kamu Dinda. Pernikahan kita berbeda, mas tidak mungkin mengabaikan Dinda Ratih."


"Berarti benar apa kata mbok mban, mas telah di butakan keserakahan Ratih. Pernahkah mas merasa, jika mas tidak pernah bersamanya.. bagaimana Dinda Ratih bisa mengandung."


Sorot mata Bang Risang merah berkaca-kaca. Kali ini ucap Yesha begitu menyakiti hatinya. "Jangan pernah merendahkan wanita yang mengandung buah hatiku Dinda.. Jika kamu tidak suka padanya, katakan saja padaku.. tapi jangan menghinanya karena jika itu kamu lakukan.. sama saja kamu menjatuhkan harga diriku..!!"


Yesha menunduk takut, ia mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan setelah mbok mban 'membuka' pikirannya.


"Kalau kamu memang masih ingin mempertahankan segalanya, ikutlah kata-kata Kangmas, biar Kangmas mendidikmu lagi. Semua keputusan ada di tanganmu..!!"


"Tidak pernah sedikitpun Kangmas menginginkan perpisahan dan tidak pantas jika mas katakan hal seperti ini................"


"Mbak Yesha.. Kangmas. Jangan bertengkar..!!" Tegur Ratih yang sedari tadi mendengar keributan Yesha dan Bang Risang. "Jangan pernah ucapkan kata pisah. Jika memang ada yang harus pergi.. Ratih lah yang harus pergi..!! Ratih minta maaf, sungguh Ratih minta maaf..!!"


Yesha tak kuasa menahan tangisnya. Bang Risang pun sampai lemas menghadapi situasi yang sangat membuatnya terjepit.


"Hari ini kita pindah ke rumah baru. Kangmas harap kalian akur dan tidak saling cemburu..!!" Pinta Bang Risang.


-_-_-_-_-


Setelah berpamitan dengan pihak kesultanan, Bang Risang membawa Yesha dan Ratih untuk tinggal bersama dalam satu rumah. Hunian yang lebih mendekati kesejukan udara puncak, menyendiri dan sekaligus tempat kerja Bang Risang karena dirinya tidak ingin meninggalkan kedua istrinya.


Bang Risang membuka pintu rumahnya. Rumah berlantai tiga yang lebih mirip dengan villa dengan satu roof top di atasnya.


"Ini adalah tempat kita berteduh sekarang. Maaf.. Kangmas pakai nama Kangmas sendiri untuk rumah ini." Kata Bang Risang. "Kamar Dinda Yesha di sebelah kanan, kamar Dinda Ratih di sebelah kiri dan Kangmas akan tidur di kamar tengah. Kamar bawah untuk tamu, di luar gedung ini untuk rekan kerja yang bantu Kangmas." Kata Bang Risang.


...


"Selamat malam Boss, ini nasi gorengnya." Cakra 'ajudan' Bang Risang mengantar makanan.

__ADS_1


"Terima kasih, kalian semua juga segera makan. Besok mulai kerja..!!"


"Baik Boss." Cakra sudah mengetahui bahwa boss nya memiliki dua orang istri karena suatu hal.


"Saya pamit Bu Yesha.. Bu Ratih..!!"


"Iya Om Cakra." Jawab Yesha.


Ratih hanya menunduk menangkupkan kedua tangan di belakang punggung Bang Risang. Ratih tidak pernah berani berdiri bersandingan dengan Bang Risang karena Yesha selalu berada di sisi Bang Risang.


Bang Risang pun segera menggandeng kedua tangan istrinya menuju ruang tengah untuk makan malam.


Yesha kini sudah bisa makan sendiri karena matanya juga sudah mulai pulih, hanya saja Ratih masih merasa mual setiap ada aroma makanan di dekatnya.


"Masih mual? Sini Mas suapi??" Bang Risang mengambil sendok Ratih tapi Ratih tidak mengijinkannya.


"Tidak apa-apa Ratih. Aku tidak cemburu lagi." Kata Yesha.


Mendengar itu, Bang Risang berusaha menyuapi tapi Ratih menutup mulutnya dan berlari menuju toilet.


"Kejar Mas.. takut terpeleset..!!" Kata Yesha.


"Sebentar ya..!!"


:


Yang di takutkan Bang Risang ternyata terjadi, selalu saja Ratih tak sadarkan diri.


"Pak Risang.. tolong ibu Ratih jangan terlalu banyak pikiran..!!"


"Iya dok.."


"Saya sudah pernah katakan, beban pikiran yang berat akan mempengaruhi kesehatan ibu Ratih." Kata Dokter.


"Saya benar-benar akan menjaganya dok..!!" Bang Risang terbawa frustasi dengan keadaan ini.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2