
Yesha sudah mampu berjalan sendiri keluar dari rumah sakit. Bang Risang memang tidak akan main-main dalam memberikan segala yang terbaik bagi istrinya termasuk obat paten agar Yesha segera pulih kembali.
"Masuklah.. mulai hari ini sampai waktu yang akan di tentukan, kamu ikut sama Abang. Selama Larung belum bisa bepergian jauh, Abang akan mondar-mandir melihat keadaanmu. Kamu sama si mbok dulu..!!" Kata Bang Aryanto sembari membuka pintu mobil untuk Yesha. Sesekali ia melihat baby Larung yang sedikit menggeliat dalam gendongannya.
~
"Kenapa hidup ini tidak adil?" Yesha mengusap air mata yang membasahi pipi.
"Jika ada penyesalan dalam hatimu.. kamu tidak akan mungkin sanggup mengatakan hal seperti itu. Penderitaanmu dan Ratih sebanding Yesh..!! Sampai kapan kamu terus bersikap kekanak-kanakan sedangkan usia Ratih jauh lebih muda darimu."
"Abang jangan banyak bicara, di saat seperti ini suamiku tidak mendampingiku dan malah mendampingi perempuan lain." Kata Yesha.
"Suami Ratih juga. Ratih bukan wanita lain dalam hidup Risang. Perlu kamu ingat Yesha.. ulahmu sendiri yang membuat semua ini terjadi. Kamu tidak jujur di awal, kamu mengelabui dokter untuk menutupi tindakanmu. Saat ini posisimu serba salah karena Ratih benar-benar sakit. Kau tau.. saat ini Risang memperkarakan dokter yang menanganimu dulu juga orang yang membuat Ratih jadi seperti ini, Risang sangat marah Yesh..!!"
Yesha masih saja terisak. Sambil mendengarkan ocehan Bang Aryanto.. Yesha terus menatap ke arah jalan.
//
Ratih sampai menangis saat belajar berjalan, pasalnya memar di sekujur tubuh membuatnya sulit bergerak.
"Ratih bisa sendiri Kangmas..!! Cepat jemput mbak Yesha. Kasihan Larung tidak di gendong ayahnya..!!"
"Bisa tidak kali ini kita tidak membicarakan masalah lain, fokuslah pada keadaanmu..!!" Pinta Bang Risang. "Sekarang Dinda lihat..!! Untuk berjalan saja Dinda masih kesulitan dan Mas masih memapahmu seperti ini.. kenapa Dinda masih memikirkan yang lain?"
"Mbak Yesha bukan orang lain Mas, Mbak Yesha adalah belahan jiwa dan ibu dari anak-anak Mas Ris. Bagaimana bisa Mas menyebutnya orang lain??" Tegur Yesha.
Bang Risang mengajak Ratih untuk duduk dan bicara berdua. "Dinda paham landasan pernikahan?"
Ratih mengangguk dan terdiam tak sanggup menatap mata Bang Risang.
"Kangmas sedang mendidiknya, memberinya pelajaran agar tidak memupuk penyakit hati. Kangmas pahami kita memiliki rasa cemburu tapi sebagai manusia hendaknya kita juga berpikir akibat yang akan terjadi di kemudian hari." Bang Risang mengangkat dagu Ratih. "Kangmas hanya ingin di antara kita ada rasa persaingan. Inilah kehidupan yang kita jalani dan kita harus ikhlas meskipun berat untuk di jalani. Jangan pernah ucapkan kata pisah seperti Dinda Yesha yang juga tidak menginginkan perpisahan."
Ratih memeluk Bang Risang dan menangis sejadi-jadinya.
"Dinda kuat khan hidup mendampingi Kangmas?" Bang Risang terus mengusap punggung Ratih.
"Insya Allah Kangmas. Dinda akan berusaha kuat demi Kangmas dan anak-anak..!!"
"Alhamdulillah.. matur suwun Dinda..!!"
\=\=\=
Dua bulan telah berlalu.
"Aku harus pulang menemani Mas Naru. Nggak apa-apa ya Ratih." Pamit Dara.
"Nggak apa-apa Mbak Dara, ASI Ratih juga sudah keluar banyak sekali. Bisa untuk menyusui Wilang dan Larung. Ratih berterima kasih banyak karena mbak Dara mau menemani masa sulit Ratih berjuang mendapatkan ASI, dua bulan sudah sangat lama. Sudah waktunya Mbak Dara memanjakan Mas Naru." Kata Ratih.
"Tau aja kamu Ratih. Thanks ya sudah balikin Dara, Mas butuh refreshing nih." Jawab Bang Naru dengan senyumnya sampai mengundang tawa keluarga yang lain.
Di balik tawa tersebut tersimpan kepedihan, Yesha tidak mau menyusui baby Larung karena kecewa Bang Risang tidak menceraikan Ratih.
"Ngalah sebentar kenapa sih Be. Jangan sampai nanti kamu balik bawa Dara.. bulan depannya malah isi." Ledek Bang Risang.
Bang Naru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bulan ini sudah telat katanya." Kata Bang Naru.
__ADS_1
"Haaaaaahhh.." satu keluarga sampai ternganga mendengarnya.
"Jadi waktu terakhir kamu kesini kemarin itu sempat colokin stop kontak????" Tanya Bang Risang tidak percaya.
"Ya sempat lah Bang. Lima menit juga jadi." Jawab Bang Naru tanpa sungkan, hanya pipi Dara yang jadi semerah tomat.
***
Bang Risang memperhatikan Ratih yang baru selesai menyusui baby Larung.
"Istirahat dulu Dinda..!! Sudah minum obat apa belum?" Sapa Bang Risang.
Ratih pun menoleh melihat sosok yang menyapanya. "Kangmas belum tidur?"
"Sebentar lagi Dinda." Bang Risang memeluk Ratih dari belakang.
"Kangmas kenapa belum ke rumah Mas Aryanto? Seharusnya Mas kesana, bukankah tadi Mbak Yesha minta kiriman uang??"
"Dinda lebih butuh Kangmas daripada Dinda Yesha. Dia tidak ada kesibukan dan setiap hari hanya keluyuran." Jawab Bang Risang sembari menyerusuk ke sela leher Ratih.
"Berilah perhatian padanya Mas..!! Jangan biarkan Mbak Yesha sendirian."
"Biarkan Mas Ris disini. Mas rindu sekali sama kamu Dinda. Sudah hampir tiga minggu Kangmas disana untuk menemaninya. Untung saja ada Dara menemanimu. Bagaimana jadinya kalau Dinda sendirian di rumah merawat dua bayi kita. Mas sampai kehabisan waktu untuk pekerjaan dan baru hari ini melihat anak-anak. Dinda tenang saja, Mas nggak pernah lupa mengiriminya uang. Nominalnya sama seperti yang Dinda terima, hanya untuk kebutuhan dapur saja yang berbeda." Di lihatnya tubuh baby Wilang yang kini jauh lebih montok dan berotot. Senyumnya pun mengembang. Ia mengangkat tubuh Ratih. "Sekarang waktunya ayah memanjakan Bunda..!!"
~
Dering suara ponsel memecah konsentrasi Bang Risang yang tengah memadu kasih bersama Ratih. Ekor mata Bang Risang melirik ponselnya. Ia pun menjauhkan ponsel itu dan melanjutkan tugasnya malam ini.
Hanya dirinya dan Tuhan saja yang tau apa yang sebenarnya terjadi. Yesha memberikan syarat yang begitu berat. Tidak ingin di sentuh jika dirinya tidak menceraikan Ratih. Sebisa mungkin Bang Risang mengembalikan konsentrasi untuk menikmati malam berdua bersama Ratih.
:
Saking rindunya.. beberapa menit setelahnya, Bang Risang kembali mengajak Ratih memulai kembali. "Satu kali lagi ya Dinda..!!"
\=\=\=
Dua minggu kemudian.
"Yesha hamil lagi Pa..!!" Bisik Mama Nai.
"Ya mau bagaimana lagi Ma, Risang dan Yesha masih suami istri." Papa Igo balik berbisik.
"Masalahnya, Yesha saja tidak mau merawat Larung Pa."
"Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi anak Ma." Jawab Papa Igo.
...
"Anak siapa?? Saya hanya ingin kejujuranmu" Tanya Bang Risang masih melirihkan suaranya.
Yesha terdiam seribu bahasa. Menatap wajah Bang Risang pun tidak.
"Katakan Yesha.. jangan sampai saya mencari bapak dari anak itu sendiri dan menyeretnya di hadapanmu..!!!" Pinta tegas Bang Risang.
"Risaaang.. apa-apaan kamu????" Bentak Papa Igo.
__ADS_1
"Yesha tidak pernah ikut kegiatan sosial seperti yang pernah dia bilang ke Papa dan Mama..!!"
"Ini ada apa Risang???" Mama Nai ikut cemas.
"Maksudmu apa?" Bang Aryanto yang saat itu tiba di sana sampai ikut terpancing emosi.
"Tanyakan sendiri sama adik kesayanganmu itu. Setelah dia mengatakannya.. baru aku akan memberi keputusan..!!"
Bang Aryanto menatap wajah Yesha.
"Aku pulang dulu..!! Ratih sendirian..!!" Pamit Bang Risang di ikuti kedua orang tuanya.
...
"Ulah apalagi yang kamu buat??"
Yesha menunduk ketakutan.
"Jawab Yeshaaaa.."
"Apa mungkin anak itu bukan anak Risang?" Tanya Bang Aryanto.
"Maaf Bang, Yesha tidak sengaja." Jawab Yesha terisak.
"Astagfirullah hal adzim.. kamu hamil sama siapa Yeshaaaaa???????????" Bang Aryanto tidak bisa membendung amarahnya.
"Bang Adri."
Bang Aryanto meremas dadanya kemudian terduduk lemas. Ia mengambil ponselnya. "Risang.. kamu meminang dan menikahi adikku baik-baik. Maukah kamu mengembalikannya padaku secara baik-baik juga??"
"Saya akan menemui mu dan keluargamu secara pribadi tapi dengan syarat.. tidak ada unsur kesultanan di dalamnya. Saya akan membawa Dinda Ratih dan kedua anakku pergi jauh." Jawab Bang Risang. "Raden Aryanto Haryokusumo.. katakan padanya rasa terima kasihku yang begitu besar karena sudah melahirkan putraku Larung Palagan. Seumur hidup tak akan bisa kubalas. Tapi ribuan maaf kuucapkan.. aku tidak becus lagi mendidiknya. Semoga.. Dinda Yesha bahagia bersama pilihan hatinya. Seumur hidup akan kukenang dirinya di dasar hatiku yang terdalam."
.
.
.
.
~END~
.
.
.
.
Sisipan cerita ada di next episode pada judul Adipati negeri vs Sekar Kedaton 2. Up 28 Februari 2023 pukul 02.00 WIB. Terima kasih 🙏.
.
.
__ADS_1
.
.