
Kenapa ya kesannya Nara menulis sosok pria yang mudah berpaling hati? Nara khan sudah memberi alasan kenapa Risang jatuh cinta. Ini karya Nara, hak Nara. Rasanya membandingkan karya Nara dengan kesetiaan tokoh lain dan karya orang lain itu tidak sopan ya..!! Nara tidak satu dua kali juga Nara menulis tokoh yang setia.
🌹🌹🌹
Ratih terus saja menjerit hingga tenaganya nyaris habis.
"Kalau terus teriak, tenagamu bisa habis Dinda..!!" Bang Risang mengangkat dress Ratih. Si kalem Ratih menolaknya mentah-mentah.
"Dinda nggak kuat lagi. Lebih baik Dinda mati saja..!!" Jerit Ratih menjejak kesana-kemari tidak tahan dengan rasa sakitnya.
Bang Risang menghapus air mata Ratih. "Jangan bilang begitu, nggak baik Dinda. Denda memiliki kemuliaan kodrat bisa melahirkan seorang anak. Kangmas mohon bersabarlah sedikit..!!" Tak kuasa menahan laju air matanya, Bang Risang mengecup perut Ratih. "Kasihan Bunda nak, kalau adek mau lahir.. cepatlah lahir..!! Ayah temani adek..!!"
Tanpa menunggu waktu lama, rintihan Ratih mulai berkurang. Bang Risang beralih ke bagian bawah. Ia hanya bisa menggigit bibirnya, rasanya takut menghadapi situasi seperti ini namun dirinya tidak mungkin untuk meminta bantuan pada Cakra.
"Saya harus bagaimana boss??" Tanya Cakra melihat kesigapan atasannya.
"Nggak ada, kamu tunggu di samping mobil..!!" Perintah Bang Risang.
:
"Sedikit lagi sayang..!!" Bujuk Bang Risang.
Nafas Ratih terasa putus sambung. Tangannya tak lagi kuat mencengkram tangan Bang Risang. "Biarkan Ratih mati saja Mas..!! Ratih hanya menjadi duri dalam pernikahan Kangmas dan Mbak Yesha." Jawab Ratih.
"Sudah mas katakan berulang kali, jangan katakan hal itu. Yang sudah berlalu jangan di sesali. Kita hadapi semua ini bersama..!!" Kata Bang Risang.
"Tidak ada wanita yang kuat di madu.. termasuk Mbak Yesha. Tidak salah jika ada kecemburuan di dalam hatinya sebab Ratih memang merebut pria yang sangat ia cintai." Ratih memercing kesakitan. Matanya nanar hampir tak sanggup lagi membuka mata.
"Apa tidak ada yang berpikir tentang posisi Kangmas yang serba salah?? Yang berusaha adil tapi tidak pernah bisa adil. Hanya Kangmas yang tau mengapa hati ini mendua. Hanya Kangmas yang tau betapa sakitnya hati melihat dua istri yang berucap sanggup mendua tapi ternyata hati ingkar. Sudahlah.. Nanti kita bicara lagi, sekarang fokus dengan kelahiran anak kita. Sesampainya kita di sana dan sudah bertatap muka, kita bahas nanti..!!" Ucap tegas Bang Risang.
"Bolehkah Ratih meminta sesuatu dari Kangmas?" Tanya Ratih.
"Apa?? Kalau Kangmas sanggup.. semua Kangmas berikan untuk Dinda." Kata Bang Risang.
"Setelah anak ini lahir, ceraikan Dinda. Dinda akan membawanya pergi. Biarkan Ratih pergi membawanya. Cukup anak ini saja kebahagiaan Dinda." Pinta Ratih.
__ADS_1
Bang Risang termenung, bibirnya kelu tak sanggup menjawab permintaan sang istri sampai dirinya tersentak karena Ratih merintih kesakitan. Ia pun segera melihat ke arah bawah. "Ayo Kangmas bantu..!! Bismillah.. tekan yang kuat Dinda..!!"
Ratih menggeleng pesimis.
"Satu kali saya. Yang kuat. Kangmas ada disini..!!"
Dengan sekuat tenaga, Ratih mengejan dan seketika itu juga panik melanda hati Bang Risang. Terjadi robekan yang lumayan lebar karena memang panggul Ratih sangat sempit.
"Aaaaaaaaa......"
Percikan air sampai mengenai wajah Bang Risang. "Ya Allah, Astagfirullah..!!" Bayi mungil itu meluncur begitu saja ke tangan Bang Risang. "Allahu Akbar.. Ya Tuhan.. anakku..!!!" Dengan cepat Bang Risang membersihkan tubuh bayinya, bayi kecil yang tubuhnya begitu kurus dan kecil hingga membuat siapapun yang melihatnya pasti tak sampai hati. Beberapa detik setelahnya.. bayi itu menangis, bayi laki-laki dari rahim istri keduanya. "Alhamdulillah..!! Lihat sayang, anak kita sehat..!!"
Ratih sempat menatap wajah putranya. Senyumnya sekilas merekah.
:
Bang Risang sudah selesai melantunkan adzan. Bayinya pun sudah tampan dalam bedong sederhana. "Selamat datang ke dunia anak ayah.." Bang Risang terus mendekap bayi yang begitu memukul jiwanya. Bayi kecil itu jelas kekurangan berat badan hingga akhirnya tangis kecil sang putra membuatnya menitikan air mata.
"Dinda.. tahan ya..!! Nanti Kangmas akan meminta dokter memberimu perawatan yang terbaik..!!"
"Kita segera bawa ke rumah sakit Boss..!!" Saran Cakra.
...
Bang Risang tiba di rumah sakit, secepatnya ia membawa Ratih masuk ke dalam UGD. Tak jauh dari sana terlihat Papa Igo dan Mama Nai mendorong brankar Yesha menuju ruang operasi.
Langkah Bang Risang segera mengejar Papa Igo. "Paaa.. Yesha kenapa?" Tanya Bang Risang.
"Mau melahirkan. Kamu sama siapa?" Papa Igo balik bertanya.
"Ratih baru saja melahirkan Pa dan sampai sekarang langsung tidak sadarkan diri..!!" Jawabnya mendekati brankar Yesha. "Bagaimana keadaanmu sayang?" Bang Risang mencium kening Yesha tapi tak ada jawaban dari istrinya.
"Yesha tidak bisa melahirkan normal karena keadaannya. Kenapa kamu nggak angkat panggilan telepon dari Mama?" Tegur Mama Nai.
"Maa.. Ratih sedang dalam kondisi tidak baik." Jawab Bang Risang yang kemudian masuk ke dalam ruang operasi bersama Yesha.
__ADS_1
:
"Jangan takut sayang, nanti tekanan darahmu naik..!!"
"Boleh Yesha minta sesuatu?" Tanya Yesha tiba-tiba dan itu membuat Bang Risang sangat was-was.
"Apa Dinda? Kalau Kangmas sanggup.. semua untukmu." Jawab Bang Risang berusaha tidak membedakan antara Yesha dan Ratih.
"Kalau Yesha sehat setelah persalinan. Maukah Kangmas menceraikan...... Ratih?" Kata Yesha.
"Dinda? Ini bukan saatnya membahas hal seperti ini. Kita harus bertemu wajah untuk membicarakan semua ini dari hati ke hati."
Yesha memalingkan wajahnya dan menepis tangan Bang Risang.
"Pak Risang.. Ibu Yesha..!!" Sapa dokter. "Selamat.. bayinya laki-laki..!!"
"Alhamdulillah..!!" Untuk kedua kalinya Bang Risang mengucap syukur. Berbanding terbalik saat melihat putra pertamanya, bayi kecilnya kali ini sangat gemuk, pipinya pun sangat menggemaskan.
...
Dokter yang menangani Ratih berdiri di hadapan Bang Risang. "Ibu Ratih belum sadarkan diri. Pendarahannya lumayan banyak Pak, beliau kekurangan nutrisi hingga berdampak pada bayi bapak..!! Berat badan lahir putra bapak hanya dua ribu lima puluh gram saja." Kata dokter tidak sampai hati menjelaskan. "Anak bapak butuh ASI, tapi Bu Ratih belum bisa memberinya.
Bang Risang sampai hampir pingsan mendengar keterangan dari dokter. Dirinya menatap sang bayi yang masih ada dalam inkubator.
Dokter menepuk pundak Bang Risang sekedar memberi semangat.
Bang Risang memasukkan jari telunjuknya ke dalam inkubator. Ingin rasanya menahan tangis tapi dirinya tidak sanggup. Putranya berada dalam fase hidup dan mati. "Le.. tidak ada dalam sejarah bahwa keluarga kita itu lemah. Jadilah kamu laki-laki yang kuat nak, jangan pernah menyerah dalam keadaan.. kamu adalah laki-laki, jika ayah sudah gagal menjalani hidup.. kamu tidak boleh mengulangnya dalam keadaan apapun."
Bayi kecil itu menggeliat lemah namun Bang Risang merasakan ada usaha keras dari sang putra untuk bertahan hidup. "Kamu hidup dalam perhitungan massa. Namun kamu adalah buah kasih ayah untuk Bunda, ayah menyayangi bundamu tidak karena terpaksa tapi karena Allah menuntun hati ayah melalui kehendakNya. Jika kamu ingin marah dengan keadaan kita.. tanyakan pada Tuhan mengapa Tuhan memberi Ayah rasa sayang dan cinta pada Bundamu. Tolong bantu ayah mendamaikan semua.. Tonggak perdamaian dalam detik waktu penghabisan.. Riung Saprang Pawilangan. Bang Wilang jangan tinggalin ayah ya..!!"
.
.
.
__ADS_1
.