Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
29. Terjebak dalam keadaan.


__ADS_3

Bang Risang merenung di temani sebatang rokok. Ia membolak-balik hati dan pikiran, semua hanya untuk Yesha. Sang istri membutuhkan pengobatan yang memadai agar bisa sembuh.


"Kangmas..!!" Sapa Ratih.


Bang Risang diam tak menjawab sapaan Ratih, wanita yang akan menjadi madu sang istri itu membawakan secangkir kopi untuknya.


Setelah meletakan cangkir kopi, Ratih pun melangkah pergi.


"Tunggu...!!"


Ratih berdiri di tempatnya tanpa menoleh ke arah Bang Risang. "Kamu senang dengan situasi seperti ini?"


Ratih diam tanpa suara.


"Saya tidak mau membuka hati untuk wanita lain. Saya hanya mencintai Yesha."


"Injih Kangmas, Ratih mengerti."


"Kamu tidak usah berharap lebih..!!" Ucap tegas Bang Risang.


"Ratih paham Kangmas. Ratih tidak berani berharap lebih." Jawab Ratih kemudian segera berlalu.


Bang Risang sedikit tersentak melihat Ratih yang selalu menghindarinya.


...


Ada rasa bersalah terselip dalam hati Bang Risang, bagaimanapun juga Ratih telah merawat Yesha selama dirinya tidak ada. Ia pun berniat meminta maaf pada gadis itu.


"Kesultanan akan mengirim kamu, ndoro ayu Yesha dan Raden Risang keluar pulau.. dan kamu yang menolak akan di asingkan ke pulau putri sampai akhir hayat."


"Jika Kangmas Raden bisa keluar dari kesultanan ini bersama Ndoro ayu.. Ratih siap Romo..!!" Kata Ratih.


"Kamu jangan bodoh ndhuk, setelah sampai di pulau putri.. kamu tidak akan membawa segala kemewahan yang selama ini pernah kamu rasakan, kamu sendirian menjalani hidupmu.. tidak ada sinyal, televisi dan lainnya." Romo sampai emosi dengan keputusan putranya.


"Kangmas Raden dan ndoro ayu sudah banyak menderita. Kali ini biar Ratih yang mengalah." Jawab Ratih.

__ADS_1


Bang Risang bersandar lemas. Batinnya terbolak balik tak karuan. 'Apa yang harus aku lakukan, jika aku egois dan mempertahankan Yesha saja.. Ratih akan menderita seumur hidup. Tanpa pendamping hidup di sisinya. Tapi jika aku menikahi Ratih, Yesha akan terluka.'


"Baiklah.. Romo akan mengeluarkan titah."


"Tunggu..!!" Bang Risang masuk ke dalam ruangan pribadi Romo. "Saya bersedia menikahi Ndoro ayu Kamaratih. Sekarang juga..!!"


"Kangmas.. tidak perlu seperti itu. Semua bisa di upayakan........."


"Tidak Dinda. Kangmas sudah memutuskan untuk menikahimu."


...


"Sudahlah Kangmas. Ratih menentang semuanya dan tidak akan merebut Kangmas dari mbak Yesha." Kata Ratih saat Bang Risang meminta untuk bicara empat mata.


"Dengan mengorbankan dirimu seumur hidup?? Kamu berhak bahagia."


"Lahir dalam dunia kesultanan tidak pernah menjadikan bahagia bagi kaum kami Kangmas, segalanya di atur dan di arahkan.. tanpa mendengar suara kami. Hati kami sudah kuat untuk menerima semuanya." Jawab Ratih.


"Bagaimana kalau kita hidup sebagai layaknya adik kakak meskipun ada ikatan pernikahan hingga nanti kamu menemukan sosok yang tepat untukmu, di saat itu Mas akan melepaskan kamu..!!" Bang Risang mencoba untuk membuat kesepakatan di antara dirinya dan Ratih. "Kita buat surat perjanjian, Mas akan membiarkan kamu utuh. AA ampai suatu saat nanti, ada pria yang menjadi pendamping hidupmu.. yang berhak mengambilnya."


***


Papa Igo mendapat kabar dari Bang Risang tentang perkembangan yang sedang di alami putranya itu. Ia menarik nafas dalam-dalam. Tengah malam yang begitu dingin di rumah sakit bersalin. Papa Igo tak bisa menyembunyikan rasa resah dan gelisahnya.


Saat itu Opa Ricky tengah berada disana. Ia pun mengambil ponsel Papa Igo. "Kamu sudah mantap dengan keputusanmu le?" Tanya Opa.


"Sudah Opa, semua demi Yesha. Saya sudah menegaskan untuk ketiga kalinya mengenai kesiapan mental Yesha dalam masalah ini." Jawab Bang Risang.


"Ada dua hati yang akan terluka meskipun keduanya sudah mengatakan untuk ikhlas dan kamu pun harus siap mental akan hal itu." Ucap tegas Opa Ricky. "Opa adalah pria yang pernah merasakan mendua, hanya kejadian yang kita alami jauh berbeda."


"Saya akan berhati-hati opa."


"Kita ini hanya manusiawi biasa le. Kita bisa berhati-hati namun keadaan yang membuat kita terjepit dan terjebak. Kamu sudah menikahinya. Nafkah lahir dan batinnya adalah mutlak kewajibanmu sebagai seorang suami. Jika dia wanita Sholehah.. maka kamu tidak berhak memperlakukan istrimu dengan buruk apalagi membuatnya terhina. Kamu umat beragama khan le."


Dari tempatnya, Bang Risang menatap Ratih yang sedang mengawasi tidurnya Yesha. menyiapkan segala yang Yesha butuhkan. Tak lama seorang si mbok masuk ke dalam kamar Yesha.

__ADS_1


"Mbok, tolong jaga ndoro ayu ya.. cepat hubungi saya kalau ndoro ayu butuh sesuatu." Pesan Ratih.


"Baik Gusti Ayu. Kamar Gusti Ayu juga sudah siap. Monggo Gusti Ayu ngaturaken Kanjeng Raden Mas badhe tilem ( Silakan Gusti Ayu mengantar Raden Mas untuk tidur. ).


Ratih mengangguk kemudian segara keluar. Bang Risang pun mematikan sambungan teleponnya.


:


Untuk beberapa saat Bang Risang dan Ratih masih terdiam. Bang Risang sempat melirik riasan wajah sang Sekar Kedaton yang konon katanya adalah Sekar Kedaton tercantik saat ini. Dalam hati Bang Risang saat ini tidak ada kata lebih cantik untuk kedua istrinya dan ia mengusahakan keduanya berada pada tahta yang sama dalam hatinya meskipun salah satunya harus memaksa.


"Kangmas belum siap dan Kangmas tidak bisa membuktikan apapun untuk pagi nanti." Ucapnya saat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Dinda mengerti, Kangmas bisa melukai tubuh Dinda untuk membuktikannya."


POV Bang Risang on..


Perkataan Ratih membuatku tersentak, mana mungkin aku melukai tubuh seorang wanita terlebih saat ini Ratih telah menjadi istriku.


"Dinda tidurlah.. biar Kangmas yang atasi..!!" Pintaku agar Ratih tertidur lebih dulu."


-_-_-_-_-


Kanjeng Romo sangat bangga melihat tanda pada kain putih yang di bawa si mbok padanya. Semua orang tersenyum melihat benda yang menurutku saat naif dan tabu.


"Katanya kamu tidak mau dengan putriku. Nyatanya kamu habiskan juga Raden." Ucap Kanjeng Romo begitu menusuk hatiku. Aku hanya bisa tersenyum dan membiarkan semuanya asal tidak ada yang mengasingkan Ratih dan Yesha bisa terselamatkan. "Malam ini kamu bisa bersama dengan selirmu. Inilah nikmatnya hidup memiliki dua pedamping. Kalau kamu sudah mencicipi 'permaisuri' baru kamu bisa turun pada selirmu kecuali kamu memang sedang ingin bersama permaisurimu. Itu adalah hak mu Raden."


Sungguh hatiku ingin menjerit. Bagaimana bisa aku terkunci pada peraturan yang kacau seperti ini. Ini jaman modern. Bukan jaman kerajaan dalam buku sejarah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2